Refleksi Perang Rusia-Ukraina: Tujuan Perang Makin Samar, Korban Jiwa Makin Besar

Konflik antara Rusia dan Ukraina masih berlangsung dan belum ada kesepakatan damai yang jelas. Banyak negara telah berusaha untuk membantu menyelesaikan konflik ini.

01 Jan 2025 06:00 WIB · Riset

Oleh M Toto Suryaningtyas

Peristiwa jatuhnya pesawat Azerbaijan Airlines AHY 8243 di bandar udara dekat kota Aktau, Kazakhstan, Rabu (25/12/2024), dengan dugaan kuat terkena ledakan rudal antipesawat dari sistem antiserangan udara Rusia, menandai semakin absurdnya perang Rusia-Ukraina.

Kecelakaan itu menimbulkan 38 korban jiwa dan 29 orang luka-luka setelah pesawat jet penumpang buatan Embraer, Brasil, itu meledak setelah mendarat dengan kondisi sayap belakang tak bisa dikendalikan.

Jumlah korban itu menambah (perkiraan) sejuta lebih korban perang baik warga sipil maupun militer di kedua pihak sejak total perang dimulai pada 24 Februari 2022 atau permulaan konflik-konflik bersenjata di provinsi Donbas dan Luhansk sejak 2014.

Presiden Rusia Vladimir Putin sudah menelepon Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev untuk meminta maaf atas tragedi yang terjadi di atas langit Rusia itu, tetapi tidak ada pengakuan bahwa Rusia menjadi penyebab jatuhnya pesawat itu.

Video di berbagai media sosial yang beredar memperlihatkan sisa bagian ekor badan dan sayap belakang pesawat yang utuh, memperlihatkan jelas jejak-jejak proyektil yang melobangi sayap pesawat.

infografik Perbatasan Rusia-Ukraina: Konfik 10 Tahun

Jelas, pesawat Azerbaijan Airlines itu dibidik dan diduga menjadi korban salah sasaran dari pasukan Rusia yang pada hari itu sedang menghalau serangan drone Ukraina di langit Rusia.

Pesawat tersebut terbang dari Baku, Azerbaijan, menuju Chechnya, Rusia. Sejumlah drone Ukraina yang menyerang Rusia pada hari Natal itu merupakan respons serangan misil dan drone Rusia pada malam sebelumnya.

Bukan kali ini saja Rusia melakukan bidikan yang meleset dan berakibat korban jiwa sipil. Hal itu mirip dengan peristiwa sebelumnya di mana beberapa kali rudal Rusia nyasar ke negara tetangga, yaitu Polandia dan Moldova.

Sebuah rudal yang ditembakkan Rusia memasuki wilayah udara Polandia pada 24 Maret 2024 dan sebelumnya pada 29 Desember 2023. Protes juga diajukan Moldova kepada Rusia yang wilayah udaranya kerap dijadikan perlintasan rudal menuju Ukraina.

Korea Utara terlibat perang

Tak pelak, sorotan dunia internasional terhadap Rusia muncul lagi setelah bulan November lalu Rusia juga dipertanyakan karena melibatkan negara lain (Korea Utara) secara langsung dalam perangnya sendiri.

Bukti terbaru tentang keterlibatan tentara Korea Utara dalam perang Rusia-Ukraina antara lain dibeberkan laman Arirang News (27/12/2024) yang menunjukkan prajurit Korea Utara pertama yang tertangkap hidup-hidup oleh Ukraina.

Sebelumnya, sejumlah foto dan video dari drone intai Ukraina di medan perang di Kursk, Rusia, memperlihatkan sejumlah prajurit di medan tempur garis depan dengan wajah beretnis Korea.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam pernyataan di media sosialnya (24/12/2024) menyatakan bahwa militer Ukraina sudah menewaskan atau membuat luka-luka lebih dari 3.000 personel Korut di medan tempur Kursk.

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat, John Kirby, juga mengonfirmasi tewasnya sekitar 1.000 prajurit Korut hanya dalam seminggu di wilayah itu pada Sabtu (28/12/2024).

Bantuan Korea Utara itu dikecam karena melanggar hukum internasional dan hukum perang. Meski demikian, Zelenskyy menekankan bala bantuan pasukan Korut yang disebut-sebut berjumlah 12.000 orang itu merupakan ”kolaborasi kriminal” yang menambah tantangan bagi pasukannya, tetapi tak akan mengubah hasil akhir pertempuran.

Bantuan dari Korea Utara kepada Rusia dalam bentuk pasukan militer secara langsung ini mengindikasikan batas kemampuan konsolidasi dan pergerakan pasukan Rusia yang sudah berperang selama tiga tahun ini.

Negara-negara Barat, termasuk presiden terpilih AS, Donald Trump, menyatakan, tewasnya 600.000 prajurit Rusia merupakan pukulan yang telak meski klaim ini dibantah Rusia.

Trump di kanal X menuding Rusia sudah terlalu terikat tangannya di Ukraina sehingga tak mampu mencegah jatuhnya rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad oleh pemberontak.

Sementara itu, jumlah korban manusia dan peralatan perang Rusia sudah seukuran angkatan bersenjata sebuah negara berukuran sedang dan merupakan kerugian terbesar Rusia sejak Perang Dunia II.

Laman X Defense of Ukraine yang terhubung ke militer Ukraina menunjukkan besarnya kerugian di pihak Rusia secara terinci setiap hari.

Korban jiwa Rusia per 28 Desember 2024 diklaim mencapai 784.200 jiwa tewas, 369 pesawat tempur, 329 helikopter, 28 kapal perang 28, sebanyak 9.651 tank hancur, sekitar 19.000 kendaraan lapis baja, 21.000 artileri musnah, dan lebih dari 3.000 misil/rudal Rusia ditangkis atau dihancurkan.

Tentu saja angka-angka versi Ukraina itu telah dibesarkan sesuai kepentingan Ukraina, tetapi berbagai bukti video dan pencatatan oleh lembaga lain menunjukkan kerugian militer Rusia memang lebih besar ketimbang Ukraina.

Sebaliknya, kerugian militer Ukraina diklaim Presiden Zelenskyy jauh lebih rendah. ”Rusia kehilangan lima atau enam orang setiap satu prajurit Ukraina,” kata Zelenskyy di Telegram (8/12/2024).

Warga Ukraina yang tinggal di Georgia bersama demonstran lainnya membawa poster saat unjuk rasa memprotes agresi militer Rusia terhadap Ukraina pada peringatan kedua perang di Tbilisi, Georgia, Sabtu (24/2/2024). AP Photo/Shakh Aivazov *** Local Caption *** Ukrainians who live in Georgia and other demonstrators hold posters during a rally in protest of Russia's military aggression against Ukraine on the second anniversary of the war in Tbilisi, Georgia, Saturday, Feb. 24, 2024. (AP Photo/Shakh Aivazov)

Zelenskyy juga bereaksi membantah klaim Donald Trump yang menyatakan bahwa Ukraina kehilangan 400.000 anggota pasukan sejak awal perang.

Alih-alih, Zelenskyy mengklaim Ukraina hanya kehilangan 43.000 prajurit tewas dan 370.000 lainnya luka-luka dengan 50 persen dari yang terluka kembali bertempur di medan perang.

Zelenskyy juga menambahkan ada 3.767 prajurit yang kembali dari penahanan Rusia (program pertukaran tawanan). Sementara kerugian di pihak Rusia, diklaim Zelenskyy, sebanyak 198.000 prajurit tewas dan 550.000 lainnya luka-luka.

Namun, versi laporan lain yang cukup kredibel karena bersifat komparatif dan komprehensif bisa dilihat dari laporan Institute for the Study of War (ISW), khususnya edisi 9 November 2024, yang menunjukkan gejala problem di internal militer Rusia.

ISW baru-baru ini mengamati indikasi bahwa militer Rusia telah berjuang untuk merekrut cukup banyak prajurit guna menggantikan korban di garis depan.

Merunut laporan itu, beberapa bloger militer Rusia terus mengeluhkan atas tingginya jumlah personel yang hilang dan ketidakpuasan atas kondisi yang lainnya.

”Dibutuhkan setidaknya enam bulan untuk melatih personel penyerang, tetapi komandan militer Rusia memperlakukan mereka sebagai umpan manusia; tugas utamanya hanya menangkap pesawat tanpa awak dan pecahan peluru,” keluh para bloger.

Seorang tentara Ukraina mengarahkan senapannya ke posisi Rusia di luar kota Brovary, timur Kiev, Ukraina, Rabu (9/3/2022).

Kemajuan teritori baru Rusia di Ukraina tampaknya tidak sebanding dengan sumber daya yang hilang dan tak tergantikan.

ISW melaporkan bahwa Rusia kehilangan hampir 200 tank, lebih 650 kendaraan lapis baja, dan 80.000 korban tewas hanya untuk merebut area sekitar 1.500 kilometer persegi selama periode September-Oktober 2024.

Tak heran, Presiden Putin dalam pidatonya di Valdai Club, 7 November 2024, secara khusus mengakui kekurangan personel dan ketergantungan pada migran untuk bergabung dengan militer Rusia untuk memenuhi kebutuhan personel.

Militer Rusia hampir pasti tidak tahan jika terus-menerus mengalami korban medan laga lebih dari 1.200 orang per hari di garis depan.

Menisbikan daya tahan dalam perang

Meski mengalami korban jiwa yang besar, belum ada tanda-tanda Rusia akan mengakhiri perang ini.

Di malam Natal pada 24 Desember 2024, Rusia justru meluncurkan paket reguler: kombinasi 100 lebih rudal balistik, rudal jelajah dan drone Shahed-136 untuk menyerang pembangkit listrik dan infrastruktur srategis Ukraina lainnya.

Hal ini dilakukan Rusia untuk mendistraksi perayaan Natal warga Ukraina dan memperdalam frustrasi atas perlawanan negaranya pada invasi Rusia.

Jika di Kursk Rusia terhambat oleh gigihnya pasukan Ukraina, di garis depan sebelah selatan daya tahan Rusia untuk berperang masih sangat tinggi yang terindikasi dari gerak maju merebut wilayah-wilayah baru di Ukraina meski dengan pengorbanan yang juga sangat tinggi.

Industri militer Rusia saat ini juga telah dilipatgandakan kapasitas produksinya untuk mengganti tank, artileri, dan kendaraan tempur yang hancur. Kendala mereka hanya minimnya komponen vital yang selama ini diimpor dari luar negeri, seperti mikrocip dan lensa beresolusi tinggi.

Pasukan Rusia memperoleh keuntungan wilayah baru yang direbut jika pasukan Ukraina tidak menahannya. Di sisi lain, militer Rusia tidak dapat mempertahankan tingkat kerugian seperti itu.

Infografik Jumlah Korban Sipil Perang Rusia-Ukraina

Itulah sebabnya kini Ukraina dan Rusia masing-masing sama-sama berkonsentrasi pada soal mengurangi dan mempertahankan jumlah pasukan dan kendaraan tempur di sebuah wilayah.

Ukraina sudah jelas kalah jumlah personel dan jumlah kendaraan tempur. Di awal perang saja, kekuatan personel Rusia secara total diperkirakan 1,3 juta prajurit jika digerakkan, hampir tiga kali lipat yang dimiliki Ukraina dengan komposisi terbesar dari grup Wagner.

Namun, grup Wagner kini sudah ”tercerai-berai” setelah tewasnya sang pemimpin, Yevgeny Prighosyn, dan pemberontakan pada Juni 2023.

Saat ini, komandan brigade Ukraina yang beroperasi di arah Kupyansk menyatakan bahwa pasukan Rusia melakukan operasi ofensif dengan ”kekuatan dan sarana yang tidak proporsional” serta mengalami kerugian personel dan peralatan yang tinggi sebagai bagian dari upaya untuk mendorong pasukan Ukraina dari tepi timur Sungai Oskil.

Keunggulan Ukraina adalah dalam penguasaan dan kecanggihan drone, serta akurasi tembakan artileri dan roket masih di atas Rusia.

Namun, sering kali keunggulan Ukraina dalam perang drone dan kemampuan intai dibalas Rusia dengan ”siraman” hunjaman rudal balistik dan drone yang menyasar infrastruktur sipil Ukraina, termasuk yang berada di ibukota Kyiv.

Di sisi lain, keteguhan berperang tentara Ukraina tampaknya selapis lebih teruji ketimbang tentara Rusia yang kian kurang termotivasi dan lebih mudah menyerah atau bunuh diri.

Catatan sejumlah pengamat militer dari berbagai video bunuh diri tentara Rusia bertebaran di X dan Telegram, yang per Desember 2024 tercatat paling tidak 165 prajurit Rusia diklaim bunuh diri.

Kementerian Pertahanan Rusia mengeluarkan foto satuan tank dikerahkan di wilayah Kursk, SabtU (10/8/2024) untuk memukul mundur serangan pasukan Ukraina yang sudah memasuki wilayah Kursk sejauh 30 kilometer. Serangan ke Kurks adalah serbuan militer pertama atas wilayah Rusia sejak Perang Dunia II berakhir tahun 1945. (Kementerian Pertahanan Rusia/AP) In this photo taken from video released by the Russian Defense Ministry on Saturday, Aug. 10, 2024, Russian Army tanks take a position at an area of ​​Kursk region of Russia. (Russian Defense Ministry Press Service via AP) *** Local Caption *** Kementerian Pertahanan Rusia mengeluarkan foto satuan tank dikerahkan di wilayah Kursk, SabtU (10/8/2024) untuk memukul mundur serangan pasukan Ukraina yang sudah memasuki wilayah Kursk sejauh 30 kilometer. Serangan ke Kurks adalah serbuan militer pertama atas wilayah Rusia sejak Perang Dunia II berakhir tahun 1945. (Kementerian Pertahanan Rusia/AP)

Betapapun, pasukan Rusia baru-baru ini maju sedikit ke arah barat laut wilayah Kreminna di sepanjang garis Kupyansk-Svatove-Kreminna di Provinsi Kharkiv.

Adapun rekaman geolokasi sebelumnya pada 9 November 2024 menunjukkan bahwa pasukan Rusia juga telah maju sedikit ke arah timur laut Terny di barat laut Kreminna.

Bloger militer Rusia mengklaim bahwa pasukan Rusia juga maju ke arah barat daya Stelmakhivka (barat laut Svatove) dan lebih jauh ke arah utara Terny. Pasukan Rusia melanjutkan serangan darat di sebelah timur kota-kota Kupyansk, Kindrashivka, Kolisnykivka, Zahryzove, Lozove, dan Berestove.

Di medan tempur, terlihat jelas bagaimana sejumlah drone bagaikan lebah yang mengganggu serbuan pasukan lapis baja Rusia dan pasukan infanteri.

Kombinasi drone tempur Ukraina kini bisa dibilang menjadi ujung tombak pelumpuhan serbuan Rusia. Ukraina saat ini memiliki berbagai jenis drone dan dalam jumlah massif hingga disebut-sebut mencapai jutaan unit.

Mereka dibuat oleh perusahaan-perusahaan swasta kecil Ukraina yang dibayar negara atau hasil dari donasi sukarelawan di seluruh dunia.

Meski demikian, dalam penguasaan teritori akhir Rusia tetap perlahan maju di sejumlah garis tempur meski masih minim.

Masa depan perang Rusia-Ukraina

Masyarakat internasional, khususnya di Eropa, dalam menghadapi perang Rusia-Ukraina kebanyakan menyikapi dengan berada di pihak netral.

Namun, suara-suara kritis yang mempertanyakan dana hasil wajib pajak di saat berbagai beban pajak masyarakat yang tinggi dan ”dilarikan pemerintah” ke perang Ukraina juga mulai bermunculan.

Tercatat, sejumlah negara NATO dan negara mantan Uni Soviet memberikan bantuan keuangan dan persenjataan/peralatan militer kepada Ukraina dalam tiga tahun ini.

Alat utama sistem persenjataan (alutsista) utama juga semakin banyak diberikan ke Ukraina, termasuk tank Abrams M1 dan kendaraan tempur Stryker dari AS, tank Leopard I dan II dari Jerman, rudal Scalp dari Inggris, hingga puluhan pesawat jet F-16 dari Belanda.

Perubahan politik di kepemimpinan AS yang mulai 20 Januari 2025 akan dipimpin presiden terpilih Donald Trump kemungkinan besar akan mengurangi atau bahkan menarik bantuan militer dan keuangan kepada Ukraina.

Donald Trump dikenal dengan politik yang bersifat mementingkan kepentingan/keutuhan warga AS sendiri (gaya politik ”isolasionis”) ketimbang membantu negara lain yang sedang berperang.

Infografik Lini Masa Perang Ukraina-Rusia

Sementara Eropa tampaknya justru sedang berada di tahap sebaliknya, yang semula cenderung enggan berkorban banyak (dan bergantung kepada AS) kini semakin bersemangat memenangi perang Rusia-Ukraina.

Hal ini terkait dengan analisis situasi keamanan dan geopolitik Eropa di mana ambisi ekspansionis Rusia telah diyakini harus dihentikan/dilokalisasi, terutama melalui perang di Ukraina.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Inggris Rob Magowan menyatakan bahwa angkatan bersenjatanya tak usah diragukan dalam menahan ambisi Rusia. ”Jika pasukan Inggris diminta bertempur malam ini, kami akan bertempur,” katanya di depan sidang Parlemen Inggris (21/11/2024).

Memang, pilihan langkah politik untuk negara-negara Eropa semakin sempit terutama jika AS benar-benar mencabut atau mengurangi signifikan bantuannya kepada Ukraina.

Selama tiga tahun ini, hanya keunggulan teknologi dan persenjataanlah yang menyebabkan pasukan Ukraina yang jauh lebih sedikit mampu menahan gerak maju pasukan Rusia.

Kekhawatiran negara-negara Eropa itu tampak antara lain dari rencana penempatan rudal balistik jarak menengah AS pada Juni 2024, yang segera ditanggapi oleh Rusia dengan ancaman menyerang Jerman secara langsung jika rencana situ diwujudkan.

Ada risiko, Eropa yang semakin besar membantu Ukraian pada akhirnya akan berhadapan dengan Rusia secara langsung, karena kekhawatiran invasi yang lebih riil terjadi di Eropa (ketimbang AS).

Dua tahun lalu, Finlandia dan Swedia yang sebelumnya bukan anggota NATO tiba-tiba mengajukan lamaran dan dengan segera diterima sah sebagai anggota NATO.

Finlandia bergabung dengan NATO pada 4 April 2023, sedangkan Swedia 7 Maret 2024. Keduanya adalah negara Eropa Utara yang memiliki perbatasan langsung dengan Rusia dan memiliki sejarah konflik dengan negara itu.

Jika merunut awal narasi peperangan bahwa Rusia menginvasi Ukraina karena mencegah NATO berada di depan pintu wilayahnya, faktanya justru invasi ke Ukraina ini membuat Finlandia dan Swedia menjadi anggota NATO.

Adapun negara-negara mantan Uni Soviet, seperti Georgia dan Moldova, rakyatnya bergolak menentang pengaruh Rusia di kepemimpinan negaranya.

Hal itu adalah ironi di saat Rusia terengah-engah meneruskan ambisi ekspansionisnya di Ukraina, yang mengajukan keanggotaan NATO pada September 2022, beberapa saat setelah Rusia mengumumkan aneksasi empat provinsi Ukraina (Donbas, Luhansk, Zaporizhia, Kherson) menjadi wilayah teritori Rusia atau tujuh bulan setelah invasi pada 24 Februari 2022.

Rusia sudah menyatakan kesediaan berunding untuk gencatan senjata api dengan memperhitungkan kondisi eksisting, sedangkan Ukraina menekankan pada penyelesaian adil dari perang ini.

Memang tak terbayang jika Rusia mengamuk karena dikalahkan dan dipermalukan dan menjerumuskan dunia dalam perang nuklir. Namun, tindakan menginvasi Ukraina (dan negara-negara satelit mantan Uni Soviet) jelas kesalahan strategis yang harus dihentikan.

Dunia memang direpotkan oleh aksi sepihak Rusia, tetapi semua pihak di dunia harus membantu supaya Rusia bisa menerima gencatan senjata yang tidak mempermalukannya sebagai adidaya serta Ukraina menerima penyelesaian dan pengembalian yang adil atas wilayahnya yang direbut Rusia. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

M Toto Suryaningtyas
 | 

Editor:

Yohan Wahyu
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan