Perundingan Belum Mengarah pada Gencatan Senjata, Pertempuran Rusia-Ukraina Berlanjut

Perundingan putaran kedua masih jauh dari kesepakatan gencatan senjata. Pada saat yang sama, pertempuran di garis depan terus berlangsung sengit.

03 Jun 2025 11:18 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

ISTANBUL, SELASA — Putaran kedua perundingan Rusia dan Ukraina awal pekan ini di Istanbul belum mencapai banyak kemajuan. Kedua negara baru bersepakat untuk menukar 6.000 jenazah tentara yang tewas dalam perang yang telah berlangsung tiga tahun.

Saat perundingan berlangsung, pertempuran sengit terus berlanjut di garis depan. Laporan Kantor Berita Rusia, RIA, pada Selasa (3/5/2025) pagi waktu setempat menyebutkan, serangan Ukraina mengakibatkan wilayah Zaporizhia yang dikuasai Rusia kehilangan aliran listrik.

Perundingan pada Senin kemarin merupakan perundingan kedua bagi Rusia dan Ukraina. Sebelumnya, delegasi kedua negara sudah bertemu di Istanbul pada 16 Mei 2025.

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan memimpin perundingan kedua di Istana Ciragan, Istanbul. Delegasi Ukraina dipimpin oleh Menteri Pertahanan Rustem Umerov, sementara Delegasi Rusia dipimpin oleh Vladimir Medinsky, penasihat Presiden Rusia Vladimir Putin.

Dalam perundingan itu, kedua delegasi saling bertukar dokumen yang menguraikan peta jalan perdamaian mereka. Putaran kedua perundingan ini hanya berlangsung singkat, sekitar satu jam.

Menurut penjelasan delegasi Ukraina kepada The Associated Press (AP), Rusia mengajukan sejumlah persyaratan kepada Ukraina untuk mengakhiri pertempuran. Sejumlah syarat itu di antaranya, Rusia meminta Ukraina menarik pasukannya dari empat wilayah yang dianeksasi Rusia pada September 2022, tetapi tidak pernah sepenuhnya direbut.

Rusia mendesak Ukraina untuk menghentikan upaya mobilisasi dan membekukan pengiriman senjata dari Barat. Persyaratan ini sebelumnya juga disampaikan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Rusia juga meminta Ukraina menghentikan pengerahan kembali pasukan dan melarang kehadiran militer negara ketiga di wilayahnya. Selain itu, Rusia meminta supaya Ukraina membatalkan upayanya untuk bergabung dengan NATO, menetapkan batasan pada angkatan bersenjatanya, dan mengakui bahasa Rusia sebagai bahasa resmi Ukraina yang setara dengan bahasa Ukraina.

Rusia selanjutnya mengusulkan agar Ukraina mengakhiri darurat militer dan mengadakan pemilihan umum. Setelah terpilih pemimpin Ukraina yang baru, kedua negara dapat menandatangani perjanjian damai komprehensif yang akan membuat Ukraina bisa menyatakan status netralnya.

TOPSHOT - Head of the Ukrainian delegation and Ukraine's Defence Minister Rustem Umierov (L) speaks, flanked by Ukraine’s Deputy Foreign Minister Sergiy Kyslytsya (C), during a press conference after a second meeting of direct talks between Ukrainian and Russian delegations, at the Ciragan Palace, in Istanbul, on June 2, 2025. Ukrainian and Russian delegations have begun a second round of peace talks in Istanbul, where they are set to exchange plans for how they want to end the three-year war. (Photo by Adem ALTAN / AFP)

Menteri Pertahanan Ukraina Rustem Umerov mengatakan kepada wartawan, Kyiv membutuhkan waktu seminggu untuk meninjau dokumen berisi persyaratan gencatan senjata Rusia tersebut dan memutuskan tanggapan. ”Ukraina mengusulkan perundingan lebih lanjut pada tanggal antara 20 Juni dan 30 Juni,” kata Umerov.

Dari perundingan kemarin, delegasi kedua negara sepakat untuk menukar 6.000 jenazah tentara yang tewas dalam pertempuran selama tiga tahun terakhir. Kedua pihak juga akan membentuk komisi untuk menukar tentara yang terluka parah.

Secara terpisah, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dari Vilnius, Lituania, Senin, mengatakan, pembebasan tawanan perang baru sedang dipersiapkan dari pertemuan di Istanbul. Pembicaraan pada 16 Mei 2025 juga menghasilkan pertukaran tawanan. Sebanyak 1.000 tawanan dari kedua belah pihak dipertukarkan.

Zelenskyy menambahkan, Rusia menyatakan siap untuk gencatan senjata selama dua hingga tiga hari. Namun, menurut Zelenskyy, waktu tersebut hanyalah waktu yang dibutuhkan Rusia untuk mengumpulkan mayat-mayat dari medan perang, bukan gencatan senjata penuh.

”Saya pikir mereka bodoh karena inti dari gencatan senjata adalah untuk mencegah orang terbunuh sejak awal. Jadi, Anda dapat melihat pola pikir mereka, itu hanya jeda singkat dalam perang bagi mereka,” tambahnya.

Selain pembebasan tawanan, menurut Zelenskyy, delegasi Ukraina menyerahkan daftar sekitar 400 anak yang diculik Rusia. Namun, Rusia menanggapi dengan mengusulkan untuk mengembalikan sekitar 10 anak. Menurut Pemimpin Delegasi Rusia Vladimir Medinsky, anak-anak tersebut akan dikembalikan jika orangtua atau wali mereka dapat ditemukan.

Dari perang Rusia-Ukraina, pada 2023 Pengadilan Kriminal Internasional (ICJ) mengeluarkan surat perintah penangkapan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Komisioner Negara untuk Hak-hak anak Maria Lvova-Belova. ICJ menuduh Putin dan Lvova-Belova menculik anak-anak dari Ukraina.

A person holds a placard whilst listening to speeches following a Ukraine Solidarity Campaign march demanding 'Russia return Ukrainian children', in London on June 1, 2025. (Photo by JUSTIN TALLIS / AFP)

Belum ada kemajuan

Dari dua kali perundingan damai, para pejabat senior kedua negara menyatakan, perundingan masih jauh dari kesepakatan untuk tercapainya gencatan senjata. Sebelum terlaksananya dua perundingan itu, AS juga sudah menginisiasi perundingan untuk gencatan senjata.

Namun, sejauh ini upaya AS gagal. Ukraina menerima gencatan senjata yang diusulkan, tetapi Kremlin menolaknya.

Pertempuran tanpa henti antara Rusia dan Ukraina terus saja terjadi. Pertempuran menggagalkan tujuan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang dengan cepat.

Seminggu yang lalu Trump menyatakan ketidaksabarannya terhadap Putin saat Moskwa menggempur Kyiv dan kota-kota Ukraina lainnya dengan pesawat nirawak dan rudal untuk malam ketiga berturut-turut.

Meski belum ada kemajuan, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, fakta bahwa kedua belah pihak bertemu lagi pada Senin kemarin merupakan pencapaian tersendiri di tengah pertempuran sengit. ”Fakta bahwa pertemuan itu terjadi meskipun ada insiden kemarin merupakan keberhasilan penting tersendiri,” katanya dalam pidato yang disiarkan televisi.

Zelenskyy mengatakan, jika pertemuan Istanbul tidak menghasilkan apa-apa, itu jelas berarti sanksi baru yang kuat sangat, sangat dibutuhkan terhadap Rusia.”

Vladimir Medinsky (2nd from R), head of the Russian delegation, delivers a statement to the press after a second round of direct talks between Ukrainian and Russian delegations in Istanbul, on June 2, 2025. Russia proposed a partial ceasefire of "two to three days" at talks with Ukraine in Istanbul on June 2, Moscow's top negotiator Vladimir Medinsky said. (Photo by Yasin AKGUL / AFP)

Pertempuran sengit

Saat perundingan kedua berlangsung, pertempuran sengit terus berlanjut di garis depan. Kedua belah pihak saling menyerang wilayah satu sama lain dengan serangan mendalam.

Pasukan Rusia menembaki wilayah Kherson di selatan Ukraina. Serangan Rusia itu disebut menewaskan tiga orang dan melukai 19 lainnya, termasuk dua anak-anak.

Sementara Ukraina menyerang wilayah Zaporizhzhia yang dikuasai Rusia. Laporan Kantor Berita Rusia, RIA, pada Selasa pagi waktu setempat menyebutkan, serangan itu membuat wilayah itu kehilangan aliran listrik.

”Akibat penembakan oleh Angkatan Bersenjata Ukraina, peralatan bertegangan tinggi rusak di wilayah barat laut Zaporizhia,” RIA melaporkan, mengutip Yevgeny Balitsky, Kepala Administrasi Wilayah Zaporizhzhia yang dibentuk Rusia.

”Meski demikian, pemadaman listrik tidak memengaruhi pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia,” demikian laporan kantor berita TASS, mengutip seorang pejabat di pembangkit listrik tersebut.

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan Angkatan Udara Rusia menjatuhkan 162 pesawat nirawak Ukraina di delapan wilayah Rusia dalam semalam, serta di Semenanjung Krimea. Sementara Angkatan Udara Ukraina menyatakan, Pertahanan Udara Ukraina merusak 52 dari 80 pesawat nirawak yang diluncurkan Rusia.

Operasi Jaring Laba-laba

Menjelang perundingan kedua, Ukraina menggelar operasi jaring laba-laba pada Minggu (1/6/2025). Merujuk laporan BBC, Ukraina mengerahkan lebih dari 100 pesawat nirawak untuk menyerang lima pangkalan udara Rusia.

Serangan bertajuk ”Jaring Laba-laba” itu menargetkan pesawat pengebom jarak jauh berkemampuan nuklir milik Rusia. Ledakan dilaporkan terjadi di beberapa zona waktu di seluruh Rusia, mulai dari wilayah utara Murmansk di atas Lingkaran Arktik hingga di timur wilayah Amur. Semua wilayah itu berjarak lebih dari 8.000 km dari Ukraina.

Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi, serangan itu terjadi di lima wilayah Rusia. Kelimanya di Murmansk, Irkutsk, Ivanovo, Ryazan, dan Amur. Pesawat tempur yang rusak didapati di wilayah Murmansk dan Irkutsk, sementara di lokasi lain serangan ”drone” berhasil ditangkis.

Menurut Ukraina, 41 pesawat tempur pengebom strategis terkena serangan dan setidaknya 13 pesawat hancur. Dinas Keamanan Ukraina (SBU) menilai, Moskwa mengalami kerugian hingga 7 miliar dollar AS atas serangan itu. Namun, Moskwa belum mengonfirmasi kerugian pesawat selain mengatakan beberapa pesawat sudah rusak.

Kepala SBU Vasyl Maliuk menyatakan, pesawat-pesawat nirawak tersebut diselundupkan ke Rusia dengan cara menempatkannya di dalam kabin-kabin kayu. Kabin-kabin itu dipasang di bagian belakang truk dan disembunyikan di bawah atap. Pesawat nirawak itu dapat dilepas dengan kendali jarak jauh.

Truk-truk tersebut kemudian mendapat instruksi untuk mengarah ke lokasi-lokasi dekat pangkalan udara yang menjadi sasaran. Pengemudi truk tampaknya tidak menyadari muatan mereka. Kemudian, drone-drone itu diluncurkan dan diarahkan ke sasaran-sasaran mereka.

Kantor Berita Pemerintah Rusia, Ria Novosti, mewawancarai seorang pengemudi truk yang membawa pesawat nirawak itu. Ia mengatakan, ia dan pengemudi lainnya mencoba menjatuhkan drone-drone yang terbang keluar dari truk dengan batu.

Menurut laporan yang belum diverifikasi dan diunggah oleh saluran Telegram Rusia, Baza, para pengemudi yang truknya menjadi tempat lepas landas ”drone” semuanya menceritakan kisah serupa. Mereka mendapat pesanan dari pengusaha untuk mengirimkan kabin kayu di berbagai lokasi di seluruh Rusia.

This undated and unlocated handout picture, released on June 1, 2025 by the Security Service of Ukraine shows Head of Ukraine’s Security Service Vasyl Malyuk looking at a map showing a Russian military aircraft base, amid the Russian invasion of Ukraine. Ukraine said on June 1, 2025 it launched a "large-scale" attack against Russian military aircraft on the same day, hitting a base in eastern Siberia thousands of kilometres (miles) from its border, a source within the Ukrainian security services said. "Ukrainian security services are carrying out a large-scale special operation aimed at destroying enemy bombers far from the front, in Russia," the source said, adding more than 40 aircraft had been hit and a fire broke out the targeted Belaya air base, in eastern Siberia. (Photo by Handout / SECURITY SERVICE OF UKRAINE / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / SECURITY SERVICE OF UKRAINE" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Beberapa dari pengemudi truk mengatakan, mereka menerima instruksi lebih lanjut melalui telepon tentang tempat memarkir truk. Ketika mereka melakukannya, mereka terkejut melihat drone terbang keluar dari truk tersebut.

Dalam sebuah unggahan di media sosial pada Minggu malam, Presiden Zelenskyy mengatakan, 117 pesawat nirawak digunakan dalam serangan yang dipersiapkan dalam waktu satu tahun, enam bulan, dan sembilan hari. Zelenskyy menyebut operasi itu sebagai ”operasi brilian” yang akan tercatat dalam sejarah.

Upaya itu menghancurkan atau merusak berat hampir sepertiga armada pembom strategis Moskwa. ”Serangan yang rumit itu merupakan tamparan keras bagi kekuatan militer Rusia,” kata Maliuk yang memimpin perencanaan serangan.

Rusia mengatakan telah menahan orang-orang yang terkait dengan serangan tersebut. Sementara Zelensky menyatakan, ”Orang-orang yang membantu operasi tersebut sudah ditarik dari wilayah Rusia. Mereka sekarang aman.” (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .