Jepang mengandalkan serangan dari kedua sisi sayap. Indonesia harus kerja keras untuk menutup aliran bola ke sisi sayap dan meredam aksi individu pemain Jepang.
15 Nov 2024 11:42 WIB · Olahraga
Merujuk kualitas dan pengalaman di babak kualifikasi Piala Dunia, tim nasional Indonesia masih tertinggal dari Jepang. Meski begitu, skuad “Garuda” tetap memiliki cara demi memberikan kejutan kepada tim langganan Piala Dunia itu di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (15/11/2024) pukul 19.00 WIB.
Memasuki putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026, Pelatih Jepang Hajime Moriyasu sudah mematenkan formasi baku mereka, yaitu 3-4-2-1. Empat pertandingan telah dilalui dengan mengemas tiga kemenangan dan sekali imbang. Tim “Samurai Biru” mencetak 15 gol dan hanya sekali kemasukan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/14/6a826b70-e020-434b-8864-93bfa45c1001_jpg.jpg)
Itu menunjukkan serangan berbahaya Jepang yang sulit ditandingi di Asia. Formasi yang diterapkan Moriyasu itu mengandalkan serangan-serangan akhir dari sisi sayap. Dalam formasi empat gelandang, Moriyasu mengandalkan Kauro Mitoma dan Ristsu Doan untuk mengisi pos gelandang sayap.
Kecepatan dan kondisi fisik mereka nan prima adalah senjata untuk melakukan serangan dengan skill individu dalam situasi fast-break. Mereka juga rajin untuk turun ke bawah untuk berduel dengan penyerang sayap lawan.
Kemudian, dua pemain di belakang penyerang tunggal juga pemain yang sejatinya berposisi murni di zona sayap. Takumi Minamino dan Takefusa Kubo adalah pilihan utama di posisi itu. Ketika Kubo absen pada gim kontra Bahrain dan Arab Saudi, Moriyasu menempatkan penyerang sayap Crystal Palace, Daichi Kamada.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/15/e8ec89e9-c819-400d-8e27-d18d6696b45a_png.png)
Dua pemain itu juga memiliiki mobilitas tinggi. Dalam posisi bertahan, dua pemain itu akan berdiri sejajar dengan penyerang tengah untuk melakukan pres kepada lawan yang tengah memulai serangan. Kemudian, saat Samurai Biru tengah melakukan transisi positif, mereka akan lebih dominan bergerak di tengah untuk menghadirkan pemain tambahan di lini tengah.
Alhasil, Jepang akan terlihat bermain dengan empat pemain gelandang tengah saat menyerang. Dua penyerang akan sedikit turun untuk membantu Wataru Endo dan Hidemasa Morita menciptakan situasi kepadatan di sisi tengah lapangan.
Sebanyak delapan gol yang telah dihasilkan Jepang merupakan kontribusi dari pemain-pemain yang bermain di sisi lapangan. Kubo, Mitoma, dan Junya Ito masing-masing telah menyumbang delapan asis. Kemudian, Doan juga sudah berkontribusi sebuah asia.
Satu-satunya gol Jepang ke gawang Australia pada duel, Oktober lalu, yang tercatat bunuh diri Cameron Burgess, juga diawali umpan kunci Keita Nakamura yang bermain di posisi sayap untuk menggantikan Kubo.
Tak sekedar melayani rekan setimnya, para pemain sayap lincah Jepang juga sudah mencatatkan nama di papan skor pada putaran ketiga kualifiaksi Piala Dunia 2026. Ito, yang berperan sebagai supersub, sudah mencetak tiga gol. Mitoma telah menyumbang dua gol. Lalu, satu gol telah diciptakan Kubo, Minamino, dan Kamada.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/14/996d3562-4acd-4e23-83f8-5bafab4e3b68_jpg.jpg)
Gelandang tengah dan kapten Jepang, Endo, menyebut gaya menyerang yang disajikan Moriyasu di Jepang serupa dengan permainan Liverpool di era Juergen Klopp. Menurut dia, persamaan Moriyasu dan Klopp adalah memberikan kebebasan pemain-pemain untuk bergerak fleksibel saat memburu gol ke gawang lawan.
“Terkadang ada tiga pemain atau empat pemain menyerang yang menyesuaikan jalannya pertandingan. Taktik ini mirip Klopp. Itu berbeda dengan Arne Slot yang meminta pemain tetap berada di posisinya ketika menyerang,” tutur Endo dalam konferensi pers jelang laga, Kamis (14/11/2024), di Jakarta.
Meskipun sayap-sayap Jepang sangat berbahaya, tim asuhan Shin Tae-yong harus bijak untuk meredam ancaman Jepang. Indonesia memang telah memiliki dua bek sayap berkualitas, yaitu Kevin Diks di sisi kanan dan Calvin Verdonk di pos kiri, tetapi membiarkan keduanya berduel dengan pemain-pemain sayap Jepang selama 90 menit adalah bumerang.
Selain itu, pemain-pemain sayap Jepang juga kerap melakukan umpan-umpan diagonal ke sisi lain lapangan. Koneksi antarpemain sayap Samurai Biru sudah sangat padu, sehingga mereka bisa membaca situasi dengan baik untuk mengubah arah dan momentum serangan dalam hitungan detik.
Dengan bola di kaki, Mitoma di kiri dan Kubo di kanan akan bisa leluasa mengeluarkan kemampuan mereka melakukan dribel sukses dan menghujani pertahanan Indonesia dengan umpan silang. Pergerakan mereka juga bisa membuka ruang bagi pemain sayap di sisi berseberangan dengan posisi mereka.
Dibandingkan sekedar fokus meredam serangan sayap Jepang yang sudah gagal dilakukan Indonesia pada pertemuan di Piala Asia 2023, Januari 2024 lalu, tim Garuda perlu lebih aktif menciptakan duel-duel di lapangan tengah. Indonesia bisa belajar dari Australia yang bisa meredam Jepang karena tidak memberikan banyak kesempatan empat pemain sayap Jepang menguasai bola dan ruang bergerak.
Terkadang ada tiga pemain atau empat pemain menyerang yang menyesuaikan jalannya pertandingan. Taktik ini mirip Klopp. (Wataru Endo)
Hal yang paling mencolok dilakukan Australia adalah menutup secepat mungkin aliran operan Jepang ke sisi sayap. Itu pun terlihat dari anjloknya statistik umpan silang empat pemain sayap Jepang dibandingkan tiga gim sebelumnya. Mitoma yang rerata hasilkan lima umpan silang per laga di tiga gim awal, hanya bisa hasilkan empat umpan silang di gim melawan Australia.
Doan, yang mencatatkan rata-rata dua umpan silang per gim, gagal melepaskan satu pun umpan silang di zona pertahanan “Socceroos”. Kubo memang tampil dominan dengan melepaskan 13 umpan silang di laga kontra Australia, tetapi serangan yang monoton itu bisa diantisipasi dengan baik oleh Australia.
Dari empat pemain utama yang bermain kontra Australia, yakni Mitoma, Doan, Minamino, dan Kamada, hanya Mitoma yang mencatatkan dribel sukses. Pemain asal Brighton & Hove Albion itu mencatatkan 100 persen dribel sukses dari dua kali percobaan.
Namun, cara Australia untuk memaksa Jepang dominan berduel di lapangan tengah berpotensi lebih sulit dialami Indonesia. Pasalnya, Endo akan kembali tampil setelah menjalani akumulasi kartu kuning menghadapi Australia. Pemain Liverpool itu memiliki pemahaman posisi dan kemauan duel fisik yang bagus.
Dua gelandang tengah Indonesia, yaitu Thom Haye dan Nathan Tjoe-A-On—atau Jordi Amat yang juga bisa berperan sebagai gelandang bertahan—perlu mendapat sokongan dari rekan setimnya. Trio penyerang Indonesia harus lebih aktif menutup ruang dan menjadi extra midfielder dalam situasi bertahan.
Selain bertahan, Indonesia juga harus memaksimalkan transisi positif dengan mengandalkan operan cepat. Haram hukumnya pemain-pemain Indonesia terlalu sering berusaha melakukan dribel untuk melewati pemain Jepang. Alhasil, dukungan cepat dari para pemain sangat penting dalam memulai serangan balik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/14/e5628e52-5e3f-4040-85f1-dd6ab2487e86_jpg.jpg)
Pasalnya, pemain Jepang memiliki pemain-pemain sayap cepat yang bisa dengan cepat menutup ruang dan tak ragu berduel untuk mendapatkan kembali penguasaan bola. Serangan balik cepat dengan satu-dua operan dengan bertumpu di sisi sayap sudah dilatih Shin dalam sesi latihan tiga hari terakhir. Semoga taktik itu bisa berjalan optimal di pertandingan nanti.
Dengan kemampuan Jepang itu, bek tengah Indonesia, Jay Idzes, mengakui laga kelima Grup C akan berjalan amat susah bagi skuad Garuda.
“Jepang sangat kuat, tetapi bukan artinya kami tidak ada harapan untuk menang. Kami yakin dengan kemampuan kami dan atmosfer luar biasa di GBK (Gelora Bung Karno) akan menciptakan segalanya bisa terjadi,” ujar Jay.
Tidak ada yang tidak mungkin, Garuda!
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra