Laporan tentang anggota keluarga yang hilang terdengar di berbagai media sosial. Kini, ratusan orang masih belum ditemukan akibat bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
02 Des 2025 14:42 WIB · Lingkungan
DOKUMENTASI PEMERINTAH ACEH
Banyak warga Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, terus mencari kabar keberadaan anggota keluarga yang hilang dan tidak bisa dihubungi pascabencana. Mereka memanfaatkan layanan pesan di grup aplikasi Whatsapp hingga melapor ke layanan pengaduan yang dibuka pemerintah.
”Mohon bantuannya teman-teman, bagi yang melihat saudara kandung saya hilang kontak sejak hari Rabu (26/11/2025) sampai sekarang. Posisi terakhir di (Kelurahan) Sriwijaya, (Kecamatan) Kuala Simpang, dekat pendopo sama Telkom di Kuala Simpang. Rumah dekat sekolah, rumah dua lantai di samping ada rumah lantai satu warna putih. Rumah dekat jalan (bukan jalan raya), agak masuk lorong.”
Demikian isi pesan dalam gambar yang dilengkapi foto dua pemuda bernama Abdul Mulki dan Riki yang diunggah Sholi D Alwi di Grup WA Informasi Pencarian Orang Hilang Aceh-Sumatera, Selasa (2/12/2025) pukul 11.08 WIB.
Pesan itu menjadi salah satu dari sekian banyak warga Aceh dan Sumatera Utara yang terus berusaha mencari anggota keluarganya yang hilang akibat bencana.
Sejak dibuat pada Minggu (30/11/2025), grup itu dengan cepat diisi 1.025 anggota. Sebagian besar anggota mengirimkan pesan mencari anggota keluarganya yang belum ada kabar sejak bencana pertama kali terjadi antara Selasa (25/11/2025) dan Rabu (26/11/2025). Pesan itu terus muncul hingga nyaris 24 jam sampai Selasa (2/12/2025) siang.
Tak hanya di satu grup WA, ratusan warga juga terus mencari informasi mengenai keberadaan anggota keluarganya di banyak grup WA lainnya. Grup itu dibuat oleh sesama pencari anggota keluarga yang hilang, lalu grup itu disebar berantai ke banyak platform media sosial. Mereka membuat grup itu untuk berbagi informasi dan sama-sama saling mencari.
Kepanikan tampak dari setiap pesan yang mereka sampaikan. Alasannya, mereka rata-rata sudah seminggu tidak mendapatkan kabar dari anggota keluarganya yang belum ditemukan tersebut.
Kebanyakan warga yang dicari berasal dari wilayah pesisir timur dan pegunungan Aceh, terutama di Aceh Tamiang, Aceh Tengah, dan Gayo Lues. Ada pula warga yang dicari berasal dari wilayah Sumatera Utara yang berbatasan dengan Aceh, seperti Langkat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/02/edaa00ad-7871-4f68-b3ed-32645410c150.jpg)
Berdasarkan data Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh hingga Senin (1/12/2025) pukul 20.00 WIB, selain 173 jiwa meninggal, tercatat 204 orang masih hilang. Data orang hilang itu berasal dari laporan di 10 kabupaten/kota dari 18 kabupaten/kota yang terdampak.
Sebagian besar orang hilang berasal dari Aceh Utara yang mencapai 90 orang, disusul Bener Meriah sebanyak 50 orang, dan Aceh Tengah 23 orang.
Namun, data itu berpotensi terus bertambah karena banyak wilayah terdampak yang belum bisa memberikan laporan akibat terkendala gangguan jaringan telekomunikasi, antara lain Aceh Tamiang yang terdampak parah.
Sementara itu, dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara hingga Senin malam, selain 240 jiwa meninggal, dampak bencana itu menyebabkan 182 orang hilang. Data orang hilang itu berasal dari laporan di lima kabupaten/kota dari 17 kabupaten/kota yang terdampak.
Sebagian besar orang hilang berasal dari Tapanuli Tengah yang mencapai 104 orang dan Tapanuli Selatan 46 orang. Sama seperti di Aceh, data itu kemungkinan bertambah seiring berjalannya upaya pembukaan akses ke wilayah-wilayah yang masih terisolasi dari akses transportasi ataupun komunikasi.
Sementara di Sumbar, hingga 1 Desember 2025 pukul 21.00 WIB, jumlah korban jiwa dalam bencana di Sumbar sebanyak 166 orang dan 114 hilang. Korban jiwa dari Agam tercatat sebanyak 118 orang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/02/bc7a7c3e-0bc6-4f98-9558-0990d2c19435.jpg)
Juru Bicara Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh Murthalamuddin mengatakan, pihaknya telah membuka layanan pengaduan orang hilang sejak Minggu (30/11/2025). Dari data yang dihimpun dari posko yang berada di tiap kabupaten/kota, sejauh ini ada 34 laporan kehilangan yang disampaikan masyarakat.
Rinciannya, delapan laporan masuk pada Minggu dan 26 laporan masuk pada Senin. Pengaduan terbanyak berasal dari warga yang mencari informasi anggota keluarga mereka di Aceh Tamiang dan Aceh Tengah.
”Bentuk laporan yang kami terima beragam, mulai dari permintaan pencarian informasi keluarga, permohonan evakuasi darurat, hingga kebutuhan bahan pangan,” ujarnya.
Murthalamuddin menuturkan, kebanyakan warga melaporkan ada anggota keluarga hilang karena belum bisa saling menghubungi atau komunikasi. Karena itu, belum tentu orang yang dimaksud benar-benar hilang. Tidak tertutup kemungkinan, orang-orang tersebut hanya belum mendapatkan akses untuk berkomunikasi.
”Tetapi, kami tetap tampung semua laporan itu sebagai laporan orang hilang,” katanya.
Terlepas dari itu, Pemerintah Aceh tidak menafikan data orang hilang berpeluang terus bertambah. Alasannya, ada sejumlah wilayah terdampak yang masih terisolasi dari akses transportasi ataupun jaringan komunikasi. Dengan begitu, informasi dari wilayah-wilayah tersebut belum diterima secara optimal.
Selama proses pembukaan akses berjalan, layanan pengaduan orang hilang akan terus dibuka setiap hari dan setiap laporan akan ditindaklanjuti secara cepat serta terkoordinasi dengan tim di lapangan.
Saat ini, segenap pihak dari pemerintah daerah hingga pusat terus berusaha membuka akses transportasi yang masih putus dan jaringan komunikasi yang masih terganggu tersebut.
”Selama proses pembukaan akses berjalan, layanan pengaduan orang hilang akan terus dibuka setiap hari dan setiap laporan akan ditindaklanjuti secara cepat serta terkoordinasi dengan tim di lapangan. Kami akan terus memperbarui informasi sesuai perkembangan di lapangan,” tutur Murthalamuddin.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/01/47951185a41bf72306eeb427efbfbe4c-20251201TOK3.jpg)
Sebelumnya, Ketua Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh M Nasir menyampaikan, ada tiga prioritas utama penanganan dampak bencana saat ini, yakni evakuasi warga terisolasi, pendistribusian bantuan logistik, dan pemulihan konektivitas. Semua pihak terkait terus bekerja untuk menuntaskan tiga prioritas tersebut.
”Tiga prioritas utama itu diharapkan tuntas selama 14 hari terhitung dari masa tanggap darurat ditetapkan (selama 28 November-11 Desember 2025). Kita semua berharap semua permasalahan bisa diselesaikan sehingga nantinya kita bisa fokus ke tahapan berikutnya tahap rehabilitasi,” ujar Nasir.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto