”Roller Coaster” Iga Swiatek pada Musim 2025

Iga Swiatek mengakhiri WTA Tour 2025 tanpa gelar dari Final WTA. Dia menempati ranking kedua dunia, tetapi performanya menurun dibandingkan tiga tahun sebelumnya.

06 Nov 2025 12:54 WIB · Olahraga

AP Photo/Fatima Shbair

Oleh Yulia Sapthiani

Meskipun masih memiliki agenda untuk bermain dalam kejuaraan beregu putri Piala Billie Jean King, fase play-off, Iga Swiatek telah mengakhiri perjalanan pada persaingan WTA Tour 2025. Langkahnya selesai lebih cepat dibandingkan atlet lain, yang masih memiliki peluang juara, karena tersingkir pada penyisihan grup.

Kekalahan dari Amanda Anisimova dengan skor 7-6 (3), 4-6, 2-6 di King Saud University Indoor Arena, Riyadh, Arab Saudi, Rabu (5/11/2025), membuat Swiatek dipastikan tersingkir dari turnamen akhir musim tersebut. Final WTA hanya diikuti delapan petenis terbaik berdasarkan penampilan mereka sepanjang 2025.

Swiatek gagal lolos ke semifinal karena hanya menempati peringkat ketiga Grup Serena Williams dari empat peserta. Dia berada di bawah Elena Rybakina dan Anisimova, dua peringkat teratas, yang berhak melanjutkan perjalanan ke semifinal. Swiatek menempati posisi tersebut setelah dua kali kalah (dari Anisimova dan Rybakina) dan hanya menang atas Madison Keys.

Dua semifinalis lain, yaitu dari Grup Steffi Graf, ditentukan melalui dua pertandingan pada Kamis malam, antara Aryna Sabalenka dan Cori ”Coco” Gauff serta Jessica Pegula melawan Jasmine Paolini. Dari pertandingan yang telah mereka jalani, Sabalenka memimpin dengan dua kali menang, diikuti Coco, Pegula, dan Paolini.

Hasil yang didapat Swiatek dari Final WTA 2025 sama seperti tahun sebelumnya. Namun, bagai trek roller coaster, perjalanannya pada musim diwarnai lebih banyak tanjakan dan turunan.

Iga Swiatek mengembalikan bola saat bertanding melawan Amanda Anisimova pada turnamen Final WTA di Riyadh, Arab Saudi, Rabu (5/11/2025).

Catatan performa yang menurun setidaknya bisa terlihat dari statistik perbandingan menang-kalah dalam empat musim terakhir. Musim 2025, dengan 62 kali menang dan 17 kali kalah (78 persen), yang menghasilkan tiga gelar juara, menjadi persentase terburuk dibandingkan 2022-2024.

Pada 2024, Swiatek juga berada di bawah Sabalenka dalam daftar peringkat dunia pada akhir tahun, tetapi masih bisa menjuarai lima turnamen. Dia mencatatkan hasil 64 kali menang dan 9 kali kalah (88 persen).

Masa terbaik Swiatek, yang bersaing di arena tenis profesional sejak 2016, ada pada 2022 dan 2023. Dia mendominasi persaingan 2022 dengan 88 persen kemenangan dan 8 gelar juara. Adapun pada 2023, petenis Polandia ini menjuarai enam turnamen dengan 86 persen kemenangan. Konsistensi performa pada level atas diwakili juga oleh statusnya sebagai petenis ranking teratas dunia pada akhir 2022 dan 2023.

Pada 2025, Swiatek tak hanya mengalami kesulitan pada turnamen Final WTA. Tanda kesulitan telah terlihat sejak awal tahun, termasuk saat memasuki persaingan di lapangan tanah liat yang biasanya menjadi zona nyaman petenis berusia 24 tahun itu. Dia tak bisa menembus final pada empat turnamen, dalam rentang April-Juni, dan gagal mempertahankan gelar juara pada ajang besar: WTA 1000 Madrid, Roma, dan Grand Slam Perancis Terbuka.

Asa muncul di lapangan rumput yang justru sering menjadi tembok tebal yang sulit ditembus Swiatek. Dia mencapai final WTA Bad Homburg dan menjuarai Wimbledon. Gelar itu menjadi yang pertama dalam rentang setahun setelah menjuarai Perancis Terbuka 2024.

FILE - Poland's Iga Swiatek holds the trophy after winning the women's final of the French Open tennis tournament against Italy's Jasmine Paolini at the Roland Garros stadium in Paris, France, June 8, 2024. (AP Photo/Thibault Camus, File)

Dengan trofi juara berbentuk piring dari Wimbledon, Swiatek memperoleh enam gelar Grand Slam. Penggemar Rafael Nadal ini menjadi petenis aktif kedua dengan gelar Grand Slam terbanyak setelah Venus Williams yang mempunyai tujuh gelar.

Setelah Wimbledon, performanya kembali turun-naik saat persaingan digelar kembali di lapangan keras. Dia menjuarai WTA 1000 Cincinnati, tetapi kalah pada perempat final Grand Slam Amerika Serikat Terbuka.

Pada Tur Asia, Swiatek menjuarai WTA 500 Seoul, lalu tersingkir pada babak keempat WTA 1000 Beijing dan perempat final WTA 1000 Wuhan. Dia memanfaatkan jeda dua pekan untuk tampil di Final WTA dengan latihan intens di tanah kelahirannya, Warsawa, Polandia, tetapi dengan hasil tak sesuai harapan. Anisimova adalah petenis yang dikalahkan Swiatek di final Wimbledon dengan skor 6-0, 6-0.

Swiatek memiliki kelemahan yang makin jelas dan sering terlihat pada musim ini. Target tinggi dan sikap keras yang ditujukan pada dirinya sendiri menjadi bumerang. Petenis yang awalnya dikenal selalu bersikap tenang, karena didampingi psikolog sejak remaja, tak lagi bisa mengendalikan emosinya.

Berkali-kali dia melampiaskan kemarahan saat bertanding dengan berteriak hingga mengembalikan bola pada ball boy dengan cara memantulkan bola tersebut ke lapangan sekeras mungkin. Swiatek, yang tadinya menjadi ”darling” di lapangan, mendapat banyak hujatan dari penggemar tenis karena sikap emosionalnya itu.

Ekspresi Iga Swiatek saat laga lawan Amanda Anisimova pada turnamen Final WTA di Riyadh, Arab Saudi, Rabu (5/11/2025).

Ketika tak pernah memperlihatkan sikap negatif di lapangan pada 2022-2023, Swiatek ternyata bukannya tak merasakan tekanan. Pada 2023, dia bercerita pada Roger Federer tentang tekanan petenis nomor satu dunia. Swiatek takut kehilangan posisi tersebut sehingga kesulitan mengarahkan fokus hanya pada pertandingan.

Pada tahun ini, Swiatek bagai kehilangan kendali meski dia memiliki sisi positif sejak didampingi Wim Fisette (mantan pelatih Naomi Osaka), pada Oktober 2024. Swiatek menilai, dia bisa bermain lebih solid di lapangan berkarakter cepat, salah satunya di lapangan rumput, juga memiliki servis yang lebih baik.

”Musim ini diwarnai lebih banyak momen naik-turun dalam konteks hasil turnamen. Meski mempunyai lebih banyak pengalaman, ada juga berbagai faktor yang menjadi tantangan baru dan saya harus beraptasi pada hal itu,” kata Swiatek, mengevaluasi dirinya pada 2025.

Becermin dari pengalaman sepanjang 2025, Swiatek akan mencoba pendekatan berbeda untuk musim berikutnya, terutama dalam menyusun agenda turnamen. Dia tak ingin terpaku pada turnamen yang wajib diikuti hingga memunculkan konsekuensi denda jika tak ikut serta.

”Saya akan menyusun agenda sesuai kebutuhan sendiri. Kita lihat, apakah cara itu bisa membuat mental saya baik-baik saja atau tidak karena saya akan melewatkan turnamen di saat petenis lain bertanding,” katanya.

(Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto