Tahun 2024 ditandai dengan suhu global yang mencapai rekor tertinggi, memicu berbagai bencana cuaca ekstrem.
01 Jan 2025 17:17 WIB · Humaniora
Cuaca ekstrem silih berganti terjadi di tahun 2024. Suhu panas yang memecahkan rekor memicu gelombang panas, kekeringan, kebakaran hutan, pemutihan karang, dan banjir yang menewaskan ribuan orang serta memaksa jutaan orang mengungsi.
Memasuki 2025, kita dituntut segera beralih dari bahan bakar fosil yang memanaskan planet ini untuk mencegah bencana lebih lanjut.
Laporan World Weather Attribution menyebut, perubahan iklim berkontribusi pada kematian sedikitnya 3.700 orang dan perpindahan jutaan orang dalam 26 bencana terkait cuaca pada 2024. Kemungkinan, jumlah korban jiwa dalam kejadian cuaca ekstrem jauh lebih besar.
Rangkaian kejadian bencana iklim ekstrem sepanjang 2024 tidak bisa dilepaskan dari suhu panas yang memecahkan rekor sepanjang sejarah. Untuk pertama kali, sepanjang tahun, suhu udara lebih tinggi 1,5 derajat celsius dibandingkan dengan pra-Revolusi Industri 1850-1900.
Berdasarkan analisis Climate Central, perubahan iklim menambah rata-rata 41 hari tambahan panas pada 2024 yang mengancam kesehatan warga. Negara-negara yang mengalami jumlah hari panas berbahaya tertinggi sebagian besar ialah negara kepulauan kecil dan negara berkembang.
Dalam artikel ini, kita bisa mendapatkan informasi tentang:
· Berapa kenaikan suhu pada 2024?
· Apa penyebab tingginya kenaikan suhu?
· Bagaimana dampak kenaikan suhu?
· Apa resolusi untuk 2025?
Sebelum memasuki tahun 2024, Kompas telah menulis tentang kemungkinan rekor panas. Hal ini karena kemunculan El Nino kuat pada tahun 2023. Belajar dari peristiwa sebelumnya, rekor suhu panas biasanya terjadi setahun setelah berakhirnya El Nino.
Hampir tiap bulan sepanjang 2024, rekor suhu panas terpecahkan. Misalnya, suhu April 2024 jadi bulan ke-11 berturut-turut memecahkan rekor suhu panas tertinggi. Dengan rekor ini, kenaikan suhu rata-rata di Bumi setahun terakhir 1,61 derajat celsius lebih panas dibandingkan dengan periode 1850-1900.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/23/eb4ed017-4619-4089-bf52-0a7ea2d1063f.jpg)
Rekor suhu panas juga terjadi di Indonesia. Analisis dari 115 stasiun pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga menunjukkan, suhu udara rata-rata April 2024 di Indonesia merupakan yang terpanas sepanjang periode pengamatan 1981 atau 43 tahun.
Menurut data ini, suhu udara rata-rata pada bulan April 2024 di Indonesia 27,74 derajat celsius. Sementara suhu normal udara klimatologis untuk bulan April periode 1991-2020 di Indonesia sebesar 26,85 derajat celsius.
Copernicus Climate Change Service mencatat, kenaikan suhu pada November 2024 mencapai 1,62 derajat celsius di atas tingkat pra-industri dan jadi bulan ke-16 dalam periode 17 bulan di mana suhu permukaan rata-rata global melampaui 1,5 derajat celsius di atas tingkat pra-industri.
Anomali suhu rata-rata global tahun ini (Januari-November 2024) ialah 0,72 derajat celsius di atas rata-rata pada tahun 1991-2020, yang merupakan rekor tertinggi untuk periode ini dan 0,14 derajat celsius lebih hangat daripada periode yang sama pada tahun 2023.
Pada titik ini, secara efektif dapat dipastikan bahwa tahun 2024 akan menjadi tahun terhangat yang pernah tercatat dan lebih dari 1,5 derajat celsius di atas tingkat pra-industri.
Banyak peristiwa ekstrem yang terjadi di awal tahun 2024 dipengaruhi El Niño. Namun, riset World Weather Attribution menemukan, perubahan iklim memainkan peran lebih besar daripada El Niño dalam memicu peristiwa ini, termasuk kekeringan bersejarah di Amazon.
Hal tersebut konsisten dengan fakta bahwa saat planet menghangat, pengaruh perubahan iklim semakin mengesampingkan fenomena alam lainnya yang memengaruhi cuaca.
Fenomena El Niño juga berakhir pada pertengahan 2024, bahkan memasuki November 2024 terjadi La Nina. Pantauan sejumlah Copernicus juga mencatat, rata-rata suhu permukaan laut di Pasifik timur dan tengah ekuator pada November sudah di bawah rata-rata.
Hal tersebut menunjukkan pergerakan menuju kondisi netral atau La Nina, yang merupakan kebalikan dari fenomena El Nino. Meski demikian, suhu permukaan laut di seluruh lautan tetap luar biasa tinggi di banyak wilayah.
Masih panasnya suhu lautan sekalipun terjadi La Nina yang seharusnya berfungsi mendinginkan, mengindikasikan ada faktor lain penyebab rekor suhu panas sepanjang 2024. Hal itu terkait pemanasan global yang dipicu meningkatnya emisi gas rumah kaca (GRK), terutama karbon dioksida.
Buletin Gas Rumah Kaca tahunan WMO yang dikeluarkan pada Oktober 2024 menyebut, karbon dioksida (CO₂) terakumulasi di atmosfer lebih cepat daripada yang pernah dialami selama keberadaan manusia, meningkat lebih dari 10 persen hanya dalam dua dekade.
Konsentrasi permukaan CO₂ rata-rata global mencapai 420,0 bagian per juta (ppm), metana 1.934 bagian per miliar, dan nitrogen oksida 336,9 bagian per miliar (ppb) pada tahun 2023.
Nilai-nilai ini ialah 151 persen, 265 persen, dan 125 persen dari tingkat pra-industri. Data tersebut dihitung berdasarkan pengamatan jangka panjang dalam jaringan stasiun pemantauan Global Atmosphere Watch.
Kenaikan suhu udara sepanjang 2024 telah menyebabkan berbagai dampak serius. Kenaikan suhu di atmosfer kemudian terserap di lautan, yang menyebabkan pemutihan karang.
Suhu yang memanas juga mencairkan gletser. Kajian di jurnal The Cryosphere (2021) menyebutkan, setengah dari semua penyusutan es dalam kurun 23 tahun terakhir di Bumi terjadi di darat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/16/3c4bd0aa-5984-4eb0-b516-1866079b8fbe.png)
Hal itu termasuk 6,1 triliun ton dari gletser gunung, 3,8 triliun ton dari lapisan es Greenland, dan 2,5 triliun ton dari lapisan es Antartika. Pelelehan es ini telah berkontribusi menaikkan permukaan laut global.
Penyusutan lapisan es juga terjadi di Indonesia. Satu-satunya puncak gunung dengan lapisan es di Indonesia, yaitu Puncak Jaya, telah menyusut drastis pada tahun ini. Dan diperkirakan es di Puncak Jaya hanya akan bertahan pada tahun 2025 ini, sebelum sepenuhnya lenyap di tahun 2026.
Suhu global yang memecahkan rekor pada tahun 2024 menghasilkan beragam bencana. Catatan World Weather Attribution menunjukkan hujan yang memecahkan rekor di berbagai dunia.
Dari Kathmandu ke Dubai, ke Rio Grande do Sul, ke Pegunungan Appalachia Selatan, 12 bulan terakhir telah ditandai oleh sejumlah besar banjir yang dahsyat. Dari 16 banjir yang dipelajari para ahli di organisasi ini, sebanyak 15 didorong oleh curah hujan yang diperburuk oleh perubahan iklim.
Studi para ahli iklim itu mencerminkan fisika dasar perubahan iklim: atmosfer yang lebih hangat cenderung menahan lebih banyak kelembaban, yang menyebabkan hujan deras. Di sisi lain, degradasi lingkungan menyebabkan dampak banjir semakin mematikan.
Pembakaran minyak, gas, dan batubara merupakan penyebab pemanasan dan alasan utama cuaca ekstrem menjadi lebih parah. Tahun lalu, di COP28, dunia akhirnya setuju untuk ”mengakhiri dari bahan bakar fosil”, walaupun kesepakatan itu tidak ditindaklajuti dalam COP29.
Ladang minyak dan gas baru juga terus dibuka di seluruh dunia, seiring dengan deforestasi yang juga masih terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Padahal, hutan merupakan harapan untuk menyerap emisi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/14/722ed3dccede0f424d657b6c255e7ac9-dea74e1a_f36a_43b6_af0f_a69c535d7e53.jpeg)
Maka, kondisi ekstrem akan terus memburuk dengan setiap fraksi derajat pemanasan bahan bakar fosil dan pembukaan hutan. Peralihan cepat ke energi terbarukan dan menjaga hutan tetap lestari akan membantu menjadikan dunia tempat yang lebih aman.
Bagaimanapun bencana iklim sudah terjadi dan bakal terus terjadi karena suhu yang masih memanas. Oleh karena itu, memperkuat adaptasi harus dilakukan selain berupaya memitigasinya, di antaranya dengan memperkuat sistem peringatan dini terhadap cuaca ekstrem.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Evy Rachmawati