Rio Waida tampil perdana di Olimpiade Paris dengan ”menunggangi” ombak Tahiti. Ia terpisah ribuan kilometer. Kenapa?
28 Jul 2024 12:41 WIB · Olahraga
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/28/dd483f23-f61e-443b-99fc-5299e73c75b9_jpg.jpg)
Ketika 28 atlet Indonesia yang lolos Olimpiade Paris 2024 berjuang untuk meraih kejayaan di Paris dan sekitarnya, peselancar ombak Rio Waida beraksi sekitar 15.700 kilometer jauhnya dari ibu kota Perancis. Rio menunggangi ombak di pantai Teahupo’o, Tahiti, Kepulauan Polinesia Perancis.
Rio menandai penampilan perdananya di Olimpiade Paris 2024 dan aksi keduanya di Olimpiade setelah Tokyo 2020 pada Minggu (28/7/2024) pagi WIB. Rio yang mengenakan jersei merah bersaing di babak penyisihan heat 8 bersama peselancar ombak Jepang, Reo Inaba, dan atlet Italia, Leonardo Fioravanti.
Butuh waktu sekitar 11 menit bagi Rio untuk mencatatkan poin ombak pertamanya. Kesempatan itu datang ketika peselancar berdarah Indonesia-Jepang ini masuk ke dalam gulungan ombak atau tube riding.
Baca juga: Peselancar Rio Waida Lolos ke Olimpiade Paris 2024
Rio akhirnya mengumpulkan total 5,74 poin, terpaut jauh dari Fioravanti yang menempati peringkat kedua dengan total 8,87 poin dan Inaba yang memimpin dengan 12,76 poin. Rio meraih rata-rata skor terbaik dalam ombak pertama dengan 5,17 poin dan ombak kelima dengan 0,57 poin.
Poin itu juga terpaut jauh dari penampilannya saat meraih tiket ke Paris di International Surfing Association (ISA) World Surfing Games 2024 atau Gim Selancar Dunia Asosiasi Selancar Internasional, April lalu. Pada putaran keempat, misalnya, Rio mampu mendapatkan lima ombak dan mengumpulkan total 11,20 poin.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/07/21/20210721-H8-9-ADI-Selancar2-mumed_1626879762_png.png)
Dengan hasil pada babak pertama ini, Rio tidak bisa langsung lolos ke putaran ketiga. Tiket itu menjadi milik Inaba. Sebab, hanya peselancar peringkat pertama dari setiap heat yang bisa melaju langsung ke babak tersebut.
Rio harus melanjutkan perjuangannya pada babak kedua yang juga menjadi babak eliminasi pada Senin (29/7/2024) pagi WIB. Peselancar 24 tahun ini akan bersaing di heat 3 dengan peselancar Afrika Selatan, Jordy Smith. Ia wajib mencatat poin lebih tinggi dari Smith jika ingin lolos ke babak ketiga.
Baca juga: Rio Waida, Membumikan Selancar Indonesia
Rio merupakan satu-satunya peselancar Indonesia yang lolos ke Olimpiade Tokyo 2020. Di Tokyo, Rio gugur di babak ketiga atau 16 besar setelah kalah dari peselancar tuan rumah, Kanoa Igarashi, yang akhirnya meraih perak. Rio kalah setelah mengumpulkan total 12,00 poin dari dua ombak, sedangkan Igarashi meraih 14,00 poin.
Rio mengatakan, tampil di Tokyo 2020 memberinya banyak pengalaman berharga. Ia akhirnya merasakan bagaimana menjadi seorang olimpian dan tampil di panggung tertinggi. Selain itu, ia juga bertemu dan mendapatkan pengalaman dari atlet-atlet Indonesia lain yang tampil di Tokyo 2020.
”Tokyo 2020 menciptakan perubahan besar dalam hidup saya. Saya mendapatkan banyak pengalaman di sana dan dari sana juga saya bermimpi untuk tampil di Paris 2024,” ucap Rio, dikutip dari laman resmi Olimpiade.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/28/23860228-530f-40b0-8d32-366c4a553f56_jpg.jpg)
Impian Rio kini telah menjadi kenyataan. Rio tampil di Teahupo’o, tempat yang beberapa bulan lalu sempat dijajalnya dalam ajang Shieido Tahiti Pro. Saat itu, Rio mampu mencatat skor-skor tinggi di atas 9 poin.
Baca juga: Tampil Memukau, Rio Waida Taklukkan Peselancar Dunia
Pada babak eliminasi, Rio bahkan bisa mendapatkan total tujuh ombak dan meraih rata-rata skor terbaik 7,17 poin pada ombak kedua dan 6,87 poin pada ombak terakhir. Total, Rio mencatat skor 14,04 poin.
Kendati gagal melaju ke babak semifinal, Rio juga berhasil meraih skor tinggi pada babak perempat final. Ia mengumpulkan total 13,97 poin, hasil dari skor terbaik 6,67 pada ombak keempat dan 7,30 pada ombak kelima.
”Apa yang saya alami dan rasakan di Tahiti sebelumnya itu luar biasa. Yang saya ingat, Tahiti sangat indah, ketika kemudian jadi tempat untuk Olimpiade, tentu akan lebih luar biasa,” ucapnya.
Teahupo'o adalah sebuah desa di pesisir barat daya Tahiti, sebuah pulau di Polinesia Perancis, yang terletak di Samudra Pasifik Selatan. Tempat ini dipilih untuk menjadi tuan rumah cabang olahraga selancar di Olimpiade karena pantai-pantai di Perancis sebagian besar datar pada saat ini.
Ombak di tempat yang diucapkan Chopoo dan dijuluki ”Chopes” ini berjarak sekitar 400 meter dari pantai dan dikenal sebagai ombak karang paling terkenal di dunia. Reputasinya diawali dengan ombak yang seperti kaca.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/28/04a07c43-acac-4945-8583-8f636528a405_jpg.jpg)
Ombak ini sering kali setinggi dua hingga tiga meter dan terkadang bahkan mencapai tujuh meter. Ombak tersebut tidak setinggi di Nazare di Portugal atau Peahi di Hawaii. Namun, bukan ketinggian ombaknya yang membuatnya unik.
Baca juga: Rio Waida Petik Pengalaman Berharga
Kombinasi ombak besar, jatuhan berat yang harus dilalui peselancar untuk masuk ke dalam ombak, dan karang yang sangat dangkal di bawahnya membuat Teahupo'o berbeda. Ombak ini dapat menjadi ujian komitmen dan kemampuan berselancar di ombak.
”Menjadi tuan rumah Olimpiade di Teahupo'o adalah tempat terbaik yang dapat mereka pilih hanya karena ombaknya sangat bagus pada waktu itu,” kata warga lokal Vahine Fierro, yang memenangi Tahiti Pro. ”Saya pikir Olimpiade akan kembali ke tempat lahirnya selancar.” (REUTERS)
Penulis:
REBIYYAH SALASAHEditor:
PRASETYO EKO PRIHANANTO