KONDISI EKONOMI

Rupiah Terus Anjlok, Rakyat Kecil Makin Pesimistis pada Pemerintah

Pelemahan rupiah memicu kenaikan harga pangan dan elpiji. Warga serta pelaku usaha kecil mengaku makin pesimistis terhadap kondisi ekonomi.

08 Jun 2026 16:35 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/FABIO MARIA LOPES COSTA

Oleh Fabio Maria Lopes Costa

BANDUNG, KOMPAS — Nilai tukar rupiah terus melemah hingga sempat menembus level Rp 18.200 per dolar AS pada Senin (8/6/2026) siang. Pelemahan rupiah memicu kekhawatiran masyarakat karena berdampak pada kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok.

Mengutip data Bloomberg hingga pukul 13.00 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah ke level Rp 18.200. Pada pukul 15.00 WIB, rupiah sedikit menguat dan berada di level Rp 18.185 per dolar AS.

Pelemahan nilai tukar rupiah berdampak signifikan bagi pelaku usaha, khususnya di Jawa Barat yang menjual barang kebutuhan pokok dengan bahan baku impor.

"Harga barang kebutuhan pokok terus naik. Sementara upaya pemerintah untuk menstabilkan harga belum terlalu terasa hingga saat ini," kata Nani Kurnia (48), pedagang di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Jawa Barat.

Suasana di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (8/6/2026) . Harga minyak goreng kini menyentuh Rp 21.000 hingga Rp 24.000 per liter

Harga tepung terigu dan minyak goreng mulai naik dalam beberapa pekan terakhir. Harga terigu naik dari sekitar Rp 11.000 menjadi Rp 12.500 hingga Rp 13.000 per kilogram.

Adapun harga minyak goreng kini dijual Rp 21.000 hingga Rp 24.000 per liter. Harga tersebut jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng yang sebesar Rp 15.700 per liter.

Nani mengaku konsumen dari kalangan ekonomi menengah ke bawah paling terpukul oleh kenaikan harga bahan pokok. Mereka terpaksa mengurangi jumlah pembelian.

"Mereka tidak mampu lagi membeli satu liter minyak goreng. Sekarang banyak yang hanya membeli 200 mililiter sampai 400 mililiter," katanya.

Warga membawa paket dalam Pasar Murah Bersubsidi di Kantor Kecamatan Bantargebang. Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (4/3/2026). Satu paket dibeli Rp 70.000 dengan menunjukkan kupon atau undangan dan KTP. Satu paket berisi 5 kilogram beras premium, satu liter minyak goreng, satu kilogram gula pasir dan satu kilogram tepung terigu. Sebanyak 1.398 paket disediakan dalam pasar murah tersebut, sedangkan total paket yang disediakan oleh Pemerintah Kota Bekasi mencapai 19.417 paket selama bulan Ramadhan. Pasar Murah Bersubsidi tersebut diselenggarakan oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bekasi dalam rangka HUT ke-29 Kota Bekasi. Selain untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok selama Ramadhan, pasar murah tersebut juga menjadi bagian dari strategi pengendalian inflasi daerah.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
4-3-2026

Reni (60), warga Kelurahan Antapani Kulon, Kota Bandung, mengaku pesimistis terhadap kemampuan pemerintah mengatasi ketidakstabilan ekonomi. Sebab, masyarakat terus menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok.

"Belum ada tanda-tanda harga bahan pokok mulai stabil. Saya mulai kehilangan harapan kepada pemerintah," kata perempuan yang bekerja di salah satu perusahaan swasta tersebut.

Sementara itu, Edi (50), pedagang elpiji di kawasan Antapani, Kota Bandung, menuturkan bahwa harga elpiji nonsubsidi ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram juga mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.

Harga elpiji 12 kilogram naik dari sekitar Rp 215.000 menjadi Rp 255.000. Adapun elpiji 5,5 kilogram naik dari Rp 105.000 menjadi Rp 130.000.

Salah satu tempat penjualan gas elpiji nonsubsidi di daerah Antapani, Kota Bandung, Jawa Barat, pada Jumat (5/6/2026). Di tempat ini, penjualan satu tabung elpiji ukuran 12 kilogram mencapai Rp 255.000 dan elpiji 5,5 kilogram mencapai Rp 130.000.

"Para konsumen, terutama pelaku usaha kecil dan menengah, menjadi kelompok yang paling terdampak. Sebagian sudah kesulitan membeli elpiji ukuran 12 kilogram maupun 5,5 kilogram," katanya.

Mogok

Ketua Paguyuban Perajin Tempe dan Tahu Jawa Barat Muhammad Zamaludin menyatakan, para perajin tahu dan tempe, khususnya di sentra tahu Cibuntu, Kota Bandung, berpotensi menggelar aksi mogok produksi.

Di sentra tersebut terdapat sekitar 120 pengusaha tahu yang kini menghadapi lonjakan biaya produksi.

Menurut Zamaludin, langkah itu akan ditempuh apabila tidak ada upaya untuk mengatasi kenaikan harga kedelai yang terus melonjak akibat pelemahan nilai tukar rupiah.

Saat ini harga kedelai impor yang didatangkan dari Kanada dan Amerika Serikat telah mencapai Rp 11.000 per kilogram. Padahal, pada awal tahun harga kedelai masih berada di kisaran Rp 8.000 per kilogram.

"Kami tidak bisa terus berjualan jika harga kedelai tidak stabil. Pemerintah harus turun tangan untuk mengatasi masalah ini," katanya.

Ketua Paguyuban Perajin Tempe dan Tahu Jawa Barat Muhammad Zamaludin di tempat usahanya di Kota Bandung, Senin (2/3/2026).

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui bahwa kenaikan harga pangan menjadi persoalan yang perlu diwaspadai. Saat ini, tingkat inflasi Kota Bandung tercatat sebesar 0,3 persen, tertinggi di Jawa Barat.

"Inflasi dipicu oleh permintaan yang sangat tinggi, baik dari warga maupun pengunjung yang datang ke Kota Bandung. Salah satu penyumbangnya adalah sektor kuliner," kata Farhan.

Ia menegaskan, Pemerintah Kota Bandung berupaya memastikan pasokan bahan pangan meningkat agar harga kembali stabil.

"Kami juga melakukan peninjauan untuk memastikan tidak ada penimbunan di gudang-gudang bahan pangan, khususnya beras dan kedelai," ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fabio Maria Lopes Costa
 | 

Editor:

Irma Tambunan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Yuliana Karim