Ole Romeny belum tampil impresif sejak bergabung Oxford United. Dengan status penyerang paling bernilai timnas Indonesia, Ole diharapkan jadi sumber gol "Garuda".
09 Feb 2025 00:10 WIB · Olahraga
Di Kedutaan Besar RI di London, Inggris, Sabtu (8/2/2025), penyerang sayap Oxford United, Ole Romeny, menjalani sumpah sebagai warga negara Indonesia. Setelah memiliki kartu tanda penduduk alias KTP dan paspor berlogo garuda, Ole memanggul harapan besar untuk membawa tim nasional Indonesia terbang ke Piala Dunia 2026.
Ole membutuhkan proses perpindahan kewarganegaraan kurang dari tiga bulan sejak memulai proses naturalisasi, November lalu. Ia bisa dinaturalisasi dengan histori nenek dari pihak ibu, Helene Wilhemina Romenij, yang lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 2 April 1923.
Nenek Ole masuk dalam kategori blijvers atau orang Belanda yang lahir dan menetap di Indonesia sebelum merdeka. Sebelum Ole, Maarten Paes juga memiliki darah blijvers dari neneknya yang lahir di Kediri, Jawa Timur.
Dalam proses menuju bergabung timnas Indonesia, Romeny juga hijrah dari Utrecht ke Oxford United yang dimiliki salah satunya oleh Ketua Umum PSSI Erick Thohir.
Selain Ole, dua calon pemain tim U-20 Indonesia, yakni Tim Geypens dan Dion Markx, juga mengambil sumpah sebagai WNI di London. Tim dan Dion pun rela menuju London demi menyesuaikan tempat berkarier Ole di Inggris.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/08/4db543e757dae69a37b66d0be8b94b07-cropped_image.png)
Ole diharapkan menjadi solusi dari minimnya penyelesaian akhir skuad ”Garuda” di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026. Dari enam pertandingan yang telah dijalani di Grup C, Indonesia baru mencetak enam gol alias hanya hasilkan satu gol per gim.
Dua pemain menyerang, yakni Ragnar Oratmangoen dan Rafael Struick, memang masing-masing telah mencatatkan sebuah gol. Namun, seretnya gol bisa menjadi pemutus asa Indonesia untuk menembus Piala Dunia 2026.
Kehadiran Ole diharapkan menjadi solusi untuk peningkatan ketajaman skuad Garuda untuk menghadapi empat gim tersisa kontra Australia, Bahrain, China, dan Jepang. Merujuk performa Ragnar dan Rafael di klub, kedua pemain itu belum menyajikan jaminan bisa menjadi ujung tombak dan sumber gol andalan.
”Semoga kehadiran Ole Romeny bisa membuat daya gedor skuad Garuda semakin tajam. Ia diharapkan bisa memberikan dampak positif bagi timnas Indonesia,” kata Erick dalam keterangan pers, Sabtu malam.
Ragnar, misalnya, belum menunjukkan performa tajam di klub Belgia, FCV Dender, yang juga dimiliki pengusaha Indonesia, Sihar Sitorus. Meski telah bermain dalam 14 gim, yang tujuh di antaranya sebagai pemain inti, rerata Ragnar hanya tampil selama 49 menit. Ia pun baru mencetak sebuah gol.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/10/275a54dc-9d50-4017-80a2-e49ceabfedb6.jpg)
Di Brisbane Roar, yang dimiliki Grup Bakrie, Rafael juga belum menampilkan peningkatan performa signifikan. Catatan bermain Rafael juga hanya tampil rata-rata 27 menit per gim dari sembilan kali penampilan.
Ia bahkan hanya menghangatkan bangku cadangan pada empat gim terakhir Brisbane. Serupa dengan Ragnar, Rafael juga baru mencetak sebuah gol untuk Brisbane di Liga Australia. Hingga pertengahan musim 2024-2025, Brisbane masih duduk di posisi terakhir Liga Australia.
Ole berpeluang bermain bersama Ragnar dan Rafael dalam taktik trisula lini serang yang berpeluang digunakan Pelatih Indonesia Patrick Kluivert. Meski akan tampil berbarengan, sorotan lebih besar akan mengarah kepada pemain berusia 24 tahun itu.
Pasalnya, Ole adalah penyerang skuad Garuda dengan nilai pasar tertinggi, yakni 1,3 juta euro (Rp 21,89 miliar). Berdasarkan lamanTransfermarkt, Ole adalah pemain dengan nilai pasar tertinggi ketujuh bagi Indonesia. Ia hanya kalah dari Mees Hilgers, Kevin Diks, Jay Idzes, Calvin Verdonk, Maarten Paes, dan Thom Haye.
Adapun Ragnar memiliki nilai pasar sebesar 600.000 euro (Rp 10,1 miliar), sedangkan Rafael hanya mencatatkan nilai pasar 200.000 euro (Rp 3,36 miliar). Nilai pasar Rafael itu bahkan kalah dari penyerang-penyerang Indonesia yang berkarier di BRI Liga 1 2024-2025, seperti Yakob Sayuri, Egy Maulana Vikri, Ramadhan Sananta, Malik Risaldi, dan Dimas Drajad.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/10/b6abf96d-0a39-487d-8f7b-2e195920beaa.jpg)
Dengan minimnya stok penyerang yang memiliki potensi untuk bersaing di level Asia, bahkan dunia, Ole tak terbantahkan lagi akan menjadi andalan mulai gim Indonesia kontra Australia, 20 Maret mendatang, di Sydney, Australia. Lima hari berselang, pemain berusia 24 tahun itu berpeluang menjalani debut di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, menghadapi Bahrain.
Namun, harapan besar yang memayungi Ole tidak dibarengi dengan koleksi statistik yang mengesankan. Hal itu setidaknya didasari performa dirinya sejak bergabung dengan Oxford.
Ole baru tiga kali mendapatkan kepercayaan dari Manajer Oxford Gary Rowett di laga kompetisi kasta kedua Inggris, Liga Championship 2024-2025. Ia bermain 11 menit pada pertandingan menghadapi Stoke dan Bristol City, lalu hanya tampil tiga menit saat Oxford tumbang 0-1 dari Burnley.
Dengan hanya tampil rata-rata delapan menit per gim, Ole belum memberikan dampak signifikan bagi Oxford. Tugasnya sebagai pemain depan pun baru terlihat satu kali ketika menghadapi Stoke. Ole melepaskan tembakan dari dalam kotak penalti yang membentur mistar.
Selain itu, Ole juga masih memiliki peran amat minim dalam permainan timnya. Ia hanya mengoleksi rerata 5,3, sentuhan per laga. Akurasi operannya amat rendah (33 persen). Ole baru mengoleksi satu dribel sukses selama berseragam Oxford.
Walaupun belum menemukan sentuhan terbaik bersama Oxford, Ole sejatinya memiliki catatan yang baik pada paruh pertama musim ini bersama Utrecht di Liga Belanda. Ia meninggalkan tanah kelahirannya dengan 13 penampilan bersama Utrecht dan koleksi penampilan 56 menit per gim.
Bermain sebagai penyerang sayap kanan, Ole memberikan dua gol bagi Utrect. Dua gol itu tercipta masing-masing pada dua gim awal musim ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/10/aef021e3-5b1f-47e4-88a2-d8a90a74c692.jpg)
Ole mencetak gol tunggal bagi kemenangan Utrect 1-0 atas Zwolle di laga perdana musim 2024-2025. Kemudian, ia mencetak gol yang membantu timnya menahan Heerenven 1-1.
Ia pun mengkreasi enam peluang dan melakukan lima dribel sukses. Dalam peran bertahan, Ole juga cukup bagi untuk Utrecht berkat koleksi 25 kali memulihkan penguasaan bola, lima kali merebut penguasaan bola di sepertiga akhir pertahanan lawan, serta 12 kali memenangkan duel udara.
Namun, setelah delapan gim beruntun tampil sebagai pemain utama, Ole mengalami penurunan performa memasuki akhir Oktober. Setelah itu. Ia hanya tampil sebagai pemain pengganti di lima gim dan berstatus pemain cadangan tak terpakai pada empat laga lainnya hingga akhir putaran pertama Liga Belanda musim ini.
Dengan catatan statistik itu, Ole masih belum menemukan performa maksimalnya yang sempat disajikan pada periode Agustus hingga Oktober 2024. Di tengah kondisi itu, Ole sejatinya menyimpan potensi besar untuk membuktikan kualitasnya bersama skuad Garuda.
Bukan hal asing, pemain tampil jauh lebih baik dan bersemangat ketika mengenakan seragam timnas mereka. Semoga Ole termasuk dalam kategori pemain itu.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari