Ukraina bisa memakai rudal jarak jauh untuk menyerang Rusia. Jika Ukraina memakai rudal itu, Rusia mengancam akan membalas. Ini akan memicu Perang Dunia III.
18 Nov 2024 20:00 WIB · Internasional
MOSKWA, MINGGU — Rusia menyesalkan keputusan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengizinkan Ukraina menggunakan rudal jarak jauh untuk menyerang wilayah Rusia. Keputusan AS itu akan memperparah perang Rusia-Ukraina, bahkan dapat memicu Perang Dunia III.
Kremlin, Senin (19/11/2024), menuding AS sengaja mengobarkan api dan memicu eskalasi ketegangan. Kremlin juga ”mengancam” akan ada konsekuensi yang lebih serius jika rudal jarak jauh itu betul-betul digunakan untuk menyerang Rusia.
”Jelas pemerintahan di Washington yang akan turun ini bermaksud mengambil langkah untuk mengipasi api dan memprovokasi eskalasi ketegangan,” kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, kepada wartawan di Moskwa.
”Jika keputusan semacam itu benar-benar dirumuskan dan diumumkan kepada rezim Kyiv, tentu ada putaran ketegangan dan situasi baru secara kualitatif dari sisi keterlibatan AS dalam konflik,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/18/16903fdcb41a0880a0a1b5f6382e8afe-AFP_36MP96U.jpg)
Hal senada diutarakan anggota senior majelis tinggi parlemen Rusia Dewan Federasi, Andrei Klishas, dan Wakil Kepala Pertama Komite Urusan Internasional Dewan Federasi Vladimir Dzhabarov. Keduanya menyatakan Rusia akan segera membalas.
”Ini langkah yang bisa mengarah ke Perang Dunia III,” kata Dzhabarov yang dikutip kantor berita Rusia, TASS.
Rusia terpaksa akan mengambil tindakan. Ketua Komite Urusan Luar Negeri Majelis Rendah Rusia Leonid Slutsky menegaskan, Rusia akan menanggapi dengan respons paling keras.
Peskov mengatakan, Presiden Rusia Vladimir Putin pada September lalu pernah mengatakan, jika AS mengizinkan Ukraina menyerang Rusia dengan rudal jarak jauh, itu akan mengubah sifat dan cakupan konflik. Jika sampai terjadi, Rusia meyakini itu bukan keputusan Ukraina semata, melainkan ada campur tangan dari negara-negara Barat yang memprovokasi Ukraina.
”Sasaran serangan tidak ditetapkan militer Ukraina, tetapi oleh negara-negara Barat. Itu mengubah modalitas keterlibatan mereka,” kata Peskov.
Pada Minggu, Biden memberikan izin kepada Ukraina untuk menggunakan senjata sistem rudal taktis tentara (army tactical missile system/ATACMs) yang dipasok AS untuk menghantam sasaran di dalam wilayah Rusia. Rudal ATACMs yang diproduksi Lockheed Martin adalah rudal balistik yang dirancang untuk diluncurkan dari sistem roket peluncur multilaras (MLRS) untuk menghantam target-target utama yang berada jauh di belakang garis depan. Contoh targetnya adalah gudang amunisi, markas besar, dan titik kumpul pasukan.
MLRS umumnya digunakan angkatan darat untuk melancarkan serangan artileri. ATACMs melaju dengan kecepatan supersonik dan mampu mencapai lokasi hingga 300 kilometer dan mengemas hulu ledak peledak seberat 227 kilogram. Rudal ini juga bisa membawa amunisi tandan yang terbuka di atas target untuk menyebarkan ratusan bom kecil.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/18/866d76c17a0e77c970e5fefd025c3a86-000_36ML6YX.jpg)
Selain AS, Perancis juga terbuka untuk mengizinkan Ukraina menggunakan rudal jarak jauh Perancis untuk menyerang target militer di dalam wilayah Rusia. Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Noel Barrot mengatakan, Presiden Perancis Emmanuel Macron terbuka untuk mempertimbangkan ”lampu hijau” penggunaan rudal Perancis untuk menyerang Rusia.
Perancis dan Inggris telah menyediakan rudal jarak jauh Storm Shadow dan SCALP untuk Ukraina. Namun, keduanya menahan diri untuk tidak mengizinkan penggunaannya di dalam wilayah Rusia tanpa persetujuan AS. ”Ini opsi yang akan kami pertimbangkan jika memungkinkan menyerang target di Rusia,” kata Barrot.
Di tengah perdebatan runcing tentang rudal jarak jauh AS, Menteri Luar Negeri Lituania Gabrielius Landsbergis mengingatkan untuk memastikan stok rudal yang dimiliki Ukraina. Sampai sekarang sebenarnya tidak jelas apakah Ukraina memiliki cukup rudal untuk mempertahankan diri jika mereka diizinkan menggunakannya guna menyerang wilayah Rusia.
”Kami belum tahu jumlah sebenarnya roket yang dimiliki Ukraina. Apakah mereka diberi cukup roket yang bisa membuat mereka unggul di medan perang,” ujarnya.
Keputusan AS mengizinkan Ukraina menggunakan rudal jarak jauh untuk menyerang Rusia merupakan tanggapan terhadap Korea Utara yang mengerahkan pasukan untuk membantu Rusia di Ukraina.
Informasi ini diperoleh dari pejabat AS yang tak mau disebutkan namanya. Dia mengonfirmasi laporan dari harian The New York Times dan The Washington Post tentang posisi AS yang mengizinkan Ukraina menggunakan rudal jarak jauh. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy telah lama mendorong perizinan dari AS untuk menggunakan rudal jarak jauh ATACMs.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/18/6809fdfc5d815ac7e7d0c83be29a81f0-000_36MP77Z.jpg)
AS, negara-negara Barat, dan Korea Selatan menuding Korea Utara mengirim sekitar 10.000 tentara untuk membantu Rusia melawan Ukraina. Sebagai balasannya, para ahli mengatakan, Kim sangat menginginkan teknologi canggih Rusia dan pengalaman tempur militer. Korut membantah pengerahan ribuan tentara itu.
Pemimpin Korut Kim Jong Un mengatakan, AS dan Barat memanfaatkan militer Ukraina sebagai ”pasukan kejut” untuk melawan Rusia dan berisiko memicu konflik global. ”AS dan Barat memanfaatkan konflik di Ukraina untuk memperluas intervensi militer mereka,” kata Kim.
Pada pekan lalu, Korut meratifikasi pakta pertahanan penting dengan Rusia. Kedua negara sekutu selama Perang Dingin itu meresmikan hubungan militer yang semakin erat. Korsel juga menginformasikan pasukan Korut sudah mulai terlibat dalam operasi tempur bersama pasukan Rusia di dekat perbatasan Rusia-Ukraina.
BBC, Senin (18/11/2024), menyebutkan, AS memberi izin kepada Ukraina untuk menggunakan rudal jarak jauh karena khawatir akan masa depan dukungan AS untuk Ukraina setelah presiden terpilih AS, Donald Trump, kembali ke Gedung Putih.
Biden tampaknya ingin melakukan semua yang dia bisa untuk membantu dengan waktu yang tersisa. Dalam pemikiran Biden, memperkuat posisi Ukraina secara militer dapat memberi Kyiv pengaruh dan posisi tawar lebih tinggi dalam perundingan perdamaian.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/04/25/049df7c3-8d2f-47d0-b63e-8a2c7dd76f85.jpg)
Dengan rudal ATACMs, Ukraina akan dapat menyerang target di dalam Rusia, kemungkinan besar awalnya di sekitar wilayah Kursk. Di Kursk, pasukan Ukraina menguasai lebih dari 1.000 kilometer persegi wilayah. Rusia dan Korut diperkirakan merebut kembali wilayah Kursk.
Ukraina kemungkinan menggunakan ATACMs untuk mempertahankan diri dari serangan itu dan menyerang pangkalan militer, infrastruktur, serta gudang amunisi Rusia.
Mengantisipasi serangan Ukraina, peralatan militer Rusia, seperti pesawat jet, sudah dipindahkan ke lapangan udara yang jauh dari perbatasan Rusia-Ukraina.
Namun, memindahkan peralatan militer lebih jauh dari garis depan akan menyulitkan pasukan Rusia. Pengiriman kebutuhan pasukan dan dukungan udara pasti akan butuh waktu lebih lama untuk sampai di tempat yang dibutuhkan. (Reuters/AFP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari