ICA-CEPA diproyeksikan menghapus sebagian besar tarif dagang, membuka peluang ekspor baru, dan memperkuat daya saing produk Indonesia di Kanada.
25 Sep 2025 11:51 WIB · Internasional
JAKARTA, KOMPAS — Indonesia dan Kanada mencatat tonggak penting hubungan bilateral dengan penandatanganan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement/ICA-CEPA). Perjanjian dagang bilateral pertama Kanada dengan negara Asia itu membuka jalan penghapusan lebih dari 90 persen hambatan tarif perdagangan.
Penandatanganan dilakukan Menteri Perdagangan RI Budi Santoso dengan Menteri Perdagangan Internasional Kanada Maninder Sidhu di West Block, Parliement Hill, Ottawa, Kanada, Rabu (24/9/2025). Proses penandatanganan perjanjian tersebut disaksikan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney.
Presiden Prabowo mengatakan, penandatanganan ICA-CEPA sebagai langkah bersejarah. Perjanjian ini menjadi tonggak penting dalam hubungan dagang kedua negara.
”Hari ini, penandatanganan ICA-CEPA sangat penting bagi kami, sangat strategis secara ekonomi dan politik,” ujar Presiden dalam tayangan video yang dibagikan Sekretariat Presiden, Kamis (25/9/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/25/3ade74ca21a703db52c40c77433396f8-acee42de_e0e1_4f62_926f_b45e08bbba8e.jpeg)
Presiden menambahkan, Indonesia berupaya keras menyelesaikan perjanjian tersebut setelah mempelajari 9.000 halaman dokumen perjanjian. ”Saya beruntung menjadi Presiden Indonesia yang membawa ini kembali ke Indonesia,” kata Prabowo.
Keterangan pers dari Istana menyebut, ICA-CEPA menjadi tonggak penting dalam hubungan ekonomi Indonesia-Kanada. Perjanjian ini menghadirkan kepastian hukum sekaligus memperluas akses pasar bagi kedua negara.
Melalui kesepakatan tersebut, Kanada berkomitmen menghapus 90,5 persen tarif impor terhadap produk asal Indonesia. Sementara Indonesia memberikan liberalisasi sebesar 85,8 persen pos tarif.
Implementasi ICA-CEPA diproyeksikan akan mendorong ekspor Indonesia ke Kanada hingga mencapai 11,8 miliar dollar AS pada 2030, dengan tambahan pertumbuhan PDB nasional sebesar 0,12 persen serta peningkatan investasi sebesar 0,38 persen. Selain dampak ekonomi, perjanjian ini juga menjamin transparansi regulasi, perlindungan investasi, serta memperkuat kerja sama di bidang pemberdayaan UMKM, lokapasar digital, hak kekayaan intelektual, dan perdagangan berkelanjutan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/25/88738180b17c1140a5aa555b4d8e2161-ff9979df_d2ac_4732_9b42_be52537a536b.jpeg)
Perdana Menteri Carney menyatakan, ICA-CEPA merupakan perjanjian perdagangan bilateral pertama Kanada dengan negara Asia. Perjanjian ini juga diyakini akan mengubah peta perdagangan Kanada.
Carney menjelaskan, implementasi CEPA akan memangkas lebih dari 95 persen tarif atas ekspor Kanada ke Indonesia. Hal ini akan memberikan daya saing lebih besar bagi pekerja dan pelaku usaha Kanada. Perjanjian ini sekaligus membuka akses ke pasar Indonesia yang berpenduduk lebih dari 300 juta orang dengan PDB senilai 2 triliun dollar AS.
”Ini adalah kesepakatan yang tepat pada waktu yang tepat dengan mitra yang tepat,” ujarnya.
Carney menegaskan, kerja sama ekonomi akan diperkuat dengan perjanjian baru di bidang pertahanan. Kanada akan berkolaborasi dengan Indonesia dalam bidang keamanan maritim, pertahanan siber, pemeliharaan perdamaian, dan pendidikan militer. Kerja sama ini menjadi sinyal kuat bahwa Kanada dan Indonesia berkomitmen menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/25/2a74c3ce43cb8da9dd9d1f2bd44f2e01-b6a59cdc_0741_47d9_93e4_58780583170f.jpeg)
Selain itu, Kanada dan Indonesia juga meluncurkan kemitraan antara Export Development Canada dan Indonesia Investment Authority. Kemitraan ini akan mengerahkan lebih dari 800 juta dollar AS modal swasta di sektor prioritas, mulai dari infrastruktur, layanan digital, energi terbarukan, hingga manufaktur maju.
”Kanada berbagi misi untuk membangun ekonomi yang lebih kuat, lebih tangguh, di dalam negeri, di Asia, dan di seluruh dunia. Kami berdiri bersama komitmen Anda pada tatanan multilateral, di mana perdamaian, kemakmuran, dan kemajuan bukanlah hak istimewa bagi segelintir orang, tetapi hak semua orang,” tutur Carney.
Lawatan Presiden Prabowo ke Kanada berlangsung singkat. Rombongan tiba di Ottawa pada Rabu siang dan disambut Menteri Perdagangan Internasional Kanada Maninder Sidhu bersama Dubes Kanada untuk Indonesia Jess Dutton.
Agenda pertama adalah pertemuan bilateral dengan Gubernur Jenderal Mary Simon di Rideau Hall. Keduanya membahas kesamaan nilai demokrasi, pluralisme, serta peluang pertukaran pendidikan dan budaya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/01/77169bc9-d51a-43ea-88b2-6c7c2c25764e.png)
Presiden kemudian menuju Parliament Hill untuk pertemuan empat mata dengan PM Carney. Dari sana, keduanya bersama-sama menyaksikan penandatanganan ICA-CEPA, nota kesepahaman pertahanan, serta sejumlah perjanjian bisnis.
Malam harinya, Carney menjamu Presiden Prabowo di National Gallery of Canada. Sebelum jamuan makan malam, Carney mengajak Prabowo berkeliling meninjau koleksi seni yang merefleksikan sejarah dan identitas budaya Kanada. Perbincangan keduanya berlangsung hangat, kerap diselingi canda ringan yang mencerminkan keakraban.
Jamuan makan malam turut dihadiri pejabat tinggi Kanada serta tokoh bisnis dari berbagai kalangan. Suasana akrab dan penuh kehangatan menjadi penutup rangkaian kunjungan resmi di Ottawa. Presiden Prabowo meninggalkan Kanada pada Rabu malam menuju Amsterdam, Belanda, untuk melanjutkan kunjungan kerja di Eropa.
Penulis:
Iqbal BasyariEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto