AVC Nations Cup 2025 menyingkap realitas kualitas timnas bola voli putri. Finis kelima, Indonesia tak cuma kalah saing dari Thailand dan Vietnam, tetapi juga Filipina.
14 Jun 2025 20:22 WIB · Olahraga
HANOI, SABTU — Lebih dari dua dekade terakhir, Indonesia boleh saja ”nyaman” sebagai bagian dari tiga besar kekuatan bola voli putri Asia Tenggara. Namun, terlampau nyaman sampai luput melakukan hal mendasar, seperti persiapan ketika ikut turnamen, termasuk pemusatan latihan yang panjang dan skuad dengan kekuatan maksimal, posisi itu terancam.
Hasil di AVC (Konfederasi Bola Voli Asia) Women’s Volleyball Nations Cup 2025 di Vietnam, 7-14 Juni, menunjukkan realitas kualitas timnas bola voli putri Indonesia saat ini. Tak hanya kalah saing dari Thailand dan Vietnam, Indonesia bahkan tersalip oleh Filipina di Asia Tenggara.
Indonesia memastikan finis sebagai peringkat kelima AVC Nations Cup 2025 setelah mengalahkan Iran, 3-1 (25-17, 25-15, 23-25, 25-20), di Dong Anh Gymnasium, Hanoi, Vietnam, Sabtu (14/6/2025) sore. Hasil positif ini membalaskan kekalahan 2-3 (25-23, 23-25, 25-16, 19-25, 12-15) Indonesia dari Iran pada pertemuan pertama saat fase grup, pekan lalu.
Tidak hanya itu, kemenangan atas Iran juga membuat Indonesia mengoleksi empat kemenangan dari total tujuh pertandingan selama AVC Nations Cup 2025. Dengan torehan itu, Yolla Yuliana dan kawan-kawan naik enam peringkat menjadi posisi ke-48 dunia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/14/b47bad38-801e-4359-b25c-05d9f1ac30a4_jpg.jpg)
”Saya mau berterima kasih untuk tim karena mereka sudah melakukan pekerjaan dengan baik. Alhamdulillah peringkat kami naik, ini tentang kami terus menjadi lebih baik,” kata Dony Adhitama, asisten pelatih timnas putri.
”Pada akhirnya, kami sudah menemukan komposisi yang tepat, itu yang membuat kami lebih percaya diri. Kami tahu siapa yang bisa ditempatkan sebagai hitter, siapa yang jadi middle blocker,” ujar Dony soal kunci kemenangan melawan Iran.
Iran merupakan lawan pertama Indonesia pada fase grup AVC Nations Cup. Setelah kalah dari Iran pada pertemuan perdana, tim asuhan pelatih Octavian ini menelan dua kekalahan lain, yakni saat melawan Filipina (1-3) dan Kazakhstan (0-3).
Dengan total tiga kekalahan beruntun, Indonesia pun gagal memenuhi target untuk menembus empat besar dan berlaga di semifinal. Indonesia harus puas finis di peringkat keempat Pul B. Hanya dua tim terbaik dari Pul A dan Pul B yang bisa melaju ke semifinal.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/14/d62ca5fa-91d4-4848-bfb6-d4191441b298_jpg.jpg)
Dony tak memungkiri, persiapan mepet membuat tim kepelatihan kesulitan untuk menyusun komposisi skuad yang tepat. Dia menyebut, waktu persiapan yang mereka miliki lebih kurang hanya dua minggu.
Saat tim lain, seperti tim putra dan putri U-21, telah berlatih di Padepokan Bola Voli Jenderal Polisi Kunarto, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 22 Mei 2025, para pemain timnas putri senior belum muncul. Pelatih Octavian mengatakan, skuadnya belum lengkap. Beberapa pemain memang masih menjalani beragam acara bersama klub.
Octavian saat itu memperkirakan, para pemain baru bisa lengkap dan latihan mulai bisa dilakukan pada 26 Mei 2025. Indonesia berangkat pada 5 Juni. Artinya, mereka hanya punya waktu latihan efektif sekitar 10 hari di Tanah Air.
Di sisi lain, Indonesia juga tidak turun dengan kekuatan penuh. Pemain-pemain yang menunjukkan performa positif beberapa tahun terakhir, seperti Megawati Hangestri Pertiwi dan Arsela Nuari, sama-sama absen. Padahal, dua pemain ini merupakan kunci sekaligus motor serangan tim.
Baik Megawati maupun Arsela terpaksa absen karena harus menjalani pemulihan akibat cedera. Megawati juga meminta izin karena alasan personal. Dengan kondisi itu, kekuatan Indonesia timpang. Apalagi, tak ada opposite murni dalam skuad.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/14/73bfc00d-96ea-42b8-9019-8f6759499044_jpg.jpg)
Padahal, Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PP PBVSI) Imam Sudjarwo saat melepas para pemain menyampaikan, skuad sudah cukup lengkap dan kompetitif. Tim juga siap baik secara taktik, teknik, strategi, maupun mental.
Namun, tiga laga awal menunjukkan sebaliknya. Satu hal positif, pemain debutan seperti Ersandrina Devega Salsabilah mampu menunjukkan potensinya. Bersama pemain langganan timnas, Mediol Yoku, Devega kerap tampil apik dan menjadi pendulang poin bagi timnas.
Saat melawan Iran pada laga perebutan peringkat kelima, misalnya, Devega mampu menyumbang poin terbanyak kedua untuk Indonesia dengan 15 angka. Dia hanya terpaut satu poin dari Mediol.
Wakil Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBVSI Loudry Maspaitella mengamini bahwa skuad yang berangkat ke Vietnam bukanlah yang terbaik. Minimnya stok outside hitter dan opposite menjadi sorotannya.
”Putri (Agustin) lebih banyak back up Ajeng (opposite), sedangkan Afifah belum maksimal dalam menyerang, tetapi blok dan servisnya bagus,” ujar Loudry sebelum melawan Iran.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/14/4358d1b4-9c3d-43aa-a7e2-173a55dc96b5_jpg.jpg)
Loudry, yang juga ditunjuk sebagai manajer timnas putri, pun mengatakan, sebenarnya ada opsi agar kekuatan Indonesia bisa mendekati maksimal. Salah satunya mengombinasikan pemain senior dan yunior, khususnya dari pemain U-21.
Ide untuk menciptakan kombinasi itu mengemuka. Namun, PP PBVSI akhirnya memutuskan untuk tetap memisahkan pemain senior dan yunior, terutama karena tim U-21 disiapkan untuk Kejuaraan Dunia pada Agustus mendatang dengan Indonesia sebagai tuan rumah.
Dengan persiapan yang singkat, skuad yang tidak berkekuatan penuh, serta tanpa ada uji tanding, akhirnya Indonesia hanya bisa finis di luar empat besar. Sementara dua negara Asia Tenggara lainnya, Vietnam dan Filipina, melaju hingga ke final.
AVC Nations Cup 2025 merupakan nama baru dari turnamen AVC Women’s Challenge Cup, sebuah turnamen bola voli internasional tahunan yang diselenggarakan oleh AVC. Karena Liga Bola Voli Nasional (VNL) merestrukturisasi formatnya dan menghapus Challenger Cup sebagai kualifikasi langsung ke turnamen, AVC Nations Cup menjadi ajang bagi negara-negara yang saat ini tidak berpartisipasi dalam VNL untuk mengumpulkan poin peringkat dunia.
Poin peringkat dunia ini berguna untuk modal mengejar tiket ke VNL. Selain itu, juara turnamen ini akan lolos ke Kejuaraan Asia 2026.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/14/c350e267-b913-41da-a187-fc323daf0dd8_jpg.jpg)
Dalam tiga edisi yang pernah diikutinya, Indonesia memang tidak pernah keluar sebagai juara. Namun, Indonesia pernah finis sebagai runner-up pada edisi 2023 yang digelar di Gresik, Jawa Timur. Indonesia kalah dari Vietnam pada laga final.
Saat itu, Indonesia mengeluarkan skuad terbaik, termasuk dengan kehadiran Megawati Hangestri dan pemain veteran penuh pengalaman Wilda Siti Nurfadhilah. Dengan skuad terbaik saja, Indonesia masih sulit bersaing dengan Vietnam.
Pada edisi 2024, hasil Indonesia lebih buruk lagi dengan finis sebagai peringkat ke-7 dari 12 skuad yang berpartisipasi. Namun, saat itu, Indonesia diperkuat pemain yunior yang minim pengalaman.
Dengan hasil di AVC Nations Cup tahun ini, Indonesia terancam tak hanya kalah saing dari Thailand, yang mendominasi di Asia Tenggara, dan Vietnam, tetapi juga dari Filipina. Apalagi, Filipina mampu menembus babak final.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/05/31/30b2bd3f-689a-4bf4-a504-554990f3ae0b_jpeg.jpg)
Indonesia boleh saja nyaman sebagai langganan tiga besar di Asia Tenggara. Jika menilik dari SEA Games, sejak edisi 2007 di Thailand, Indonesia selalu berada di podium bersama Thailand dan Vietnam. Thailand selalu keluar sebagai juara, sedangkan Indonesia hanya bisa sekali menjadi penantang di final.
Sisanya selalu Vietnam yang bisa melaju ke partai final dan memperebutkan gelar juara dengan Thailand. Adapun Indonesia bergantian dengan Myanmar dan Filipina pada laga perebutan peringkat ketiga.
Namun, Filipina yang mendominasi pada tahun 1970-an dan menghilang dari daftar peraih gelar juara setelahnya mulai bangkit. Kebangkitan Filipina bahkan sudah terlihat dari SEA V League 2024, turnamen antarnegara Asia Tenggara, ketika Indonesia kalah dalam perebutan peringkat ketiga.
PP PBVSI melalui Ketua Umum Imam Sudjarwo mengatakan, AVC Nations Cup menjadi rangkaian momentum penting dalam enam bulan ke depan. Setelah AVC Nations Cup, Indonesia akan mengikuti SEA V League dan puncaknya SEA Games Thailand 2025.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/08/12/5586db57-62a1-4fda-ae6e-1cb690b7e88a_jpeg.jpg)
Jika persiapan yang dilakukan sama seperti ketika menjelang AVC Nations Cup, bukan tidak mungkin realitas kualitas timnas putri akan tetap demikian dan hasil yang didapat pun sama. Jangan heran juga apabila Indonesia tak hanya kalah saing dari Thailand dan Vietnam, tetapi juga Filipina, sehingga akhirnya tidak kebagian medali apa-apa.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti