Dua gol penyerang Tottenham Dominic Solanke berhasil menghukum Manchester City sekaligus melapangkan jalan Arsenal. City kembali terjebak dalam inkonsistensi.
02 Feb 2026 07:49 WIB · Olahraga
AP/RICHARD PELHAM
LONDON, MINGGU — Realitas absurd tersaji di Stadion Tottenham Hotspur. Tottenham membantu tim tetangga, Arsenal, dalam perburuan gelar juara Liga Inggris dengan berhasil menahan Manchester City. Keabsurdan itu diinspirasi oleh penyerang Tottenham Dominic Solanke.
Para penggemar Tottenham sempat berharap timnya kalah dari City agar Arsenal kembali gagal juara. Namun, skuad Tottenham menolak ide tidak masuk akal tersebut. Tim asuhan Pelatih Thomas Frank justru menunjukkan perlawanan hebat dalam laga imbang 2-2 versus City, Senin (2/2/2026) WIB.
”Saya sangat bangga dengan para pemain. Kami merespons ketinggalan dengan baik dan berhasil mendapatkan sesuatu dari itu. Kami menunjukkan sikap yang fantastis. Sikap pantang menyerah adalah kuncinya. Lebih impresif lagi dengan fakta situasi badai cedera yang kami hadapi,” ujar Frank.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/02/538064f063eb7df8695125122c974cc7-Britain_Premier_League_Soccer_38_.jpg)
Tottenham tertinggal 0-2 lebih dulu sebelum turun minum, lewat gol gelandang Rayan Cherki dan penyerang sayap Antoine Semenyo. Saking benci dengan Arsenal yang merupakan rival abadi Tottenham, banyak penggemar tuan rumah ikut merayakan gol tersebut.
Alih-alih menyerah, Frank melakukan perubahan radikal di paruh kedua. Gelandang Pape Sarr masuk menggantikan bek Cristian Romero. Formasi Tottenham berubah dari 3-4-2-1 jadi 4-2-2-2. Permainan mereka menjadi lebih hidup dengan serangan-serangan cepat setelah berhasil memenangkan duel.
Para penggemar yang semula pasrah perlahan berbalik ke sisi Tottenham. Kebangkitan tim tuan rumah dimotori oleh gelandang Xavi Simons dan Conor Gallagher. Mereka membuat ”Si Lili Putih” lebih agresif saat tanpa ataupun dengan penguasaan bola. Duet gelandang jangkar City, Rodri dan Nico O’Reilly, tampak kewalahan.
Manajer City Pep Guardiola berkata, gol pertama Tottenham pada menit ke-53 menjadi titik kejatuhan mereka. ”Setelah kebobolan, kami kesulitan. Mereka lebih banyak mengirim (bola) ke pertahanan kami, lalu menemukan gol. Momentum pertandingan pun berubah sejak itu,” ujarnya.
Solanke, striker utama Tottenham, menjadi eksekutor kebangkitan tuan rumah. Dia menyumbang dua gol sekaligus setelah turun minum. Salah satu golnya diciptakan dengan cara spektakuler. Solanke menendang bola dengan gaya kalajengking, memanfaatkan umpan silang Gallagher.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/02/88505f7ea7c9a9b047c2f8270c216664-Britain_Premier_League_Soccer_36_.jpg)
Keunggulan Tottenham pada paruh kedua tecermin jelas dalam statistik. Mereka mampu menciptakan enam tembakan tepat sasaran, saat City gagal mencatatkan satu pun percobaan ke gawang. Adapun di babak pertama, Tottenham hanya menghasilkan dua tembakan dan tidak ada yang tepat sasaran.
”Pertandingan ini terbagi menjadi dua babak. Babak pertama sulit, kami kesulitan mendekati mereka. Babak kedua ceritanya berbeda, kami bermain bagus dan kepercayaan diri serta keyakinan kami meningkat. Beberapa penyesuaian taktik membantu kami bermain lebih baik,” kata Solanke.
Selama paruh pertama, Tottenham kesulitan membangun serangan dari bawah karena kekurangan opsi di lini tengah. Mereka pun berkali-kali kehilangan bola di lini tengah karena dijebak para pemain City. Adapun dua gol City sama-sama berasal dari momen transisi setelah berhasil mencuri bola lawan.
Walaupun tidak memenuhi keingingan awal kebanyakan pendukung, skuad Tottenham tetap mendapatkan apresiasi dari seisi stadion. Tim asuhan Frank memberikan sedikit harapan setelah penampilan heroik itu, tidak terkalahkan dalam empat laga beruntung, dan berhasil lolos ke 16 besar Liga Champions.
Perlawanan Tottenham sangat luar biasa jika dilihat dari sisi materi pemain. Mereka harus mengubah posisi asli beberapa pemain saat City tampil dengan skuad terbaik. Gelandang Joao Palhinha dan Archie Gray harus tampil sebagai bek karena badai cedera di skuad Si Lili Putih.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/02/e1fdc0c7724409c719a2c8b22e8da0ab-wires_photo_2026_02_02T032009.719.jpg)
Berkat bantuan Tottenham, Arsenal semakin nyaman di puncak klasemen sementara dengan 53 poin. City yang sempat memangkas jarak jadi empat poin pada pekan lalu kini harus terpaut enam poin lagi dari Arsenal. Dengan 14 laga tersisa dan inkonsistensi City, Arsenal semakin diunggulkan untuk mengangkat trofi di akhir musim.
Di balik realitas absurd di Stadion Tottenham Hotspur, terdapat juga kisah yang agak unik. Solanke yang secara tidak langsung berjasa untuk tim tetangga pernah mendukung Arsenal saat kecil. Ayahnya merupakan penggemar setia Arsenal. Tidak heran jika dia begitu berapi-api di laga itu. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra