Resolusi Tahun Baru dari Kerasnya Dunia Kurir ”Upstream”
Jika ”Squid Game” dan sekuelnya memperlihatkan manusia kota dengan sisi tergelapnya, resolusi kemanusiaan ”Upstream” menang di tengah suramnya rimba urban.
Hari-hari terakhir di 2024 dan menyambut tahun baru 2025 berjalan seperti layaknya pergantian tarikh sebelum-sebelumnya. Keramaian orang memanfaatkan libur hari raya dan akhir tahun memberi warna tersendiri pada dinamika kota.
Jakarta, misalnya, sedikit terasa lega setelah ditinggalkan sebagian warganya. Beberapa tujuan wisata, seperti Kota Denpasar dan Bandung, dipastikan padat luar biasa.
Di tengah kegembiraan itu, ada kecelakaan susul-menyusul dengan pemicu seputar kelalaian manusia. Seperti yang sudah-sudah, banjir dan longsor makin menjadi kala musim hujan tiba.
Kesibukan di akhir tahun dan manfaat lain, termasuk ekonomi yang terungkit, memang layak untuk selalu diulang. Namun, panen besar di hari raya dan libur tahunan ini tak selalu diikuti peningkatan pengelolaan pariwisata yang lebih baik.
Yang penting dapat untung besar sekarang, jika esok sepi lagi itu seperti bagian dari nasib saja. Berbagai kesalahan, seperti kelalaian pemicu kecelakaan dan bencana, juga seperti dibiarkan berulang tanpa antisipasi berarti.
Jika mengikuti serial viral Squid Game dan Squid Game 2, tak akan susah mengenali pola repetisi serupa.
Kita bisa mengenali sosok-sosok pekerja urban, bagian dari lapisan tebal kelas menengah dalam komposisi penduduk daerah atau negara, dalam seri gim cumi asal Korea Selatan itu. Mereka menghadapi persoalan pelik yang membuat putus asa.
Ada yang bekerja melebihi waktu kerja normal dengan uang lembur kecil, bahkan tidak ada insentif tambahan. Mereka mudah tercerabut status karyawannya ketika perusahaan beralasan keuntungan menyusut atau terdampak turbulensi ekonomi nasional dan global.
Ada laki-laki dan perempuan muda korban kekerasan dalam rumah tangga dan lingkungan sekitarnya. Kondisi itu menyeret mereka menjadi pencandu narkoba, pergaulan salah lainnya, hingga terjerat kemiskinan.
Ada pula ibu rumah tangga hingga aparat negara berpenghasilan pas-pasan yang terjebak penipuan dengan iming-iming keuntungan tinggi. Orangtua yang tidak dapat membiayai perawatan medis anaknya yang tidak tercakup dalam asuransi mereka. Tangan pemerintah ternyata belum menyentuh ke sana.
”Mereka bukan manusia,” kata seorang eksekutor.
Pada akhirnya, mereka membuat keputusan terburu-buru, keliru, dan terbelit utang. Gelap mata sampai berniat bunuh diri. Ketika ada yang mengajak bergabung dalam sebuah gim dengan iming-iming hadiah luar biasa, tawaran itu segera disambut. Jika menang, dijanjikan bisa bayar utang dan melanjutkan hidup dengan bergelimang uang.
Sebanyak 456 orang di bibir kehancuran terkumpul. Gim dimulai. Setiap kali ada yang tidak bisa menyelesaikan satu gim, ada hadiah tembakan mematikan dari penjaga.
Anehnya, meskipun selalu ketakutan dan trauma melihat rekannya yang gagal dibantai, sebagian peserta keukeuh memilih melanjutkan gim. Tumpukan uang dalam wadah transparan berbentuk babi memancarkan sinar yang menghipnotis mereka.
Sisi manusiawi sebagian peserta hilang tak berbekas. Mereka membunuh sesama peserta dan menggunakan trik menyesatkan untuk memangkas pesaing. Harapannya hanya satu, melaju ke babak selanjutnya dan mendapatkan semua hadiah uang yang dijanjikan.
”Mereka bukan manusia,” kata seorang eksekutor. Ia menumpahkan timah panas kepada peserta gagal atau pemberontak tanpa sesal.
Beberapa peserta yang masih terjaga sisi manusiawinya berakhir menjadi korban manipulasi, bahkan kehilangan nyawa.
Orang-orang yang mengaransemen permainan maut penuh darah ini dapat memainkan emosi memengaruhi orang-orang putus asa. Mereka bisa lolos dari tangan hukum dan siap untuk menghelat gim cumi di tahun berikutnya.
Uang, kekuasaan, dan insting menyelamatkan diri sendiri kental disuguhkan dalam serial drakor thriller yang mendapat atensi publik dunia ini.
Sifat dan sikap manusia yang tak peduli orang lain celaka karena perbuatannya dipanggungkan. Dirinyalah yang paling menderita dan, untuk mengatasi masalahnya, tak masalah orang lain yang jadi korban. Mereka menolak berpikir bahwa kelak perbuatan itu bisa berbalik mencelakai diri sendiri. Yang penting sekarang diri sendiri selamat. Itu saja.
Dunia kurir
Kesuraman yang menghinggapi kaum urban digambarkan pula dalam film Upstream. Film ini menceritakan kehidupan keras pekerja gig, khususnya kurir makanan daring, di kota besar di China. Kurir makanan, seperti halnya pengemudi taksi daring, menjadi salah satu mata pencarian yang digeluti jutaan orang di China.
Mirip dengan situasi di Indonesia, perusahaan rintisan sampai skala raksasa tak berhenti mem-PHK massal pegawainya karena alasan perekonomian yang buruk di China. Pekerja di atas 35 tahun sewaktu-waktu dapat didepak oleh yang lebih muda. Alasannya, kemampuan pekerja muda lebih dibutuhkan perusahaan dan tentu saja mau digaji lebih kecil.
Akan tetapi, orang muda yang siap bekerja pun tak semua tertampung oleh lowongan kerja formal. Akibatnya, dunia kerja paruh waktu yang berupah tak seberapa menjadi tempat berpaling, berapa pun usia orang itu, apa pun latar belakang pendidikan dan pengalaman kerjanya.
Namanya paruh waktu, tetapi faktanya pekerja gig ini harus bergulat hingga 14 jam per hari tanpa libur kalau ingin meraup pendapatan yang dapat menutup kebutuhan hidup.
Upstream menyuguhkan kisah keras pekerja urban itu dalam sosok Gao Zhilei, laki-laki berusia 45 tahun.
Gao hidup bersama kedua orangtua, istri, dan seorang anak. Ia dipecat dari kantornya karena target tidak tercapai setelah pengabdian belasan tahun tanpa cacat. Tanpa penghasilan dan sedikit pesangon, cicilan rumah tidak terbayar, biaya rumah sakit ayahnya yang tidak ditanggung asuransi mencekik leher, biaya sekolah anak terasa teramat berat.
Semua lamaran dan wawancara kerjanya ditolak. Hanya lowongan kurir makanan yang masih tersedia.
Menjadi kurir makanan ternyata tak semudah yang dibayangkan orang. Gao wajib membayar sewa sepeda motor listrik, jaket dan perlengkapan lain, serta asuransi kecelakaan. Selain itu, ia juga menghadapi ancaman potong upah kalau ada kesalahan. Ia harus mengambil makanan dan mengantarnya tepat waktu, tak lupa berbaik sikap kepada pemilik usaha makanan dan konsumen biar mendapat penilaian baik yang dapat menambah pundi bonus.
Kehidupan Gao dan rekan-rekannya yang membaik setelah menjadi kurir makanan menyederhanakan peliknya isu pekerja gig di China, juga di dunia.
Perusahaan penyedia aplikasi pemesanan makanan tidak berbuat banyak untuk mitranya. Bagi perusahaan, mereka pasukan besar yang mudah digerakkan. Setiap ada yang pergi, entah karena tidak tahan dengan jam dan cara kerjanya, luka parah karena kecelakaan saat bekerja, atau dipecat karena tak mencapai target, banyak orang yang mengantre menggantikannya.
Gao bersusah payah beradaptasi, menggunakan keterampilannya untuk membuat aplikasi guna memetakan jalan pintas bagi sesama kurir. Ia dan rekan-rekannya memutuskan bersaing sehat. Tidak saling menjegal, tetapi membantu agar sama-sama selamat dengan upah beserta bonus masuk ke kantong masing-masing.
Gao dan keluarganya juga memilih langkah rasional menekan ego dan gaya hidup. Sang istri memutuskan bekerja lagi. Mereka menjual apartemen besarnya untuk pindah ke unit yang lebih kecil. Orangtua Gao yang telah renta membuka lagi toko kecil mereka.
Upstream ditonton 1,4 miliar kali di platform Weibo. Publik merasakan kedekatan cerita itu dengan kehidupan mereka. Di sisi lain, kritik keras bertubi-tubi mendarat.
Tianshu Hu dalam ”Review: ’Upstream’ Misses Chance to Advocate for China’s Gig Workers di Cinema Escapist” dan Dominic Morgan dalam ”’Upstream’: The Delivery Rider Drama That’s Dividing China” di Sixth Tone melihat kehidupan Gao dan rekan-rekannya yang membaik setelah menjadi kurir makanan menyederhanakan peliknya isu pekerja gig di China, juga di dunia.
Perusahaan aplikasi dan pemerintah yang gagal menelurkan kebijakan untuk melindungi kelas pekerja tak tersentuh dalam cerita itu. Padahal, eksploitasi pekerja gig dinilai sebagai tren yang dibiarkan langgeng agar perusahaan mendapat pasokan tenaga murah. Pemerintah menutupi kegagalannya di balik angka pengangguran yang diklaim turun berkat banyaknya pekerja gig.
Cerita nyata yang mengilhami Upstream ataupun Squid Game hampir pasti terulang. Jangan harap pihak lain, termasuk penguasa, tiba-tiba berubah haluan menjadi lebih baik. Namun, pilihan untuk menjadi orang yang welas asih, berpikir rasional, positif, dan berani berubah ada di tiap individu. Perbuatan baik sekecil apa pun diyakini berdampak baik pula. Semakin banyak yang melakukannya, semakin besar pula dampaknya.
Resolusi yang bisa melawan suramnya dunia. Selamat menyambut Tahun Baru 2025!
Hari-hari terakhir di 2024 dan menyambut tahun baru 2025 berjalan seperti layaknya pergantian tarikh sebelum-sebelumnya. Keramaian orang memanfaatkan libur hari raya dan akhir tahun memberi warna tersendiri pada dinamika kota.
Jakarta, misalnya, sedikit terasa lega setelah ditinggalkan sebagian warganya. Beberapa tujuan wisata, seperti Kota Denpasar dan Bandung, dipastikan padat luar biasa.
Di tengah kegembiraan itu, ada kecelakaan susul-menyusul dengan pemicu seputar kelalaian manusia. Seperti yang sudah-sudah, banjir dan longsor makin menjadi kala musim hujan tiba.
Kesibukan di akhir tahun dan manfaat lain, termasuk ekonomi yang terungkit, memang layak untuk selalu diulang. Namun, panen besar di hari raya dan libur tahunan ini tak selalu diikuti peningkatan pengelolaan pariwisata yang lebih baik.
Yang penting dapat untung besar sekarang, jika esok sepi lagi itu seperti bagian dari nasib saja. Berbagai kesalahan, seperti kelalaian pemicu kecelakaan dan bencana, juga seperti dibiarkan berulang tanpa antisipasi berarti.
Jika mengikuti serial viral Squid Game dan Squid Game 2, tak akan susah mengenali pola repetisi serupa.
Kita bisa mengenali sosok-sosok pekerja urban, bagian dari lapisan tebal kelas menengah dalam komposisi penduduk daerah atau negara, dalam seri gim cumi asal Korea Selatan itu. Mereka menghadapi persoalan pelik yang membuat putus asa.
Serial Artikel
Jeratan Utang “Squid Game” Rumah Tangga Perkotaan
Gambaran dampak kehidupan materialistis kaum urban dalam “Squid Game” dinilai keterlaluan dan di luar nalar. Namun, penyebab ia merebut perhatian, bisa jadi karena ada irisan rasa senasib dengan para penontonnya
Ada yang bekerja melebihi waktu kerja normal dengan uang lembur kecil, bahkan tidak ada insentif tambahan. Mereka mudah tercerabut status karyawannya ketika perusahaan beralasan keuntungan menyusut atau terdampak turbulensi ekonomi nasional dan global.
Ada laki-laki dan perempuan muda korban kekerasan dalam rumah tangga dan lingkungan sekitarnya. Kondisi itu menyeret mereka menjadi pencandu narkoba, pergaulan salah lainnya, hingga terjerat kemiskinan.
Ada pula ibu rumah tangga hingga aparat negara berpenghasilan pas-pasan yang terjebak penipuan dengan iming-iming keuntungan tinggi. Orangtua yang tidak dapat membiayai perawatan medis anaknya yang tidak tercakup dalam asuransi mereka. Tangan pemerintah ternyata belum menyentuh ke sana.
”Mereka bukan manusia,” kata seorang eksekutor.
Pada akhirnya, mereka membuat keputusan terburu-buru, keliru, dan terbelit utang. Gelap mata sampai berniat bunuh diri. Ketika ada yang mengajak bergabung dalam sebuah gim dengan iming-iming hadiah luar biasa, tawaran itu segera disambut. Jika menang, dijanjikan bisa bayar utang dan melanjutkan hidup dengan bergelimang uang.
Sebanyak 456 orang di bibir kehancuran terkumpul. Gim dimulai. Setiap kali ada yang tidak bisa menyelesaikan satu gim, ada hadiah tembakan mematikan dari penjaga.
Anehnya, meskipun selalu ketakutan dan trauma melihat rekannya yang gagal dibantai, sebagian peserta keukeuh memilih melanjutkan gim. Tumpukan uang dalam wadah transparan berbentuk babi memancarkan sinar yang menghipnotis mereka.
Sisi manusiawi sebagian peserta hilang tak berbekas. Mereka membunuh sesama peserta dan menggunakan trik menyesatkan untuk memangkas pesaing. Harapannya hanya satu, melaju ke babak selanjutnya dan mendapatkan semua hadiah uang yang dijanjikan.
”Mereka bukan manusia,” kata seorang eksekutor. Ia menumpahkan timah panas kepada peserta gagal atau pemberontak tanpa sesal.
Beberapa peserta yang masih terjaga sisi manusiawinya berakhir menjadi korban manipulasi, bahkan kehilangan nyawa.
Orang-orang yang mengaransemen permainan maut penuh darah ini dapat memainkan emosi memengaruhi orang-orang putus asa. Mereka bisa lolos dari tangan hukum dan siap untuk menghelat gim cumi di tahun berikutnya.
Uang, kekuasaan, dan insting menyelamatkan diri sendiri kental disuguhkan dalam serial drakor thriller yang mendapat atensi publik dunia ini.
Sifat dan sikap manusia yang tak peduli orang lain celaka karena perbuatannya dipanggungkan. Dirinyalah yang paling menderita dan, untuk mengatasi masalahnya, tak masalah orang lain yang jadi korban. Mereka menolak berpikir bahwa kelak perbuatan itu bisa berbalik mencelakai diri sendiri. Yang penting sekarang diri sendiri selamat. Itu saja.
Serial Artikel
Pramono-Rano, Demokrasi, hingga Kebebasan Pers sebagai Indikator Kesuksesan Kota Global
Kota global tak melulu soal fungsi ekonomi. Ada sederet indikator penentu performa dan kesuksesan kota global, di antaranya demokrasi dan kebebasan pers.
Kesuraman yang menghinggapi kaum urban digambarkan pula dalam film Upstream. Film ini menceritakan kehidupan keras pekerja gig, khususnya kurir makanan daring, di kota besar di China. Kurir makanan, seperti halnya pengemudi taksi daring, menjadi salah satu mata pencarian yang digeluti jutaan orang di China.
Mirip dengan situasi di Indonesia, perusahaan rintisan sampai skala raksasa tak berhenti mem-PHK massal pegawainya karena alasan perekonomian yang buruk di China. Pekerja di atas 35 tahun sewaktu-waktu dapat didepak oleh yang lebih muda. Alasannya, kemampuan pekerja muda lebih dibutuhkan perusahaan dan tentu saja mau digaji lebih kecil.
Akan tetapi, orang muda yang siap bekerja pun tak semua tertampung oleh lowongan kerja formal. Akibatnya, dunia kerja paruh waktu yang berupah tak seberapa menjadi tempat berpaling, berapa pun usia orang itu, apa pun latar belakang pendidikan dan pengalaman kerjanya.
Namanya paruh waktu, tetapi faktanya pekerja gig ini harus bergulat hingga 14 jam per hari tanpa libur kalau ingin meraup pendapatan yang dapat menutup kebutuhan hidup.
Upstream menyuguhkan kisah keras pekerja urban itu dalam sosok Gao Zhilei, laki-laki berusia 45 tahun.
Gao hidup bersama kedua orangtua, istri, dan seorang anak. Ia dipecat dari kantornya karena target tidak tercapai setelah pengabdian belasan tahun tanpa cacat. Tanpa penghasilan dan sedikit pesangon, cicilan rumah tidak terbayar, biaya rumah sakit ayahnya yang tidak ditanggung asuransi mencekik leher, biaya sekolah anak terasa teramat berat.
Semua lamaran dan wawancara kerjanya ditolak. Hanya lowongan kurir makanan yang masih tersedia.
Menjadi kurir makanan ternyata tak semudah yang dibayangkan orang. Gao wajib membayar sewa sepeda motor listrik, jaket dan perlengkapan lain, serta asuransi kecelakaan. Selain itu, ia juga menghadapi ancaman potong upah kalau ada kesalahan. Ia harus mengambil makanan dan mengantarnya tepat waktu, tak lupa berbaik sikap kepada pemilik usaha makanan dan konsumen biar mendapat penilaian baik yang dapat menambah pundi bonus.
Kehidupan Gao dan rekan-rekannya yang membaik setelah menjadi kurir makanan menyederhanakan peliknya isu pekerja gig di China, juga di dunia.
Perusahaan penyedia aplikasi pemesanan makanan tidak berbuat banyak untuk mitranya. Bagi perusahaan, mereka pasukan besar yang mudah digerakkan. Setiap ada yang pergi, entah karena tidak tahan dengan jam dan cara kerjanya, luka parah karena kecelakaan saat bekerja, atau dipecat karena tak mencapai target, banyak orang yang mengantre menggantikannya.
Gao bersusah payah beradaptasi, menggunakan keterampilannya untuk membuat aplikasi guna memetakan jalan pintas bagi sesama kurir. Ia dan rekan-rekannya memutuskan bersaing sehat. Tidak saling menjegal, tetapi membantu agar sama-sama selamat dengan upah beserta bonus masuk ke kantong masing-masing.
Gao dan keluarganya juga memilih langkah rasional menekan ego dan gaya hidup. Sang istri memutuskan bekerja lagi. Mereka menjual apartemen besarnya untuk pindah ke unit yang lebih kecil. Orangtua Gao yang telah renta membuka lagi toko kecil mereka.
Upstream ditonton 1,4 miliar kali di platform Weibo. Publik merasakan kedekatan cerita itu dengan kehidupan mereka. Di sisi lain, kritik keras bertubi-tubi mendarat.
Tianshu Hu dalam ”Review: ’Upstream’ Misses Chance to Advocate for China’s Gig Workers di Cinema Escapist” dan Dominic Morgan dalam ”’Upstream’: The Delivery Rider Drama That’s Dividing China” di Sixth Tone melihat kehidupan Gao dan rekan-rekannya yang membaik setelah menjadi kurir makanan menyederhanakan peliknya isu pekerja gig di China, juga di dunia.
Serial Artikel
Tiga Dekade Perjalanan Sepeda Motor Listrik di China
Sepeda motor berbahan bakar minyak dilarang beroperasi di China. Kini sepeda motor listrik berjaya dengan 350 juta unit.
Perusahaan aplikasi dan pemerintah yang gagal menelurkan kebijakan untuk melindungi kelas pekerja tak tersentuh dalam cerita itu. Padahal, eksploitasi pekerja gig dinilai sebagai tren yang dibiarkan langgeng agar perusahaan mendapat pasokan tenaga murah. Pemerintah menutupi kegagalannya di balik angka pengangguran yang diklaim turun berkat banyaknya pekerja gig.
Cerita nyata yang mengilhami Upstream ataupun Squid Game hampir pasti terulang. Jangan harap pihak lain, termasuk penguasa, tiba-tiba berubah haluan menjadi lebih baik. Namun, pilihan untuk menjadi orang yang welas asih, berpikir rasional, positif, dan berani berubah ada di tiap individu. Perbuatan baik sekecil apa pun diyakini berdampak baik pula. Semakin banyak yang melakukannya, semakin besar pula dampaknya.
Resolusi yang bisa melawan suramnya dunia. Selamat menyambut Tahun Baru 2025!