Miras Oplosan Terus Telan Korban, dari Keputusasaan hingga Problem Budaya

Korban miras oplosan terus saja terjadi. Baik peminum maupun pembuat tidak pernah memikirkan efek yang ditimbulkan.

06 Agt 2025 08:25 WIB · Kriminalitas

Oleh Defri Werdiono

Dua pemandu lagu di salah satu tempat karaoke di Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, mengembuskan napas terakhir akibat minuman keras. Ironisnya, peristiwa ini hanya berselang beberapa hari setelah tiga orang tewas akibat minuman keras di desa lain di Kediri.

Dua pemandu lagu yang tewas itu masing-masing berinisial IB dan G. IB meninggal pada Sabtu (2/8/2025). G menyusul tewas pada Minggu (3/8/2025) malam setelah dirawat intensif di Rumah Sakit Muhammadiyah Kota Kediri. Satu korban lainnya, H, masih dalam perawatan di rumah sakit.

Mereka diketahui mengonsumsi minuman beralkohol pada Jumat (1/8/2025) malam di salah satu tempat karaoke yang berada di wilayah Desa Maron itu. Hasil diagnosis dokter menyatakan mereka keracunan minuman keras (miras) oplosan.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kediri Kota Ajun Komisaris Cipto Dwi Leksono mengatakan, polisi telah menyelidiki kasus ini, yakni dengan memeriksa saksi-saksi dan barang bukti, termasuk rekaman kamera pemantau (CCTV).

Miras yang dikonsumsi korban juga diuji di laboratorium untuk mengetahui kandungan di dalamnya. ”Untuk pihak kafe, kita sudah lakukan sterilisasi di tempat karaoke. Kita imbau mereka untuk karaoke tidak beroperasi lebih dulu sembari menunggu hasil penyelidikan tuntas,” ujarnya, Senin (4/8/2025).

Minuman keras ilegal hasil produksi industri rumah tangga di Dusun Krajan, Desa Sumberejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, Senin (25/3/2024).

Menurut informasi awal, selain menenggak miras yang disediakan oleh pihak karaoke, korban yang malam itu menyanyi bersama tamu juga membawa miras dari luar. Melalui uji laboratorium akan diketahui jenis miras mana yang merenggut nyawa mereka. ”Kalau yang disediakan pihak karaoke ada label, tetapi yang dibawa sendiri dari luar hanya kemasan botolan,” katanya. 

Sebelum kematian dua pemandu lagu tersebut, publik Kediri lebih dulu dikejutkan dengan tewasnya tiga warga Desa Gadungan, Kecamatan Puncu.

Mereka adalah P (43), DWP (30), dan AW (28). P meninggal pada Senin (28/7/2025), sedangkan DW dan AW sempat dirawat di rumah sakit. Namun, nyawa keduanya kemudian tidak terselamatkan saat dalam perawatan di rumah sakit, Selasa (29/7/2025). Satu korban lainnya, AM, selamat dan kini masih masa pemulihan. Para korban memiliki hubungan kerabat.

Sebelum tewas, mereka menenggak miras oplosan di warung milik Poniatmarja (51) di Desa Kepung, Kecamatan Kepung, saat berlangsung karnaval desa yang disertai sound horeg. Poniatmarja, yang kemudian diringkus polisi, mengaku, ia mengoplos miras dengan sirup dan alkohol berkadar 96 persen.

”Dari interogasi, Poniatmaja mengaku mendapatkan miras dari Gusmanto yang kemudian diracik lagi dengan bahan-bahan yang sudah disiapkan dengan takaran sendiri,” ujar Kasat Reskrim Polres Kediri Ajun Komisaris Joshua Peter Krisnawan, Rabu (6/8/2025).

Korban tewas sia-sia akibat miras oplosan bukan kali ini saja terjadi. Berdasarkan pemberitaan Kompas.id, peristiwa serupa pernah menimpa empat warga Kota Bogor, Jawa Barat, pada Februari 2025. Masih di bulan yang sama, 8 warga Cianjur juga meregang nyawa akibat miras oplosan dan 4 orang lainnya menjalani perawatan.

Sebuah kendaraan perata jalan menggilas puluhan ribu botol miras yang disita selama Agustus 2022 oleh polisi di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (26/8/2022). Miras itu disita karena diperdagangkan secara ilegal.

Di wilayah Karisidenan Kediri, pada Agustus 2020, sebanyak 3 warga Kota Blitar juga tewas akibat miras oplosan. Pada Oktober 2023, sebanyak 7 warga di Daerah Istimewa Yogyakarta tewas akibat minuman serupa. Akibat miras oplosan pula, 5 orang di Surabaya tewas dan 3 lainnya masuk rumah sakit pada Juli 2022.

Dikutip dari laman Kemenkes.go.id, dokter Eka Viora menjelaskan jenis alkohol pada miral oplosan berbeda dengan minuman alkohol yang biasa dikonsumsi manusia. Kandungan minuman beralkohol yang biasa dikonsumsi manusia adalah ethyl alcohol (etanol) yang dibuat melalui fermentasi dari madu gula sari buah atau umbi-umbian.

Alkohol yang terkandung dalam miras oplosan adalah methyl alcohol (metanol). Metanol biasanya dipakai untuk bahan industri sebagai pelarut, pembersih dan penghapus cat. Metanol dapat ditemukan dalam tiner (penghapus cat) atau aseton (pembersih cat kuku).

Tanpa dicampur apa pun, metanol sangat berbahaya bagi kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian. Apalagi dicampur dengan berbagai bahan lain yang tidak jelas jenis dan kandungannya. Metanol bila dicerna tubuh akan menjadi formaldehyde atau formalin yang beracun, berbahaya bagi kesehatan. Reaksinya dapat merusak jaringan saraf pusat, otak, pencernaan, hingga kasus kebutaan.

Ketua Dewan Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang Tobroni mengatakan, seakan tak pernah jera, korban miras oplosan terus terjadi. Ada beberapa faktor yang menyebabkan orang masih saja mengonsumsi miras oplosan padahal sudah banyak korban berjatuhan.

Pertama, fenomena kemunduran kualitas sumber daya manusia (SDM). Orang cerdas tidak mungkin minum miras oplosan. Kalau orang logikanya jalan pasti dia akan mendesain masa depan yang indah. Sebaliknya, orang yang tidak cerdas sulit merencanakan masa depan. Mengonsumsi miras merupakan kenikmatan sesaat, upaya menghibur diri sejenak tetapi berefek jangka panjang.

Satuan Reserse Narkoba Kepolisian Resor Malang, Jawa Timur, membongkar usaha produksi minuman keras ilegal di Dusun Krajan, Desa Sumberejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, Senin (25/3/2024)

Kedua, fenomena keputusasaan. Tak hanya kaum dewasa, tetapi juga anak muda. ”Anak-anak muda sekarang mau apa? Mau kuliah, mau kerja, sama-sama sulit. Karena itu, yang kualitas SDM-nya kurang, banyak memilih pelarian (dengan miras),” ujarnya, Senin (4/8/2025).

Ketiga, lanjut Tobroni, terkait soal pendidikan baik di lingkungan keluarga dan formal yang menurun. Dalam pendidikan keluarga, anak-anak saat ini terlalu dimanjakam. Berbeda dengan zaman dulu di mana anak-anak punya kesibukan. Saat ini, hal itu tidak terjadi. Mereka tidak punya aktivitas, baik membantu orangtua maupun pekerjaan rumah.

”Selain orangtua, mereka juga dimanja oleh teknologi. Di era digital anak-anak belum punya filter, pedoman hidup yang kuat. Sementara mereka harus menghadapi banjir informasi yang banyak mudaratnya (bagi yang kurang cerdas akan meniru hal negatif). Kalau anak cerdas akan mengambil manfaatnya,” katanya.

Oleh karena itu, pendidikan keluarga saat ini perlu dievaluasi. Begitu pula pendidikan di sekolah. Di sekolah, kedekatan guru dengan siswa tak lagi seperti dulu. Dulu guru bisa marah dan sayang terhadap anak didik. Adapun saat ini, guru milenial terkesan biasa saja.  

Keempat, dari sisi budaya, menurut Tobroni, masyarakat Indonesia berkarakter paguyuban, yaitu suka kumpul-kumpul yang biasanya diselingi ngopi, merokok, begadang, dan beberapa di antaranya berlanjut mengonsumsi miras. 

”Ada juga yang menganggap miras sebagai budaya. Kalau tidak miras, tidak keren. Ini parah kalau seperti itu. Artinya, orang berbuat keburukan tetapi merasa bangga,” katanya.  

Pengunjuk rasa mengikuti aksi Jalan Kaki Rakyat Jogja Mengadu di kompleks Kepatihan Kantor Gubenur DI Yogyakarta, Yogyakarta, Jumat (25/10/2024). Aksi tersebut untuk mendorong Pemerintah segera menghentikan peredaran minuman keras di DIY. Penolakan terhadap peredaran minuman keras (miras) semakin menguat pascapenusukan dua orang santri yang dilakukan oleh sejumlah pelaku yang diduga di bawah pengaruh miras pada 23 Oktober 2024 lalu. Kompas/Ferganata Indra Riatmoko

Miras di masyarakat kualitasnya rendah, dioplos lagi. Sementara itu, tidak ada bekal ilmu untuk mengonsumsi miras di antara peminumnya. Jika bangsa Eropa memilih minuman beralkohol yang berkualitas dengan kandungan pasti di dalamnya, ada takaran standar. Hal seperti itu tidak terjadi di sini.

”Orang-orang kita, kan, inginnya mabuk. Bukan menghangatkan badan. Kalau Eropa untuk menghangatkan badan. Bahkan, untuk kesehatan juga ada karena dibuat dari bahan-bahan berkualitas. Kalau di kita niatnya mabuk, sedangkan uang kurang. Campurannya tidak masuk akal,” tutur Tobroni sembari menandaskan bahwa landasan moral dan spiritual perlu ditingkatkan agar tidak terjebak pada hal-hal negatif.


Kerabat Kerja

Penulis:

Defri Werdiono
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan