Bahrain akhirnya mengakui keterlibatan rudal Patriot AS dalam insiden ledakan di negara itu pada dua pekan lalu. Rudal itu diklaim berupaya mencegat ”drone” Iran.
23 Mar 2026 09:30 WIB · Internasional
AP
MANAMA, SENIN — Rudal Patriot Amerika Serikat terlibat dalam ledakan yang melukai puluhan warga di Bahrain pada 9 Maret 2026. Sebelumnya, AS mengklaim ledakan itu disebabkan oleh serangan pesawat tak berawak atau drone Iran.
Bahrain untuk pertama kali mengakui keterlibatan rudal Patriot AS dalam ledakan di kawasan Mahazza, Pulau Sitra, dua pekan lalu. Lokasinya berada sekitar 12 kilometer dari ibu kota Manama. Banyak industri yang berada di Mahazza, termasuk fasilitas minyak bumi.
Dalam sebuah pernyataan, Sabtu (21/3/2026), juru bicara Pemerintah Bahrain menyatakan, rudal tersebut berupaya mencegat drone Iran di udara. ”Kerusakan dan cedera yang diderita bukanlah akibat dari benturan langsung ke tanah dari (rudal) pencegat Patriot ataupun drone Iran,” tulis pernyataan tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/28/041c5ab45d6f7d5b6b4394c16234686a-TOPSHOT_BAHRAIN_IRAN_ISRAEL_US_CONFLICT_136526590.jpg)
Ledakan itu melukai 32 orang, termasuk anak-anak di lingkungan perumahan. Beberapa di antaranya bahkan mengalami luka serius. AS membantah tudingan yang menyebutkan rudal tersebut meleset dari target sehingga menimbulkan korban warga sipil.
Sejumlah warga merekam video ledakan tersebut. Dalam video yang diverifikasi oleh Reuters, terlihat puing-puing di sekitar rumah dan lapisan debu tebal di jalanan. Terdengar pula teriakan warga yang menggambarkan suasana mencekam.
Rudal Patriot merupakan sistem pencegat pesawat dan rudal jarak jauh utama AS. Rudal yang diproduksi oleh Raytheon, bagian dari RTX Corp, ini menjadi tulang punggung pertahanan udara AS dan sekutu. Bahrain dan AS mengoperasikan baterai (unit operasional kendali pertahanan) rudal Patriot di sekitar Teluk Persia.
Rudal ini menjadi andalan AS dalam menghadapi serangan drone Iran. Harganya 3 juta-4 juta dolar AS atau setara dengan Rp 50 miliar hingga Rp 68 miliar. Sementara itu, harga drone Shahed-136 yang digunakan Iran sekitar 20.000-50.000 dolar AS atau Rp 425 juta hingga Rp 850 juta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/05/ed773c0e181ff224e1bf28626c789482-20260305_NNN_Drone_Iran_mumed.png)
Bahrain dan sejumlah negara Timur Tengah lainnya terseret dalam perang AS dan Israel melawan Iran yang berlangsung sejak 28 Februari lalu. Sebagai balasan serangan AS dan Israel, Iran menyerang pangkalan AS dan aset AS lainnya di sejumlah negara Teluk. Salah satunya, Pangkalan Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama.
Analisis sejumlah peneliti mempertegas keterlibatan rudal Patriot AS dalam ledakan di Mahazza. Tiga peneliti yang dikonfirmasi Reuters, Sam Lair, Michael Duitsman, dan Jeffrey Lewis, menyimpulkan rudal itu kemungkinan diluncurkan dari baterai Patriot AS yang terletak sekitar 4 mil (7 kilometer) di barat daya Mahazza.
Para peneliti menganalisis video ledakan tersebut. Dalam video itu terlihat rudal Patriot melesat di langit malam pada ketinggian rendah dengan lintasan timur laut. Kemudian, rudal berbelok ke bawah dan menghilang dari pandangan. Kilatan cahaya di kejauhan tampak menandai ledakannya 1,3 detik kemudian.
Meskipun rudal Patriot itu diklaim digunakan untuk mencegat ’drone’ Iran, keselamatan warga sipil juga sangat terancam. Dalam beberapa kasus selama perang di Timur Tengah ini, pencegatan terhadap serangan ’drone’ juga mengancam fasilitas energi, seperti minyak dan gas alam.
Beberapa video menunjukkan kerusakan rumah-rumah di Blok 602 lingkungan Mahazza. Para peneliti melakukan geolokasi visual di daerah tersebut. Mereka kemudian menelusuri lintasan rudal dari blok itu ke lokasi yang dicurigai (berdasarkan citra satelit) sebagai baterai Patriot AS yang berjarak kurang dari setengah mil dari lokasi perekaman video di Riffa.
Analisis itu menyimpulkan baterai tersebut kemungkinan dioperasikan oleh AS yang menggunakan rudal Patriot untuk mempertahankan situs angkatan lautnya di Bahrain. Para peneliti menyebutkan, kemungkinan rudal itu diarahkan ke drone yang terbang rendah sehingga menyebabkan ledakan gabungan rudal dan drone.
”Jika kasusnya seperti ini, ini adalah upaya pencegatan yang tidak bertanggung jawab karena membahayakan nyawa dan rumah warga sipil di daerah permukiman,” tulis analisis tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/22/47876cb6-9470-41ee-a599-a2f9e1baf443.jpg)
Insiden ledakan ini menunjukkan kerentanan masyarakat sipil menjadi korban dalam perang. Meskipun rudal Patriot itu diklaim digunakan untuk mencegat drone Iran, keselamatan warga sipil juga sangat terancam.
Dalam beberapa kasus selama perang di Timur Tengah ini, pencegatan terhadap serangan drone juga mengancam fasilitas energi, seperti minyak dan gas alam.
Keterangan terbaru dari Pemerintah Bahrain dan analisis peneliti bertentangan dengan pernyataan Komando Pusat AS (Centcom) terkait insiden ledakan itu. Pada 9 Maret lalu, Centcom menyatakan ledakan itu merupakan serangan drone Iran yang melukai warga sipil.
Akan tetapi, baik AS maupun Bahrain belum memberikan bukti kuat terkait keterlibatan drone Iran. Selain itu, video-video yang beredar juga tidak merekam keberadaan drone dalam kejadian tersebut.
Ahli audio, Robert Maher, mengatakan, ia tidak mendengar suara drone atau rudal lain dalam video ledakan itu. Namun, tetap ada kemungkinan suaranya akan samar jika jaraknya lebih dari 4 mil dari tempat video tersebut diambil.
Kantor berita nasional Bahrain News Agency melaporkan, Angkatan Pertahanan Bahrain menyebutkan sistem pertahanan udaranya telah mencegat dan menghancurkan 145 rudal dan 246 drone sejak Iran mulai menargetkan negara itu pada 28 Februari. Masyarakat diimbau berhati-hati dan menjauhi lokasi yang rusak akibat serangan tersebut. (REUTERS)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra