Israel menghabiskan 285 juta dollar AS setiap malam untuk menangkis rudal dan "drone" Iran. Israel merasakan pukulan langsung Iran.
19 Jun 2025 18:38 WIB · Internasional
Sudah sepekan Iran membalas serangan sepihak Israel. Kehancuran terlihat di berbagai penjuru Israel akibat rudal-rudal Iran meledakkan berbagai bangunan dan fasilitas. Israel sampai melarang warga menyiarkan rekaman kerusakan akibat rudal Iran.
Terbaru, pada Kamis dini hari, sebuah rudal Iran menghantam sebuah rumah sakit Soroka di Beersheba. Sebanyak 47 orang terluka, dan tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut. Rudal lain mengenai sebuah gedung bertingkat dan beberapa permukiman tak jauh dari Tel Aviv.
Teheran mengatakan, target utama yang mereka sasar adalah pangkalan militer dan kantor intelijen Israel. ”Target utama serangan itu adalah Pangkalan Komando dan Intelijen Angkatan Darat Israel dan Kamp Intelijen Angkatan Darat di Taman Teknologi Gav-Yam, yang terletak di sekitar Rumah Sakit Soroka,” kata Kantor Berita Iran, IRNA.
Iran menyebut, kerusakan yang dialami rumah sakit itu disebabkan oleh gelombang ledakan dari rudal yang diarahkan ke fasilitas militer Israel.
Militer Israel, Tzahal, menyatakan, Iran telah menembakkan sekitar 400 rudal balistik dan sedikitnya 1.000 drone sejak Jumat pekan lalu. Media Amerika Serikat, CNN, Kamis (19/6/2025), melaporkan, rudal-rudal Iran menyasar berbagai lokasi yang tidak bisa dilindungi sistem pertahanan udara berlapis yang dimiliki Israel.
Dalam laporan Rabu, The Washington Post mengutip media keuangan terkemuka Israel, The Marker, yang menyebut Israel menghabiskan 285 juta dollar AS setiap malam untuk menangkis rudal dan drone Iran. Kondisi itu membuat perang berkepanjangan dengan Iran tidak memungkinkan bagi Israel. Oleh karena itu, Israel perlu mengakhiri perang ini secepat mungkin.
Iron Dome menggunakan roket tamir untuk mencegat perangkat serangan musuh. Harga satuannya 50.000 dollar AS. Untuk menangkis pada jarak lebih jauh, Israel menggunakan Arrow-2 dan Arrow-3. Harga rudal Arrow-2 rata-rata 1,5 juta dollar AS dan Arrow-3 sampai tiga juta dollar AS.
Jika menggunakan arhanud di kapal-kapal perang AS, harganya lebih mahal lagi. Paling murah 10 juta dollar AS per unit. Padahal, menjatuhkan satu rudal atau pesawat nirawak tidak cukup dengan menembakkan satu atau dua roket dan rudal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/19/34cb5d1f350ece39070a285138c78d71-ISRAEL_IRAN_CONFLICT_130650680.jpg)
Media Iran, Mehr News, melaporkan, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyebut, Fattah, rudal hipersonik baru yang dikembangkan Iran, berulang kali berhasil menembus pertahanan udara Israel. Serangan itu merupakan hukuman bagi Israel sekaligus menjadi cara Iran mengirim pesan untuk AS.
”Serangan rudal malam ini menunjukkan bahwa kami telah mencapai kendali penuh atas langit di wilayah pendudukan, yang penduduknya tidak berdaya melawan serangan rudal Iran,” demikian pernyataan IRGC.
Dengan berhasil menghantam sejumlah sasaran militer di Tel Aviv dan sekitarnya, Iron Dome kebanggaan Israel digambarkan tidak berdaya. Rekaman yang diambil oleh kamera ponsel memperlihatkan warga Israel yang panik. Mereka berjalan di tengah reruntuhan bangunan yang rusak parah dihantam rudal Iran.
Angkatan Bersenjata Iran berjanji untuk ”membuka gerbang neraka” bagi Israel. Selain Tel Aviv, Iran juga menyasar Ashdod, Haifa, serta target lainnya. Serangan bertubi-tubi Iran dalam empat hari terakhir telah membuat ”kehidupan” di wilayah pendudukan Israel ”terhenti”. Warga Israel lebih banyak menghabiskan waktu mereka di tempat perlindungan. Pejabat Iran mengatakan, misi tersebut akan terus berlanjut selama diperlukan.
Media Iran lainnya, Tasnim, menulis konfrontasi Iran-Israel saat ini merupakan momen penting di mana teknologi, militer, dan konsep pencegahan sedang diuji. Ketika puluhan drone dan rudal balistik ditembakkan dari Iran menuju Israel dan Iron Dome, sistem pertahanan tercanggih di dunia, tidak dapat mencegatnya, muncul pertanyaan, apa yang terjadi?
Perang ini bukan lagi sekadar saling serang. Pertempuran antara Iran dan Israel ini merupakan ujian nyata atas kecanggihan teknologi militer kedua belah pihak, serta ujian atas doktrin perang mereka. Mungkin pertanyaan yang paling mendesak dalam konteks ini adalah: Apakah Iran terbukti mampu mengancam garis depan Israel dengan senjata yang efektif?
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/14/557c34ca-97ed-4d1a-9fda-8a9099a11339_gif.gif)
Respons Iran terhadap agresi Israel dimulai dengan peluncuran sekitar 100 drone Shahed-136 dan Shahed-238 untuk mengganggu sistem pertahanan Israel. Setelah Shahed dikerahkan, Iran segera menembakkan rudal balistik jarak menengah dan jarak jauh, di antaranya Shahab-3 dan Fateh-110, dan mungkin model yang lebih baru. Rudal-rudal ini mampu membawa hulu ledak seberat ratusan kilogram dan dapat menempuh jarak lebih dari 1.500 kilometer.
Israel mencoba melawan rudal Iran menggunakan sistem pertahanan berlapis termasuk Iron Dome, David's Slings, dan Arrow. Selain itu, Israel juga mendapat dukungan beragam sistem dari AS, seperti THAAD dan Patriot. Meskipun sistem tersebut berhasil mencegat banyak rudal Iran, sejumlah rudal lain, terutama rudal hipersonik Fattah, gagal mereka rontokkan.
Fakta itu memperlihatkan kerentanan taktis pada sistem pertahanan berlapis yang diterapkan Israel. Tasnim menulis, keampuhan rudal Iran ditutupi oleh media Israel dan sekutunya. Media-media Israel menyensor dampak serangan dan keunggulan rudal Iran.
Sebaliknya, media Israel, Times of Israel, melaporkan, polisi kini memburu siapa pun yang mengedarkan rekaman dampak serangan rudal Iran. Selain itu, media asing juga dilarang menyiarkan dampak serangan Iran jika materi laporan belum disensor Israel.
Drone Iran memiliki keunggulan signifikan di bidang peperangan asimetris. Drone lebih murah daripada rudal, dapat terbang di ketinggian rendah, dan sulit dideteksi dan dicegat oleh radar. Selain itu, meluasnya penggunaan drone membingungkan sistem pertahanan udara Israel dan mengurangi kemampuannya.
Taktik ”saturasi dan pengalihan perhatian” adalah istilah wajib yang digunakan untuk menggambarkan serangan terkoordinasi dan meluas yang bertujuan untuk mengalihkan perhatian sistem pertahanan udara musuh. Ini adalah taktik cerdas dalam perang modern dengan mengandalkan jumlah daripada kualitas. Pertahanan musuh jadi berantakan karena kewalahan saat berupaya melumpuhan serangan yang datang.
Ketika Iran menembakkan puluhan rudal secara bersamaan, tidak semua dari rudal itu ditujukan untuk mencapai sasaran. Serangan tersebut dilakukan untuk membanjiri ruang udara Israel sehingga menimbulkan kebingungan dalam sistem pertahanan udara Israel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/14/59c4e0f6-dac4-4164-ab04-27b66bd5add6_jpg.jpg)
Sudah diketahui umum bahwa beberapa drone lambat atau tidak akurat, tetapi mereka membingungkan radar. Israel terpaksa menggunakan rudal yang sangat mahal untuk mencegat drone, sementara pada saat yang sama Iron Dome tidak dapat mencegah penetrasi rudal yang lebih berbahaya atau lebih cepat yang mungkin tiba di gelombang berikutnya.
Drone lebih banyak digunakan sebagai alat untuk mengganggu pertahanan musuh daripada sebagai instrumen penghancur. Sebaliknya, rudal balistik memiliki daya rusak yang luar biasa. Rudal ini mampu membawa hulu ledak besar, terkadang beratnya ratusan kilogram, destruktif, dan memiliki efek strategis pada musuh.
Perang ini menunjukkan Iran membuktikan kekuatannya untuk memberikan pukulan langsung dan menghancurkan pada Israel. Di sisi lain, perang menunjukkan Israel bukanlah kekuatan dominan di kawasan tersebut sebagaimana kerap diklaim Tel Aviv.
Serangan ini juga membuktikan bahwa teknologi militer Iran tidak lagi hanya propaganda. Drone telah menjadi senjata pengacau strategis, dan rudal Iran membawa pesan yang kuat.
Perang ini adalah wujud doktrin berbeda. Israel mengandalkan konsep ”jangan menunggu ancaman, tetapi serang terlebih dahulu dan dengan kekuatan”. Agresi yang dilakukan Israel terhadap Iran juga didasarkan pada doktrin ini, dan rezim tersebut mengira akan mencapai tujuan yang diinginkannya dengan memberikan serangan besar, tetapi perhitungannya salah. Strategi gila yang diandalkan oleh Israel tidak pernah berhasil secara praktis, tetapi mereka masih bersikeras menggunakannya.
Sebaliknya, Iran mengadopsi pendekatan yang sama sekali berbeda. Iran tidak hanya membalas sekali, tetapi lebih pada respons bertahap, jangka panjang, dan berkelanjutan sesuai dengan tahap-tahap yang sangat efektif dalam mengikis pertahanan musuh. Respons Iran pertama kali dimulai dengan drone serang bunuh diri yang relatif murah. Setelah itu, Iran melancarkan serangannya dengan perhitungan yang cermat dan jumlah rudal yang diperhitungkan. Serangan itu, selain memukul lawan, juga menunjukkan validitas pembalasan Iran. (AP/AFP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto