Kejelasan dan kelanjutan program yang dijanjikan pemerintah untuk membiayai pendidikan tinggi di luar negeri dinanti.
18 Nov 2024 16:06 WIB · Humaniora
JAKARTA, KOMPAS – Para talenta muda berprestasi yang terjaring di kelas persiapan Beasiswa Indonesia Maju S-1 Luar Negeri Angkatan 4 dari Pusat Prestasi Nasional mempertanyakan keberlanjutan program ini. Mereka masih berharap program dilanjutkan sesuai informasi yang disosialisasikan di awal.
Para orangtua peserta Beasiswa Indonesia Maju (BIM) S-1 Luar Negeri Angkatan 4 pada Senin (18/11/2024) menggagas petisi daring di laman change.org. Petisi ini disampaikan untuk bersama-sama menyatukan suara menanyakan keberlanjutan program tersebut kepada Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kemendikdasmen (sebelumnya Kemendikbudristek).
”Pada awalnya menjanjikan rangkaian proses pembinaan sampai adanya seleksi lanjutan untuk BIM program bergelar atau beasiswa S-1 luar negeri, tetapi tidak terlaksana,” ujar Nyoman Suri Sukmawati yang memulai petisi tersebut.
Para orangtua meminta Puspresnas menyediakan konseling pendidikan, memberikan penggantian biaya (reimbursement) untuk pendaftaran keempat universitas di luar negeri, serta menerbitkan letter of sponsorship (LoS) dan letter of guarantee (LoG).
Selain itu, memastikan keberlanjutan proses seleksi bagi anak-anak untuk mendapatkan beasiswa S-1 luar negeri sesuai dengan komitmen di awal, memberikan data dan/atau dokumen serta dukungan penuh lainnya yang diperlukan bagi anak-anak penerima BIM Persiapan S-1 Luar Negeri Angkatan 4.
”Kembalikan program BIM sesuai komitmen awal Puspresnas untuk anak-anak kami, sebanyak 350 anak berprestasi yang sudah dipilih oleh negara,” tulis Suri.
Peserta telah menjalani kelas persiapan BIM S-1 Luar Negeri Angkatan 4, seperti proses program pembinaan (IELTS, SAT, proyek Sosial, summer program, hingga rangkaian seminar web) selama satu tahun. Hal ini untuk mendapatkan LoA (Letter of Acceptance) sebagai syarat dibiayai pendidikan S-1 luar negeri dari Puspresnas.
H Ishandawi, Koordinator Forum Komunikasi Orangtua Siswa Penerima Program Persiapan S-1 Luar Negeri BIM Angkatan 4, mengatakan bahwa ada beberapa program yang tidak dilaksanakan oleh pihak Puspresnas Kemendikbudristek/Kemendikdasmen. Para orangtua sudah meminta audiensi, mulai dari wakil presiden, Kemendiktisaintek, hingga Puspresnas.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/20/8028b1ce-ce52-4bb1-9337-f33e4ecf5e05_png.png)
Pada September 2024, nama program disebutkan diganti menjadi BIM Persiapan Program Sarjana. Sebelumnya program bernama BIM Persiapan S-1 Luar Negeri.
Lalu, pada Oktober lalu ada sosialisasi dari tim Puspresnas yang menyampaikan adanya perubahan ketentuan. Perubahan tersebut di antaranya tidak ada dukungan pemberian konselor dan biaya pendaftaran keempat universitas luar negeri. Hal ini semula dijanjikan dan akan difasilitasi oleh BIM.
Siswa jadi dilematis karena ketidakpastian ini.
Kemudian, mereka hanya boleh mengajukan satu LoA dan harus ikut seleksi ulang pada Mei 2025 untuk mendapatkan pembiayaan dari Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI). Rapor akan dibagikan pada bulan Mei setelah proses wawancara selesai.
Lalu, pada November lalu, terbit surat dari Puspresnas yang menyatakan tidak ada dukungan untuk pendaftaran atau studi luar negeri, baik konselor maupun biaya pendaftaran. Selain itu, program persiapan BIM dinyatakan selesai dan tidak ada keberlanjutan ke program beasiswa bergelar seperti yang dijanjikan/disosialisasikan di awal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/30/eca2b726-0ffc-4c8a-8044-cfd34135c407_jpeg.jpg)
Ada pula pernyataan dari Puspresnas bagi siswa BIM 4 untuk bisa mencari sumber beasiswa/pendanaan lain selain BPI, termasuk mendaftar ke PTN dalam negeri.
Para orangtua merasa heran dengan keputusan tersebut. Sebab, persiapan setahun dengan dana negara sudah berjalan. Jika tidak ada kejelasan kelanjutannya, ini dinilai pemborosan uang negara karena alokasi dana sesuai tujuan program sia-sia.
Hal tersebut juga menyia-nyiakan potensi anak bangsa yang telah disiapkan untuk belajar ke luar negeri. ”Sudah hampir setahun ini anak-anak berjuang mengikuti kegiatan persiapan, tetapi sudah di ujung program, sepertinya dibiarkan saja,” kata Ishandawi.
Untuk mendaftar ke universitas di luar negeri mandiri, ucap Ishandawi, tanpa didampingi dengan program konseling. Hal ini membuat anak-anak muda dengan talenta tinggi merosot motivasinya.
Menurut Ishandawi, para orangtua memperjuangkan harapan peserta agar program BIM 4 ini berjalan sesuai sosialisasi awal. Bukannya dihentikan sepihak seperti tercantum dalam surat Puspresnas tertanggal 3 November 2024 yang ditujukan ke kepala sekolah dan peserta program.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/08/20/78c7fcdf-202c-456e-bd5e-6514ec33e5cd_jpg.jpg)
Padahal, ada sekolah yang tidak mengizinkan siswanya ikut seleksi jalur undangan PTN dalam negeri. Pihak sekolah khawatir, jika siswa tersebut diterima melalui jalur undangan PTN dalam negeri, ia akan melepasnya bila mendapat kuliah di luar negeri.
”Siswa jadi dilematis karena ketidakpastian ini,” ujar salah satu orangtua peserta beasiswa kelas persiapan BIM 4 di Jakarta.
Kepala Puspresnas Maria Veronica Irene Herdjiono mengatakan sedang menjadwalkan untuk audiensi kembali dengan orangtua dalam minggu ini. ”Setelah pertemuan dengan orangtua anak-anak BIM persiapan kami komunikasikan ya,” katanya.
Penulis:
Ester Lince NapitupuluEditor:
Ichwan Susanto