Rupiah dan IHSG sama-sama kembali mengalami tekanan. Adapun rupiah tertekan seiring menguatnya dolar AS, sedangkan pasar modal belum mendapatkan kembali kepercayaan.
02 Feb 2026 14:03 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
JAKARTA, KOMPAS — Nilai tukar rupiah di pasar spot cenderung sedikit melemah ke kisaran level Rp 16.800 per dolar AS pada perdagangan Senin (2/2/2026) siang. Pelemahan ini seiring dengan menguatnya dolar AS terhadap mata uang utama global. Di sisi lain, pasar modal pun kembali berada di zona merah.
Mengutip data Bloomberg, posisi nilai tukar rupiah di perdagangkan pasar spot hingga Senin siang telah menembus ke Rp 16.809 per dolar AS. Angka ini melemah 0,14 persen dibandingkan penutupan pasar sebelumnya di level Rp 16.786 per dolar AS.
Pelemahan mata uang ”Garuda” ini seiring dengan menguatnya indeks dolar AS terhadap mata uang utama global (DXY) ke level 97,13 atau naik 0,14 persen. Kenaikan tersebut sejalan dengan ekspektasi pasar terhadap calon Ketua Dewan Gubernur Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh)
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, berpendapat, pasar memandang Warsh sebagai pilihan yang lebih akomodatif mendukung penurunan suku bunga (hawkish). Meski demikian, ia dinilai tiak seagresif calon lainnnya, sehingga meredakan kekhawatiran akan independensi The Fed.
”Investor terus mengharapkan satu kali pemotongan suku bunga Fed pada Juni dan satu lagi pada akhir tahun, kemungkinan pada Oktober 2026,” katanya secara tertulis, pada Senin (2/2/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/02/a94b3253cf4d3457dd3777bee4631f08-Screenshot_2026_02_02_125934.png)
Di sisi lain, selama Januari 2026, kinerja mata uang dolar AS mencatatkan penurunan sebesar 2 persen, terburuk sejak Juni 2025. Situasi ini dipengaruhi oleh perdagangan AS di tengah ketegangan geopolitik, perubahan kebijakan tarif, dan pelemahan yen Jepang.
Sebaliknya, berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah sepanjang Januari 2026 justru terdepresiasi 0,42 persen. Pelemahan ini, antara lain terjadi akibat tekanan arus modal keluar investor asing (outflow).
Kami memperkirakan kurs rupiah terhadap dolar AS akan bergerak kisaran Rp 16.725-Rp 16.810 pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data transaksi 26-29 Januari 2026 yang dirilis Bank Indonesia (BI), nonresiden mencatatkan jual neto sebesar Rp 12,55 triliun di pasar keuangan domestik. Ini terdiri dari jual neto sebesar Rp 12,40 triliun di pasar saham dan Rp2,77 triliun di pasar surat berharga negara (SBN), serta beli neto Rp2,61 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Kami memperkirakan kurs rupiah terhadap dolar AS akan bergerak kisaran Rp 16.725-Rp 16.810 pada perdagangan hari ini,” ujar Andry.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/20/c599aaf395f90db1e09faa4b6f4f18c0-20260120_H09_KID_IHSG_Kurs_Rupiah_mumed.jpg)
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan sesi I perdagangan Senin (2/2/2026) ditutup ke zona merah di level 7.858,4 atau turun 5,31 persen dibanding penutupan pasar sebelumnya.
Ekonom dan pakar kebijakan publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, berpendapat, angka tersebut bukan sekadar statistik pasar, melainkan sinyal keras belum pulihnya kepercayaan pasar. Padahal, sebelumnya, pemerintah menunjukkan konsolidasi antarlembaga.
Dalam rapat koordinasi, pemerintah menggulirkan wacana reformasi pasar modal. Salah satunya dengan menghadirkan Danantara Indonesia sebagai penopang sekaligus wujud dari kehadiran negara di pasar. Namun, pasar saham hari ini tetap jatuh.
“Masalahnya, pasar modal bukan hanya mendengar kata-kata. Pasar membaca arah. Dan, pada Senin pagi, arah itu belum cukup meyakinkan,” kata Achmad.
Sebelumnya, terjadi aksi jual besar-besaran di pasar modal dipicu oleh rilis Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menuntut transparansi dan tata kelola. Kejadian ini diikuti oleh mundurnya para pejabat keuangan di pasar modal mengundurkan diri, dengan alasan sebagai bentuk tanggung jawab moral.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
FX Laksana Agung Saputra