PASAR KEUANGAN

Redam Sentimen Pasar, Pemerintah Intensifkan Intervensi di Pasar Obligasi

Pemerintah mengintensifkan intervensi pasar obligasi demi menjaga stabilitas rupiah dan membendung keluarnya modal asing akibat anjloknya IHSG.

18 Mei 2026 15:55 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Iqbal Basyari

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah mengantisipasi gejolak pasar keuangan domestik menyusul pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan dan pasar obligasi dalam jangka pendek. Intervensi di pasar surat utang atau bond market mulai diintensifkan guna membendung keluarnya modal asing atau capital outflow dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Pada awal pekan ini, Senin (18/5/2026), pasar saham domestik tertekan sejak awal perdagangan. IHSG yang dibuka pada level 6.628 langsung merosot. Dalam perdagangan sesi pertama, IHSG bahkan sempat anjlok ke titik terendah sepanjang tahun ini, yakni di level 6.398.

Posisi ini mengindikasikan adanya tekanan lanjutan di pasar modal. Pada pekan sebelumnya, dalam hari perdagangan yang singkat periode 11-13 Mei, IHSG tercatat sudah melemah 3,53 persen dari posisi 6.936 ke level 6.723.

Quote

Untuk menahan tekanan di pasar keuangan, pemerintah memperluas masuknya likuiditas ke pasar obligasi secara signifikan mulai hari ini.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan keterangan pada konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Senin (5/5/2026). Kementerian Keuangan mencatat, hingga akhir Maret 2026, defisit APBN 2026 mencapai Rp 240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).




KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
05-05-2026

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, penurunan tajam yang dialami IHSG murni disebabkan oleh sentimen jangka pendek. Ia memastikan fundamental ekonomi nasional tetap kokoh menopang volatilitas tersebut.

"Enggak apa-apa, nanti kita perbaiki. Fondasi ekonominya, kan, bagus, itu masalah sentimen yang agak pendek,” ujar Purbaya di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026).

Untuk menahan tekanan di pasar keuangan, lanjut Purbaya, pemerintah memperluas masuknya likuiditas ke pasar obligasi secara signifikan mulai hari ini. Langkah ini melanjutkan aksi korporasi bank-bank badan usaha milik negara (Himbara) yang sebelumnya telah masuk ke pasar instrumen surat utang dalam porsi terbatas.

Aktivitas warga di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/3/2026). IHSG ditutup di level 7.337, melemah 3,27 persen. Anjloknya IHSG ini sudah terjadi sejak pagi dengan turun 5,41 persen atau melemah 410,73 poin ke level 7.174. Sepanjangan perdagangan pada hari ini IHSG terus melanjutkan tren pelemahan dengan penurunan terdalam menyentuh 7.156,68 dan tertinggi IHSG sempat menyentuh di level 7.403,73.



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

09-03-2026

Strategi tersebut diambil untuk menjaga tingkat imbal hasil (yield) tetap kompetitif. Dengan demikian, investor asing yang memegang obligasi pemerintah tidak melakukan aksi jual massal demi menghindari potensi kerugian modal (capital loss).

”Dengan demikian, pasar obligasinya terkendali, asing yang pegang obligasi enggak keluar karena takut ada capital loss gara-gara harga obligasi turun. Itu sekarang, kan, bisa membantu pergerakan rupiah sedikit,” kata Purbaya.

Indikator makroekonomi

Di sisi lain, Purbaya menepis analisis media ekonomi internasional, The Economist, yang mengkritik beban pembiayaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) terhadap postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kebijakan fiskal Indonesia diklaim tetap pruden dengan defisit anggaran yang terukur.

Purbaya memproyeksikan defisit anggaran tetap berada di bawah koridor 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Ia juga mengoreksi persepsi pasar dengan memaparkan data realisasi defisit tahun lalu yang mampu ditekan hingga level 2,8 persen dari PDB, lebih rendah dari perkiraan semula sebesar 2,9 persen.

Perwakilan pengurus Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang akan memperoleh sarana kendaraan operasional mendatangi KDKMP Desa Badran, Kecamatan Kranggan, Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (15/4/2026). Sebanyak 40 truk dan 20 sepeda motor beroda tiga didatangkan ke tempat itu untuk kendaraan operasional pada berbagai KDKMP di kawasan Temanggung. 

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko

Menurut Purbaya, indikator makroekonomi Indonesia saat ini jauh lebih disiplin dibandingkan sejumlah negara maju di kawasan Eropa. Hal ini terlihat dari beberapa negara Uni Eropa yang mencatatkan lonjakan defisit serta rasio utang berisiko tinggi.

”Kalau The Economist memandang kebijakan fiskal kita berantakan, mereka suruh lihat kebijakan negara Eropa, berapa defisitnya, utangnya berapa. Itu mendekati 100 persen semua dari PDB. Kita (rasio utang) masih 40 persen, kita masih bagus,” tutur Purbaya.

Kendati pemerintah optimistis, pasar keuangan domestik diproyeksikan kembali menghadapi tekanan berat pada pekan keempat Mei 2026. Sentimen negatif ganda pemicu tekanan itu diprediksi berasal dari penyesuaian indeks global MSCI serta harga minyak dunia yang masih fluktuatif.

Akibat pergerakan tersebut, investor asing hari ini terpantau mencatatkan penjualan bersih senilai Rp 3,21 triliun. Aksi lepas saham ini melanda portofolio perbankan besar dan emiten yang terkait peninjauan lembaga penyedia indeks global.

Tren melemah

Sebelumnya, analis pasar modal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan bahwa dalam sepekan ke depan pasar saham domestik diperkirakan masih akan mengalami tren melemah. Berdasarkan hitungan teknikal, pergerakan IHSG akan cenderung bergerak fluktuatif di kisaran batas bawah (support) 6.362 dan batas atas (resistance) 6.560.

”Untuk sentimen hari ini, kami mencermati adanya konflik geopolitik yang berlarut-larut kembali meningkatkan harga minyak mentah dunia yang saat ini berada di atas 100 dolar AS per barelnya,” kata Herditya.

Grafik pergerakan indeks saham di berbagai negara pada Senin (18/5/2026) pukul 11.30, dalam tren melemah.

Kondisi geopolitik tersebut dinilai kembali meningkatkan kekhawatiran investor akan bayang-bayang tekanan inflasi ke depan. Faktor eksternal ini juga diprediksi memicu perlambatan ekonomi global yang berimbas pada volatilitas pasar modal di negara berkembang.

Fenomena pelemahan ini pun tidak hanya terlihat di pasar saham domestik, tetapi menjalar pada pergerakan bursa global dan mayoritas bursa Asia yang ikut terkoreksi berjemaah. Jelang siang hari ini, visualisasi seluruh indeks saham global memerah dengan penurunan Indeks Dow Jones Industrial Amerika Serikat melemah lebih dari 1 persen dan S&P 500 merosot 1,2 persen.

Pada saat yang sama, Indeks Nikkei Jepang melemah 0,7 persen dalam sehari, diikuti penurunan indeks ASX Australia lebih dari 1,5 persen serta indeks Shanghai yang turun 0,2 persen. Sentimen negatif di dalam negeri kian bertambah karena pasar saham Indonesia juga diikuti tekanan dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Mata uang rupiah hari ini terdepresiasi ke level Rp 17.676 per dolar AS atau mencerminkan pelemahan sekitar 5 persen sejak awal tahun berjalan. Tekanan berat yang melanda IHSG ini juga diperparah oleh pengumuman dari MSCI dan FTSE yang memutuskan untuk masih membekukan indeks Indonesia.

Layar LED di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, menampilkan pergerakan IHSG pada penutupan perdagangan Senin (11/5/2026).

Menurut Herditya, kebijakan dari kedua lembaga penyedia indeks tersebut berpotensi menimbulkan arus dana keluar (outflow) yang cukup besar pada akhir Mei nanti. Dampaknya, pengumuman berkala pada pekan lalu itu menjadi salah satu fase paling menantang bagi stabilitas pasar saham domestik sepanjang tahun berjalan.

Dalam tinjauan regulernya, MSCI dan FTSE mendepak saham-saham Indonesia yang tercatat memiliki konsentrasi kepemilikan saham terlalu tinggi pada kelompok tertentu. Selain masalah konsentrasi kepemilikan, penilaian terhadap free float atau porsi saham publik yang beredar juga menjadi pertimbangan utama dalam evaluasi indeks kali ini. Langkah pengetatan ini menjadi bagian dari reformasi pasar modal global yang akhirnya berdampak langsung pada portofolio pasar domestik.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iqbal Basyari
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan