Remaja dengan Masalah Kesehatan Mental Menggunakan Media Sosial secara Berbeda

Remaja yang memiliki masalah kesehatan mental menghabiskan lebih banyak waktu di situs jejaring sosial, tetapi cenderung kurang bahagia dengan pengalaman daring.

06 Mei 2025 11:05 WIB · Humaniora

Oleh Ahmad Arif

JAKARTA, KOMPAS - Remaja dengan kondisi kesehatan mental melaporkan adanya perbedaan pengalaman mereka di media sosial dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kondisi tersebut. Perbedaan tersebut termasuk ketidakpuasan yang lebih besar dengan jumlah teman daring dan lebih banyak waktu yang dihabiskan di situs media sosial.

Studi yang dipublikasikan para peneliti dari Universitas Cambridge di Nature Human Behaviour pada Senin (5/5/2025), meneliti bagaimana remaja dengan kondisi kesehatan mental tertentu menggunakan media sosial. Mereka menemukan bahwa peserta dengan gangguan seperti kecemasan dan depresi lebih rentan terhadap pengalaman negatif daring dibandingkan mereka yang memiliki kondisi seperti gangguan hiperaktivitas akibat kekurangan perhatian (ADHD).

”Itu adalah pertanyaan yang jarang dibahas dalam studi, terutama pada sampel yang sangat besar," kata Luisa Fassi, peneliti di Cambridge's Medical Research Council Cognition and Brain Sciences Unit (MRC CBU) Cambridge dan penulis utama studi tersebut.

Infografik-Durasi Penggunaan Media Sosial Warganet Indonesia *** Local Caption *** Infografik-RISET-Durasi Penggunaan Media Sosial Warganet Indonesia

Hasil penelitian ini memberikan peringatan bagi keluarga. Jika dalam keluarga terdapat remaja yang rentan karena kecemasan, kecenderungan mengalami depresi atau suasana hati yang buruk, maka media sosialnya perlu dipantau dengan seksama.

Perilaku daring remaja

Studi ini menganalisis data dari survei terhadap 3.340 remaja di Inggris berusia 11-19 tahun yang dilakukan oleh NHS Digital pada tahun 2017. Ini adalah salah satu studi penggunaan media sosial di kalangan remaja yang menggunakan penilaian klinis multi-informan tentang kesehatan mental. Penilaian ini dilakukan oleh penilai klinis profesional yang mewawancarai anak muda, bersama dengan orang tua dan guru mereka dalam beberapa kasus.

”Hubungan antara penggunaan media sosial dan kesehatan mental remaja masih diperdebatkan, tetapi hampir tidak ada studi yang mengamati anak muda yang sudah berjuang dengan gejala kesehatan mental tingkat klinis," kata Luisa Fassi.

Peneliti menemukan bahwa remaja dengan kondisi kesehatan mental apa pun melaporkan menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial dibandingkan mereka yang tidak memiliki kondisi kesehatan mental, rata-rata sekitar 50 menit lebih lama dalam sehari.

Quote

Kondisi kesehatan mental membentuk cara remaja berinteraksi dengan platform daring.

Menurut Fassi, studi ini tidak menetapkan hubungan sebab akibat, tetapi menunjukkan bahwa anak muda dengan kondisi kesehatan mental menggunakan media sosial secara berbeda dibandingkan anak muda tanpa kondisi.

<p>Infografik Kompas.id Sabtu (9 Oktober 2021) Grafik 1 Dampak Penggunaan Instagram pada Remaja Perempuan</p>

”Hal ini bisa jadi karena kondisi kesehatan mental membentuk cara remaja berinteraksi dengan platform daring, atau mungkin penggunaan media sosial berkontribusi terhadap gejala-gejala mereka. Pada tahap ini, kami tidak dapat mengatakan mana yang lebih dulu, hanya saja perbedaan ini memang ada," kata Fassi.

Para peneliti mengembangkan tolok ukur penelitian ini berdasarkan penelitian yang ada tentang tidur, aktivitas fisik, dan kesehatan mental. Hanya temuan dengan tingkat hubungan yang sebanding dengan perbedaan tidur dan olahraga antara orang dengan dan tanpa kondisi kesehatan mental yang dianggap signifikan.

Sementara itu kesehatan mental diukur dengan penilaian tingkat klinis, penggunaan media sosial berasal dari kuesioner yang diisi oleh peserta penelitian, yang tidak ditanya tentang platform tertentu.

Tidak puas dengan jumlah teman

Selain waktu yang dihabiskan di media sosial, semua kondisi kesehatan mental dikaitkan dengan ketidakpuasan yang lebih besar dengan jumlah teman daring. Platform media sosial menetapkan jumlah konkret untuk persahabatan, membuat perbandingan sosial lebih mencolok. Bagi remaja yang berjuang dengan kondisi kesehatan mental, hal ini dapat meningkatkan perasaan penolakan atau ketidakmampuan yang ada.

Peneliti mengamati perbedaan penggunaan media sosial antara remaja dengan kondisi internalisasi, seperti kecemasan, depresi, dan PTSD, dan kondisi eksternalisasi, seperti ADHD atau gangguan perilaku.

Mayoritas perbedaan penggunaan media sosial dilaporkan oleh remaja dengan kondisi internalisasi. Misalnya, "perbandingan sosial", membandingkan diri mereka dengan orang lain secara daring, dua kali lebih tinggi pada remaja dengan kondisi internalisasi (48 persen, sekitar satu dari dua) dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kondisi kesehatan mental (24 persen, sekitar satu dari empat).

Remaja dengan kondisi internalisasi juga lebih mungkin melaporkan perubahan suasana hati sebagai respons terhadap umpan balik media sosial (28 persen, sekitar 1 dari 4) dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kondisi kesehatan mental (13 persen, sekitar 1 dari 8). Mereka juga melaporkan tingkat pengendalian diri yang lebih rendah atas waktu yang dihabiskan di media sosial dan berkurangnya keinginan untuk jujur tentang keadaan emosional mereka saat daring.

”Beberapa perbedaan dalam cara anak muda dengan kecemasan dan depresi menggunakan media sosial mencerminkan apa yang sudah kita ketahui tentang pengalaman mereka di dunia nyata. Perbandingan sosial merupakan bagian yang terdokumentasi dengan baik dari kehidupan sehari-hari bagi anak muda ini, dan penelitian kami menunjukkan bahwa pola ini juga meluas ke dunia daring mereka," kata Fassi.

Sebaliknya, selain waktu yang dihabiskan di media sosial, para peneliti menemukan sedikit perbedaan antara anak muda dengan kondisi eksternalisasi dan mereka yang tidak memiliki kondisi.

”Temuan kami memberikan wawasan penting untuk praktik klinis, dan dapat membantu menginformasikan pedoman masa depan untuk intervensi dini," kata Amy Orben dari Cambridge, penulis senior penelitian tersebut.

Sekelompok remaja melakukan pengambilan gambar untuk konten media sosial di jalan Tanjung Karang, dekat Stasiun MRT Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Kamis (10/6/2021). Sejumlah lokasi di sepanjang jalan protokol MH Thamrin dan jalan Jenderal Sudirman yang tertata rapi menjadi lokasi favorit bagi kalangan remaja untuk berfoto. Kompas/Priyombodo (PRI) 10/6/2021

Orben mengatakan ada begitu banyak faktor yang dapat menjadi penyebab seseorang mengembangkan kondisi kesehatan mental. Namun, sangat sulit untuk mengetahui apakah penggunaan media sosial merupakan salah satu penyebabnya.

Menurut dia, pertanyaan besar seperti ini memerlukan banyak penelitian yang menggabungkan desain eksperimental dengan data media sosial yang objektif tentang apa yang sebenarnya dilihat dan dilakukan anak muda secara daring.

"Kita perlu memahami bagaimana berbagai jenis konten dan aktivitas media sosial memengaruhi anak muda dengan berbagai kondisi kesehatan mental, seperti mereka yang hidup dengan gangguan makan, ADHD, atau depresi. Tanpa menyertakan kelompok yang kurang diteliti ini, kita berisiko kehilangan gambaran utuh," kata dia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ahmad Arif
 | 

Editor:

Ichwan Susanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .