RI-Tunisia, Bertaut Sejarah Merajut Masa Depan

Proklamator Tunisia, Habib Bourguiba, bersahabat dengan Proklamator Indonesia, Bung Karno.  Melewati masa, saat ini relasi Indonesia-Tunisia terus berkembang.

11 Mar 2025 18:25 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

Bagi publik Indonesia, nama Tunisia, sebuah negara di Afrika utara, jarang mampir di telinga. Ingatan akan negeri itu biasanya dikaitkan dengan ”Arab Spring”, sebuah gejolak, revolusi yang terjadi hampir serentak di Mesir, Libya, dan Tunisia pada era tahun 2010-2011. Akan tetapi, terkait Tunisia, Indonesia sejatinya telah terikat tali sejarah yang panjang.

Salah satu simpul ikatan itu adalah seorang seniman Tunisia bernama Hatem El Mekki. Ia lahir di Batavia dari rahim seorang perempuan Indonesia. Ayahnya adalah warga asli Tunisia. Pada usia 6 tahun, oleh orang tuanya El Mekki diboyong ke Tunisia.

Dalam laman Barjeel Art Foundation disebutkan, El Mekki kemudian pergi belajar ke Paris, Perancis. Dia lantas bekerja membuat ilustrasi, film, aneka iklan, dan bekerja di majalah Perancis, Marianne.

Dia kembali ke Tunisia tahun 1939 dan mengadakan pameran di Aljazair dan Tunisia. Selepas Perang Dunia II, pada 1947 El Mekki kembali ke Paris dan menjalin persahabatan dengan penulis dan filsuf ternama, Albert Camus, Gaston Bachelard, dan Gertrude Stein.

People walk through a commercial area in central Tunis on March 7, 2025, as a new cheque reform, introduced by a recent law, has come into force in the north African state. This reform brought significant changes to the way cheques were issued, used and regulated. It aims to modernise the payment system, increase transparency and reduce abuses related to bad cheques. (Photo by FETHI BELAID / AFP)

Dia lalu kembali di tahun 1951 dan aktif dalam kehidupan publik di Tunisia. Karyanya muncul di prangko–prangko Tunisia, mata uang Tunisia. Selain melalui El Mekki, nama Indonesia juga dikenal warga Tunisia melalui kedekatan antara Presiden Soekarno dan tokoh negeri itu, Habib Bourguiba.

Sosok yang memiliki latar belakang sebagai pengacara itu merupakan mitra dekat Bung Karno dalam isu-isu nasionalisme dan kemerdekaan. Pada 1951, Bourguiba, tokoh Tunisia, diundang Bung Karno ke Jakarta. Relasi mereka mengiringi menguatnya gerakan negara-negara Asia-Afrika memerdekakan diri.

Sesudah Tunisia merdeka pada 1956, mulailah dibuka hubungan diplomatik Indonesia-Tunisia. Kala itu, Borgouiba, yang sebelumnya menjadi Perdana Menteri Tunisia di era Kerajaan Tunisia, telah terpilih menjadi presiden pertama Republik Tunisia. Sebagai balasan, pada 1960 Bung Karno diundang oleh Bourguiba ke Tunisia.

”Beliau disambut ratusan ribu orang Tunsia yang mengeluk-elukan dan menyambut hangat,” kata Duta Besar Tunisia untuk Indonesia Mohamed Trabelsi saat berkunjung ke Kantor Redaksi Harian Kompas, Selasa (4/3/2025).

People await their pastry orders at a bakery in Tunis' central market as people shop on the first day of the Muslim holy fasting month of Ramadan on March 1, 2025. (Photo by FETHI BELAID / AFP)

Kenangan akan kedekatan dua tokoh itu berujung pada diabadikannya nama Soekarno menjadi nama sebuah jalan utama di Tunis, ibu kota Tunisia.

Ikatan sejarah yang kuat tersebut diperkaya pula oleh relasi sosial dan budaya. Duta Besar Tunisia untuk Indonesia Mohamed Trabelsi dalam kunjungan ke Harian Kompas, Selasa (4/3/2025), mengatakan, Tunisia turut menjadi rujukan bagi pendidikan dunia Islam, termasuk Indonesia. Sejak awal abad Islam, Tunisia merupakan salah satu batu penjuru peradaban Islam di Afrika.

”Masjid Kairouan di Tunisia adalah masjid keempat paling penting dalam tradisi Islam. Demikian pula Universitas Zaituna yang menjadi pusat pendidikan Afrika Utara. Ada juga tokoh ilmuwan penting dalam sejarah Islam, yakni Ibnu Khaldun yang juga dikenal di Indonesia,” kata Trabelsi yang pernah menjadi Direktur ASEAN di Kementerian Luar Negeri Tunisia.

Masjid Kairouan menjadi masjid keempat dalam tradisi Islam sesudah Masjidil Haram di Mekkah, Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjid Al Aqsa di Jerusalem.

Semasa ketokohan Ibnu Khaldun (1332-1406), ilmu sosial berkembang pesat di Afrika Utara dan kawasan berpusat di Universitas Zaitouna. Ibnu Khaldun yang lahir dan wafat di Tunisia menjadi bapak dari ilmu historiografi, sosiologi, dan ekonomi dengan karya besarnya, Mukadimah, sebagai panduan sosiologi modern.

Dubes Tunisia untuk Republik Indonesia Mohamed Trabelsi

Menurut dosen FISIP UIN Walisongo Semarang, Ahmad Syaifuddin Zuhri, pemikiran Ibnu Khaldun dipelajari di sekolah atau madrasah dalam Sejarah Kebudayaan Islam. ”Beliau ilmuwan peletak teori siklus dalam ilmu sejarah dan juga ilmu sosiologi. Pemikiran beliau banyak dipengaruhi oleh Ibnu Rusdi dan Ibnu Sina,” kata Ahmad.

Kehadiran mereka turut membentuk peradaban Islam yang terus berkembang, pada abad ke-7 hingga ke-8 Masehi. Trabelsi menjelaskan, Tunisia pun menjadi pusat peradaban Islam Magribi (Afrika Utara Barat Laut) yang berbatasan dengan Imperium Spanyol–Portugis.

Tunisia dikenal moderat dan mampu bergaul dengan dunia Barat tanpa melupakan identitas Timur. Tunisia di tahun 1957 sudah memberikan hak pilih bagi kaum perempuan. Pergaulan resmi dengan Indonesia pun dijalankan Tunisia.

Menurut Dubes Trabelsi, kantor perwakilan pertama Tunisia menempati ruangan di sebuah hotel di bilangan Tanah Abang Timur, Jakarta Pusat. Pembukaan kantor itu dibantu seorang tokoh bernama Hamid Algadri. Lokasi itu berdekatan dengan diskotek legendaris Jakarta era 1970-an dan 1980-an, yakni Tanamur.

A produce vendor arranges his lemon stall in Tunis' central market as people shop on the first day of the Muslim holy fasting month of Ramadan on March 1, 2025. (Photo by FETHI BELAID / AFP)

Meniti masa depan

Melewati masa, saat ini relasi Indonesia-Tunisia terus berkembang dalam beragam bidang. Menurut Trabelsi, ada kuota bagi 80 mahasiswa dan mahasiswi Indonesia untuk belajar di berbagai perguruan tinggi di Tunisia, termasuk di Universitas Zaitouna. ”Sejauh ini kebanyakan mereka belajar bahasa atau ilmu keagamaan. Padahal banyak ilmu lain yang bisa dipelajari di kampus tersebut, seperti komputer, sains, matematika, dan lain-lain,” ujar Trabelsi yang pernah menjadi juru bicara KTT Francophonie di Djerba pada tahun 2022.

Keindahan Indonesia pun dikenal di Tunisia. Menurut Trabelsi, tahun lalu tercatat 10.000 wisatawan Tunisia berkunjung ke Indonesia. Sebagian besar tentu saja berkunjung ke Bali.

”Kami sejak tahun lalu menghapus ketentuan visa untuk pemegang paspor Indonesia memasuki Tunisia. Saat ini, warga Tunisia dikenai visa on arrival (VoA) ke Indonesia. Kami berharap mendapat perlakuan serupa, yakni bebas visa jika berkunjung ke Indonesia,” kata Trabelsi yang juga menjadi wakil Tunisia untuk ASEAN.

Sebaliknya, dia mengatakan, kegiatan umrah warga Indonesia ke Arab Saudi bisa dilanjutkan dengan berwisata ke Tunisia. Demikian juga kegiatan ziarah ke Roma, diteruskan dengan wisata ke Tunisia yang ditempuh dalam waktu terbang yang singkat.

Saat ini perdagangan kedua negara sudah berlangsung dengan sejumlah komoditas seperti minyak sawit dan buah kurma. Tunisia berharap dapat memperluas kerja sama perdagangan dengan Indonesia dan ASEAN.

Catatan redaksi:

Ada beberapa koreksi terkait tulisan di atas. Di antaranya adalah Ibnu Khaldun turut membentuk peradaban Islam yang terus berkembang pada abad ke-7 hingga ke-8 masehi.

Kantor perwakilan Tunisia pertama kali menempati sebuah ruang di sebuah hotel di Tanah Abang. Pembukaan kantor itu dibantu seorang tokoh bernama Hamid Algadri.

Duta Besar Tunisia untuk Indonesia Mohamed Trabelsi pernah menjadi juru bicara KTT Francophonie di Djerba pada tahun 2022.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H