Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy terbang ke London untuk bertemu PM Inggris dan pemimpin Eropa membahas perdamaian dan keamanan Eropa dari ancaman Rusia.
01 Mar 2025 20:50 WIB · Internasional
LONDON, SABTU — Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy terbang ke London, Inggris, untuk bertemu Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan para pemimpin Eropa, Sabtu (1/3/2025). Kunjungan itu dilakukannya setelah terlibat adu mulut dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih sehari sebelumnya. Ukraina kini merapat ke Eropa untuk mendapatkan dukungan dan bersatu menghadapi Rusia terkait isu perundingan damai.
Sehari usai ketegangan dengan Trump dan Wapres Vance, Zelenskyy tetap menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan rakyat Amerika dan harapan bagi hubungan yang kuat antara Ukraina-AS. Dia juga secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Presiden Trump, Konggres AS, dan rakyat Amerika.
Zelenskyy akan membahas perdamaian yang langgeng untuk mengakhiri perang dan juga menjamin keamanan di seluruh Benua Eropa.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Zelenskyy datang untuk berunding soal perdamaian dengan Rusia di Gedung Putih sekaligus membahas kesepakatan eksploitasi logam tanah jarang bagi AS. Namun, pertemuan tersebut berakhir ricuh dan kesepakatan soal tambang logam tanah jarang pun batal, Jumat (28/2/2025).
”Hubungan kami dengan Presiden AS lebih dari sekadar hubungan dua pemimpin, itu adalah ikatan sejarah yang kuat antara bangsa kita. Bangsa Amerika membantu menyelamatkan Ukraina. Kita hanya mengharapkan hubungan erat dengan AS dan kita akan mendapatkannya,” kata Zelenskyy.
Zelenskyy tiba di Bandara Stansted, London, Sabtu pagi dan dijadwalkan bertemu PM Inggris pada Minggu (2/3/2025). Zelenskyy juga akan bertemu dengan sejumlah pemimpin Eropa untuk agenda perdamaian.
Zelenskyy akan membahas perdamaian yang langgeng untuk mengakhiri perang dan juga menjamin keamanan di seluruh Benua Eropa.
Rencana pertemuan pertemuan bilateral Ukraina–Inggris dirancang pada menit terakhir setelah perkembangan yang terjadi dalam pertemuan Zelenskyy–Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/01/d26468db4a693cd851ac9e1a2ea2b510-APTOPIX_Trump_Zelenskyy_1_.jpg)
Perbedaan pandangan antara Ukraina–AS pecah karena Zelenskyy meminta jaminan keamanan dari AS. Di sisi lain, Trump justru menjalin kedekatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan siap berdialog untuk mengakhiri perang di Ukraina.
Banyak warga Ukraina mendukung sikap Zelenskyy. Mereka meragukan dukungan AS bagi Ukraina.
Orang Amerika tidak tahu situasi sebenarnya di sini. Mereka hanya tahu hidup mereka indah. (Ella Kazantseva, warga wilayah Ukraina timur)
”Trump dan Putin sedang membelah dunia. Saya tidak tahu apa jadinya kelak,” kata warga Kota Kyiv, Ukraina, Luidmyla Stetsevych (47).
Dia dan warga Ukraina lainnya yang diwawancara Reuters berharap para sekutu Eropa akan memperkuat dukungan politik dan militer bagi Ukraina jika AS mengendurkan sokongan bagi mereka.
”Kami berterima kasih atas bantuan AS selama ini. Akan tetapi, harga diri dan kehormatan Ukraina harus kami jaga,” kata Alina Zhaivoronko, yang sedang menziarahi monumen mengenang korban perang Ukraina di pusat kota Kyiv.
”Orang Amerika tidak tahu situasi sebenarnya di sini. Mereka hanya tahu hidup mereka indah,” kata Ella Kazantseva (54), warga wilayah Ukraina timur.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/21/432c6170-555e-4b95-aad0-6e5e25bdf265.jpeg)
Anggota Parlemen Ukraina, Andrii Osadchnuk, mengatakan tidak terkejut dengan cara Trump dan Vance menghadapi Presiden Ukraina. Sikap Trump itu membuktikan Sekutu Eropa Barat harus lebih kuat lagi mendukung Ukraina.
Saat ini para pejabat Ukraina dan Zelenskyy berusaha menggalang dukungan bagi keamanan Eropa jangka panjang. Langkah itu diambil untuk terhindar dari kemungkinan ancaman Rusia terhadap Eropa tengah. ”Ini bukan saja soal Ukraina. Eropa harus bersikap karena demi kepentingan mereka juga,” kata Osadchnuk kepada kantor berita Reuters.
Para pemimpin Eropa yang hadir, selain membahas perdamaian, juga akan merundingkan belanja pertahanan.
Media Ukraina, Pravda Eropa (Warta Eropa), melaporkan, Sabtu, adu mulut antara Zelenskyy dan para pemimpin AS memang dapat merusak hubungan bilateral, tetapi di sisi lain menunjukkan Ukraina menjaga martabat dan kedaulatan.
”Terlepas sejarah akan mencatat seperti apa peristiwa tersebut, termasuk sosok Donald Trump, kita menunjukkan bahwa persoalan ini sangat penting bagi bangsa Ukraina,” demikian ulasan kolom di harian tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/01/45a101a633eb835481ba2b407d7a0024-Trump_Zelenskyy.jpg)
Di sisi lain, mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, Sabtu, kepada kantor berita Rusia, RIA Novosti, mengatakan, Rusia siap berunding dengan Ukraina. Namun, perundingan itu harus berdasar pada kondisi lapangan (posisi Rusia lebih unggul dalam penguasaan wilayah). Rusia saat ini menduduki hampir 20 persen wilayah Ukraina, terutama di bagian timur yang mayoritas penduduknya beretnis Rusia.
”Kami akan berunding dengan pihak yang siap untuk berdialog di Ukraina,” kata Medvedev.
Pasukan Rusia di timur Ukraina kini menguasai daerah baru, yakni Skudne dan Burlatske.
Adapun Presiden Rusia Vladimir Putin menerima anggota Politburo Korea Utara, RI Hi Yong, di Kota Moskwa, Sabtu. Pertemuan itu membahas penguatan kerja sama dua negara.
Menurut AS dan Korea Selatan, Korea Utara menempatkan lebih dari 10.000 serdadu untuk membantu Rusia dalam perang melawan Ukraina. Rusia dan Korut menandatangani kerja sama strategis komprehensif pada Juni 2024 saat Putin mengunjungi Korut. Kerja sama itu mencakup bantuan militer dan pertahanan. (AP/Reuters/AFP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Bonifasius Josie Susilo H