Resep Baku Luis Enrique Kembali Paten di Inggris

Sebutan pembunuh tim Inggris kembali mampu dibuktikan Paris Saint-Germain. Sejarah memihak ”Les Parisiens” untuk melaju ke partai final.

30 Apr 2025 09:25 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

LONDON, RABU — Tiga kali bertandang ke Inggris secara beruntun pada fase gugur Liga Champions 2024-2025, Luis Enrique selalu sukses mengeksekusi sistem taktiknya. Dominasi bola dan gol cepat membantu Paris Saint-Germain melangkahkan satu kaki ke partai puncak.

Lewat sepakan sentuhan pertama Ousmane Dembele di menit keempat, Paris Saint-Germain (PSG) mengunci keunggulan 1-0 atas Arsenal di Stadion Emirates, London, Rabu (30/4/2025) WIB. ”Les Parisiens” menjalani resep baku serupa ketika menyingkirkan dua tim Inggris sebelumnya, yakni Liverpool dan Aston Villa.

Enrique menginisiasi sistem menyerang yang berlandaskan penguasaan bola superior. Bukan tiki-taka yang disajikannya bersama PSG. Enrique tidak terlihat menduplikat gaya permainan yang pernah dijalankannya untuk membawa Barcelona meraih treble winner 2014-2015.

Alih-alih gaya bermain khas Spanyol yang rapat, Enrique meramu PSG yang menyerang di Eropa dengan lebih renggang. Pergerakan didominasi dari kedua sisi sayap. Achraf Hakimi di sayap kanan, lalu Khvicha Kvaratskhelia merupakan senjata di sisi kiri.

Meski terlihat agak berjarak posisi antarpemain, PSG tetap terlihat memenuhi setiap jengkal lapangan. Itu tidak lepas dari keleluasaan gerak dan mobilitas tinggi trio gelandang yang diisi Joao Neves, Fabian Ruiz, dan Vitinha. Tak ayal, aliran bola-bola pendek PSG mengalir deras bak hunjaman air terjun ke jantung pertahanan Arsenal.

Penyerang Paris Saint-Germain, Ousmane Dembele (kanan), merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Arsenal pada laga pertama semifinal Liga Champions di London, Rabu (30/4/2025) dini hari WIB. PSG menang 1-0.

Sistem permainan PSG itu menghambat Arsenal yang sejatinya amat gemar menguasai bola. Dalam setengah jam awal, PSG mencatatkan 70 persen penguasaan bola. Catatan unik yang mustahil bisa disajikan tim lain ketika bertandang ke Emirates.

Dominasi penguasaan bola itu dilengkapi dengan gol cepat dari Dembele. Pada laga di Stadion Anfield, Dembele juga mencetak gol tunggal ke gawang Liverpool pada babak 16 besar ketika laga baru berjalan 12 menit. Les Parisiens juga bisa mencetak dua gol ke gawang Aston Villa yang dikawal Emiliano Martinez, kiper terbaik dunia versi FIFA, dalam kurun waktu 26 menit.

”Dengan emosi yang tinggi, sulit untuk menganalisis permainan saat ini. Kami mencoba memainkan gaya kami, mencetak gol cepat, sesekali sangat menderita, dan kami seharusnya bisa mencetak gol kedua. Laga kedua akan sangat sulit,” kata Enrique dalam konferensi pers seusai laga.

”Misi kami tercapai di laga pertama. Tentu, kami juga akan memburu kemenangan di kandang. Kami belum melaju ke final,” ujarnya.

Meskipun belum sepenuhnya yakin bisa tampil di Muenchen, Jerman, lokasi gim final, Enrique dan skuad PSG patut menyambut laga kedua dengan kepercayaan diri tinggi. Dalam sejarah mereka di kompetisi antarklub Eropa, PSG mencatatkan 18 kemenangan dari 19 duel yang dimenangi pada laga pertama tandang.

Pelatih Paris Saint-Germain Luis Enrique memberikan instruksi kepada para pemainnya saat laga semifinal Liga Champions melawan Arsenal di London, Rabu (30/4/2025) dini hari WIB.

Terkini, mereka menaklukkan sesama tim Perancis, Brest, pada playoff babak gugur dengan skor 3-0, lalu melengkapi keunggulan di Paris dengan skor agregat 10-0. Adapun satu-satunya kekalahan PSG diciptakan oleh tim Inggris, Manchester United, pada musim 2018-2019. Sempat unggul 2-0 di Old Trafford, PSG tumbang 1-3 di kandang sehingga gugur akibat kalah produktivitas gol tandang.

Enrique melanjutkan, ”Kami bermain dengan sangat baik, secara individu dan tim. Dalam bertahan, kami memiliki pemain menyerang yang bekerja keras, gelandang membantu serangan dan semua orang bertahan ketika dibutuhkan.”

Samir Nasri, eks gelandang Arsenal dan timnas Perancis, memuji pendekatan taktik yang dibawa PSG di London. Menurut dia, PSG lebih unggul dalam mengeksekusi sistem permainan pada gim pertama.

”Saya suka penampilan PSG malam ini. Tidak ada kesempatan bagi Arsenal selama 30 menit. Dari sana, mereka bermain dengan tenang, mengatasi setiap tekanan, dan akhirnya mengakhiri kutukan dengan menumbangkan Arsenal,” ujar Nasri kepada Canal+.

Penyelamatan Donnarumma

Satu hal juga yang tidak berbeda dibandingkan dengan tiga laga tandang sebelumnya ke Inggris adalah kegemilangan kiper, Gianluigi Donnarumma, di bawah mistar. Kiper tim nasional Italia itu mencatatkan lima penyelamatan di Emirates.

Salah satu peluang terbaik Arsenal dimiliki Gabriel Martinelli pada menit ke-45. Donnarumma mampu menepis sepakan itu. Secara total, ia mencegah potensi gol Arsenal sebesar 1,23 expected goals (xG).

Kiper Paris Saint-Germain, Gianluigi Donnarumma, melakukan penyelamatan saat melawan Arsenal pada laga semifinal Liga Champions di London, Rabu (30/4/2025) dini hari WIB.

”Apakah itu hanya kerja kiper? Bukan. Itu adalah penyelamatan tim. Mereka bekerja setiap hari untuk menampilkan momen itu. Di semifinal, Anda memerlukan setiap pemain bermain di level tinggi,” tutur Enrique.

Manajer Arsenal Mikel Arteta mengakui perbedaan yang disajikan oleh Donnarumma. ”Di pengujung laga, kami memiliki dua dari pemain depan berhadapan satu lawan satu dengan Donnarumma. Jika mereka mencetak gol, maka itu akan hadirkan perbedaan. Donnarumma membuat penyelamatan yang dilakukan juga kontra Liverpool dan Villa. Itu adalah perbedaan yang dibutuhkan di Liga Champions,” kata Arteta dilansir BBC.

Lebih lanjut, Arteta menuturkan, anak asuhannya harus menunjukkan permainan yang berbeda dibandingkan dengan sebelumnya. Kata dia, tidak ada yang mustahil pada babak semifinal.

”Untuk tampil di final Liga Champions, kami harus melakukan sesuatu yang istimewa di Paris. Kami masih memiliki kesempatan untuk melaju,” ucap Arteta.

Di tengah optimisme yang masih menyelimuti skuad ”Si Meriam”, mereka memiliki sejarah yang buruk ketika tumbang pada laga kandang pertama di kompetisi Eropa. Dalam lima kesempatan, Arsenal selalu tersingkir saat kalah di kandang pada gim pertama.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto