Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali menunjukkan perlu perbaikan sistem keselamatan transportasi laut, termasuk tanggap darurat di pelabuhan.
03 Jul 2025 11:22 WIB · Nasional
MALANG, KOMPAS — Kecelakaan tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya pada Kamis dini hari menambah panjang daftar kasus kapal tenggelam di Selat Bali. Evaluasi keselamatan penyeberangan menyeluruh dibutuhkan, termasuk memperbaiki sistem tanggap darurat di pelabuhan.
Kompas mencatat rentetan kasus kapal tenggelam di Selat Bali mulai tahun 1980-an. Pelajaran dipetik dari seluruh kasus tersebut, keselamatan transportasi di Tanah Air harus terus ditingkatkan.
Kecelakaan kapal tenggelam di Selat Bali yang direkam Kompas adalah pada 10 Oktober 1985. Saat itu, kapal PLM Labalikan memuat 153 ton bahan pokok dan muatan umum bergerak dari Dermaga Kalimas Tanjung Perak, Surabaya, menuju Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/9749be72d27436057b97ce9b61a7b707-WhatsApp_Image_2025_07_03_at_9.09.36_AM.jpeg)
Perjalanan yang seharusnya ditempuh lima hari tersebut terhenti pada hari kedua. Saat itu, kapal buatan tahun 1982 tersebut diterjang angin dan ombak besar. Dalam kejadian itu, 13 awak kapal diselamatkan kapal lain yang melintas, sedangkan 12 awak lainnya hilang.
Kasus kecelakaan di Selat Bali berikutnya adalah tenggelamnya feri LCT Kaltim Mas II pada 1994. Puluhan awak dan penumpangnya tewas. Kecelakaan ini terjadi karena arus kuat, lalu kapal dihantam ombak tinggi 3-4 meter. Hal itu menyebabkan kapal terbalik.
Pada era kekinian, kasus kapal tenggelam di Selat Bali juga cukup banyak. Tahun 2016, KMP Rafelia 2 tenggelam di Selat Bali. Kecelakaan ini diduga karena kapal kelebihan muatan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/b269c937b93adb430f9105d721c912bb-20250703wer1.jpg)
Pada 2021, KMP Yunicee tenggelam setelah terseret arus laut dan dihantam ombak setinggi 3-5 meter. Menjelang sandar di Pelabuhan Gilimanuk, KMP Yunicee terseret arus laut dan gelombang tinggi ke arah selatan.
Jarak penyeberangan Ketapang-Gilimanuk memang hanya sekitar 5 mil, dengan kedalaman laut rata-rata 50 meter. Dalam perjalanan normal dengan feri hanya butuh 30 menit. Namun, meski demikian kondisi Selat Bali cukup berbahaya.
”Kondisi perairan di Selat Bali cukup unik. Arusnya kencang sekali. Di pinggir Pelabuhan Ketapang, arus bisa mengarah dengan cepat ke utara-selatan. Di tengah dan di sisi Gilimanuk pun demikian. Kasus KMP Yunicee dahulu juga demikian. Baru terbawa arus beberapa menit saja, kapal sudah bergeser sangat jauh ke selatan,” kata Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono, Kamis (3/7/2025).
Kondisi Selat Bali itu, menurut Soerjanto, sangat dipengaruhi pasang surut Samudra Hindia dan Laut Jawa. Saat pasang surut, arus lautnya akan sangat kencang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/09/12/fb23cc67-41ea-4091-b10c-c239436db3e8.jpg)
Dalam kasus kecelakaan KMP Tunu Pratama Jaya, Kamis pagi, KNKT akan turun untuk menyelidiki penyebab kapal tersebut tenggelam. ”Ada laporan ke KNKT pukul 03.00 WIB mengenai kecelakaan KMP Tunu Pratama Jaya. Kami juga sudah berkoordinasi dengan teman-teman di sana sampai pukul 08.30, sebanyak 4 orang ditemukan meninggal dan 23 selamat. Sisanya masih dalam pencarian. Mudah-mudahan mereka bisa diselamatkan,” kata Soerjanto.
Atas nama pemerintah dan KNKT, Soerjanto menyampaikan turut berbelasungkawa dalam kejadian tersebut. ”Semoga kita bisa menemukan apa penyebabnya sehingga kecelakaan yang sama bisa dihindari. Pagi ini, KNKT akan bergerak ke Bali. Saya akan bergerak bersama dua investigator, akan mengecek dan menyelidiki penyebab kapal tenggelam,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/01/12/e4a82337-4422-4022-a687-e6885421cf2e.jpg)
Kasus kecelakaan kapal tenggelam di Bali, menurut Soerjanto, sudah sering terjadi. Itu sebabnya, ia berharap kejadian ini akan menjadi bahan evaluasi untuk menyelenggarakan transportasi laut aman bagi masyarakat.
”Isunya ada kebocoran di kamar mesin. Kami akan cari tahu apa benar ada kebocoran itu. Kami juga akan melihat histori doking seperti apa saja. Perbaikannya apa saja. Kami ingin interview kru kapal yang selamat. Sehingga kami bisa cocokkan data antara dokumen doking dan keterangan kru,” katanya.
Hal penting lain, menurut Soerjanto, adalah perbaikan respons tanggap darurat di pelabuhan. ”Kecelakaan ini terjadi di dekat pelabuhan atau sekitar 1,5 mil. Kenapa sampai timbul korban? Salah satunya, mungkin kami akan melihat atau me-review masalah tanggap darurat di jalur-jalur padat, seperti jalur Ketapang-Gilimanuk, Lembar-Padangbai, Merak-Bakauheni. Nanti di jalur padat ini akan dijagakan tim rescue 24 jam di pelabuhan. Sehingga kalau terjadi apa-apa, respons bisa cepat,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/06/30/antarafoto-pencarian-korban-kmp-yunicee-300621-fik-9_1625031660.jpg)
Adapun terkait kecelakaan KMP Tunu Pratama Jaya, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengonfirmasi bahwa telah terjadi insiden tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya, kapal milik operator swasta PT Raputra Jaya, Rabu (2/7/2025) malam. Saat itu, kapal tengah berlayar di lintasan Ketapang-Gilimanuk, Selat Bali.
Corporate Secretary ASDP Shelvy Arifin, dalam siaran pers, mengatakan, kejadian tersebut pertama kali terpantau pada pukul 23.20, ketika KMP Tunu Pratama Jaya mengalami gangguan dan menyampaikan permintaan bantuan melalui saluran komunikasi radio. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kapal mengalami blackout pada pukul 23.35. Tidak lama berselang, kapal tersebut terbalik dan hanyut ke arah selatan dengan posisi terakhir tercatat pada koordinat -08°09.371', 114°25.1569'.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/05/16/80eb67ec-91d1-4280-bbac-90c372a6773b.jpg)
ASDP menyampaikan, penanganan tanggap darurat dan proses evakuasi dipimpin langsung oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Wangi dan Basarnas, serta didukung penuh oleh semua unsur terkait, termasuk ASDP. Hingga saat ini, sembilan kapal SAR telah dikerahkan untuk melakukan pencarian dan penyelamatan, terdiri dari 2 kapal Basarnas, 2 kapal KSOP, 2 kapal milik PT Raputra Jaya, 2 KRI TNI AL, dan 1 kapal dari unsur Polairud.
Data awal menyebutkan, KMP Tunu Pratama Jaya membawa 65 orang, terdiri dari 53 penumpang dan 12 kru kapal, serta 22 unit kendaraan. Saat ini, belum ada informasi resmi mengenai jumlah korban atau kondisi seluruh penumpang mengingat operasi SAR masih berlangsung intensif di lokasi kejadian.
ASDP fokus mendukung proses evakuasi dan penyelamatan yang dilakukan oleh otoritas berwenang serta memastikan tidak ada gangguan layanan pada lintasan penyeberangan lainnya.
”Kami mengimbau masyarakat, khususnya pengguna jasa penyeberangan di lintas Ketapang-Gilimanuk, untuk tetap tenang, waspada terhadap kondisi cuaca, dan mengikuti arahan resmi dari otoritas pelabuhan. Situasi operasional di pelabuhan tetap dikendalikan secara ketat dengan mengedepankan aspek keselamatan pelayaran,” kata Shelvy.
Menurut Shelvy, untuk informasi lanjutan terkait perkembangan kecelakaan, awak media dapat menghubungi KSOP Tanjung Wangi dan Basarnas. Hal ini untuk menghindari simpang siur informasi dan memastikan publik menerima data yang sah dan terverifikasi.
Penulis:
Dahlia IrawatiEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase