RDF Plant Rorotan di Jakarta Utara belum beroperasi, tetapi sudah panen protes warga sekitar karena bau.
20 Mar 2025 12:50 WIB · Metro
JAKARTA, KOMPAS — Warga sekitar terus mengeluhkan bau dari tempat pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif di RDF Plant Rorotan, Jakarta Utara. Mereka khawatir mengalami gangguan kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjanjikan perbaikan deodorizer dan menambah filter serta menanggung biaya kesehatan warga terdampak. Janji disampaikan dalam pertemuan tertutup dengan 10 perwakilan warga di RDF Plant Rorotan pada Kamis (20/3/2025).
Warga menunggu Pramono sejak pukul 08.00 WIB. Sebagian mengenakan masker karena bau sampah. Bau ini bahkan lebih menyengat daripada saat peninjauan oleh Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno pada Selasa (25/2/2025) sore.
Sore itu, bau tercium samar-samar. Tergantung embusan angin.
Pramono tiba di lokasi 30 menit kemudian. Politisi PDI-P ini langsung mengajak perwakilan warga masuk ke Kantor RDF Plant Rorotan. Pertemuan juga diikuti Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto.
”Saya cek teknologi RDF Plant Rorotan agar dampaknya terhadap apa yang dikhawatirkan warga tak terjadi. Akan diperbaiki deodorizer-nya, filternya ditambah, dan pemprov bertanggung jawab,” kata Pramono seusai pertemuan selama satu jam dengan warga.
Deodorizer berfungsi untuk menetralkan bau amonia dan hidrogen sulfida melalui proses oksidasi. Sementara filter karbon aktif untuk menyerap partikel bau yang tersisa.
RDF Plant Rorotan digadang sebagai solusi pengelolaan sampah dengan kapasitas 2.500 ton per hari. Bahkan, fasilitas tersebut dilengkapi dengan teknologi pengendalian bau yang canggih.
Dalam pertemuan terungkap pula sampah lama sebagai pemicu bau. Sebanyak 2.500 ton sampah lama dalam rentang 10 hari hingga sebulan lebih digunakan untuk uji coba persiapan peralatan dan sistem sebelum pengoperasian RDF Plant Rorotan.
”Makanya, timbul bau dan cerobong keluarkan asap hitam. Padahal, seharusnya RDF Plant mengelola sampah baru. Paling lama tiga hari sesuai kapasitas daya tampung 5.000 ton,” ujar Pramono.
Mantan Sekretaris Kabinet ini meminta pengelola untuk segera mengosongkan 800 ton sampah lama sisa uji coba dari bungker. Setelah itu, baru dilakukan uji coba sesuai dengan ketentuan.
Selain itu, disepakati beberapa hal lain. Pemasangan stasiun pemantau kualitas udara dalam radius 4-5 km dari RDF Plant Rorotan, truk sampah yang beroperasi harus tertutup penuh agar air lindi dari sampah tidak menetes ke lingkungan, dan uji coba lanjutan melibatkan warga sekitar.
”Warga protes, kalau mau demonstrasi silakan. Itu hak warga. Kami sudah dialog dan sampaikan apa adanya. Pemprov tanggung jawab penuh,” ucap Pramono.
RDF Plant Rorotan digadang sebagai solusi pengelolaan sampah dengan kapasitas 2.500 ton per hari. Bahkan, fasilitas tersebut dilengkapi dengan teknologi pengendalian bau yang canggih.
Namun, saat uji coba Februari lalu, warga dari Jakarta Garden City mengeluhkan bau. Ada 25.000 keluarga di perumahan tersebut yang terdiri dari 18 RT dalam 20 kluster.
Pengurus RT 18 RW 14 di Kluster Shinano Jakarta Garden City Wahyu Andre Maryono menyebut, sembilan kluster paling terdampak bau, yaitu Shinano, Mahakam, Savoy, La Seine, Yarra, South Thames, North Thames, South Mississippi, dan North Mississippi.
Bau di sembilan kluster ini menyengat, sedangkan kluster sisanya samar-samar tergantung dari embusan angin. Selain bau, warga di sembilan kluster juga melihat asap hitam dari RDF Plant Rorotan dan menemukan serpihan kertas hasil pembakaran.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/25/39a6f04b-07a3-4ab7-81eb-993a5d99ce71_jpg.jpg)
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto memastikan kontraktor akan memperbaiki deodorizer dan memasang filter dan mengosongkan sampah lama sisa uji coba dalam sepekan ini. Kemudian, akan berlangsung uji coba lagi dengan sampah baru.
RDF Plant Rorotan dibangun sejak Mei 2024. Anggarannya Rp 1,28 triliun dari APBD DKI Jakarta 2024. Fasilitas ini berdiri di atas lahan seluas 7,87 hektar.
RDF Plant Rorotan melengkapi RDF Plant Bantargebang. Kedua fasilitas itu bertujuan untuk mengurangi beban Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat, yang setiap harinya menerima 7.200-7.700 ton sampah.
Daya tampung TPST tetap sama sejak mulai beroperasi pada 1989. Alhasil, pengurangan beban menjadi sangat penting.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DhanyEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .