Ritual Sederhana dan Kesadaran Bersama Pascabanjir di Bali

Daerah tujuan wisata internasional bisa luluh lantak seperti itu, sudah pasti gambar dan beritanya menyebar ke berbagai penjuru dunia.

14 Sep 2025 11:00 WIB · Artikel Opini

Oleh GPB Suka Arjawa

Banjir di Bali beberapa waktu lalu merupakan banjir terbesar yang pernah terjadi sampai saat ini. Jumlah kerusakan yang ditimbulkan, korban tewas akibat bencana ini dan kejadiannya demikian mendadak, mengejutkan banyak pihak.

Daerah tujuan wisata internasional bisa luluh lantak seperti itu, sudah pasti gambar dan beritanya menyebar ke berbagai penjuru dunia. Bagaimanapun  hal ini telah menyesakkan masyarakat dan pejabat Bali.

Kalau dilihat dari fakta pembangunan pariwisata yang ada boleh dikatakan peristiwa ini tidak mengejutkan. Pembangunan di Bali, di antaranya Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan terkesan ”sadis”.

Pariwisata memang menjadi induk, tetapi sampingannya adalah wujud pembangunan perumahan dan akomodasi yang menggerus sawah, ladang, pinggiran sungai, tebe (bagian belakang rumah tradisional yang berfungsi sebagai pembuangan), sampai jurang. Semuanya tidak lepas dari efek pariwisata ini.

Wilayah yang dulu dipandang ”angker” kini berubah frontal jadi obyek dagangan dan berdamai dengan wisata. Air yang seharusnya tertahan tersimpan di tanah tiba-tiba langsung tercurah ke sungai. Tanah yang sebelumnya padat terjaring akar, menjadi keropos dan mudah longsor.

Hanya dalam waktu setengah abad sejak diresmikannya bandara internasional Ngurah Rai sebagai pendukung pariwisata internasional tahun 1971, wajah Bali berubah dari padi menghijau-kuning menjadi belantara beton, dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri. Akan tetapi, budaya yang dihidupkan seolah ”dipaksakan” agar tetap agraris [di mana penjajah Belanda mempunyai konstribusi di sini segera setelah peristiwa Puputan Badung (1906) dan Klungkung (1908). Belanda mendapat kecaman internasional akibat dua peristiwa tragis tersebut]. Inilah yang menjadi persoalan sosial pada masyarakat Bali modern yang harus segera dipecahkan.

Dengan melihat fenomena masifnya pembangunan perumahan, akomodasi perhotelan, sikap masyarakat, dan iklim yang sudah berubah, memerlukan tantangan yang sangat besar (bahkan sulit) bagi masyarakat untuk menghindari banjir seperti ini di masa mendatang. Namun, banjir besar yang melanda Bali beberapa hari lalu memerlukan terapi agar masyarakat mampu mempersiapkan diri di hari-hari mendatang.

Petugas Pemerintah Kota Denpasar, Bali, merobohkan rumah toko di Jalan Sulawesi yang rusak diterjang banjir bandang Sungai Badung di belakangnya, Jumat (12/9/2025). Setidaknya 2.000 pedagang Pasar Kumbasari, Pasar Badung, dan pertokoan serta perniagaan di sekitar Sungai Badung terdampak banjir bandang yang merusak kios usaha serta sebagian komoditas dagangan mereka.

Ritual

Ritual merupakan terapi pertama yang mesti digelar. Bagaimanapun, mayoritas masyarakat penganut agama Hindu Bali. Dan banjir yang terjadi itu mengejutkan semua pihak, tidak hanya masyarakat Bali juga seluruh Indonesia.

Ritual bukan saja bermakna persembahan, melainkan ia mempunyai fungsi dan manfaat sebagai pembangun keseimbangan jiwa bagi penganut Hindu Bali. Dan yang sering tidak terlihat (dilupakan) adalah bahwa ritual itu mengandung bentuk tanggung jawab dan kesadaran diri. Yang terakhir ini yang harus diperhatikan.

Sebagai sebuah tindakan sosial, ritual melibatkan sesajian yang dalam konteks Hindu Bali disebut banten. Ia memuat berbagai unsur simbolis yang sesungguhnya merupakan kalimat ditujukan kehadapan Tuhan. Keagungan Tuhan, permintaan maaf (atas keteledoran), permintaan tolong (atas musibah yang terjadi), keyakinan untuk sehat, dan tekad mengubah sikap serta memperbaiki kondisi, semuanya tersusun rapi secara maknawi di dalamnya.

Banten sesungguhnya tersusun dengan komposisi yang sangat sederhana, tetapi kebesaran dari sebuah banten itu termanifestasi dalam kalimat, doa yang diucapkan, dan praksis yang dilakukan masyarakat. Artinya, hasil itu akan tercapai apabila tindakan yang dilaksanakan sesuai dengan apa yang diucapkan pada saat mebanten atau melafalkan kalimat saat berdoa. Jadi, wujud banten tidak besar dan tidak harus besar-besaran.

Sering kali hal ini dilupakan dan tidak dimengerti, bahkan oleh umat Hindu Bali sendiri. Ketidakmengertian inilah yang kemudian menjelma menjadikan banten dan ritual itu diwujudkan ke dalam seremonial yang besar bahkan teramat besar, sesuatu yang secara religiositas tidak perlu sama sekali. Jika dilihat secara lebih dekat, seluruh sarana banten terkomposisi dari buah-buahan atau hasil bumi atau segala yang ada di bumi dan ungkapan simbolis Tuhan Yang Maha Esa.

Simbolisasi dari keagungan Tuhan diungkap lewat warna merah (Pencipta), hitam (Pemelihara) dan putih (Pelebur). Maka kearifan lokal Bali memilih bunga dengan kombinasi warna ini dirangkai dalam satu wadah yang disebut dengan canang sari (inti). Inilah yang ditempatkan paling atas dalam satu komposisi banten. Selanjutnya, di bawahnya adalah hasil bumi yang merupakan simbolisasi syukur atau pertanggungjawaban kepada Tuhan atas kehidupan sosial. Itu saja dan sesederhana itu sesungguhnya ungkapan manusia kepada Tuhan.

Demi memenuhi tuntutan batin dan psikologis, kearifan tradisional Bali kemudian menyebutkan berbagai nama banten seperti banten tulung sebagai simbol untuk meminta tolong, banten tebasan untuk permintaan maaf, banten penyeneng untuk meyakinkan kesehatan diri atau banten pejati untuk memesankan keyakinan diri akan bersikap positif, apa pun sikap positif itu. Semua tersusun dari canang sari dan kemudian buah-buahan atau hasil bumi yang kemudian dapat dikalimatkan dengan muaranya adalah sebuah praksis.

Sesaji atau dikenal dengan banten yang akan didoakan dalam upacara Melasti di pantai Samuh, Badung, Bali, Minggu (19/03/2023).

”Teori” dan ungkapan tersusun dari kalimat yang diujar saat menghaturkannya harus sesuai dengan sikap dan tindakan yang dilaksanakan. Keberhasilan banten adalah praksisnya: tindakan berdasarkan apa yang kita ucap. Banten sangatlah sederhana dan menjadi ciri dari kehinduan Bali. Sekali lagi tidak perlu besar dan dibesar-besarkan. Tuhan tidak memerlukan hal seperti itu.

Maka begitu ritual itu diselenggarakan dengan sarana banten sederhana seperti yang diungkapkan di atas, ujaran aliran doa yang muncul sudah seharusnya memohon maaf, memohon pertolongan, kesehatan, tekad untuk berubah, dan seterusnya. Di sinilah keseimbangan jiwa akan tercapai karena permohonan dan pengakuan sudah diungkapkan kepada Tuhan.

Semua doa pastilah mengandung hal seperti itu. Tetapi, keyakinan diri dan janji tanggung jawab untuk melangkah dan memperbaiki sikap, sering kali terlupakan. Padahal, praksis banten (dan doa) adalah tanggung jawab itu. Mencegah bencana alam ada pada praksis doa tersebut. Dan dalam konteks Hindu Bali itu ada pada doa yang diungkapkan dalam simbol banten pejati.

Membebaskan Bali

Dengan menyadari makna kearifan lokal simbolisasi banten itu maka partai politik berhentilah mencampuri pejabat di pemerintahan agar pejabat bersangkutan dapat bertanggung jawab lebih besar untuk membuat kebijakan prorakyat bukan propartai. Para pejabat kurangilah hadir dalam peresmian sebuah proyek agar dapat lebih mencurahkan pikiran kepada perbaikan nasib rakyat. Para pemborong berjanjilah tidak serakah dan berani menolak borongan yang menggerus sawah atau jurang, para memilik persewaan alat berat harus berani menolak menyewakan alatnya apabila itu digunakan untuk mengeruk gunung.

Mereka yang mempunyai usaha galian C, jangan rakus mengeruk pasir pinggiran gunung, para pengunjuk rasa berhentilah bersikap beringas agar bangunan tidak hancur, demikian seterusnya. Doa dalam simbol banten pejati itu juga mengandung kesadaran, tanggung jawab bersama, dan memelihara lingkungan di mana pun adalah tanggung jawab bersama. Membebaskan Bali dari banjir juga memerlukan tanggung jawab dan kesadaran bersama.

Bencana alam banjir yang terjadi di Bali beberapa waktu lalu pasti mengejutkan semua pihak termasuk juga yang tidak terkena banjir. Dengan laju perkembangan pariwisata yang demikian pesat seolah tidak terkendali ini, mereka tetap mempunyai kekhawatiran terhadap bencana serupa terulang di kemudian hari. Terapi awal berupa ritual yang harus dilakukan untuk ”mengobati” masyarakat ini, sekali lagi, bukan yang mewah besar-besaran.

Masyarakat Bali saat ini boleh dikatakan sedang ”sakit”, mereka terkejut dan khawatir akan terjadi potensi banjir yang sama di masa mendatang mengingat alih lahan dan pembangunan itu demikian sudah tidak tertata dengan baik. Dengan kondisi begitu, sangatlah tidak elok jika kemudian memerintahkan masyarakat, misalnya setiap banjar, desa atau keluarga, mengadakan caru (upacara korban) besar-besaran di setiap wilayahnya.

Aksi unjuk rasa damai berlangsung di kawasan DPRD Provinsi Bali, Kota Denpasar, Selasa (21/6/2022). Pengunjuk rasa mendesak DPRD dan Pemprov Bali agar menghentikan rencana pembangunan terminal LNG di kawasan mangrove Tahura Ngurah Rai, Kota Denpasar.

Para elite agama dan pejabat seharusnya mengerti bahwa setiap perintah melaksanakan ritual akan diterjemahkan berbeda pada masyarakat lapisan bawah. Dan setiap penerjemahan yang berbeda itu akan menyita waktu, tenaga, biaya dan tempat untuk setiap ritual.

Ini berarti kesempatan masyarakat untuk bekerja (sebagian untuk memperbaiki rumahnya yang rusak karena banjir) akan berkurang, bahkan hilang semata-mata karena harus bekerja sama untuk ritual itu. Mereka sudah ”sakit” sangatlah tidak elok apabila diberikan tugas atau perintah seperti itu lagi.

Sudah bukan saatnya lagi masyarakat terbebani oleh ritual yang demikian besar, dan sudah saatnya masyarakat untuk lebih terkosentrasi bekerja lebih fokus di tengah arus globalisasi yang demikian kentara di Bali. Tidaklah etis kalau kemudian membuat ritual besar-besaran dengan alasan demi pariwisata apalagi kemudian ritual seperti itu menjadi tontonan wisatawan.

Semoga dengan penyederhanaan ritual itu dapat mengobati psikologis masyarakat akibat bencana dan semoga dapat lebih berkosentrasi untuk bekerja.

GPB Suka Arjawa, Guru Besar Sosiologi Agama FISIP, Universitas Udayana


Kerabat Kerja

Penulis:

GPB Suka Arjawa
 | 

Editor:

Yohanes Krisnawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase