Rekam Jejak Pelatih Asal Belanda: Timnas Indonesia Selalu Jadi Tantangan

Setidaknya sudah ada lima pelatih sepak bola asal Belanda yang pernah menangani tim nasional Indonesia. Di mata mereka, timnas Indonesia jadi tantangan tersendiri.

10 Jan 2025 06:00 WIB · Riset

Oleh Yohan Wahyu

Dalam rekam jejak sepak bola Indonesia, nama Wiel Coerver tercatat sebagai pelatih asal Belanda pertama yang menangani timnas Indonesia.

Saat resmi memegang kontrak menjadi pelatih pada 1975, Coerver menyampaikan bahwa baginya masa depan sepak bola Indonesia menjadi tantangan bagi dirinya.

Hal itu ia sampaikan dan dikutip oleh media, termasuk dalam Kompas edisi 19 Mei 1975. Coerver melihat potensi yang ada dalam diri timnas Indonesia. ”Indonesia jauh lebih luas dari Belanda. Kalau ada kekurangan-kekurangan, itu logis,” ujarnya, seperti dikutip harian Kompas.

Salah satu yang juga Coerver sampaikan kepada publik terkait pertimbangannya menerima tawaran menjadi pelatih timnas Indonesia adalah sebagai bentuk komitmennya terhadap kemajuan sepak bola, termasuk sepak bola Indonesia.

”Saya ke Indonesia bukan karena uang. Memang ada klub-klub yang menginginkan memakai tenaga saya. Saya datang ke Indonesia dengan penuh angan-angan. Saya kecewa melihat Indonesia serba kekurangan klub untuk menampung anak-anak Indonesia yang ingin bersepak bola”, tutur Coerver, (Kompas,15/8/1975).

Coerver hanya menangani timnas Indonesia selama satu tahun (1975-1976) dan sempat kembali ke Indonesia pada 1979. Tidak banyak prestasi yang dihimpun timnas selama periode kepelatihannya.

Di era kepemimpinannya, Indonesia pernah meraih medali perak SEA Games 1979. Salah satu poin catatannya untuk kemajuan sepak bola Indonesia adalah menjaga ritme kompetisi sepak bola di dalam negeri.

”Di mana pun, semua negara, yang persepakbolaannya maju, selalu dibarengi dengan kompetisi yang teratur,” kata Coerver (Kompas, 6/10/1979).

infografik Sejumlah Pelatih Timnas Indonesia dari Belanda

Pelatih kedua dari Belanda yang pernah menangani timnas Indonesia adalah Frans van Balkom. Nama ini khusus dipersiapkan PSSI untuk melatih timnas guna menghadapi turnamen pra-Olimpiade pada 23 Maret-3 April 1980 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Penunjukan Balkom sendiri juga atas masukan Wiel Coever yang tidak bisa lagi menangani timnas karena faktor kesehatannya.

Frans van Balkom sendiri bukan nama asing bagi sepak bola nasional kala itu. Balkom sudah dikenal sebagai pelatih klub Galatama, Niac Mitra. Saat ditunjuk menjadi pelatih timnas, Van Balkom diberi kewenangan memilih tim secara mandiri. Ia pun pada akhirnya memilih 30 pemain yang dipersiapkan untuk pra-Olimpiade.

Menurut Van Balkom, tantangan mengelola timnas Indonesia adalah bagaimana membangun kekompakan di antara pemain yang berasal dari klub berbeda.

Dalam sebuah wawancara bersama Kompas, Van Balkom menyebutkan, untuk membuat sebuah tim itu fit, sangat mudah. Namun, yang menjadi tantangan adalah bagaimana membuat sebuah tim itu bisa kompak. Justru itu yang menurut dia sulit.

Salah satu strategi yang dimainkan Van Balkom adalah menghilangkan rasa sebagai pemain yang paling top dalam diri pemain. ”Bagi saya, pemain yang top bisa saja duduk di bangku cadangan. Apa artinya pemain top kalau tidak bisa memberikan kekompakan kepada tim,” tutur Van Balkom, seperti yang ia utarakan kepada Kompas (26/2/1980).

Namun, dalam perjalanannya, tren pertandingan timnas di bawah asuhan Van Balkom tak semulus yang dibayangkan. Indonesia gagal dalam turnamen pra-Olimpiade tersebut. Van Balkom pun diputus kontraknya pada Juni 1980.

Era Henk Wullems

Pelatih asal Belanda ketiga yang menangani timnas Indonesia adalah Henk Johan Wullems. Saat ditunjuk sebagai pelatih timnas, Henk Wullems adalah pelatih Pelita Mastrans.

Saat ditunjuk, Wullems mengaku terkejut, tetapi dia mengatakan bangga terpilih sebagai pelatih baru untuk menangani timnas. ”Saya sama sekali tidak menyangka PSSI memilih saya menggantikan Danurwindo untuk menjadi pelatih tim nasional,” ujar Wullems ketika didaulat untuk memberikan keterangan pers di Kantor PSSI, Senayan, Kamis 1 Mei 1997.

Salah satu yang ditargetkan PSSI kepada Wullems adalah membawa timnas lolos dari putaran penyisihan Pra-Piala Dunia (PPD) Grup V Asia. Tantangan inilah yang dijawab Wullems dengan membentuk kerja sama semua pihak. Menurut dia, kemenangan tidak bakal datang sendirinya dari tangan pelatih, tetapi banyak faktor pendukung lainnya.

Menurut Wullems, untuk membuat sebuah tim menjadi lebih baik diperlukan dua hal. Pertama, perlu ditanamkan rasa kebanggaan dipanggil sebagai pemain nasional dan, kedua, perlu uang cukup banyak serta sering melakukan kompetisi.

”Tanpa uang yang banyak, rasanya tidak mungkin memiliki tim yang tangguh,” katanya seperti dikutip Kompas (2/5/1997).

Namun, dalam perjalanannya, target yang dibebankan kepada Wullems memang tak bisa ia penuhi, Indonesia gagal lolos PPD Grup V Asia. Salah satu tantangan Wullems adalah bagaimana mengelola pemain yang tidak dibentuknya sendiri.

Setelah kegagalan itu, PSSI tetap menawari Wullems kontrak baru memimpin tim untuk meraih medali emas SEA Games XIX. Wullems tidak menolak, tetapi mengajukan syarat supaya diperbolehkan memilih sendiri pemainnya.

Perjalanan Wullems akhirnya sukses membawa Indonesia meraih medali perak SEA Games 1997.

Namun, situasi krisis 1997 yang kemudian bergulir hingga 1998 membuat situasi ekonomi tidak menentu sehingga turut berpengaruh pada kondisi kontrak di dunia sepak bola, termasuk yang dialami Wullems. Dia akhirnya tidak lagi memimpin timnas, tetapi tetap berlanjut menjadi pelatih di klub perserikatan.

Masa darurat

Pelatih asal Belanda keempat yang pernah menangani timnas Indonesia adalah Wim Rijsbergen. Rijsbergen ditunjuk di masa darurat oleh PSSI pada 11 Juli 2011 untuk mengganti pelatih tim nasional, Alfred Riedl.

Rijsbergen ditunjuk hanya 10 hari menjelang laga Pra-Piala Dunia 2014. Rijsbergen sendiri saat itu berstatus sebagai pelatih PSM Makassar.

Sebelum menjadi pelatih, Rijsbergen adalah mantan pemain tim Belanda yang ikut Piala Dunia 1974 dan 1978. Ia ditunjuk menjadi pelatih di masa darurat hanya untuk menangani timnas dalam dua laga Pra-Piala Dunia 2014 melawan Turkmenistan pada 24 dan 28 Juli.

Namun, dalam perjalanan timnas di turnamen ini, hasilnya memang kurang menggembirakan, bahkan terjadi ketegangan antara pemain dan Rijsbergen.

Dalam pemberitaan Kompas disebutkan, sebanyak tujuh pemain tim nasional senior keberatan bermain di bawah asuhan Pelatih Wim Rijsbergen. Hal ini dikonfirmasi penyerang tim nasional, Bambang Pamungkas, melalui tulisannya, ”Suatu Sore di Roemah Rempah”, di situs pribadinya, Kompas (12/11/2011).

Menurut Bepe, panggilan akrab Bambang Pamungkas, hal yang membuat pemain sangat kecewa kepada Rijsbergen adalah komentarnya sesaat setelah pertandingan yang terkesan melempar segala kesalahan kepada pemain.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir (tengah), Wakil Ketua Umum PSSI Zainudin Amali (kedua kiri), Sekjen PSSI Yunus Nusi (kedua kanan), Exco PSSI Arya Mahendra Sinulingga (kanan) dan Manajer Timnas Indonesia Sumardji (kiri) menyimak pertanyaan wartawan dalam konferensi pers terkait pemberhentian pelatih Shin Tae-yong (STY) di Jakarta, Senin (6/1/2024). PSSI resmi memberhentikan Shin Tae-yong dari posisinya sebagai pelatih Timnas Indonesia. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc.

Namun, setelah dilakukan mediasi antara pemain dan pelatih, para pemain akhirnya menyatakan komitmen untuk membela tim nasional. Mereka juga secara tegas tidak menolak pelatih asal Belanda itu untuk bergabung bersama-sama mereka dalam satu tim.

Sayangnya, perjalanan timnas di bawah asuhan Wim Rijsbergen tidak berjalan mulus. Rijsbergen gagal membawa timnas di babak awal kualifikasi Piala Dunia 2014.

Sementara itu, Pieter Huistra adalah sosok kelima, pelatih asal Belanda, yang juga pernah menangani timnas Indonesia. Ia ditugasi PSSI dengan status interim, alias sementara.

Saat itu, situasi dinilai tidak memungkinkan bagi timnas Indonesia untuk memiliki pelatih tetap. Huistra diminta fokus mengawal timnas dalam dua pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Asia Grup F.

Sayangnya, sebulan selepas penunjukan Huistra, PSSI mendapatkan sanksi dari FIFA karena dinilai mendapatkan intervensi yang kuat dari pemerintah.

Kini, timnas Indonesia tengah dipersiapkan untuk dipimpin kembali oleh sosok pelatih dari Belanda, Patrick Kluivert.

Tentu, dengan tantangan dan harapan yang sama dengan pelatih-pelatih dari Belanda sebelumnya, Patrick Kluivert diharapkan mampu membawa timnas Indonesia terbang tinggi, mencapai puncaknya untuk lolos ke Piala Dunia. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yohan Wahyu
 | 

Editor:

Andreas Yoga Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra