Rektor Unnes Buka Suara perihal Kematian Mahasiswanya yang Dinilai Tak Wajar

Universitas Negeri Semarang mengaku siap memberi bantuan hukum terhadap keluarga Iko Juliant Junior,  mahasiswa fakultas hukum, yang kematiannya dinilai janggal.

02 Sep 2025 13:54 WIB · Politik & Hukum

Oleh Kristi Dwi Utami

SEMARANG, KOMPAS — Rektor Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah, S Martono angkat bicara perihal kematian mahasiswanya, Iko Juliant Junior (19), yang dinilai janggal. Kampus siap memberi bantuan hukum apabila keluarga Iko berniat melaporkan kasus tersebut.

Martono mengatakan, pihaknya menerima kabar kematian Iko pada Minggu (31/ 8/2025) malam. Kala itu, pihak kampus mendapatkan informasi bahwa mahasiswa Fakultas Hukum Unnes itu meninggal akibat kecelakaan.

”Laporan pertama, kan, kecelakaan. Tapi, isu berkembang, katanya anak ini sempat mengigau ’jangan dipukul, jangan dipukul’, begitu kan, terus ada beberapa yang menyampaikan bahwa ada ketidakwajaran,” kata Martono, Selasa (2/9/2025).

Suasana rumah Iko Juliant Junior (19), mahasiswa Universitas Negeri Semarang, di Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jateng, Selasa (2/9/2025). Kematian Iko diduga penuh dengan kejanggalan.

Menurut Martono, pihaknya belum mendapatkan informasi resmi dari pihak keluarga ataupun dokter yang menangani Iko mengenai penyebab Iko terluka hingga akhirnya meninggal. Saat ini, pihaknya masih menunggu aduan dari pihak keluarga mengenai hal tersebut.

”Kalau orangtua sudah mengadu, sudah lapor, entah ke kepolisian atau lembaga bantuan hukum, nanti kami ikut membantu. Kami juga banyak bantuan hukum, kami bantu,” ujar Martono.

Kasus kematian Iko juga menyita perhatian Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Hukum Unnes. Berdasarkan keterangan yang diperoleh IKA FH Unnes, Iko meninggal pada Minggu sekitar pukul 15.30 WIB di Rumah Sakit Umum Pusat Dr Kariadi, Kota Semarang.

Pusat Bantuan Hukum Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Hukum Unnes

Sebelumnya, Iko dilaporkan tiba di rumah sakit pada Minggu sekitar pukul 11.00 WIB. Menurut petugas keamanan rumah sakit, Iko diantar orang yang mengaku dari Brimob Polda Jateng dalam kondisi kritis.

Dokter menginformasikan kepada keluarga bahwa Iko mengalami pendarahan hebat dan kerusakan limpa. Oleh karena itu, disarankan untuk segera dioperasi. Seusai menjalani operasi, Iko yang ditunggui ibunya mengigau, ”Ampun Pak, tolong Pak, jangan pukulin saya lagi,” sebanyak beberapa kali. 

Kepada pihak keluarga, polisi menyebut Iko terluka karena kecelakaan pada Minggu pukul 02.30 WIB. Sepeda motor yang dikendarai Iko juga disebut masih berada di Polda Jateng.

Aktivis mahsiswa dan pelajar menggelar aksi solidaritas atas meninggalnya Gamma Rizkynata Oktafandy (17) yang ditembak polisi di depan Kantor Polda Jawa Tengah, Kota Semarang, Kamis (28/11/2024). Dukungan serta simpati masyarakat dan warganet terus mengalir atas tragedi penembakan yang dilakukan anggota polisi hingga menyebabkan satu meninggal, dan dua mengalami luka-luka. Masyarakat menuntut peristiwa tersebut diungkap sesuai kebenaran dan faktanya. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 28-11-2024

Naufal Sebastian dari Pusat Bantuan Hukum IKA FH Unnes mengatakan, ada sejumlah kejanggalan dalam kematian Iko. Pertama, informasi dari kepolisian mengenai kecelakaan itu berubah-ubah.

”Awalnya disebut mengalami kecelakaan di Jalan Dr Cipto, Kota Semarang. Kemudian, berubah lagi, lokasinya jadi di Jalan Veteran, Kota Semarang. Itu perlu diklarifikasi dan diinvestigasi lebih jauh lagi,” ucap Naufal.

Kedua, rentang waktu antara Iko disebut mengalami kecelakaan dan saat Iko dibawa ke RSUP Dr Kariadi juga dinilai cukup lama. Dalam surat tanda penerimaan barang bukti kecelakaan lalu lintas, polisi menyebut Iko kecelakaan pada Minggu pukul 02.30 WIB. Sementara itu, Iko baru tiba di RSUP Dr Kadiadi pada Minggu sekitar pukul 11.00 WIB atau lebih dari 8 jam setelah kejadian. 

Kemudian, Naufal juga mempertanyakan mengapa Brimob yang mengantar Iko ke rumah sakit. Umumnya, korban kecelakaan dibawa ke rumah sakit oleh paramedis atau polisi yang menangani perkara lalu lintas.

Patung Jenderal Hoegeng Iman Santoso dengan latar belakang anggota provost yang berjaga dalam acara jumpa pers terkait meninggalnya siswa SMK Negeri 4 yang ditembak polisi pekan lalu di Kantor Polda Jawa Tengah, Kota Semarang, Senin (2/12/2024). Gamma Rizkynata Oktafandy yang meninggal pada Minggu dini hari (24/11/2024) karena ditembak polisi ini masih banyak menimbulkan spekulasi pertanyaan tentang kronologi yang sebenarnya. Polisi memberikan keterangan ditembaknya Gamma dipicu dari peristiwa tawuran antargeng. Selama sepekan ini terjadi dugaan intervensi dan intimidasi terhadap keluarga korban, teman, dan sekolah ketika mereka berusaha memberikan informasi seputar aktivitas siswa SMK Negeri 4 Semarang tersebut. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 26-11-2024

”Masih kami cek apakah Brimob kebetulan lewat, kemudian melihat kecelakaan, karena dia petugas, jadi menolong atau apa kami belum bisa menghubungi pihak kepolisian untuk hal itu,” katanya.

Pihak PBH IKA FH Unnes juga bakal mendalami kejanggalan karena adanya luka-luka pada tubuh iko, seperti luka lebam di wajah dan luka robek di bibir. Igauan Iko yang meminta ampun agar dirinya tidak dipukuli juga bakal ditelusuri lagi sebabnya.

”Saat ini, salah satu teman Iko yang juga saksi kunci yang mengetahui peristiwa ini masih dirawat di rumah sakit. Ia belum bisa memberikan keterangan karena mengaku masih trauma,” ujar Naufal.

Anggota reserse yang dikerahkan untuk menangkap kelompok remaja saat mereka berkumpul untuk melakukan aksi di depan Kantor Polisi Daerah Jawa Tengah, Kota Semarang, Sabtu (30/8/2025). Penangkapan anak dan remaja yang sebagiab besar pelajar berjumlah ratusan ini dilakukan setelah diduga mereka akan melakukan aksi di depan Polda Jateng. Ini dilakukan setelah banyak pelajar ini terlibat dalam aksi kericuhan saat unjuk rasa sehari sebelumnya. Kompas/Raditya Mahendra Yasa 30-08-2025

Menurut keterangan keluarga, Iko pergi dari rumah pada Sabtu (30/8/2025) sekitar pukul 23.00. Iko mengatakan hendak pergi ke Polda Jateng untuk menjemput teman-temannya yang ditahan polisi. Sejak saat itu, tidak ada lagi kabar dari Iko, hingga akhirnya pada Minggu siang, keluarga menerima informasi Iko dalam kondisi kritis di rumah sakit.

Naufal mengatakan, keluarga masih trauma dengan kejadian yang menimpa Iko. Mereka butuh waktu untuk menguatkan diri untuk menentukan langkah-langkah yang akan ditempuh selanjutnya.

Sementara itu, Ketua PBH IKA FH Unnes Ady Putra Cesario berharap, polisi segera memberikan klarifikasi atau pernyataan mengenai penyebab meninggalnya Iko. ”Ada beberapa versi kecelakaan, ada yang menginformasikan yang lain dari pihak kepolisian. Kami berharap polisi memberikan statement atau klarifikasi atau mungkin argumentasi agar lebih jelas terkait dengan sebab meninggalnya almarhum,” ujar Ady.

Tulisan kecaman dari pserta aksi terhadap tindakan polisi yang menembak siswa SMK Negeri 4 Semarang di depan Kantor Polda Jawa Tengah, Kota Semarang, Kamis (28/11/2024). Dukungan serta simpati masyarakat dan warganet terus mengalir atas tragedi penembakan yang dilakukan anggota polisi hingga menyebabkan satu meninggal, dan dua mengalami luka-luka. Masyarakat menuntut peristiwa tersebut diungkap sesuai kebenaran dan faktanya. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 28-11-2024

Ke depan, PBH IKA FH Unnes bakal mengumpulkan bukti-bukti dan saksi-saksi mengenai peristiwa kematian Iko. Hal itu juga sekaligus untuk memastikan apakah kematian Iko benar-benar murni kecelakaan atau sebab lain.

Dikonfirmasi mengenai peristiwa itu, Kepala Bidang Humas Polda Jateng Komisaris Besar Artanto tak banyak berkomentar. Artanto malah meminta pihak keluarga Iko melapor. 

”Segera keluarganya atau utusannya merapat ke Kepolisian Resor Kota Besar Semarang atau ke Polda Jateng untuk menginformasikan secara resmi kejadian tersebut guna penyelidikan atas informasi tersebut,” katanya.

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Kristi Dwi Utami
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto