Respons Gejolak Pasar, BI Jaga Rupiah Stabil

Pasar keuangan global bergerak dinamis seiring dengan diumumkannya tarif resiprokal AS, yang disusul pengumuman retaliasi oleh China pada 4 April 2025.

06 Apr 2025 13:43 WIB · Ekonomi

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Bank Indonesia akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar yang bergejolak menyusul pengumuman tarif oleh Pemerintah Amerika Serikat. Intervensi pasar dinilai sebagai langkah yang tepat sembari tetap memperkuat cadangan devisa.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso melalui keterangan resmi pada Sabtu (5/4/2025) menyampaikan, BI akan terus memantau perkembangan pasar keuangan global dan domestik setelah pengumuman kebijakan tarif oleh Presiden AS Donald Trump pada 2 April 2025.

”BI tetap berkomitmen menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, terutama melalui optimalisasi instrumen triple intervention (tiga intervensi) dalam rangka memastikan kecukupan likuiditas valas untuk kebutuhan perbankan dan dunia usaha serta menjaga keyakinan pelaku pasar,” katanya.

Dalam hal ini, tiga intervensi yang akan ditempuh oleh BI meliputi pasar valuta asing (valas) pada transaksi spot, pasar domestic non-deliverable forward (DNDF), serta dengan membeli surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.

Infografik halaman 1 Kebijakan Tarif Donald Trump

Menurut Denny, pasar keuangan global telah bergerak dinamis setelah pengumuman tarif AS yang disusul pengumuman retaliasi oleh China pada 4 April 2025. Ini tecermin dari melemahnya pasar saham global dan turunnya tingkat imbal hasil obligasi Pemerintah AS (US Treasury) hingga ke level terendahnya sejak Oktober 2024.

Pada penutupan perdagangan 4 April 2025, imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun turun hingga di bawah 4 persen, bahkan sempat berada di level 3,86 persen. Sejak berada di level tertingginya sekitar 4,75 persen pada 13 Januari 2025, obligasi pemerintah tenor 10 tahun cenderung terus menurun.

Di sisi lain, indeks saham utama AS serentak mencatatkan penurunan harian terdalam semenjak 2020 pada penutupan pasar, 4 April 2025 dini hari WIB. Tidak hanya AS, indeks saham di pasar Asia pun ikut melemah (Kompas.id, 4/4/2025).

Quote

Kewajiban kita adalah untuk memastikan bahwa kenaikan tingkat harga tidak menjadi masalah inflasi yang berkelanjutan.

Sementara itu, indeks dollar AS terhadap mata uang utama lainnya (DXY) sempat ambles hingga ke level 101,54 atau terendah sepanjang 2025. Kurs mata uang beberapa negara pun, termasuk negara berkembang, menguat terhadap dollar AS.

Dilansir dari Kantor Berita AP, Gubernur (bank sentral AS) Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menyampaikan, kebijakan tarif AS berisiko menyebabkan inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat.

”Kewajiban kita adalah untuk memastikan bahwa kenaikan tingkat harga tidak menjadi masalah inflasi yang berkelanjutan,” ujar Powell dalam sambutannya di sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Society for Advancing Business Editing and Writing.

(FILES) US Federal Reserve Chairman Jerome Powell speaks during a news conference after a Federal Open Market Committee meeting at the Federal Reserve in Washington, DC, on July 31, 2024. Powell said on August 23, 2024, that the "time has come" for the US to start cutting interest rates, adding that his "confidence has grown" that the battle against inflation is on track. "The time has come for policy to adjust," he said in a keynote speech at the Jackson Hole Economic Symposium in Wyoming, according to prepared remarks. (Photo by ROBERTO SCHMIDT / AFP)

Alih-alih memangkas dalam waktu dekat, The Fed kemungkinan besar akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya pada level 4,3 persen dalam beberapa bulan mendatang. Dengan biaya pinjaman lebih tinggi, inflasi diharapkan lebih terkendali.

Powell menekankan, dampak dari kebijakan tarif AS terhadap perekonomian belum bisa dipastikan sehingga The Fed akan tetap bersikap netral sembari menunggu kejelasannya. Ia juga mengakui ada banyak pelaku bisnis yang menunda investasi baru sampai ada gambaran yang lebih jelas tentang dampak kebijakan tersebut.

Butuh intervensi pasar

Di tengah situasi tersebut, nilai tukar rupiah dalam perdagangan spot global bergerak di atas level Rp 16.700 per dollar AS. Mengutip data Trading Economics, rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan 4 April 2025 terapresiasi 0,4 persen ke level Rp 16.677 dari sebelumnya Rp 16.745.

Senior Economist PT Samuel Sekuritas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi mengatakan, rupiah saat ini berada di bawah tekanan dan diperdagangkan dalam rentang Rp 16.800-Rp 17.000 per dollar AS. Oleh sebab itu, dibutuhkan intervensi moneter agar rupiah stabil di kisaran Rp 16.400 per dollar AS.

Infografik-Strategi Pengendalian Nilai Tukar Rupiah *** Local Caption *** Infografik-Strategi Pengendalian Nilai Tukar Rupiah

Berdasarkan hasil analisis impulse response function (IRF), setiap 1 miliar dollar AS yang digunakan dari cadangan devisa diperkirakan dapat mengapresiasi rupiah sekitar 100 poin. Artinya, untuk membawa apresiasi rupiah hingga 500 poin, dari Rp 16.900 per dollar AS ke Rp 16.400 per dollar AS, membutuhkan dana sebesar 5 miliar dollar AS.

”Lebih baik intervensi karena efek rupiah bisa lebih psikologis ketimbang teknis. Asalkan BI melakukannya dengan kejutan karena efek shock atau impulse akan lebih efektif,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.

Quote

Apabila tekanan terhadap nilai tukar rupiah berlanjut, tidak menutup kemungkinan BI mengambil langkah dengan menaikkan tingkat suku bunga acuan.

Menurut Fithra, intervensi valas dapat menjadi alat yang efektif untuk mengelola volatilitas rupiah dalam jangka pendek hingga menengah. Ada dua tahap strategi yang disarankan, yakni intervensi pada periode April dan Mei 2025.

Pada April 2025, intervensi dari BI sebesar 2 miliar dollar AS-3 miliar dollar AS akan menjadi sinyal kuat kepada pasar serta menjaga ekspektasi dan mengurangi tekanan spekulatif. Langkah intervensi berikutnya pada Mei 2025, BI menggelontorkan 2 miliar dollar AS, sembari melihat perkembangan pasar, indikator makroekonomi, dan perilaku arus modal.

Foto yang diabadikan dengan teknik multiple exposure Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat menyampaikan pemaparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di Jakarta, Rabu (17/01/2024). RDG Bank Indonesia pada 16-17 Januari 2024 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuann atau BI-Rate sebesar 6 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen. KOMPAS/PRIYOMBODO (PRI) 17-01-2024

Kendati demikian, intervensi tersebut perlu diimbangi penguatan cadangan devisa, baik dengan mengamankan jalur swap bilateral maupun multilateral. Ini akan memberikan kepercayaan tambahan kepada pasar sekaligus menjaga kemampuan bank sentral merespons guncangan eksternal di masa depan.

Data per Februari 2025 menunjukkan, cadangan devisa tercatat 154,5 miliar dollar AS. Meski berada di atas standar kecukupan internasional tiga bulan impor, cadangan devisa turun 2,6 miliar dollar AS, antara lain untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi rupiah.

”Meskipun rencana intervensi ini didasarkan pada bukti empiris, rencana tersebut harus tetap fleksibel dan responsif terhadap perkembangan pasar global. Apabila risiko eksternal, seperti perang dagang, semakin memanas dan meningkat, BI harus siap untuk meningkatkan intervensinya,” papar Fithra.

Apabila tekanan terhadap nilai tukar rupiah berlanjut, tidak menutup kemungkinan BI mengambil langkah dengan menaikkan tingkat suku bunga acuan. Kenaikan tersebut diperkirakan sebesar 25 basis poin pada paruh pertama 2025 dengan pertimbangan menjaga stabilitas nilai tukar.

Petugas menghitung rupiah di tempat penukaran valuta asing VIP di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (12/5/2024). Mengutip kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS pada perdagangan Kamis (5/12/2024) ditutup pada level Rp 15.892 per dollar AS atau menguat 65 poin.

Di sisi lain, pengajar di Departemen Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, berpendapat, intervensi dari BI memang dapat menahan laju depresiasi rupiah secara signifikan. Namun, langkah ini sebaiknya tetap dilakukan secara terukur serta diimbangi dengan komunikasi yang efektif kepada pasar.

”Bukan hanya soal cukup atau tidaknya dana intervensi, melainkan bagaimana persepsi pasar terhadap kapasitas dan kredibilitas BI dalam mengelola tekanan eksternal,” katanya.

Di satu sisi, dana sebesar 5 miliar dollar AS memang diperkirakan dapat membuat rupiah terapresiasi 500 poin ke level Rp 16.400 per dollar AS. Namun, bukan berarti langkah itu dapat seketika mengubah ekspektasi pasar. Sebaliknya, itu justru akan berisiko memberi sinyal pelemahan cadangan devisa yang bisa memperburuk tekanan terhadap nilai tukar.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra