Pemerintah harus memfokuskan kembali program MBG agar lebih tepat sasaran. Sasaran penerima bisa difokuskan kepada siswa malanutrisi, terutama di daerah 3T.
07 Mar 2025 11:57 WIB · Opini
Semua orang setuju bahwa program Makan Bergizi Gratis yang merupakan program unggulan pemerintahan Prabowo Subianto-
Gibran Rakabuming Raka akan memberikan banyak manfaat, khususnya penerima manfaat. Program ini bukan hanya untuk mencukupi kebutuhan nutrisi, melainkan juga akan memberi dampak positif di bidang lain, seperti menggerakkan roda ekonomi masyarakat, penggunaan dan optimaliasi bahan makanan bergizi lokal, dan sarana pendidikan etika siswa. Ini semua diharapkan kelak menjadi modal dasar pembentukan generasi berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.
Namun, kita tidak bisa menutup mata, banyak hal yang harus diperbaiki terkait program ini. Beberapa masalah program Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai dari perencanaan hingga pelaksanaannya. Salah satu masalah yang paling menyita perhatian banyak pihak adalah besarnya anggaran MBG yang menyedot anggaran di APBN.
Sebagai permulaan saja, MBG tahun 2025 akan menghabiskan anggaran sebesar Rp 171 triliun untuk 82,9 juta sasaran dan diprediksi terus meningkat seiring keinganan pemerintah untuk memperluas sasaran MBG, terutama untuk siswa sekolah. Data kementerian pendidikan tahun 2023, total jumlah siswa mulai TK sampai SLTA sekitar 51,4 juta siswa yang tersebar di 436.707 sekolah di seluruh Nusantara. Dengan sasaran awal MBG sebanyak 19 juta siswa, akan menghabiskan Rp 71 triliun (2025), dan akan meningkat menjadi Rp 72,5 triliun (2026), Rp 73,9 triliun (2027), dan Rp 75,4 triliun (2028).
Kondisi ini menyebabkan pemerintah melakukan efisiensi dan relokasi APBN 2025, di mana sepertiga hasil efisiensi tersebut dialokasikan untuk program MGB ini. Kita paham tujuan efesiensi pada sisi lain memberi dampak positif agar tidak banyak anggaran yang bocor, tetapi tetap akan memberi dampak negatif bilamana efisiensi menyangkut anggaran sektor vital masyarakat seperti: sektor kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur. Walau pemerintah berjanji tidak akan mengurangi anggaran sektor penting tersebut, banyak pihak yang meragukan sehingga banyak masukan, kritikan, dan aksi penolakan MBG di beberapa daerah yang perlu diperhatikan.
Mengingat program MBG ini sangat penting dan agar tujuan mulia program ini tercapai, pemangku kepentingan program MBG (pemerintah dan DPR) perlu memikirkan kemungkinan refokus program ini. Refokus ini penting untuk memastikan program yang bertujuan baik dan banyak menggunakan uang rakyat ini benar-benar terlaksana untuk jangka panjang dan tepat sasaran.
Refokus program MBG ini bisa ditinjau dari beberapa aspek. Namun, ada aspek prioritas untuk refokus, antara lain aspek penerima manfaat (sasaran MBG), aspek pelaksanaan (menu dan komposisi), dan aspek pelaksana MBG di lapangan.
Dalam aspek penerima manfaat, pemerintah harus refokus kepada sasaran di mana intervensi nutrisi akan memberikan dampak sangat besar dan signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan gizi kelompok masyarakat Indonesia. Menurut para ahli neurosains, masa emas (golden periode) tumbuh kembang anak dimulai dalam kandungan hingga usia 2 tahun dan lanjut usia 5 tahun.
Walaupun setelah usia 5 tahun otak anak tetap mengalami pertumbuhan kembang khusus sampai usia 15 tahun, tetapi sangat lambat. Dari beberapa penelitian, pertumbuhan otak mencapai 70 persen pada tahun pertama dan 80 persen pada tahun kedua anak, yang ditandai dengan proses neurogenesis dan sinaptogenisis.
Neurogenesis adalah bertambahnya jumlah dan volume dari sel otak (neuron). Sel neuron tersusun dari inti sel dan jonjot saraf (akson dan dendrit) dan didukung oleh sel penunjang sel glia terdiri dari mikrogia, astosit, dan oligodendrosit.
Dengan dimulainya program MBG, program pemberantasan tengkes kian redup dan semakin tidak menjadi fokus karena diganggu dengan pemberian makanan untuk siswa sekolah secara gratis.
Saat baru lahir, otak manusia memiliki 100 miliar neuron dan 50 triliun sinaps di mana setiap satu neuron mempunyai 2.500 sinaps yang akan berkembang dengan cepat, dengan proses neurogenesis dan sinaptogenesis. Sinaps adalah hubungan antarsel neuron yang diperantai beberapa zat kimia otak (neurotransmiter), aktifitas listrik yang diperantarai oleh natrium, kalium, dan kalsium, dan lainnya.
Jumlah sinaps ini menentukan kualitas otak bayi, semakin banyak dan kompleks sinapsnya semakin bagus kualitas otak bayi, begitu juga sebaliknya. Periode ini disebut fase krusial dan harus dijaga dari malanutrisi karena akan menganggu neurogenesis dan sinaptogenesis yang pada akhirnya akan memunculkan kasus tengkes (stunting) yang masih menjadi masalah kesehatan utama negeri ini.
Penanganan tengkes yang sudah dilaksanakan belum mencapai target yang ditentukan, yakni di bawah 14 persen di tahun 2024, walaupun sudah banyak berkurang dari 35,7 persen di tahun 2010 menjadi 21,1 persen di tahun 2023, tetapi angka ini masih jauh dari harapan kita. Dan seharusnya pemberantasan tengkes inilah yang seharusnya menjadi fokus utama (main target) dalam program MBG sebelum menyasar penerima manfaat MBG lain seperti siswa SD, SLTP, dan SLTA.
Dengan dimulainya program MBG, program penanggulangan tengkes kian redup dan semakin tidak menjadi fokus karena diganggu dengan pemberian makanan untuk siswa sekolah secara gratis. Sebenarnya, dampak intervensi nutrisi pada kelompok anak sekolah ini tidak sebaik intervensi pada kelompok usia emas.
Refokus berikutnya adalah wilayah atau lokasi penerima MBG. Menurut penulis, program utama MBG lebih difokuskan di daerah yang selama ini mempunyai masalah gizi, terutama di daerah 3T (terdepan, terpencil, dan terluar).
Memang, belum ada data gizi siswa secara nasional. Namun, apabila mengacu hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, ada beberapa provinsi yang status gizi kurang berdasarkan jumlah kasus tengkes daerah tersebut, antara lain Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, dan Papua yang seharusnya menjadi sasaran utama pemberian MGB ini dan bukan daerah yang status gizinya relatif baik seperti Bali dan Jakarta.
Memang, seharusnya pemerintah mempunyai data ketercukupan gizi siswa secara nasional, mulai TK sampai SLTA lengkap per propinsi, yang memetakan status gizi siswa secara lengkap di setiap sekolah. Dengan demikian, sasaran penerima MBG bisa difokuskan kepada siswa malanutrisi, terutama di daerah 3T saja. Jadi, kita bisa melakukan efisensi anggaran yang luar biasa.
Refokus MGB lainnya adalah komposis dan menu makanan. Sampai saat ini, menu yang diberikan pada program MBG dalam bentuk makanan matang yang lengkap, baik makronutrien maupun mikronutrien. Pertanyaan besar, apakah semua siswa mengalami malanutrisi makronutrien sekaligus mikronutrien sehingga menu MBG menjadi menu lengkap?
Padahal, menurut salah satu penelitian, masalah malanutrisi remaja (siswa) di Indonesia adalah malanutrisi terutama mikronutrien. Yaitu, sekitar 12 persen remaja laki-laki dan 23 persen remaja perempuan mengalami anemia defiesensi besi. Anemia pada remaja berdampak buruk terhadap penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja, dan produktivitas (Unicef, 2020).
Penelitian lain dengan menggunakan desain metaanalisis menunjukkan manfaat intervensi mikronutrisi berupa zat besi, asam folat, dan iodium pada malanutrisi di kelompok usia sekolah dan remaja (usia 11-19 tahun). Intervensi ini mampu menurunkan kurang darah (anemia), menurunkan berat badan lahir rendah, dan kelahiran prematur, serta menurunkan indeks masa tubuh dan kegemukan secara bermakna (Ashras S, et al 2022).
Studi ini dan studi sejenis dapat dijadikan dasar ilmiah bahwa intervensi kelompok remaja dan sekolah tidak harus menggunakan makronutrien seperti menu MBG selama ini. Akan tetapi, bisa menggunakan mikronurien tergantung jenis malnutrisinya dan ini bisa dijalankan bilamana kita sudah mempunyai peta ketercukupan gizi secara nasional. Karena itu, pemerintah perlu segera melakukan survei gizi siswa secara nasional agar MBG lebih tepat sasaran.
Refokus MGB adalah waktu pemberian dan bahan MBG. Menurut para ahli gizi, proses penyerapan dan penggunaan nutrisi berdasarkan irama sirkadian adalah pagi hari sehingga makan pagi sangat dianjurkan bagi siswa yang akan belajar di sekolah untuk meningkatkan prestasi siswa. Sebab, nutrisi tersebut akan digunakan saat siswa belajar di sekolah.
Dalam program MBG, pemberian MBG mendekati siang hari, tentu efeknya tidak sebaik apabila diberikan pada pagi hari. Begitu juga dengan bahan makanan, tidak harus dalam makanan jadi. Namun, bisa dimungkinkan dalam bahan setengah jadi, seperti pemberian susu bubuk atau bahan makanan lain yang bisa diolah oleh orangtua siswa. Tentu, hal ini dengan pengawasan khusus agar sasaran tercapai.
Sebagai penutup, kita semua sangat mendukung program MBG ini. Namun, perlu refokus terutama sasaran penerima manfaat berdasarkan umur dan wilayah, komposisi nurisi dan waktu, serta bahan yang diberikan kepada sasaran. Refokus ini perlu dilakukan agar program baik ini tepat sasaran dan tanpa harus mengorbankan pembangunan nasional sektor lainnya.
Pembangunan nasional bukan hanya mengurusi perut siswa dalam MBG ini, melainkan banyak sektor lain yang juga perlu diperhatikan tanpa dianaktirikan, seperti sektor pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan, dan infrastruktur, yang juga butuh anggaran cukup dari APBN.
Badrul Munir, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya; Dokter Neurologi Rumah Sakit Saiful Anwar Malang
Penulis:
Badrul MunirEditor:
Yovita ArikaPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto