keamanan

Rencana Trump Kerahkan Agen ICE di Bandara Dikritik

Sejumlah pihak mengkritik rencana Presiden Donald Trump menempatkan agen ICE di bandara. ICE punya rekam jejak buruk dalam aksi kekerasan yang menelan korban jiwa.

23 Mar 2026 14:00 WIB · Internasional

AP/Yuki Iwamura

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

WASHINGTON DC, SENIN — Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana mengerahkan petugas Badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai AS atau ICE di bandara. Pengerahan ini untuk menutupi kekurangan staf keamanan bandara. Namun, sejumlah pihak mengkritik rencana itu karena dikhawatirkan semakin mengacaukan sistem keamanan di bandara.

Banyak staf Administrasi Keamanan Transportasi AS (TSA) absen dalam beberapa pekan terakhir karena tidak digaji. Masalah ini muncul setelah Partai Demokrat menahan pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS). Dana ditahan menyusul tuntutan perubahan aturan operasi imigrasi yang telah menimbulkan korban jiwa sehingga memantik kemarahan publik.

Karena sudah berminggu-minggu tidak digaji, banyak staf TSA yang absen bekerja. Di Bandara Houston, New York, dan Atlanta, lebih dari sepertiga staf TSA melaporkan sakit atau absen, Minggu (22/3/2026). Hal ini menyebabkan antrean panjang penumpang di bandara.

Travel Delays

Untuk mengatasi masalah itu, Trump akan mengerahkan petugas ICE di bandara. Mereka bertugas membantu staf TSA dalam mengendalikan kerumunan dan mengelola antrean keamanan di terminal domestik. Secara keseluruhan, lebih dari 9 persen staf TSA absen selama tujuh hari terakhir.

”Pada Senin (23/3/2026), ICE akan pergi ke bandara untuk membantu agen TSA kita yang luar biasa,” tulis Trump di akun media sosial Truth Social.

Trump menganggap langkah Partai Demokrat menahan pendanaan DHS membahayakan AS. Ia menuding langkah tersebut hanya fokus melindungi ”penjahat garis keras” yang telah memasuki negara itu secara ilegal.

”Namun, lihat saja, tidak peduli seberapa hebat pekerjaan yang dilakukan ICE, orang-orang gila yang memimpin Demokrat yang tidak kompeten akan sangat kritis terhadap pekerjaan mereka,” ujarnya.

LOS ANGELES, CALIFORNIA - JANUARY 30: People demonstrate during 'National Shutdown" anti-ICE protests on January 30, 2026 in Los Angeles, California. Across the country, thousands participated in similar protests as the nation continues to react to events in Minneapolis, where two people were killed in confrontations with ICE and other government immigration agents.   Mario Tama/Getty Images/AFP (Photo by MARIO TAMA / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Sejumlah pihak mengkritik langkah Trump itu. Sebab, kebijakan yang saat ini dibutuhkan adalah membayar gaji staf TSA, bukan justru mengganti posisi mereka. Apalagi, citra ICE relatif buruk di mata masyarakat AS setelah sejumlah kekerasan yang mereka lakukan dalam beberapa waktu terakhir.

Pada awal 2026, terdapat sejumlah kasus penembakan yang melibatkan agen ICE. Pada 24 Januari 2026, misalnya, petugas ICE menembak mati seorang perawat bernama Alex Jeffrey Pretti (37) di Minnesota. Tiga pekan sebelumnya, Renee Good (37) juga tewas ditembak petugas ICE.

Senator Lisa Murkowski menyebut rencana penempatan agen ICE di bandara itu sebagai ide yang buruk. ”Yang perlu kita lakukan adalah menyelesaikan masalah DHS. Kita perlu membayar agen TSA. Apakah Anda benar-benar ingin menambah ketegangan di atas apa yang sudah kita hadapi?” katanya.

Quote

Karena sudah berminggu-minggu tidak digaji, banyak staf TSA yang absen bekerja. Di Bandara Houston, New York, dan Atlanta, lebih dari sepertiga staf TSA melaporkan sakit atau absen.

Everett Kelley, Presiden Federasi Karyawan Pemerintah AS, yang mewakili lebih dari 50.000 karyawan TSA, juga mengecam rencana Trump tersebut. Menurut dia, agen ICE tidak terlatih atau tersertifikasi dalam keamanan penerbangan.

”Anggota kami di TSA telah hadir setiap hari, tanpa gaji, karena mereka percaya pada misi menjaga keselamatan masyarakat yang menggunakan penerbangan. Mereka pantas dibayar, bukan digantikan oleh agen bersenjata yang tidak terlatih yang telah menunjukkan betapa berbahayanya mereka,” tuturnya.

Bandara besar

Pemerintah AS belum memerinci daftar bandara yang akan menjadi lokasi penempatan petugas ICE. Penjabat Direktur ICE Tom Homan mengatakan, rincian jumlah petugas ICE yang akan dikerahkan dan spesifikasi bandara yang membutuhkannya sedang dibahas.

”Ini masih dalam proses. Prioritasnya adalah bandara-bandara besar di mana antrean panjang, seperti sampai tiga jam,” ucapnya.

Homan mengatakan, agen ICE dapat mengawasi pintu keluar yang saat ini dipantau oleh agen TSA. Dengan begitu, mereka dapat bekerja di jalur pemeriksaan. Pilihan lain adalah meminta agen ICE memeriksa identitas sebelum orang memasuki area pemeriksaan.

”Kita (ICE) akan menjadi pengganda kekuatan. Tentu tetap ada beberapa batasan. Saya tidak melihat adanya (wewenang) agen ICE melihat mesin sinar-X karena kami tidak terlatih dalam hal itu,” katanya.

Wali Kota Atlanta Andre Dickens mengatakan, agen ICE dikerahkan ke Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta mulai Senin. Pada Minggu, sejumlah pelancong mengantre hampir enam jam di pos pemerikasaan keamanan karena hanya ada dua anggota staf TSA yang bertugas memeriksa identitas penumpang. Alhasil, banyak penumpang yang ketinggalan penerbangan dan terpaksa mengeluarkan dana lebih untuk memesan tiket penerbangan berikutnya.

Graffitis and a shattered glass window are seen while protesters participate in the "ICE OUT! Noise Demo" at a hotel in Minneapolis, Minnesota on January 25, 2026. On January 24, federal agents shot dead US citizen Alex Pretti, a 37-year-old ICU nurse, while scuffling with him on an icy roadway, less than three weeks after an immigration officer shot and killed Renee Good, also 37, in her car.His killing sparked new protests and impassioned demands by local leaders for the Trump administration to end its operation in the city. (Photo by Octavio JONES / AFP)

Dickens menyebutkan, agen ICE yang dikerahkan akan diberi tugas dalam mengatur antrean dan mengendalikan kerumunan. ”Para pejabat federal telah mengindikasikan bahwa penempatan ini tidak dimaksudkan untuk kegiatan penegakan hukum imigrasi,” ujarnya.

Juru bicara DHS, Lauren Bis, mengatakan, ratusan agen ICE akan dikerahkan ke bandara dengan staf TSA yang terbatas. Mereka akan menggantikan petugas TSA yang absen karena sakit, bahkan ada yang telah mengundurkan diri.

”Banyak petugas TSA tidak dapat membayar sewa, membeli makanan, atau membeli bensin untuk mobil mereka. Hal ini memaksa mereka untuk izin sakit,” ucapnya. (REUTERS/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra