Pasar keuangan domestik menghadapi tekanan seiring keluarnya arus modal asing dari pasar keuangan domestik yang sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai Rp 69,5 triliun.
04 Jun 2026 11:53 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
JAKARTA, KOMPAS — Pasar keuangan domestik kembali bergejolak. Nilai tukar rupiah terus melemah hingga menembus batas psikologis di level Rp 18.000 per dolar AS. Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG melanjutkan penurunan hingga sempat ke level 5.600.
Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pagi melemah ke level Rp 18.027, melemah 0,34 persen dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya. Secara tahun kalender berjalan, rupiah telah terdepresiasi sebesar 8,08 persen.
Pada saat yang sama, IHSG pada sesi perdagangan pertama bergerak di kisaran 5.730,69 atau turun 3,54 persen dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya. Bahkan, IHSG sempat menyentuh level 5.655. Secara tahun kalender, IHSG tercatat sebagai indeks yang melemah paling dalam secara global, yakni mencapai 33,8 persen.
Adapun gejolak di pasar keuangan domestik ini terjadi seiring dengan keluarnya arus modal asing. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan dan Bursa Efek Indonesia, total arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai Rp 69,5 triliun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/03/531369dd685c169c55cfdb1d23e40f5c-20260603_H01_ADI_P2SK_mumed.png)
Senior Economist PT Samuel Sekuritas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi dalam analisisnya menilai, sentimen pasar Indonesia masih cenderung berhati-hati karena tingginya harga minyak, suku bunga yang tetap tinggi, risiko geopolitik, dan pelemahan rupiah terus menekan kepercayaan investor.
”Prospek jangka pendek Indonesia masih menantang karena risiko eksternal, tekanan nilai tukar, dan sentimen risk-off global dapat terus membebani pasar saham dan rupiah,” ujarnya.
Menurut dia, Indonesia masih memiliki potensi investasi jangka panjang. Namun, stabilitas pasar akan sangat bergantung terhadap kondisi makro yang lebih kuat, arah kebijakan yang lebih jelas, dan meningkatnya kepercayaan investor.
Pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, tetapi mempertanyakan kredibilitas Indonesia.
Di sisi lain, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyoroti, pelemahan pasar saham domestik di tengah catatan rekor beberapa bursa global cenderung dipengaruhi oleh sentimen pasar terhadap kredibilitas Pemerintah Indonesia.
”Pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, tetapi mempertanyakan kredibilitas Indonesia,” katanya dalam keterangan tertulis.
Setidaknya ada lima kekhawatiran utama yang mendominasi sentimen investor, yakni tata kelola dan kredibilitas kebijakan pemerintah pascaproyeksi negatif dari lembaga pemeringkat internasional, tekanan rupiah yang mendekati level Rp 18.000 per dolar AS, serta menyusutnya kelas menengah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/02/78ab2a32e63c35370b36a6b52dcf7092-20260602TOK21.jpg)
Pasar juga terus mencermati keluarnya arus modal asing yang terus berlanjut dan risiko kepemimpinan serta kebijakan komunikasi yang cenderung meningkat. Ditambah lagi, investor juga akan mencermati penilaian lembaga internasional terhadap bursa Indonesia.
”Fokus investor kini bergeser ke dua minggu paling krusial tahun ini. Pada 19 Juni akan berlangsung MSCI Global Market Accessibility Review dan FTSE Russell Global Equity Index Series Review, diikuti FTSE Rebalancing efektif 22 Juni serta MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni,” tuturnya.
Sebelumnya, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso menyampaikan, BI terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik. BI juga menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan.
Beberapa langkah telah BI lakukan, antara lain dengan membatasi pembelian valas secara tunai tanpa underlying maksimal menjadi 25.000 dolar AS per pelaku per bulan. Di sisi lain, BI turut mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral (local currency transaction).
”Stabilitas nilai tukar rupiah memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan. Untuk itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/07/df3be7b9-3370-43fc-9249-31902d8a82d2.jpg)
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar