Risiko Jadi Kelas Menengah, Atur Keuangan dan Pilah-Pilih Investasi

Di tengah ketidakpastian ekonomi, kelas menengah perlu bersiasat. Ini dimulai dari mengatur keuangan hingga mengenal produk investasi berdasarkan profil risiko.

15 Mar 2025 07:03 WIB · Ekonomi

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

Akhir-akhir ini, cuaca kian tidak menentu. Kadang terik panas menembus hingga ubun-ubun. Kadang hujan deras menerjang begitu saja kala siang bolong. Tak jarang, ketidakpastian cuaca itu pun memicu beragam penyakit, seperti flu, batuk, hingga demam.

Bukan hanya cuaca yang tidak menentu. Situasi perekonomian pun silih berganti digelayuti awan mendung ketidakpastian. Arah kebijakan rezim baru pemerintahan Amerika Serikat (AS) telah memicu gejolak geopolitik global. Di sisi lain, kondisi ekonomi domestik juga menunjukkan kerentanannya.

Di sektor keuangan, misalnya, nilai tukar rupiah dan pasar saham dalam satu momentum kompak terjerembap akibat hengkangnya investor asing dari pasar keuangan domestik. Selain karena dampak dari situasi global, mereka mengalihkan aset investasinya lantaran ragu dengan arah kebijakan pemerintah, termasuk pengelolaan fiskal ke depan.

Pada 28 Februari 2025 lalu, rupiah menyentuh titik pelemahan terdalamnya sejak 2020, yakni ke level Rp 16.575 per dollar AS atau terdepresiasi 2,58 persen secara tahun kalender berjalan. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles ke level 6.300 atau terendah sejak 2021.

Di tengah gejolak tersebut, masyarakat turut menghadapi kenaikan harga barang-barang dari tahun ke tahun. Meski laju inflasi beberapa tahun terakhir cenderung terjaga dalam kisaran 1,5-3,5 persen, kenaikan biaya hidup kian menggerus dompet-dompet masyarakat hingga muncul istilah ”makan tabungan”.

Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia, proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) turun, dari 16,7 persen pada Februari 2024 menjadi 14,7 persen pada Februari 2025. Di sisi lain, rerata pendapatan untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) masyarakat meningkat, dari 73 persen pada Februari 2024 menjadi 74,7 persen pada Februari 2025.

Infografik Jumlah Penduduk Kelas Menengah Indonesia

Dalam hal ini, kelas menengah bawah menjadi salah satu kelompok yang paling riskan terdampak dari berbagai gejolak ekonomi yang tengah terjadi. Dengan kemampuan finansial yang memadai di atas kelompok miskin, mereka tidak menerima bantuan sosial pemerintah. Namun, kemampuan itu pun sekadar pas-pasan sehingga rentan tergelincir turun kelas.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah penduduk kategori kelas menengah turun 16,53 persen dalam lima tahun terakhir. Selama 2019-2024, penduduk kelas menengah turun 9,48 juta orang, dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024.

Quote

Dari hasil survei yang dilakukan across kelas, mulai dari yang bawah, tengah, hingga atas, semuanya berpendapat, ya saya perlu melakukan no buy challenge. Saya seharusnya enggak beli barang yang saya enggak perlu. Saya seharusnya enggak jajan, kalau saya sudah makan siang.

Sebagian dari mereka terdepak menjadi penduduk calon kelas menengah (aspiring middle class) dengan jumlah sebanyak 137,5 juta orang atau 49,22 persen dari total penduduk Indonesia pada 2024. Berdasarkan definisi BPS, kelas menengah memiliki pengeluaran Rp 2 juta-Rp 9,9 juta per bulan, sedangkan calon kelas menengah sebesar Rp 800.000-Rp 2 juta per bulan.

Lantas, bagaimana masyarakat kelas menengah menyiasati kondisi tersebut agar tidak semakin terperosok ke dalam jurang kemiskinan? Setidaknya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, mulai dari mengatur keuangan hingga memilih instrumen investasi, sebagai antisipasi terhadap berbagai risiko ke depan.

Infografik-Indikator Perekonomian Per Februari 2025 *** Local Caption *** Infografik-Indikator Perekonomian Per Februari 2025

Atur keuangan

Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, sementara penghasilan cenderung jalan di tempat, penting bagi warga kelas menengah untuk mengelola pengeluarannya. Langkah ini dimulai dari mengidentifikasi pengeluaran rutin sehari-hari, antara untuk kebutuhan, keinginan, dan untuk ditabung.

Idealnya, anggaran untuk kebutuhan, seperti tempat tinggal, makanan, utilitas, dan pembayaran cicilan, mengambil porsi 70-85 persen dari total penghasilan. Kemudian, sebesar 5-10 persen dari total penghasilan dapat dialokasikan untuk keinginan, seperti hiburan, hobi, serta olahraga.

Setelah itu, porsi 10-20 persen dari total penghasilan dapat dialokasikan untuk ditabung, untuk dana darurat, serta untuk berinvestasi. Prinsip-prinsip dasar tersebut akan sangat membantu warga kelas menengah dalam mengelola keuangannya.

Head of Deposit and Wealth Management UOB Indonesia Vera Margaret berpendapat, dibutuhkan juga kesadaran menahan keinginan untuk sesuatu yang lebih penting. Tidak mengherankan jika belakangan muncul gerakan untuk mengurangi konsumsi berlebihan dan mendorong gaya hidup minimalis (no buy challange). Gerakan ini mulai populer, tepatnya pada 2025.

”Dari hasil survei yang dilakukan across kelas, mulai dari yang bawah, tengah, hingga atas, semuanya berpendapat, ya, saya perlu melakukan no buy challenge. Saya seharusnya enggak beli barang yang saya enggak perlu. Saya seharusnya enggak jajan kalau saya sudah makan siang,” katanya dalam sesi diskusi di Jakarta, Selasa (11/3/2025).

Infografik Top 5 Barang yang Ingin Dibatasi Pembeliannya oleh Masyarakat Indonesia di 2025 Berdasarkan Survey

Berdasarkan survei daring Snapchart, 68 persen dari total 1.236 responden menyatakan telah berpartisipasi dalam no buy challenge sebagai bagian dari strategi untuk menyiasati ketidakpastian ekonomi. Sebagian besar di antara mereka lebih memilih untuk beralih pada produk atau jenama barang yang lebih murah alias substitusi.

Dilihat dari kategori barang konsumsinya, sebanyak 34 persen responden memilih untuk membatasi pembelian produk yang sedang ramai alias viral. Kemudian, mereka juga membatasi pembelian produk atau jasa hiburan, pembelian properti yang bukan untuk investasi, konsumsi makanan di kafe atau restoran, serta pembelian produk otomotif.

Situasi tersebut juga tecermin dari deflasi yang terjadi pada awal tahun 2025. BPS mencatat, Indeks Harga Konsumen (IHK) secara berturut-turut pada Januari dan Februari 2025 mengalami deflasi secara bulanan. Meski terjadi inflasi secara tahunan sebesar 0,76 persen, IHK pada Januari 2025 mengalami deflasi 0,76 persen secara bulanan.

Diversifikasi investasi

Setelah mampu mengatur keuangannya, langkah selanjutnya ialah menabung dan berinvestasi. Dalam hal ini, investasi dapat menjadi salah satu pilihan bagi warga kelas menengah ketika menghadapi inflasi atau kenaikan harga.

Potongan harga hingga 50 persen ditawarkan toko ritel di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Barat, Sabtu (8/2/2025). Kinerja industri usaha ritel dan pusat perbelanjaan pada awal tahun 2025 ini masih dipengaruhi oleh daya beli masyarakat kelas menengah bawah dan pengetatan pengeluaran yang dilakukan pemerintah

Vera menjelaskan, investasi bertujuan untuk meningkatkan nilai aset lebih tinggi daripada kenaikan inflasi. Salah satu contoh dari konsep investasi tersebut tampak dari pergerakan harga emas yang setiap tahun selalu naik. Bahkan, dalam lima tahun terakhir, harga emas menjulang sebesar 100 persen atau dua kali lipat, dari sekitar Rp 750.000 per gram menjadi Rp 1,5 juta.

”Dalam kondisi sekarang, dengan kecenderungan tingkat suku bunga turun, produk investasi yang ramai dipilih adalah obligasi,” ujarnya.

Kendati demikian, setiap individu wajib mengetahui terlebih dahulu profil risikonya masing-masing. Jika profil risiko individu tergolong konservatif atau sensitif dengan berkurangnya nilai aset, instrumen yang memberikan imbal hasil atau keuntungan investasi tetap, seperti obligasi, deposito, serta reksa dana pendapatan tetap cenderung cocok.

Quote

Diversifikasi sesuai dengan profil risiko tetap perlu dilakukan, guna meminimalkan risiko. Istilah ini dikenal dengan ”dont put your eggs in one basket”. Artinya, jangan mengalokasikan seluruh investasi di satu instrumen, melainkan membaginya ke berbagai jenis instrumen sesuai dengan profil risiko.

Sebaliknya, profil risiko individu yang tergolong agresif atau mencari keuntungan tanpa khawatir nilai asetnya berkurang, cenderung cocok dengan instrumen yang berfluktuasi. Di tengah volatilitas pasar saham dan nilai tukar, pilihannya adalah berinvestasi di pasar saham dan reksa dana campuran.

Dalam praktiknya, Vera menyarankan, diversifikasi sesuai dengan profil risiko tetap perlu dilakukan guna meminimalkan risiko. Istilah ini dikenal dengan ”dont put your eggs in one basket”. Artinya, jangan mengalokasikan seluruh investasi di satu instrumen, melainkan membaginya ke berbagai jenis instrumen sesuai dengan profil risiko.

Di sisi lain, perlu juga untuk mempertimbangkan alokasi ke dalam instrumen tabungan atau deposito yang memiliki jangka waktu pendek dan likuid. Prinsipnya, dana minimal yang harus dialokasikan sebesar enam kali pengeluaran bulanan agar bisa diambil sewaktu-waktu ketika dibutuhkan.

Paparan oleh Head of Deposit and Wealth Managenent UOB Indonesia Vera Margaret (tengah) dalam acara Media Literacy Circle bertajuk "Investasi via Digital, Strategi Kelas Menengah di Tengah Biaya Hidup Tinggi dan Gejolak Pasar", di Jakarta, Selasa (11/3/2025). Literasi keuangan juga dapat mencegah situasi keuangan yang buruk terutama saat menghadapi darurat keuangan

Menurut Chief Economist UOB Enrico Tanuwidjaja, prinsip dasar berinvestasi harus jelas dan tidak sekadar mengikuti arus yang sedang ramai. Di tengah kondisi pasar yang bervolatilitas tinggi, penting untuk menjaga pokok nilai aset.

”Carilah investasi yang pokoknya dijaga saat volatile dan harus lakukan verifikasi dengan mengetahui konsep dasar. Aset berimbal hasil lebih baik dibandingkan spekulasi. Tabungan atau deposito stagnan, tapi aman. Obligasi, dia bisa naik turun, tapi ada capital gain, ada return juga dari kupon,” ujarnya.

Sementara itu, Chief Digital Business Officer Bank Jasa Jakarta (Bank Saqu) Angela Lew Dermawan berpendapat, emas menjadi instrumen investasi yang paling aman dan telah teruji sejak lama. Masyarakat dari berbagai kalangan, baik menengah maupun atas, dapat memanfaatkan instrumen tersebut.

”Menurut saya, investasi harus jangka panjang dan kalau memang mau berinvestasi di saham pun boleh, tetapi saham-saham yang bluechip. Setiap investasi ada risikonya, tetapi kalau memang yang paling aman dan jangka panjang, selalu emas kembali,” katanya saat ditemui di Jakarta, Kamis (13/3/2025).

Di tengah awan mendung yang menggelayuti perekonomian, penting bagi warga kelas menengah untuk mengantisipasi berbagai risiko. Selain mulai dengan budaya menabung, tidak ada salahnya kelas menengah mulai berinvestasi untuk melindungi nilai aset atau bahkan meningkatkannya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Aris Prasetyo