RI Bakal Terkena Pukulan Ganda Pelemahan Ekonomi China dan Tarif AS

Pada 2025, ekonomi RI diperkirakan tumbuh 4,8-4,9 persen. Pelemahan ekonomi China dan pengenaan tarif resiprokal AS merupakan faktor utama penyebabnya.

15 Apr 2025 13:42 WIB · Ekonomi

Oleh Hendriyo Widi

JAKARTA, KOMPAS — Indonesia bakal terkena pukulan ganda dari pelemahan ekonomi China dan pengenaan tarif resiprokal Amerika Serikat. Hal itu menyusul proyeksi semakin melambatnya pertumbuhan ekonomi China pada 2025 dan 2026 gegara dampak perang tarif dengan Amerika Serikat.

Merujuk hasil jajak pendapat Reuters terhadap 57 ekonom yang dirilis pada 14 April 2025, ekonomi China pada triwulan I dan II pada 2025 diperkirakan tumbuh melambat masing-masing sebesar 5,1 persen dan 4,7 persen secara tahunan. Penyebab utamanya adalah pengenaan tarif AS dan pelemahan daya beli masyarakat.

Saat ini, total bea masuk impor yang dikenakan AS terhadap China mencapai 145 persen. Sebaliknya, China membalasnya dengan tarif 125 persen.

Apabila perang tarif AS versus China terus berlanjut dan tensinya semakin meningkat, pertumbuhan ekonomi China dapat semakin melambat. Pada 2025 dan 2026, pertumbuhan ekonominya diproyeksikan turun masing-masing menjadi 4,5 persen dan 4,2 persen (Reuters, 14/4/2025).

Goldman Sachs bahkan memperkirakan pertumbuhan negara ekonomi terbesar kedua di dunia itu hanya 4 persen pada 2025 dan 3,5 persen pada 2026. Padahal, sebelumnya ekonomi China diperkirakan tumbuh 4,5 persen pada 2025 dan 4 persen pada 2026.

Infografik Statistik Pertumbuhan Ekonomi China

Moody’s Analytics juga memproyeksikan ekonomi China tumbuh 4,1 persen pada 2025 dan 3,7 persen pada 2026. Sepanjang tahun ini, ekonomi China diperkirakan hanya tumbuh 0,9 persen dari triwulan ke triwulan.

”Ekspor China bakal tertekan kenaikan tarif AS, sedangkan permintaan domestik lesu di tengah tingginya angka pengangguran dan terkoreksinya pasar properti,” kata Sarah Tan, ekonom Moody’s Analytics, melalui siaran pers, Senin (14/4/2025).

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal, Selasa (15/4/2025), mengatakan, AS dan China merupakan dua mitra dagang utama dan terbesar RI. Oleh karena itu, pengenaan tarif resiprokral AS dan perlambatan ekonomi China sudah pasti bakal berdampak terhadap Indonesia.

”Tarif resiprokal AS sebesar 32 persen dan perlambatan ekonomi China bakal memberikan pukulan ganda terhadap perekonomian Indonesia,” ujarnya ketika dihubungi dari Jakarta.

Faisal menjelaskan, dampak pengenaan tarif resiprokal AS diperkirakan tidak sebesar dampak perlambatan ekonomi China. Ini mengingat kebergantungan perdagangan RI pada AS hanya sekitar 10 persen atau lebih rendah dari kebergantungan RI pada China yang sekitar 20 persen.

Selama ini, Indonesia juga masih membukukan surplus dagang terhadap AS, sedangkan dengan China cenderung selalu defisit. Jika ekspor China ke pasar utama terhambat, industri domestik China akan mengurangi produksi dan impor bahan baku.

Quote

Kebergantungan perdagangan RI pada AS hanya sekitar 10 persen atau lebih rendah dari kebergantungan RI pada China yang sekitar 20 persen.

Foto udara yang diambil pada 22 Februari 2024 menunjukkan kontainer pengiriman ditumpuk di sebuah pelabuhan di Huai'an, di provinsi Jiangsu, Tiongkok timur.

Di sisi lain, Faisal melanjutkan, industri di China juga tengah mengalami kelebihan produksi. Secara otomatis, kelebihan produksi itu akan dialihkan ke mitra-mitra dagang yang lain, termasuk Indonesia.

”Dengan begitu, ekspor Indonesia ke China berpotensi tumbuh melambat. Sebaliknya, impor Indonesia dari negara tersebut bisa jadi semakin melonjak. Hal itu dapat membuat defisit dagang Indonesia dengan China semakin dalam,” katanya.

Faisal juga mengingatkan, setiap penurunan 1 persen pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) China, pertumbuhan PDB Indonesia dapat berkurang 0,3 persen. Mempertimbangkan dampak itu serta imbas pengenaan tarif resiprokal AS dan efisiensi anggaran Indonesia, ekonomi RI pada 2025 diperkirakan hanya tumbuh 4,8-4,9 persen.

Angka perkiraan sementara itu lebih rendah dari proyeksi CORE Indonesia sebelumnya, yakni pada November 2024, yang sebesar 4,8 persen-5 persen. Dengan begitu, Indonesia bakal semakin berat menggapai pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029.

Neraca perdagangan nonmigas Indonesia dengan top 20 Mitra Utama Januari-Desember 2024

Kejelian importir AS

Sementara itu, Pemerintah China merilis surplus neraca perdagangan China dengan para mitra dagangnya pada Maret 2025 sebesar 102,64 miliar dollar AS. Surplus itu didorong lonjakan ekspor sebesar 12,4 persen secara tahunan.

Pertumbuhan surplus dagang dan ekspor tersebut jauh di atas perkiraan sejumlah ekonom. Saat ini, surplus dagang diproyeksikan senilai 74,3 miliar dollar AS dan pertumbuhan ekspor sebesar 4,4 persen.

Bahkan, pada Maret 2025, China masih membukukan surplus dagang terhadap AS sebesar 27,6 miliar dollar AS karena ekspornya naik 4,5 persen secara tahunan. Pada Januari-Maret 2025, neraca dagang China terhadap AS juga masih surplus 76,6 miliar dollar AS dan ekspornya tumbuh 2,3 persen secara tahunan.

Padahal, Presiden AS Donald Trump telah memberlakukan tambahan tarif tahap pertama tehadap China. Pada Februari 2025, AS menaikkan bea masuk impor atas semua barang China sebesar 10 persen. Kemudian, pada Maret 2025, AS mengenakan tambahan tarif 20 persen terhadap sejumlah komoditas China.

ING Think, lembaga analis ekonomi asal Belanda, menyebutkan dua faktor utama yang menyebabkan surplus dagang dan kinerja ekspor China ke AS melesat. Pertama, importir AS yang jeli melihat potensi kenaikan tarif pada April 2025 sehingga memperbesar volume impor. Kedua, pengecualian tambahan tarif untuk komoditas-komoditas yang sudah dalam perjalanan ke AS.

infografik Neraca Perdagangan Non-migas Indonesia dengan China *** Local Caption *** infografik Neraca Perdagangan Non-migas Indonesia dengan China

Faisal berpendapat, stragegi front loading yang dilakukan importir AS itu merupakan fenomena yang biasa terjadi ketika ada hambatan perdagangan. Mereka berupaya mengantisipasi potensi kenaikan bea masuk impor dengan mendatangkan sebanyak-banyaknya bahan baku di kala tarif masih rendah.

Fenomena itu juga bisa terjadi di Indonesia mengingat AS menunda pengenaan tarif resiprokal selama 90 hari. Meskipun skalanya tidak akan sebesar China, tetap ada potensi importir AS mendatangkan berbagai kebutuhan pasar AS sebelum tarif impor naik.

”Para eksportir Indonesia bisa memanfaatkan fenomena itu dengan aktif berinteraksi dengan para mitra bisnisnya di AS. Hal itu termasuk menanyakan kembali penundaan-penundaan pembelian barang pasca-Trump mengumumkan tarif resiprokal pada 2 April 2025,” kata Faisal.


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto