Rusia-Ukraina Bertukar Tahanan di Tengah Keraguan Perdamaian

AS mengancam berhenti mendamaikan Rusia-Ukraina. Sementara UEA membantu pertukaran tawanan perang Rusia-Ukraina.

19 Apr 2025 11:46 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

KYIV, SABTU — Dengan mediasi Uni Emirat Arab, Rusia-Ukraina kembali bertukar tawanan. Pertukaran dilakukan di tengah keraguan atas peluang perdamaian. Keraguan muncul setelah Amerika Serikat mempertimbangkan meninggalkan upaya menengahi perang tersebut.

Dilaporkan Sky News, Rusia dan Ukraina akan saling membebaskan masing-masing 246 tawanan pada Sabtu (19/4/2025). Ini pertukaran lanjutan atas mediasi UEA. Sejauh ini, UEA telah membantu Rusia-Ukraina menukarkan 3.233 tawanan perang.

Pertukaran terjadi di tengah keraguan pada proses perdamaian yang ditengahi AS. Kepada Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mark Rutte, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut AS akan menghentikan peran sebagai penengah. Washington akan meninggalkan peran itu apabila Kyiv-Moskwa tidak segera menunjukkan tanda mau bersepakat.

”Kita tidak akan meneruskan upaya ini selama berpekan-pekan atau berbulan-bulan. Jadi, kita segera menentukan secepatnya bagaimana dan saya membahas dalam hitungan hari, apakah ini bisa atau tidak dilakukan dalam beberapa pekan mendatang,” kata Rubio.

Kalau kesepakatan tidak bisa terwujud segera, AS tidak mau terlibat. ”Saya pikir Presiden akan sampai pada titik harus berkata, kita sudah selesai,” ujarnya.

Quote

Cara mengakhiri perang adalah meningkatkan tekanan kepada Putin agar mau berunding lebih serius.

Memang, Presiden AS Donald Trump masih berusaha optimistis pada perundingan itu. Menurut dia, semua pihak serius dan tidak bermain-main dalam upaya mengakhiri perang.

”Sekarang, jika karena beberapa alasan, salah satu dari dua belah pihak membuatnya jadi sulit, kami akan menyebutnya bodoh. Kami tinggal melewati. Walakin, mudah-mudahan kami tidak perlu melakukannya,” kata Trump.

Ia menyebut, Rubio bertindak benar. Dinamika perundingan harus berubah. ”Kami mau melihat ini berakhir,” ujarnya.

Mantan Penasihat Dewan Keamanan Nasional AS Thomas Wright menyebut upaya Trump sudah benar. Trump menekan semua pihak agar mau segera berdamai. Meski demikian, ia tidak yakin Trump akan benar-benar bisa mengakhiri perang seperti dijanjikannya dulu.

Sebab, bagi Wright yang kini menjadi peneliti di Brookings Institution, Trump lebih banyak menekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Ukraina dibandingkan dengan ke Presiden Rusia Vladimir Putin. Kyiv dinilai harus memberi konsesi terlalu besar kepada Moskwa dan Washington.

AS cenderung setuju, sebagian wilayah Ukraina yang diduduki Rusia tidak dikembalikan. Di sisi lain, AS juga mau mendapat kendali penuh pengelolaan mineral Ukraina.

”Satu-satunya cara mengakhiri perang adalah meningkatkan tekanan kepada Putin agar mau berunding lebih serius. Cara itu adalah meningkatkan dukungan kepada Ukraina di medan perang,” kata Wright.

In this photo taken from video distributed by Russian Defense Ministry Press Service on Friday, April 18, 2025, the Russian BM-21 "Grad" self-propelled 122 mm multiple rocket launcher fires towards Ukrainian positions in Ukraine. (Russian Defense Ministry Press Service via AP)

Pernyataan Wright dikuatkan dengan paparan AS kepada sekutunya dalam pertemuan di Perancis. Dilaporkan Bloomberg, AS mengusulkan Rusia tetap dibiarkan menduduki wilayah Ukraina yang kini dikuasai Rusia. Selain itu, sanksi untuk Rusia dikurangi. AS juga mendukung usulan mengabaikan aspirasi Ukraina bergabung dengan NATO.

Seorang diplomat yang mengikuti pertemuan itu menyebut, Eropa menolak usulan tersebut. Eropa tidak akan pernah mengakui pendudukan Rusia atas wilayah Ukraina.

Bagi Eropa, hal yang harus dilakukan justru memberi jaminan keamanan kepada Ukraina. Dengan jaminan itu diharapkan Rusia tidak akan menyerbu Ukraina lagi.

Sementara Juru Bicara Kantor Kepresidenan Rusia Dmitry Peskov mengatakan, ada kemajuan pada proses perdamaian. Kesulitannya sekarang justru komunikasi Moskwa-Washington DC.

Rusia tetap terus berdialog dengan AS. Sembari menyelesaikan konflik, Rusia akan tetap mempertahankan kepentingannya.

Frustrasi

Pernyataan Peskov disampaikan setelah utusan khusus Trump, Steve Witkoff, mendatangi Rusia. Setelah lawatan itu, Witkoff mengaku frustrasi kepada Zelenskyy.

Sebab, Zelenskyy kembali menyebut AS menyebarkan cerita versi Rusia. Bagi AS, tudingan Zelenskyy itu tidak membantu upaya penyelesaian konflik.

Sejumlah pejabat di Departemen Luar Negeri AS menyebut, bukan cuma Witkoff yang frustrasi. Trump juga semakin kerap menunjukkan ketidaksabaran dan frustrasi pada proses itu.

Trump, kata para pejabat yang menolak identitasnya diungkap itu, mulai mempertanyakan apakah AS layak terus mengupayakan perdamaian itu. Sebab, Kyiv-Moskwa dinilai tidak serius berdamai.

Ukrainian rescuers stand inside a damaged apartment following a missile attack in Kharkiv on April 18, 2025, amid the Russian invasion of Ukraine. Russia kept up strikes on Ukraine unabated overnight, firing at least six missiles and dozens of drones at Ukraine, killing two people in the northeastern regions of Kharkiv and Sumy and wounding 70 others, officials said. (Photo by SERGEY BOBOK / AFP)

AS secara resmi memulai upaya mendamaikan Rusia-Ukraina pada akhir Februari 2025. Kala itu, delegasi AS-Rusia bertemu di Arab Saudi. Delegasi Ukraina datang walau tak berunding langsung dengan Rusia.

Sebelum itu, AS-Ukraina telah lebih dulu berunding beberapa kali. Selain soal perdamaian, Kyiv-Washington juga membahas hak pengelolaan mineral Ukraina oleh AS.

Dalam proses itu, akhirnya Kyiv-Moskwa sepakat pada gencatan senjata terbatas. Rusia-Ukraina akan berhenti menyerang fasilitas energi masing-masing selama beberapa waktu.

Sejak disetujui bulan lalu, kesepakatan belum kunjung diterapkan. Rusia-Ukraina tetap baku serang dengan rudal hingga pesawat nirawak berpeledak.

infografik Peta Cadangan Mineral Ukraina

Salah satu alasan Putin soal penundaan adalah siapa yang akan menyepakati perdamaian atau gencatan senjata di Ukraina. Masa jabatan anggota parlemen dan Zelenskyy seharusnya selesai tahun lalu. Karena sedang dalam keadaan darurat perang akibat serangan Rusia sejak Februari 2022, Ukraina tidak bisa menggelar pemilu.

Putin berkilah, kondisi itu membuat keabsahan kesepakatan dipertanyakan. Akibatnya, menurut Putin, pemimpin Ukraina ke depan bisa menyatakan tidak terikat pada kesepakatan buatan Zelenskyy. Ia khawatir, perang tidak akan benar-benar berhenti.

Trump marah atas pertanyaan Putin itu. Padahal, dia juga pernah mempertanyakan keabsahan Zelenskyy sebagai pemimpin definitif Ukraina.

Salah satu momentum pertanyaan itu terkait dengan kesepakatan mineral AS-Ukraina. Meski demikian, pada Kamis lalu, AS-Ukraina akhirnya menyepakati dokumen pertama kesepakatan itu.

Dilaporkan media Ukraina, Pravda, Kyiv-Washington menyepakati kerangka awal kerja sama. Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Pertama Perdana Menteri Ukraina Yuliia Svyrydenko meneken kesepakatan yang dinilai lebih baik bagi Kyiv.

Kerangka itu, antara lain, menetapkan, perundingan AS-Ukraina tidak akan menghilangkan isu keinginan Ukraina jadi anggota Uni Eropa. Kerangka itu akan mengaitkan perundingan dengan Memorandum Budapest 1994.

Dalam memorandum itu, Ukraina setuju melucuti seluruh senjata nuklir yang diwarisi Uni Soviet. Sebagai imbalannya, Ukraina akan mendapat jaminan keamanan.

(AFP/AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .