Operator seluler kini menjadikan akal imitasi atau AI sebagai mesin pertumbuhan baru. Meski demikian, masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi.
11 Mei 2026 07:05 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Bisnis operator seluler tidak lagi sebatas memperluas jaringan dan menjual kuota internet. Di tengah persaingan ketat industri telekomunikasi, perusahaan kini menjadikan akal imitasi atau AI sebagai mesin pertumbuhan baru. Namun, terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi.
Jika sebelumnya operator seluler berfokus pada layanan telekomunikasi, seperti jual-beli pulsa dan kuota internet, kini mereka memperluas cakupan bisnisnya. Perusahaan mengembangkan layanan digital berbasis AI hingga membangun pusat data dan komputasi awan (cloud).
Salah satu operator seluler yang menjadikan AI sebagai sumber pendapatan baru adalah Indosat Ooredoo Hutchison (IOH). Sejak 2024 Indosat berkolaborasi dengan Nvidia, perusahaan semikonduktor dari Amerika Serikat, untuk mengembangkan infrastruktur cloud.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/14/891cb4c1-1743-4070-be68-effb9a7a5442_jpg.jpg)
Melalui anak usahanya, Lintasarta, Indosat menyediakan layanan graphics processing unit (GPU), yang dapat mengakselerasi aplikasi AI. Layanan itu memungkinkan perusahaan mengakses komputasi AI berkinerja tinggi tanpa harus membangun infrastruktur sendiri.
Pada 20 Maret 2026, Indosat memanfaatkan teknologi Nemotron, yakni model dasar bahasa besar (large language model/LLM) yang dikembangkan Nvidia. Adapun LLM adalah sistem AI tingkat lanjut yang dapat memahami, memproses, dan menghasilkan teks alami serupa manusia.
Indosat juga bekerja sama dengan Google menghadirkan akses Google Gemini, model AI generatif, bagi pelanggan IM3 dan Tri. Melalui paket data gabungan di aplikasi myIM3 dan BIMA+, pengguna kartu ini dapat memanfaatkan layanan Google Gemini khusus langganan.
Vikram Sinha, President Director and Chief Executive Officer (CEO) IOH, mengatakan, berbagai upaya itu merupakan strategi AI hyper-personalization Indosat. Strategi ini fokus menyediakan pengalaman pelanggan yang lebih relevan, sesuai kebutuhan, dan bermakna dengan memanfaatkan AI.
”Dengan AI hyper-personalization, Indosat dapat lebih relevan dalam setiap interaksi, tecermin dari keeratan yang semakin kuat, pengalaman pelanggan yang lebih baik, dan pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Vikram melalui keterangan tertulisnya pada Rabu (29/4/2026).
Strategi ini, lanjutnya, turut menopang pertumbuhan bisnis perusahaan. Dalam laporan keuangan Indosat triwulan I-2026, perusahaan membukukan pendapatan Rp 15,22 triliun. Angka ini tumbuh dua digit, yakni sekitar 12 persen secara tahunan yang sebesar Rp 13,58 triliun.
Pihaknya mengklaim, capaian triwulan I-2026 ini merupakan pendapatan kuartalan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan. Adapun EBITDA atau laba operasional perusahaan sebelum dikurangi bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi meningkat 13 persen secara tahunan menjadi Rp 7,2 triliun.
”Kinerja awal tahun yang solid ini menggambarkan konsistensi kami dalam menjalankan strategi (termasuk AI hyper-personalization) dan memberikan nilai yang nyata bagi pelanggan,” ucap Vikram. Hal ini terlihat dari peningkatan dari berbagai segmen pendapatan, termasuk layanan digital dan AI.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/05/eac4f99bad66803af659e6d90cd78b44-WhatsApp_Image_2026_05_05_at_7.41.27_PM.jpeg)
Hingga triwulan I-2026, pendapatan terbesar Indosat masih berasal dari layanan seluler yang menyumbang Rp 12,70 triliun dari total Rp 15,22 triliun. Pendapatan dari layanan data, seperti kuota internet hingga solusi digital ini tercatat tumbuh 11,2 persen secara tahunan.
Meskipun jumlah pelanggan Indosat relatif stagnan di angka 94 juta pelanggan, nilai rerata belanja per pelanggan atau ARPU pada triwulan I-2026 tercatat Rp 45.200 atau naik dari Rp 39.200 pada periode serupa tahun 2025. Trafik data melonjak 25,1 persen secara tahunan menjadi 4.906 petabita.
Selain bisnis seluler, segmen multimedia, komunikasi data, dan internet (MIDI) juga tumbuh signifikan sebesar 17,5 persen menjadi Rp 2,31 triliun. Segmen ini, antara lain, mencakup layanan teknologi informatika, internet untuk korporasi, solusi AI, hingga layanan komputasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/01/bd16d05bfe6b094f9e824868fddd372e-20260228_183939.jpg)
Adapun layanan telekomunikasi tetap, seperti jaringan telepon, pada triwulan I-2026 tumbuh 9,3 persen menjadi Rp 212,8 miliar. Penggunaan layanan suara dan pesan singkat (SMS) terus menurun seiring pergeseran perilaku pengguna ke layanan berbasis data, yang kini terus melonjak.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan ini, Indosat terus meningkatkan jaringan 5G hingga mengintegrasikan ke dalam base transceiver station (BTS) atau dikenal dengan teknologi AI-RAN. Teknologi ini dapat mendistribusikan kapabilitas AI secara langsung pada jaringan, termasuk di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal.
Soal keamanan pelanggan, perusahaan mengembangkan fitur anti-spam dan anti-scam yang berbasis AI. Pada kuartal ini, Indosat juga meluncurkan Sahabat-AI, platform yang menggunakan LLM serta memahami bahasa Indonesia dan sejumlah bahasa daerah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/25/b723fcab-6ed1-4a19-bd54-687cba417504.jpg)
Christian Immanuel Sitorus, Equity Research Analyst MNC Sekuritas, mengatakan, Indosat mulai keluar dari bisnis yang bergantung pada kompetisi ARPU menuju perusahaan AI. Hal ini terlihat dari kolaborasi Indosat dengan Nvidia, Google Gemini AI, hingga pengembangan Sahabat-AI.
Kontribusi NeoCloud, yakni penyediaan akses ke komputasi berkinerja tinggi (GPU), untuk pendapatan perusahaan pada triwulan I-2026 telah mencapai 16 juta dolar AS atau Rp 276 miliar (dengan nilai kurs Rp 17.300 per dolar AS). Ini menunjukkan bisnis AI berdampak positif.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/12/a59104c4fd3ea5a117a7cdd99f2abf2b-20251112BAH13.jpg)
”Pasar biasanya tidak menunggu kontribusi besar (dari AI) untuk mulai memberikan re-rating (penilaian ulang), yang dilihat investor adalah bukti bahwa monetisasi AI mulai terbentuk dan scalable,” kata Christian. Pendapatan dari bisnis AI pun berpengaruh pada laba perusahaan.
”Ke depan, industri digital tidak hanya berada pada (bisnis) konektivitas, tetapi bergeser ke komputasi AI, cloud, dan infrastruktur. Jadi, kalau eksekusi Indosat konsisten, AI bisa menjadi mesin baru bagi pertumbuhan perusahaan,” ungkapnya.
Tren perluasan bisnis operator seluler untuk pengembangan AI juga terekam dalam survei terbaru Global System for Mobile Communications Association (GSMA) Intelligence, asosiasi operator telekomunikasi dunia. Survei dilakukan terhadap 580 perusahaan di Asia Tenggara.
Hasilnya, perusahaan seluler di Indonesia memperkirakan mengalokasikan rata-rata 10 persen dari pendapatan mereka untuk transformasi digital pada 2025-2030. Dua pertiga responden menempatkan AI dalam tiga prioritas pengeluaran utama mereka sedangkan lebih dari separuh responden menilai internet of things (IoT) berbasis 5G masih penting.
”Besarnya populasi, semangat wirausaha, hingga generasi muda menjadi peluang Indonesia memimpin (transformasi digital). Prioritas sekarang adalah investasi pada hal-hal yang paling penting, yakni spektrum terjangkau dan pasti, infrastruktur (BTS) tangguh, serta pusat data untuk AI,” ujar Head of Asia Pacific GSMA Julian Gorman dalam rilisnya akhir 2025.
Izzudin Al Farras, Kepala Pusat Ekonomi Digital dan UMKM Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menilai, AI dapat meningkatkan efisiensi pola kerja operator seluler sehingga terdapat penghematan. Secara eksternal, pengembangan AI akan meningkatkan pendapatan perusahaan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/10/b972e9e7-b6b9-488f-8ac9-65f07dfbcc54_jpg.jpg)
”Selama ini, pendapatan operator telekomunikasi itu stagnan, sekitar 5 persen. Ketika ada kerja sama dengan perusahaan AI, perlahan (pendapatannya) meningkat,” ucap Farras. Pengembangan AI juga penting di tengah ketatnya persaingan bisnis operator seluler, seperti perang tarif internet.
Meski demikian, menurut dia, terdapat tiga tantangan utama dalam pengembangan bisnis perusahaan di bidang AI. Pertama, kesiapan talenta digital, terutama yang ahli dalam keamanan siber untuk menjaga data pelanggan. Kedua, infrastruktur digital, seperti akses internet dan pusat data, yang belum memadai.
Tanpa kesiapan talenta, infrastruktur, dan modal yang memadai, transformasi perusahaan akan terhambat.
Ketiga, kebutuhan modal yang besar untuk investasi di bidang AI. Sebagai industri yang dekat dengan teknologi, operator seluler perlu mengalokasikan investasi AI secara tepat. ”Tanpa kesiapan talenta, infrastruktur, dan modal yang memadai, transformasi perusahaan akan terhambat,” tuturnya.
Penulis:
Abdullah Fikri AshriEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim