Tak mau wajah jadi kusam, para penggemar produk ”K-beauty” di AS panik membeli produk perawatan kulit, tata rias, dan kosmetik Korsel, seperti masker dan serum.
04 Agt 2025 08:22 WIB · Internasional
Ketika Amrita Bhasin (24) mengetahui produk-produk dari Korea Selatan mungkin akan dikenai pajak tinggi saat masuk Amerika Serikat, warga California ini langsung memborong masker perawatan wajah dari jenama-jenama Korsel. Produk perawatan wajah dari U-Need dan MediHal selalu ia pakai beberapa kali dalam seminggu. Tidak tanggung-tanggung, Bashin membeli sampai 50 bungkus yang kira-kira cukup untuk beberapa bulan.
Bukan hanya Bashin yang melakukannya. Panik membeli produk-produk perawatan kulit, tata rias, dan kosmetik Korsel juga terjadi di sejumlah daerah di AS. Selain khawatir harga jadi lebih mahal, mereka juga lebih takut lagi kalau mendadak produk-produk yang dikenal dengan sebutan ”K-beauty” itu hilang dari pasaran.
Presiden AS Donald Trump sudah mengumumkan barang-barang dari Korsel hanya akan dikenai pajak impor 15 persen. Ini lebih rendah dari ancaman sebelumnya yang sampai 25 persen.
Meski demikian, konsumen produk kecantikan Korsel tak mau ambil risiko. Para penggemar setia produk kecantikan Korsel lebih panik ketimbang para pengguna mobil dan ponsel pintar Korsel yang juga akan terdampak tarif Trump.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/b5959ece237d7617bc929a412376d643-20250703PRI6HR.jpg)
Mobil dan ponsel pintar termasuk di antara ekspor terbesar Korsel ke AS. Produk kecantikan Korsel sering kali harganya lebih menarik ketimbang produk-produk Barat.
Yang lebih menarik lagi, produk kecantikan Korsel mengandung bahan-bahan tradisional yang jarang ditemukan di produk AS atau Eropa, mulai dari daun salam, rumput laut, sampai lendir siput. Ekstrak siput, misalnya, diyakini dapat merangsang pembentukan kolagen dan elastin. Bahan ini digunakan dalam pelembab dan perawatan jerawat.
Kualitas dan nilai yang lebih baik ini mendorong permintaan dalam beberapa tahun terakhir. Daya tarik global budaya Korsel turut mendorong popularitas kosmetiknya.
Sejak diperkenalkan dengan produk-produk kecantikan Korsel oleh teman-temannya, Pearl Mak (27), desainer grafis di AS, jadi ketagihan memakai produk Korsel. Menurut dia, produk Korsel lebih cocok untuk kulitnya dibandingkan dengan jenama Barat yang cenderung lebih keras kandungan kimianya.
Awalnya, ia hanya memakai serum Korsel. Sekarang, 95 persen perawatan kulit Mak terdiri dari produk-produk Korsel.
Laman BBC, Senin (4/8/2025), menyebutkan dari data Komisi Perdagangan Internasional AS. Pada 2024, orang AS menghabiskan sekitar 1,7 miliar dollar AS untuk produk kecantikan Korsel, meningkat 54 persen dibandingkan tahun 2023.
Peritel kecantikan Korea di AS, Santé Brand, mengalami lonjakan pesanan hampir 30 persen pada April, tepat setelah Trump mengumumkan pajak impor AS untuk sebagian besar negara di dunia. Peritel kecantikan Korsel lainnya, Senti Senti, juga sudah memesan lebih banyak produk.
Kedua peritel tersebut mengungkapkan, harga produk kecantikan Korsel kemungkinan akan naik. Sebab, pajaknya akan mendorong kenaikan biaya di seluruh industri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/12/81b9af5b-f590-4fd9-ba1b-3333a1e7d8fd_jpg.jpg)
Ekonom dari University of California San Diego, Munseob Lee, mengatakan, harga pasti akan lebih mahal, terutama bagi penjual produk kecantikan yang lebih kecil di pelantar, seperti Amazon. Meski harga lebih mahal, popularitas global budaya Korsel akan tetap diminati.
”Banyak orang sudah telanjur terbiasa dengan produk Korsel dan susah mencari penggantinya,” ujarnya.
Lee menilai, konsumen AS sudah terbiasa punya kulit lembab dan kenyal sehingga sulit untuk hidup tanpa produk Korsel. Serum wajah produk Korsel membuat wajah terasa seperti kulit kaca. Sementara produk perawatan kulit buatan AS dianggap lengket dan meninggalkan bekas putih.
Selain hasil lebih baik, peneliti di Pusat Studi Kebijakan Asia Brookings Institution, Andrew Yeo, kepada CNN, 9 April 2025, mengingatkan lagi soal harga produk Korsel yang lebih murah. Hal ini sebagian karena banyak produk Korsel yang masuk ke AS tanpa tarif tambahan. Ini berkat Perjanjian Perdagangan Bebas Korea tahun 2012.
Seberapa pun mahal harganya, Mak akan tetap membeli produk perawatan kulit dari Korsel. Sampai sejauh ini ia tak melihat ada produk buatan AS yang cocok untuknya.
Bhasin juga akan tetap membeli masker wajah kesukaannya meski harga naik karena pertimbangan kualitas. ”Jika harganya naik, saya tidak akan beralih ke produk-produk AS. Untuk masker wajah, saya rasa tidak banyak pengganti yang bagus di AS,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/01/21/b814944a-acb8-4cde-9a78-4f73bd884e86_jpg.jpg)
Perawatan kulit ala Asia sudah menjadi bisnis global yang berkembang pesat selama 10 tahun terakhir. Konsumennya bukan hanya di AS, melainkan juga di Eropa, Amerika Utara dan Selatan, dan Timur Tengah.
Mereka membeli krim, serum, dan balsem tidak hanya dari Korsel, tetapi juga Jepang dan China. Di AS, produk dari Korsel mendominasi. Kegilaan pada ”BB cream” all-in-one—kombinasi pelembab, alas bedak, dan tabir surya—bertransformasi menjadi daya tarik ritual 10 tahap perawatan kulit ala Korsel. Begitu pula bahan-bahan seperti lendir siput, daun sirih, dan air beras.
Kesepuluh tahap perawatan kulit yang populer di Korsel dimulai dengan membersihkan wajah sebelum mandi. Produk pembersih wajah yang digunakan beragam, mulai dari pembersih berbasis minyak, air, hingga yang berbentuk gel. Setelah itu, wajah kembali dibersihkan dengan sabun khusus wajah.
Para pemengaruh kecantikan (beauty influencer) mengatakan, sabun harus digosokkan pada tangan hingga berbusa sebelum digunakan untuk membersihkan wajah. Tujuannya agar kulit wajah tidak kering.
Wajah yang sudah bersih lalu diberi produk pengupas (exofiliator) untuk mengangkat sel kulit mati. Selanajutnya, wajah diolesi dengan beragam produk lain, seperti esens, serum, pelembab, krim mata, dan masker lembaran.
Editor kecantikan digital Marie Claire, Katie Thomas, memperkirakan, ketertarikan pada produk Korsel disebabkan oleh betapa inovatifnya mereka. Industri kecantikan Korsel biasanya 10-12 tahun lebih maju daripada negara-negara lain di dunia. Ini juga didorong oleh riuh warganet dan pemengaruh di media sosial.
Merawat kulit sebenarnya sudah jadi budaya orang Korsel. Mereka terbiasa merawat kulit sejak usia sangat muda. Etos Korsel adalah memastikan kulit yang sehat, alih-alih membutuhkan alas bedak dan produk lain untuk menutupi noda yang tak enak dipandang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/04/dc5bb7f5a8ae6763ce9b1a71ec86c5f2-France_US_Tariffs_Cosmetics_2.jpg)
”Biasanya kita membersihkan wajah dengan tiga langkah saja, pakai pembersih, toner, dan pelembab. Itu cukup. Namun, di Korsel, perawatan kulit bisa 7-12 langkah dengan fokus pada hidrasi kulit memakai bahan-bahan alami yang lembut. Mungkin ada yang menganggap ini berlebihan, tetapi faktanya kita menutrisi kulit,” kata Thomas kepada BBC, 21 Oktober 2018.
Penelitian terhadap produk-produk baru di Korsel juga lebih banyak dilakukan dibandingkan di negara lain karena ada begitu banyak jenama yang bersaing. Industri kecantikan Korsel tidak ragu memperkenalkan bahan-bahan baru dan unik ke dalam formula mereka.
Ini yang tidak pernah dipertimbangkan di Barat. Konsumen Barat pun jadi lebih tertarik dengan tampilan riasan tanpa riasan. Yang utama adalah kulit yang lembab dan kenyal serta cerah berkilau.
Tren yang muncul kemudian adalah tampil alami dan awet muda. Karena alasan ini, di AS, 13 persen remaja perempuan berusia 10-17 tahun tertarik mencoba produk Korsel. Sebanyak 18 persen perempuan berusia 18-22 tahun sudah memakainya. Produk Korsel dinilai cocok untuk konsumen muda yang belum tentu menginginkan perawatan kulit yang serius.
Thomas yakin tren K-beauty akan bertahan lama. Apalagi, anak-anak muda sekarang sangat peduli terhadap kelestarian lingkungan dan tentu saja kondisi kesehatan kulit mereka.
Meski demikian, jika tarif AS terhadap Korsel berisiko naik turun atau malah jadi tinggi lagi, konsumen akan terus-terusan panik membeli. Siapa yang tak mau mempertahankan wajah lembab, kenyal, cerah berkilau, dan senantiasa tampak awet muda. (AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto