BI kembali menahan suku bunga acuannya sebesar 4,75 persen mempertimbangkan tekanan di pasar keuangan.
19 Nov 2025 15:54 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
JAKARTA, KOMPAS — Bank Indonesia memutuskan tetap mempertahankan suku bunga acuannya sebesar 4,75 persen. Kebijakan ini diambil antara lain mempertimbangkan ketidakpastian di pasar keuangan global yang berisiko memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Keputusan tersebut disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada November 2025, Rabu (19/11/2025), secara daring. RDG turut mempertahankan suku bunga deposit facility sebesar 3,75 persen dan lending facility sebesar 5,5 persen.
”Berdasarkan asesmen menyeluruh, RDG BI pada tanggal 18-19 November 2025 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75 persen,” katanya.
Sebelumnya, pada RDG Oktober 2025, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya sebesar 4,75 persen. Selama 2025, suku bunga acuan tercatat telah dipangkas sebanyak lima kali dengan total 125 basis poin (bps).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/19/6b1aafa0cec518ba2f27e4e5b2af2017-Screenshot_2025_11_19_145839.png)
Dalam salah satu asesmennya, BI mencermati adanya ketidakpastian pasar keuangan global seiring arah suku bunga kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), yang cenderung berhati-hati. Adapun The Fed telah memangkas suku bunga acuannya pada Oktober 2025, dari 4-4,25 persen menjadi 3,75-4 persen.
Berdasarkan ekspektasi pasar, The Fed dipandang akan cenderung menahan suku bunga acuannya hingga akhir 2025. Ini dipengaruhi oleh dampak penerapan tarif terhadap inflasi, belum kuatnya pasar tenaga kerja, serta lumpuhnya pemerintahan AS (shutdown).
Akibatnya, aliran modal global yang cenderung mengarah ke komoditas emas dan aset keuangan AS (safe haven) pun terus berlanjut, sedangkan aliran modal ke negara berkembang (emerging market) terbatas di pasar saham.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah besarnya tekanan dari ketidakpastian global, Bank Indonesia menempuh langkah stabilisasi.
Pada 18 November 2025, nilai tukar rupiah pun berada di level Rp 16.730 per dollar AS atau melemah 0,69 persen dibandingkan akhir Oktober 2025. Pelemahan ini sejalan dengan pergerakan mata uang regional dan negara mitra dagang.
”Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah besarnya tekanan dari ketidakpastian global, Bank Indonesia menempuh langkah stabilisasi,” ujar Perry.
Langkah stabilisasi nilai tukar itu meliputi intervensi, baik transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/29/eb60699a20d405bbafa852e8d5862698-20250929TOK31.jpg)
Ke depan, BI akan terus mencermati ruang penurunan suku bunga acuan lebih lanjut. Ini sejalan dengan prakiraan inflasi 2025 dan 2026 yang terkendali dalam sasaran 1,5-3,5 persen serta kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Ekonom Senior dan Associate Faculty LPPI Ryan Kiryanto menilai, suku bunga acuan sebesar 4,75 persen telah mencerminkan arah kebijakan (stance) yang mendukung pertumbuhan (dovish) dan masih cukup akomodatif, baik untuk sektor perbankan maupun sektor riil.
”Jadi, tidak harus BI menurunkan BI Rate (suku bunga acuan) pada RDG BI pada November ini,” katanya.
Keputusan itu mempertimbangkan sentimen negatif masih menerpa rupiah yang terpantau masih tertekan atau melemah dalan sebulan terakhir. Selain itu, transmisi dari pemangkasan suku bunga acuan sebanyak 125 bps sepanjang tahun ke suku bunga perbankan masih berjalan lamban.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/22/61a8e3b70371f4cb05d0987d29743d4a-c.JPG)
Ia menambahkan, kredit yang masih tumbuh melambat sebesar 7 persen disebabkan oleh faktor permintaan kredit (demand loan). Sebaliknya, likuiditas perbankan masih cukup ample alias memadai, merujuk pada rasio likuiditas perbankan yang secara agregat masih longgar.
Ke depan, BI masih berpeluang untuk memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 4,5 persen pada akhir tahun. Namun, dengan syarat inflasi terkendali berkisar 1,5-3,5 persen, rupiah stabil, dan arus modal keluar melandai.
”Kerangka analitisnya bukan pada framing atau frasa BI harus menurunkan BI Rate karena semua bergantung pada perkembangan leading economic indicator terkini. BI punya kalkulasi sendiri di dalam menjalankan kebijakan moneter, khususnya melalui jalur suku bunga,” tutur Ryan.
Selain itu, ia turut memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan IV-2025 akan mencapai 5,3-5,4 persen secara tahunan dan sebesar 5-5,1 persen secara keseluruhan 2025. Selain pelonggaran moneter, capaian itu turut didukung oleh paket stimulus dan beragam insentif fiskal.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra