Rupiah Tertekan, BI Tahan Suku Bunga Acuan 5,75 Persen

Untuk ketiga kalinya, Bank Indonesia kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75 persen.

23 Apr 2025 15:28 WIB · Ekonomi

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Bank Indonesia kembali mempertahankan suku bunga acuannya sebesar 5,75 persen. Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya risiko ketidakpastian global yang menekan nilai tukar rupiah.

Demikian disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI April 2025 secara virtual, Rabu (19/3/2025). Dalam RDG itu diputuskan suku bunga deposit facility tetap sebesar 5 persen dan suku bunga lending facility juga tetap, yakni 6,5 persen.

”Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 22-23 April 2025 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen,” katanya.

Keputusan ini konsisten dengan upaya menjaga prakiraan inflasi 2025 dan 2026 tetap terkendali dalam sasaran 1,5-3,5 persen. Selain itu, langkah tersebut ditempuh untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar sesuai dengan fundamental di tengah makin meningkatnya ketidakpastian global, serta mendukung pertumbuhan ekonomi.

RDG BI April 2025

Adapun sejak pemotongan suku bunga acuan pertamanya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen pada awal 2025, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya sebesar 5,75 persen selama dua bulan berturut-turut pada Februari-Maret 2025.

Perry menambahkan, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran terus dioptimalkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Ke depan, BI juga akan terus mencermati ruang penurunan suku bunga acuan lebih lanjut.

”Ini mempertimbangkan stabilitas nilai tukar rupiah, prospek inflasi, dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Quote

Sikap BI adalah ’mixed policy’ (bauran kebijakan) sebagai kebijakan yang tepat, terukur, dan ’preemptive’, yaitu ’hawkish policy’ atau menahan suku bunga acuan untuk ’pro-stability’ dan ’dovish policy’ atau pelonggaran kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran yang ’pro-growth’.

Dihubungi terpisah, Ekonom Senior dan Associate Faculty LPPI Ryan Kiryanto berpendapat, arah kebijakan moneter sebaiknya diarahkan kepada stabilitas untuk menjaga nilai tukar rupiah di tengah kondisi perekonomian dan geopolitik global yang sedang tidak baik-baik saja.

Meski inflasi domestik relatif rendah, perkembangan kurs rupiah saat ini cenderung rentan (vulnerable) terhadap sentimen eksternal yang tidak kondusif. Dengan demikian, pilihan terbaik bagi BI untuk saat ini adalah tetap mempertahankan suku bunga acuannya sebesar 5,75 persen.

”Jadi, sikap BI adalah mixed policy (bauran kebijakan) sebagai kebijakan yang tepat, terukur, dan preemptive, yaitu hawkish policy atau menahan suku bunga acuan untuk pro-stability dan dovish policy atau pelonggaran kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran yang pro-growth,” kata Ryan saat dihubungi dari Jakarta.

Infografik-Perbandingan Kebijakan Tarif di Amerika Serikat *** Local Caption *** Infografik-Perbandingan Kebijakan Tarif di Amerika Serikat

Kebijakan tersebut diambil guna menghadapi kuatnya tekanan eksternal akibat ketidakpastian yang dipicu oleh perang tarif. Penundaan pengenaan tarif resiprokal oleh AS selama 90 hari sejak 9 April lalu justru memperpanjang ketidakpastian.

Menurut Ryan, stabilitas rupiah sangat penting bagi para pelaku usaha dalam rangka menyusun strategi dan mengembangkan bisnis. Dengan bauran kebijakan BI tersebut, industri perbankan dan sektor riil diharapkan tetap ekspansi secara terukur, hati-hati, dan terarah.

Senada, ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky, berpendapat, BI sebaiknya menahan suku bunga acuannya sebesar 5,75 persen pada RDG April 2025 dengan tetap melakukan intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar.

Meski data terkini menunjukkan tingkat inflasi masih berada di bawah rentang target BI sebesar 1,5-3,5 persen, tekanan deflasi yang terjadi saat ini cenderung bersifat temporer pascaberakhirnya program subsidi tarif diskon listrik pada Februari lalu.

Tingkat inflasi bulanan dan tahunan pada Maret 2025, masing-masing sebesar 1,65 persen secara bulanan dan sebesar 1,03 persen secara tahunan.  Sumber: BPS

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia mencatatkan inflasi umum sebesar 1,03 persen secara tahunan pada Maret 2025, meningkat dari deflasi sebesar 0,09 persen secara tahunan pada bulan sebelumnya. Ini menandai adanya akselerasi yang signifikan setelah inflasi cenderung melambat pada dua bulan pertama 2025.

Kondisi tersebut sebagian besar disebabkan oleh berakhirnya diskon tarif listrik 50 persen yang berlangsung selama Januari-Februari 2025. Ke depan, inflasi diprediksi akan meningkat secara perlahan seiring dengan berakhirnya berbagai skema subsidi tarif listrik dan angkutan udara untuk periode Idul Fitri.

”Mempertimbangkan mandat utama untuk menjaga stabilitas harga dan nilai tukar, BI saat ini dihadapkan pada tekanan besar di sisi nilai tukar,” kata Riefky saat dihubungi dari Jakarta.

Adapun tekanan terhadap nilai tukar cenderung masih akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang, seiring berlanjutnya ketidakpastian global yang dipicu tensi perang dagang. Risiko tersebut mendorong investor mengalihkan portofolionya ke aset safe haven sehingga memicu arus modal keluar dan depresiasi nilai tukar berbagai negara berkembang.

Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah selama sepekan terakhir hingga 22 April 2025 bergerak dalam kisaran Rp 16.800 per dollar AS atau melemah sekitar 4,9 persen secara tahun kalender berjalan.

Kinerja tersebut lebih buruk dibandingkan dengan beberapa mata uang negara berkembang di kawasan (peers) lainnya, seperti baht Thailand, peso Filipina, ringgit Malaysia, dan rupee India justru menguat terhadap dollar AS sejak awal tahun.

Infografik Nilai Tukar Per Dollar AS

Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra