Di era serba digital, mengapa justru makin banyak remaja yang merasa kesepian, tak punya teman dekat, dan dilanda kecemasan hingga ingin bunuh diri?
30 Jul 2025 08:05 WIB · Kesehatan
Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi seolah membuka lebih banyak peluang bagi generasi muda untuk terhubung. Namun, di balik situasi itu, Tim Jurnalisme Data Harian Kompas menemukan fakta, remaja masa kini makin terjebak dalam kesepian dan tekanan psikologis.
Data survei Global School-based Student Health Survey (GSHS) yang diprakarsai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperlihatkan lonjakan signifikan pada indikator kesepian dan masalah kesehatan mental di kalangan pelajar usia remaja dalam periode hampir dua dekade terakhir.
Pada GSHS 2007, terdapat 3.116 responden berusia 13-15 tahun. Dan, pada 2023, jumlah respondennya mencapai 5.449 siswa. Perbandingan kondisi mental remaja antargenerasi dimungkinkan menggunakan GSHS.
Pada GSHS 2007, siswa yang menjadi responden lahir tahun 1992-1994 atau termasuk generasi Y atau milenial. Sedangkan pada GSHS 2023, responden lahir pada periode 2008-2010 atau generasi Z.
Dari analisis terlihat, lebih banyak anggota generasi Z yang mengeluhkan kesehatan mentalnya ketimbang generasi milenial.
Pada 2007, hanya 8,7 persen remaja yang mengaku merasa kesepian hampir sepanjang waktu dalam setahun terakhir. Angka itu melonjak lebih dari dua kali lipat pada 2023 menjadi 19 persen.
Tidak hanya itu, proporsi remaja yang sama sekali tidak memiliki teman dekat juga meningkat, dari sekitar 14 per 1.000 siswa pada 2007 menjadi 35 per 1.000 siswa pada 2023 atau meningkat 150 persen.
Kenaikan drastis bahkan terjadi pada persentase pelajar yang pernah secara serius mempertimbangkan upaya bunuh diri. Pada 2007, angkanya di kisaran 4 persen, sementara pada 2023 proporsinya melonjak menjadi 8,5 persen.
Khusus untuk angka persentase siswa yang merasa kesepian tahun 2023, merupakan hasil analisis awal dan sementara oleh Tin Afifah, Ahli Madya Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), berdasarkan data mikro GSHS 2023 yang belum bisa dipublikasikan umum.
Untuk angka variabel lain, telah dipublikasikan dalam dokumen fact sheet atau lembar fakta resmi dari WHO.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/29/d62932c0a19d296da90dfc0bd7174636-tin_afifah.jpg)
Menurut Tin, yang menyebabkan peningkatan drastis jumlah remaja Indonesia yang mengaku kesepian adalah struktur sosial yang sudah berubah drastis antara tahun 2007 dan 2023. Keberadaan berbagai gawai, seperti ponsel pintar dan media sosial, juga termasuk yang berkontribusi pada perubahan ini.
”Misal, zaman saya masih muda, televisi hanya sebagai kegiatan malam hari. Siang dan sore berada di luar rumah untuk bergabung bersama dengan teman-teman untuk bermain bersama,” kata Tin, Minggu (20/7/2025), di Jakarta.
Karena itu, bagi Tin, ini menjadi alarm peringatan yang penting bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan mental anak-anak di zaman sekarang. Terlebih lagi, menurut berbagai literatur yang ia baca, kondisi mental yang dirasakan remaja ini bisa terus berpengaruh hingga masa dewasa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/06/c841f320-a43e-4f02-b427-ea76cf29ae6f_jpg.jpg)
”Hal inilah yang perlu masyarakat umum sekarang harus lebih aware. Menurut literatur, kesehatan mental masa remaja, seperti kesepian, akan memengaruhi masa dewasanya,” kata Tin.
Ketiadaan teman dekat ternyata memiliki hubungan yang erat dengan tingkat kekhawatiran berlebih atau anxiety di kalangan remaja.
Dari pelajar Indonesia yang disurvei, mereka yang tidak memiliki teman dekat cenderung lebih sering merasa sangat khawatir selama 12 bulan terakhir.
”Anak perempuan mempunyai tantangan permasalahan lebih banyak ketimbang laki-laki, seperti ’body image’, tekanan sosial, dan rentan menjadi korban kekerasan.”
Sekitar 33 persen remaja tanpa teman dekat mengaku sering dilanda kekhawatiran yang berat, sedangkan hanya 14 persen dari remaja dengan tiga atau lebih teman dekat yang mengalami hal serupa.
Sebaliknya, di kelompok yang memiliki banyak teman dekat, proporsi remaja yang jarang atau tidak pernah merasa khawatir justru lebih tinggi. Pada kelompok dengan tiga atau lebih teman dekat, hampir 29 persen mengaku tidak pernah merasa khawatir dan 57 persen hanya sesekali mengalaminya.
Angka ini menurun signifikan pada kelompok tanpa teman dekat, di mana hanya 19 persen yang tidak pernah merasa khawatir dan sekitar 47 persen sesekali mengalaminya. Analisis statistik memperkuat temuan ini dengan tingkat signifikansi yang sangat tinggi (p < 0,001).
Lalu, jika dilihat lebih dalam, kesepian lebih berdampak luas pada remaja perempuan. Di antara siswa berusia 13-15 tahun, baik pada survei 2007 maupun 2023, proporsi yang merasa kesepian jauh lebih tinggi pada remaja perempuan ketimbang remaja laki-laki.
Pada 2007, persentase remaja perempuan yang mengaku merasa kesepian mencapai angka 10,5 persen, sedangkan untuk laki-laki hanya 7 persen. Lalu, pada 2023, proporsi remaja perempuan yang merasa kesepian meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 24 persen versus 14,2 persen untuk remaja laki-laki.
Kondisi kesehatan mental ini juga berdampak lebih serius pada remaja perempuan. Pada 2023, persentase remaja perempuan yang mengaku pernah mencoba bunuh diri mencapai 11,5 persen. Ini secara signifikan lebih besar ketimbang remaja laki-laki pada angka 5,7 persen.
Terkait disparitas antara remaja laki-laki dan perempuan, Tin menilai ada perbedaan alamiah antara remaja perempuan dan laki-laki secara biologi, sosial, dan norma. Ia mencontohkan, pada remaja perempuan, terhadap hormon yang memengaruhi emosi, terutama saat PMS (pre-menstrual syndrome).
”Pada anak perempuan ada norma-normal dan ada tuntutan tertentu yang lebih ketat ketimbang remaja laki-laki. Anak perempuan mempunyai tantangan permasalahan lebih banyak ketimbang laki-laki, seperti body image, tekanan sosial, dan rentan menjadi korban kekerasan,” kata Tin.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/04/27/7d292e9c-86b7-4f7a-a20e-586f4f2d03e2_jpg.jpg)
Sentimen ini juga dirasakan anak muda anggota generasi Z, seperti Devina Fauziah (20), mahasiswa yang berdomisili di Yogyakarta, DIY. Menurut dia, sulitnya menjalin hubungan dengan teman dekat yang benar-benar akrab justru makin sulit di masa maraknya kehadiran media sosial. Keberadaan media sosial, menurut dia, memudahkan seorang individu mencari orang baru.
”Jadi, pergantian teman itu berlangsung cepat. Fenomena ini bahkan berpengaruh ke pasangan, ke pernikahan, begitu. Jadi, hubungan-hubungan ini kan enggak sesakral dulu, kan,” kata Devina.
Perubahan pola relasi sosial dan kondisi mental ini diyakini pengajar Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Sutarimah Ampuni, memiliki dua penyebab utama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/29/58fe0015209fd2123210478fe724a481-sutarimah_ampuni.png)
Pertama adalah perubahan cara berpikir individu Indonesia dari yang komunal dan berbasis kolektivitas menjadi lebih individualistis. Kedua, ada perubahan obyektif dalam aspek struktur demografi. Misalnya, ukuran keluarga yang kini menjadi lebih kecil.
Dua aspek penyebab ini lalu bermuara menjadi struktur masyarakat yang makin tidak terkoneksi secara otentik satu sama lain. Sutarimah menilai, saat ini mau tidak mau masyarakat Indonesia harus mengakui bahwa secara umum kondisi mengalami penurunan kualitas kesehatan mental. Ini yang menyebabkan munculnya rasa kesepian, diskoneksi, dan isolasi sosial.
”Sekitar 20 tahun yang lalu, saya masih asing mendengar isu loneliness atau bahkan suicide (bunuh diri). Namun, ternyata sekarang sudah sering kita hadapi. Hubungan antarmanusia saat ini menjadi sangat superfisial, tidak otentik. Inilah yang menjadi kekosongan atau kehampaan. Kadang terlihat seperti terkoneksi, tetapi sebenarnya tidak,” kata Sutarimah.
Penulis:
Satrio Pangarso Wisanggeni, Sri Rejeki, Ratna Sri WidyastutiEditor:
Andy Riza Hidayat, Sri RejekiPenyelaras Bahasa:
Retma Wati