Ribetnya Mengembalikan Cincin Pertunangan yang Batal

Membatalkan pernikahan di Boston menjadi ribet karena pengadilan terlibat untuk menentukan siapa yang berhak menyimpan cincin pertunangan.

10 Nov 2024 19:25 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan - [email protected]

BOSTON — Pertunangan seharusnya merupakan momen menyenangkan karena tinggal setahap lagi menuju pernikahan. Namun, di Massachusetts, AS, rencana pernikahan yang batal tidak hanya membuat sedih, tetapi juga ribet. Pasangan yang membatalkan pernikahan harus berurusan dengan pengadilan untuk pengembalian cincin pertunangan.

Keribetan itu dialami pasangan Bruce Johnson dan Caroline Settino. Kantor berita The Associated Press (AP) yang mengutip dokumen pengadilan, Sabtu (9/11/2024), melaporkan, keduanya mulai berkencan pada musim panas 2016.

Keduanya sempat bepergian bersama ke sejumlah destinasi. Mereka mengunjungi New York, Bar Harbor, Maine, Kepulauan Virgin, dan Italia. Johnson yang membayar semua liburan itu. Ia juga membelikan Settino perhiasan, pakaian, sepatu, dan tas tangan.

Singkat cerita, Johnson kemudian membeli cincin pertunangan berlian seharga 70.000 dollar AS. Pada Agustus 2017, ia meminta izin kepada ayah Settino bahwa ia akan menikahi putrinya itu. Dua bulan kemudian ia juga membeli dua cincin kawin seharga sekitar 3.700 dollar AS.

Setelah pertunangan, Johnson merasa Settino berubah. Ia mengatakan Settino menjadi semakin kritis dan tidak mendukung. Settino juga memarahi dan tidak menemaninya ke perawatan ketika ia didiagnosis menderita kanker prostat.

Pada suatu saat akhirnya Johnson melihat ponsel Settino dan menemukan pesan yang dikirimkan Settino kepada seorang pria yang tidak dikenalnya. Ia juga menemukan pesan dari pria itu kepada Settino, salah satunya pesan suara yang menyebut Settino dengan ”cupcake”.

Meski Settino mengatakan pria itu hanyalah seorang teman, Johnson memutuskan mengakhiri pertunangannya. Di sini keribetan muncul.

Pembatalan pernikahan berujung ribet lantaran pengadilan harus memutuskan siapa yang berhak menyimpan cincin pertunangan. Keterlibatan pengadilan berkaitan dengan aturan di Negara Bagian Massachusetts yang sudah berlangsung selama enam dekade terakhir. Aturan itu mengharuskan hakim untuk mencoba mengidentifikasi siapa yang harus disalahkan atas berakhirnya hubungan tersebut.

Lebih dari enam dekade lalu, pengadilan memutuskan bahwa cincin pertunangan secara umum dipahami sebagai hadiah bersyarat. Pengadilan juga menetapkan bahwa orang yang memberikan cincin dapat mengambilnya kembali setelah pertunangan gagal. Syaratnya, orang tersebut tidak bersalah.

Pada kasus Johnson-Settino, seorang hakim pengadilan awalnya menyimpulkan Settino yang berhak menyimpan cincin pertunangan itu. Alasannya, Johnson secara keliru mengira Settino berselingkuh dan membatalkan pertunangan itu. Namun, kasus dibawa ke Mahkamah Agung Massachusetts pada September 2024. Di pengadilan banding diputuskan Johnson yang berhak atas cincin itu.

”Kami sekarang mengikuti tren modern yang diadopsi oleh sebagian besar yurisdiksi yang telah mempertimbangkan masalah tersebut dan menghentikan konsep kesalahan dalam konteks ini,” tulis para hakim dalam putusan hari Jumat (8/11/2024).

Para hakim menulis, ”Jika, seperti dalam kasus ini, pernikahan yang direncanakan tidak terjadi dan pertunangan berakhir, cincin pertunangan harus dikembalikan kepada pemberi terlepas dari kesalahannya.” Keputusan itu sekaligus mengakhiri aturan yang sudah berlangsung enam dekade.

Johnson sudah lega. Urusannya dengan pengadilan akhirnya beres. Ia kini boleh menyimpan lagi cincin pertunangan seharga 70.000 dollar AS itu.  (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H