Raya Bukan Sekadar Cacingan

Meninggalnya Raya (4) karena cacingan menjadi potret kompleksnya masalah yang melingkupinya. Pengingat akan pentingnya peran negara.

22 Agt 2025 06:01 WIB · Tajuk Rencana

Oleh Redaksi

Harian Kompas (Kompas.id) memberitakan kiprah Rumah Teduh Sahabat Iin, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM), yang pertama kali menemukan dan mendampingi Raya yang bermasalah dengan kesehatannya pada awal Juli 2025. Proses pendampingan di-posting di akun Instagramnya.

Raya adalah anak balita perempuan asal Kampung Pandangeyan, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Raya diasuh neneknya. Ibunya, Endah (38), diduga menderita gangguan jiwa, sedangkan ayah Raya, yakni Udin (32), sakit tuberkulosis (TBC). Raya kerap berada di kolong rumahnya, tempat keluarga memelihara ayam.

Raya dibawa ke RSUD Syamsudin, Kota Sukabumi, pada 13 Juli 2025 karena tidak sadar. Tim medis segera menanganinya. Raya mendapatkan observasi ketat dan konsultasi dengan dokter spesialis anak. Setelah kondisinya membaik, Raya dipindahkan ke ruang perawatan intensif anak.

Kader Posyandu memberikan obat cacing kepada anak balita saat berkunjung ke pelayanan Posyandu di RW 05 Rawa Terate, Cakung, Jakarta Timur, Selasa (14/2/2023). Pemberian obat cacing dilakukan satu tahun enam bulan sekali yang bertujuan untuk membebaskan atau menurunkan angka penyakit cacingan pada anak usia prasekolah dan anak usia sekolah melalui pemberian obat cacing terintegrasi. Kompas/Riza Fathoni (RZF) 14-02-2023

Dalam perawatan di rumah sakit, cacing keluar dari hidung, alat kemaluan, dan anusnya. Hasil CT scan menunjukkan cacing sudah menyebar, bahkan mencapai otak. Ketua Ikatan Dokter Indonesia Jabar Mohammad Luthfi menginformasikan, terdapat sekitar 1 kilogram cacing gelang (Ascaris lumbricoides) di tubuh Raya.

Raya akhirnya mengembuskan napas terakhirnya pada 22 Juli 2025. Irfan dari bagian Humas RSUD Syamsudin menjelaskan, kematian Raya bukan hanya akibat infeksi cacing, melainkan juga komplikasi dari TBC yang dideritanya. Namun, kita tetap terkejut dan sedih masih ada warga negara yang meninggal karena cacingan.

Masalah bertambah karena Raya tidak didukung BPJS Kesehatan dan tidak mampu membayar tagihan rumah sakit. Relawan Rumah Teduh Iin coba meminta keringanan pembiayaan, tetapi gagal. Dinas Sosial Kota dan Kabupaten Sukabumi, serta Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi juga tidak membantu memberikan solusi. Ketika Raya meninggal, tagihan dari rumah sakit mencapai Rp 23 juta.

Dari kronologi ini tergambar jelas bahwa kasus meninggalnya Raya menunjukkan kompleksnya persoalan. Masalahnya dimulai dari anak balita yang tidak mendapatkan pengasuhan dan perlindungan yang layak, masalah kesehatan keluarga, sanitasi, kemiskinan, tidak adanya perlindungan sosial, serta kurangnya dukungan pemerintah. Aparat pemerintah kalah sigap dari sebuah LSM. Oleh karena itu, kita mengapresiasi upaya Rumah Teduh Sahabat Iin.

Kita mendukung langkah Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, meskipun terlambat, untuk menginvestigasi kasus tersebut. Kasus Raya dapat menjadi contoh bagaimana negara wajib turun tangan melindungi rakyatnya yang tak berdaya karena kemiskinan. UUD 1945 Pasal 34 mengamanatkan negara untuk memelihara fakir miskin dan anak-anak telantar. Masih banyak kasus serupa Raya di Tanah Air.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Albertus Subur Tjahjono, Antonius Tomy Trinugroho
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan