INDONESIA TERBUKA

Rindu Susy Setengah Mati

Sudah seperempat abad sejak terakhir kali tunggal putri Indonesia menjuarai turnamen Indonesia Terbuka. Penggemar merindukan sosok pemain seperti Susy Susanti.

31 Mei 2026 07:00 WIB · Olahraga

KOMPAS

Oleh Billy Khaerudin

Sebagian bangku penonton di Istora Senayan malam itu terlihat kosong. Para pendukung tuan rumah telah beranjak pulang. Mereka tak yakin Indonesia bakal menjuarai Piala Sudirman. Malam itu, Indonesia berhadapan dengan Korea Selatan di partai final Piala Sudirman tahun 1989.

Untuk pertama kali kejuaraan dunia beregu campuran Piala Sudirman dipertandingkan tahun 1989. Jakarta mendapat kehormatan menjadi tuan rumahnya. Tentu saja publik Tanah Air ketika itu berharap Indonesia yang juara. Apalagi kalau mengingat piala kejuaraan dunia beregu campuran ini dinamai tokoh bulu tangkis Tanah Air yang membawa harum nama Indonesia di kancah internasional, Dick Sudirman.

Dari kapasitas Istora yang saat itu dapat memuat 9.000 hingga 10.000 penonton, Harian Kompas mencatat hanya tersisa sekitar 2.000 orang yang masih menonton langsung di pinggir lapangan. Indonesia sudah ketinggalan 0-2 setelah pasangan ganda putra Eddy Hartono/Gunawan yang tampil pada partai pertama kalah dari Park Joo-bong/Kim Moon-soo dan di partai kedua, ganda putri Verawaty Fajrin/Yanti Kusmiati kalah dari Chung Soo-young/Hwang Hye-young.

Tak ada hiruk pikuk penonton Istora saat Susy Susanti dan pemain tunggal putri Korea Selatan, Lee Young-suk, melakukan pemanasan untuk partai ketiga. Dari layar kaca terlihat jelas sebagian bangku Istora yang kosong. Memang mungkin masih ada jutaan pasang mata penonton Indonesia yang bertahan menyaksikan tayangan langsung TVRI sembari diam-diam berdoa agar ada keajaiban malam itu.

Susy memang membawa keajaiban di partai final Piala Sudirman malam itu.

”Waktu itu kita ketinggalan 0-2 dan saya partai ketiga. Set pertama saya kalah. Set kedua saya ketinggalan dan waktu itu di Istora itu sudah bubar (penontonnya). Jadi, penonton kayaknya sudah enggak dukung kita lagi. Mereka pikir satu poin lagi, udah pasti kalah, deh. Tapi, saya masih berusaha untuk berjuang karena pertandingan belum selesai. Saya berusaha membuat poin demi poin hingga akhirnya rubber set,” ujar Susy menceritakan pengalamannya berlaga di partai final Piala Sudirman tahun 1989.

Split Gaya Susy Kompas/Julian Sihombing *** Local Caption *** Perkasa Lagi -- Bintang bulu tangkis Susi Susanti mengukuhkan diri sebagai pemain nomor satu dunia setelah Minggu (16/7) di Istora Senayan merebut gelar juara tunggal putri kejuaraan Sony Indonesia Terbuka dengan menundukkan Bang Soo-hyun, 11-6, 11-7.Terkait berita:Susi Genapkan Empat gelar.Kompas, 17 Juli 1995, 1.Judul Amplop : Bulutangkis Piala Sony

Di set pertama, Susy sebenarnya sudah memimpin poin 10-7. Ingat ya, sebelum era rally point (sebelum Mei 2006), pertandingan tunggal putri bulu tangkis menggunakan sistem pindah bola (hand in, hand out) dengan maksimal 11 poin dalam tiga set terbaik (best of three). Poin hanya bisa didapatkan oleh pemain yang sedang memegang servis. Namun, set pertama berakhir dengan kemenangan Young-suk.

Set kedua juga nyaris saja Indonesia kehilangan harapan. Kali ini, Young-suk memimpin 10-7. Susy tak menyerah. Dia sampai harus dua kali jatuh tertelungkup. Harian Kompas menggambarkan perjuangan Susy di pertandingan ini bak kijang yang dengan lincah berlari dan menari di lapangan. Susy akhirnya menang 12-10. Set ketiga, Susy menang 11-0 dan menumbuhkan harapan bagi tuan rumah.

Di partai keempat, tunggal putra Eddy Kurniawan menang atas Han Kuk-sung dan partai terakhir, ganda campuran Eddy Hartono/Verawaty Fajrin mengalahkan Park Joo-bong/Chung Myung-hee. Indonesia untuk pertama kali juara Piala Sudirman. Piala yang belum pernah bisa diraih lagi hingga kini.

Indonesia Terbuka

Kisah keajaiban Susy di partai final Piala Sudirman 1989 menandai dimulainya era dominasi pemain kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat 11 Februari 1971, itu di nomor tunggal putri bulu tangkis dunia. Memang pemain bernama lengkap Lucia Francisca Susy Susanti Haditono itu sudah mengenyam reputasi internasional sebelumnya. Tahun 1986, Susy sudah meraih gelar juara dunia bulu tangkis yunior yang ketika itu masih bernama Bimantara Open. Susy menjadi juara untuk dua nomor sekaligus, tunggal putri dan ganda putri bersama Lilik Sudarwati.

Quote

Ini merupakan lompatan prestasi cepat sebab Susy baru lepas dari status yunior setahun lalu. Di tingkat taruna itu, dia berhasil dua kali menjadi juara dunia.

Sebelum penampilan gemilang di Piala Sudirman, di tahun 1989, Susy yang ketika itu baru berumur 18 tahun juga memukau dunia setelah berhasil ke final dua seri Grand Prix tahun itu, Taipei Masters dan  All England. Di final, Susy kalah dari Christine Magnusson (Taipei Masters) dan Li Lingwei (All England).

Piala Sudirman ibarat penanda gemilang Susy. Setelah ikut mengantar Indonesia juara Piala Sudirman untuk pertama kali—hingga saat ini Indonesia belum pernah lagi juara—Susy untuk pertama kali meraih gelar juara di Indonesia Terbuka.

Perkasa Lagi -- Bintang bulu tangkis Susi Susanti mengukuhkan diri sebagai pemain nomor satu dunia setelah Minggu (16/7) di Istora Senayan merebut gelar juara tunggal putri kejuaraan Sony Indonesia Terbuka dengan menundukkan Bang Soo-hyun, 11-6, 11-7.

Terkait berita:
Susi Genapkan Empat gelar
Kompas, 17 Juli 1995, 1.
Judul Amplop : Bulutangkis Piala Sony *** Local Caption *** Perkasa Lagi -- Bintang bulu tangkis Susi Susanti mengukuhkan diri sebagai pemain nomor satu dunia setelah Minggu (16/7) di Istora Senayan merebut gelar juara tunggal putri kejuaraan Sony Indonesia Terbuka dengan menundukkan Bang Soo-hyun, 11-6, 11-7.

Terkait berita:
Susi Genapkan Empat gelar
Kompas, 17 Juli 1995, 1.
Judul Amplop : Bulutangkis Piala Sony

Indonesia Terbuka tahun 1989 diselenggarakan di Pontianak, Kalimantan Barat. Susy juara dengan mengalahkan unggulan pertama tunggal putri asal China yang belakangan menjadi warga negara Indonesia, Huang Hua. Inilah gelar pertama Susy Susanti di turnamen Indonesia Terbuka.

Harian Kompas yang mengulas gelar juara Susy di Indonesia Terbuka 1989 menulis, ”Ini merupakan lompatan prestasi cepat sebab Susy baru lepas dari status yunior setahun lalu. Di tingkat taruna itu, dia berhasil dua kali menjadi juara dunia” (Kompas, 13/11/1989).

Gelar pertama Susy di turnamen Indonesia Terbuka bakal menandai rekor panjang yang belum tersentuh siapa pun hingga kini. Susy tercatat menjadi pemain tunggal putri dengan torehan gelar juara Indonesia Terbuka paling banyak, yakni enam, sejak penyelenggaraan turnamen ini pada tahun 1982. Susy menjuarai tunggal putri Indonesia Terbuka tahun 1991, 1994, 1995, 1996, dan 1997.

Enam gelar juara adalah torehan terbanyak yang diraih seorang pemain di turnamen Indonesia Terbuka. Tidak ada pemain yang meraih lebih dari enam gelar juara. Catatan rekor enam kali juara ini, antara lain, dipegang oleh Ardy B Wiranata, Taufik Hidayat (Indonesia), dan Lee Chong Wei (Malaysia) untuk nomor tunggal putra, pasangan Trikus Harjanto/Minarti Timur (Indonesia) untuk nomor ganda campuran, dan tentu saja satu-satunya pemain tunggal putri yang meraih enam gelar juara Indonesia Terbuka, Susy Susanti.

Pencapaian Susy di turnamen Indonesia Terbuka akan sulit diraih pemain mana pun, termasuk dari negerinya sendiri. Terlebih sejak era Susy, Indonesia tak pernah dapat mendominasi lagi nomor tunggal putri. Bahkan, pemain tunggal putri Indonesia yang tercatat menjadi juara terakhir kali di Indonesia Terbuka adalah Ellen Angelina di tahun 2001. Sudah seperempat abad, tidak pernah ada lagi pemain tunggal putri Indonesia yang juara.

Kini, ketika gemuruh Istora Senayan semakin memekakkan telinga, Indonesia justru seperti kehilangan harapan di arena terbaiknya. Padahal, Istora, tempat Polytron Indonesia Terbuka 2026 digelar, adalah arena pertandingan bulu tangkis yang selalu menjadi impian pemain dunia mana pun karena antusiasme dan fanatisme para penontonnya.

Susy dan Ketua Umum PB PBSI Try Sutrisno Kompas/Julian Sihombing *** Local Caption *** Susi -- Ketua Umum PB PBSI Try Sutrisno menyempatkan diri memberi salam kepada bintang bulu tangkis putri Susi Susanti, usai menyerahkan Piala Sudirman, lambang keperkasaan bulu tangkis beregu campuran dunia.Judul Amplop: Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis

Susy Susanti telah menjadi penanda zaman bahwa ada masa tunggal putri Indonesia begitu dominan di turnamen ini. Gelar juara tunggal putri Indonesia Terbuka yang terakhir diraih pemain Indonesia, Ellen Angelina, tahun 2001, seperti menyisakan ruang kosong di Istora Senayan yang belum terisi hingga seperempat abad kemudian.

Tahun demi tahun berganti, generasi pemain datang silih berganti, tetapi kerinduan akan pemain seperti Susy Susanti tetap tinggal di tribune-tribune Istora. Bagi kami, para penggemar bulu tangkis Indonesia, rindu ini sudah setengah mati.


Kerabat Kerja

Penulis:

Billy Khaerudin
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto, Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti