Real Madrid gagal menjauh dari kejaran Atletico di puncak klasemen Liga Spanyol. Ketangguhan Real musim ini belum terbukti.
09 Feb 2025 09:18 WIB · Olahraga
MADRID, MINGGU — Untung tidak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Real Madrid gagal memaksimalkan kesempatan untuk memperlebar jarak dengan Atletico Madrid. “Los Blancos” nyaris kalah sebelum Kylian Mbappe mencetak gol yang membuat skor imbang 1-1 saat kedua tim berlaga di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid, Minggu (9/2/2025) dini hari WIB. Hasil tersebut jadi bukti lain ketangguhan semu Real musim ini.
Meski telah memenangkan Piala Super UEFA, berpeluang melaju ke babak 16 besar Liga Champions, dan memastikan tempat di semifinal Piala Raja Spanyol, masih ada yang membingungkan dari performa Real musim ini. Tim besutan pelatih Carlo Ancelotti tersebut kerap bisa mengatasi tim-tim kecil tetapi selalu kesulitan mengatasi lawan yang memiliki komposisi pemain dan level setara.
Dengan hasil imbang kontra Atletico, ini berarti Real melanjutkan tren gagal menang atas tim besar musim ini. Ketangguhan Real belum teruji menghadapi raksasa-raksasa Eropa semacam AC Milan, Liverpool, dan Barcelona. Maka, sederet kesuksesan kecil Real sejauh musim ini tidak lain dibangun di atas ketangguhan semu.
Real selalu menelan kekalahan saar berjumpa tim besar. Kecenderungan ini menimbulkan kekhawatiran di antara para pendukung terkait peluang Real menaklukkan Manchester City dalam perebutan tiket ke babak 16 besar Liga Champions.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/09/5a3e20619d190a7afdd9b3dadaf4ecd7-wires_photo_18_.jpg)
“Semua orang boleh punya pendapatnya sendiri. Ini akan menjadi musim yang sulit di liga hingga akhir. Kami senang walaupun mengalami sejumlah kesulitan. Meski sulit, kami bekerja dengan baik,” ujar Ancelotti menjawab kritik soal performa timnya sejauh musim ini.
Penyebab utama Real kesulitan mengatasi tim-tim besar adalah ketidakmampuan menghentikan upaya lawan membangun serangan sejak dari lini tengah. Tim-tim besar dengan kualitas pemain yang lebih baik selalu mampu menerobos pressing garis pertama Real yang digalang para penyerang dan gelandang.
Saat menerima serangan, Ancelotti umumnya memerintahkan pemain membentuk pola 4-4-2 yang bertujuan merapatkan ruang antarlini sekaligus membatasi aliran bola lawan. Namun, Vinicius Junior dan Kylian Mbappe yang bertugas menekan sejak bola masih di pertahanan lawan kerap gagal menjalankan perannya.
Setelah Mbappe dan Vinicius terlewati, para pemain lawan langsung memenangkan jumlah di lini tengah. Hal ini yang menyebabkan para gelandang Real kerap kewalahan membendung serangan.
Pada beberapa momen, Luka Modric sempat bersitegang dengan Vinicius karena relatif jarang turun membantu lini tengah. Jude Bellingham juga pernah tertangkap kamera berbicara dengan tiga penyerang Real agar mundur lebih jauh membantu menekan serangan lawan.
Secara garis besar, Real kerap kesulitan menekan lawan dengan kualitas pemain lebih baik. Hal itu sering dijumpai saat bertemu tim-tim besar. Situasinya berbeda saat menghadapi tim kecil. Dengan ketimpangan kualitas pemain, Real cenderung bisa menekan dengan lebih baik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/09/485664290a7707dd13e9fa71c885d9f2-wires_photo_16_.jpg)
Selain kewalahan dalam bertahan, Real juga belum membuktikan kualitas lini serangnya saat berjumpa tim besar. Ini terjadi pada laga terbaru Real menghadapi Atletico. Lini serang Real yang diperkuat Vinicius, Rodrygo, Mbappe, dan Bellingham tidak mampu membongkar pertahanan rapat Atletico yang menerapkan formasi 4-4-2, bahkan 5-5-0 saat bertahan.
Kesulitan menciptakan ruang dan peluang akibat pertahanan rapat Atletico, keempat pemain Real tersebut bergantian turun ke lini tengah dan mencoba melewati penjagaan lawan dengan kombinasi umpan satu-dua. Sayangnya mereka kerap ceroboh saat menguasai bola. Bellingham, misalnya, kehilangan bola hingga 10 kali. Adapun Rodrygo kehilangan bola sebanyak tujuh kali.
Di tengah upaya mencetak gol itu, Real justru kebobolan lebih dulu lewat penalti Julian Alvarez. Hadiah penalti untuk Atletico ini sempat membuat situasi di dalam stadion memanas karena keputusan wasit Cesar Soto Grado yang kontroversial. Lewat bantuan tayangan video pembantu wasit (VAR), Soto Grado memutuskan bahwa Aurelien Tchouameni menginjak Samuel Lino.
“Ini adalah satu poin yang tidak cukup bagi kami. Kami telah menetapkan rencana permainan dan mereka (Atletico) telah memimpin tanpa melakukan apa pun. Setelah itu, tim menunjukkan karakter dan terus menyerang,” kata kapten Real, Lucas Vazquez.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/09/87ffd7081017be06690f17f2c9719280-wires_photo_12_.jpg)
Berkat kegigihan dalam menyerang, Real akhirnya bisa menyamakan kedudukan lewat sepakan Mbappe. Mantan pemain Paris Saint-Germain itu menyambar bola liar hasil halauan tidak sempurna bek Atletico. Real terus berusaha mencetak gol pembalik keadaan, tetapi pertahanan Atletico sangat disiplin dan tanpa kompromi. Hingga laga usai, skor imbang 1-1 tetap bertahan.
Hasil imbang ini membuat Real kini mengoleksi 50 poin, berselisih satu poin dengan Atletico di peringkat kedua. Dengan ini, Barcelona di peringkat ketiga memiliki kesempatan memperkecil selisih poin menjadi satu dengan Atletico. Namun, Barca terlebih dulu harus mengalahkan Sevilla pada laga lainnya.
“Kami berada di posisi yang sangat bagus. Barcelona adalah tim terbaik, mereka bermain dengan sangat baik. Jika mereka berhasil menang di Sevilla, klasemen akan sangat ketat. Dan itu akan sangat bagus bagi para jurnalis untuk bersenang-senang bersama,” ujar Pelatih Atletico, Diego Simeone. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji