Pemerintah DKI Jakarta dituntut untuk dapat menyelesaikan kesejahteraan masyarakat, khususnya warga miskin kota, agar sejalan dengan cita-cita menjadi kota global.
15 Des 2024 06:37 WIB · Foto
Rusunawa Lokbin Rawa Buaya pada Sabtu (30/11/2024) siang tampak ramai tak seperti biasanya. Berbondong-bondong warga berdatangan dengan bawaan barang beserta map berisi berkas-berkas penting, seperti kartu keluarga dan ijazah. Mereka adalah warga pindahan kolong tol di Jelambar, Jakarta Barat, yang direlokasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Sebanyak 44 keluarga atau sekitar 139 warga menerima kunci unit Rusunawa Lokbin Rawa Buaya yang diserahkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Kementerian Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP), serta Kementerian Sosial. Relokasi ini menjadi upaya pemerintah untuk menyejahterakan masyarakat yang tinggal di hunian tidak layak.
Kurdi (42) tak hentinya menatap pemandangan Kota Jakarta dari unit miliknya di lantai 16 Tower D. Sesekali ia melihat ke sekeliling ruangan seluas 3 x 10 meter yang memiliki 2 kamar tidur dan 1 toilet itu. ”Di sini bagus dan nyaman, jauh seperti di kolong tol,” ujar Kurdi dengan raut senyum terpancar dari wajahnya.
Perasaan senang yang dirasakan Kurdi sangat beralasan. Bertahun-tahun Kurdi beserta keluarganya tinggal di kolong tinggi, salah satu sebutan di kolong Tol Angke, dengan tempat tinggal yang sempit serta harus menundukkan kepala untuk masuk ruangan. Selain itu, kawasan tempat tinggal Kurdi pun minim cahaya matahari. Kini, Kurdi dan keluarganya tidak perlu berebut tempat untuk tidur atau beraktivitas.
Rasa syukur bisa mendapatkan hunian layak juga dirasakan Maya (50), warga kolong tinggi. Selepas para para pejabat yang hadir dalam acara serah terima unit rusunawa kepada warga pindahan kolong tol, Maya bergegas mencari petugas yang melakukan pendataan untuk mendapatkan kunci unit. Perasaan lega menghampiri Maya tatkala kunci unit sudah ada di genggamannya. Kini, Maya sudah sah menjadi satu di antara ratusan warga kolong tol yang menghuni Rusunawa Lokbin Rawa Buaya.
”Alhamdulillah senang sekali. Tempatnya nyaman, apalagi untuk anak-anak,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/30/07ed1f425e55aa900215414774abc0cf-2.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/30/66395d2b-46f1-4222-bfa1-5c5cc15320ea_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/30/78c049fb-6235-47f8-aeca-be5f85c3008f_jpg.jpg)
Tidak semua penghuni kolong tol dipindahkan ke rusunawa. Mereka yang direlokasi merupakan warga yang memiliki KTP DKI Jakarta. Mereka berhak menempati rusunawa dan gratis selama 6 bulan. Sementara warga yang non- KTP Jakarta diberikan uang untuk menyewa kontrakan selama 2 bulan.
Kolong tol dan kolong jembatan menjadi salah satu pilihan warga miskin Jakarta untuk berlindung saat tempat tinggal tak mampu lagi mereka dapati. Mereka beradaptasi dan menjadikan tempat yang tidak seharusnya untuk ditinggali tersebut menjadi tempat yang nyaman. Bukan tidak ingin mereka berpindah ke tempat yang lebih layak, keadaan seperti ketidakmampuan menyewa tempat tinggal yang layak memaksa mereka harus menerima kenyataan untuk menjadi warga kolong.
Melihat hal tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya memberikan kesejahteraan untuk masyarakat rentan. Salah satu upaya Pemprov ialah berencana merelokasi 1.030 keluarga dari sepuluh kelurahan yang ada di lima wilayah kota administrasi. Warga yang direlokasi nantinya akan ditempatkan di 18 lokasi rusunawa di Jakarta.
Sudah sepantasnya Pemerintah DKI Jakarta berbenah dengan salah satunya menyejahterakan masyarakat untuk mendapatkan hak-hak dasar. Pembenahan ini penting dilakukan agar sejalan dengan cita-cita Jakarta untuk berubah menjadi kota global.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/30/8c8bab7d-20d3-4a0b-8b2e-3ad4d9aa9d95_jpg.jpg)
Penulis:
Fakhri FadlurrohmanEditor:
Demitrius Wisnu Widiantoro