Anak Timor Itu Berlari Sambut  Santapan Ternikmat lewat Makan Bergizi Gratis

Kurang dari 10 persen anak di SDI Noelbaki yang sarapan teratur. Mereka menyantap dengan lahap paket makan bergizi gratis.

06 Jan 2025 15:59 WIB · Nusantara

Oleh Fransiskus Pati Herin

Tanpa alas kaki, Ardi Tamelab (8) berlari menyambut mobil pengantar makanan yang memasuki halaman sekolah. Puluhan siswa lain ikut di belakangnya. Mereka melihat dari dekat petugas mengeluarkan lebih dari 500 paket makanan siap santap. 

”Bagi katong ko, Pak (untuk kami ya, Pak),” celetuk beberapa teman Ardi.

”Tenang sa, besong satu orang satu (tenang saja, kalian dapat satu-satu),” jawab salah seorang petugas disambut tepukan tangan anak-anak.

Senin (6/1/2025) pagi, petugas mengantar paket makanan bagi Ardi dan semua siswa di sekolah itu, SDI Noelbaki di Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Paket makanan itu merupakan program Makan Bergizi Gratis yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

Setelah disimpan di salah satu ruangan, paket makanan dibagikan kepada setiap setiap siswa di kelas masing-masing. Setelah berdoa, Ardi membuka kotak makan. Isinya nasi putih, ayam goreng, tahu, sayur, dan pisang.

Makan Bergizi

Ia menyantapnya dengan lahap. ”Katong (kami) jarang makan ayam goreng begini. Enak sekali,” ujar anak bungsu dari lima bersaudara itu.

Ia berasal dari keluarga kurang mampu. Menu makan sehari-hari pun alakadarnya.

Orangtua Ardi bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan pas-pasan dan tidak menentu. Itulah yang membuat tiga kakaknya putus sekolah dan kini menjadi buruh kelapa sawit di Sumatera. Kakak yang satu lagi kini duduk di bangku SMP dan terancam putus sekolah.

Setiap pagi ke sekolah, Ardi mengaku tidak sarapan dengan teratur, seperti pada Senin pagi tadi. ”Pagi tadi beta (saya) makan nasi dan mi. Pernah tidak sarapan,” ujar anak suku Timor yang bercita-cita jadi pilot itu.

Makan Bergizi

Kepala SDI Noelbaki Novi Riwu mengatakan, siswa di sekolah itu berasal dari latar belakang beragam, dominan dari suku Timor, salah satu yang terbesar di NTT. Adapun latar belakang ekonomi orangtua kebanyakan menengah ke bawah. Hal itu berpengaruh pada pemenuhan gizi anak.

Menurut dia, kurang dari 10 persen siswa  yang sarapan secara teratur. ”Kebanyakan orangtua siswa adalah nelayan dan petani sehingga pagi hari mereka sudah di laut dan kebun. Akibatnya banyak anak tidak sarapan dengan baik,” katanya.

Oleh karena itu, Novi pun mengapresiasi program makan bergizi yang diberikan pemerintah. Makanan bergizi itu sangat dibutuhkan siswa di sekolah tersebut. Ia yakin pemenuhan gizi dan prestasi siswa akan meningkat. Secara berkala, mereka akan mengevaluasinya.

Koordinasi lemah 

Secara nasional, Senin ini dimulai program Makan Bergizi Gratis. Namun, di NTT baru satu dari 749 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang siap beroperasi. Artinya, secara keseluruhan, NTT belum siap melaksanakan program tersebut.

Perwira Seksi Teritorial Komando Distrik Militer 1604 Kupang Kapten Infanteri Sudirman yang ditemui di lokasi melaporkan, SPPG itu melayani 12 sekolah yang terdiri dari 1 TK, 8 SD, 1 SMP, dan 2 SMA. Total penerimaan makan bergizi sebanyak 3.062 siswa.

Menurut Sudirman, untuk wilayah NTT, baru satu SPPG yang sudah siap. Sementara berdasarkan data Badan Gizi Nasional, total SPPG di NTT ada 749 titik. Alokasi anggaran untuk program makan bergizi di NTT sebanyak Rp 8 triliun dari total anggaran secara nasional sebanyak Rp 71 triliun.

Quote

Kita tidak berharap di lapangan program ini berorientasi pada proyek.

Sebagaimana pantauan Kompas, SPPG yang sudah siap itu berada di Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Sejak pagi, petugas mengantar makanan ke sejumlah sekolah. SPPG dikelola Yayasan No Fitu Timor.

Gerbang SPPG ditutup. Media yang hendak masuk ke dalam halaman tempat parkir kendaraan tidak diizinkan. ”Tidak boleh masuk. Mohon pengertiannya,” kata M de Jesus, petugas keamanan. Ini berbeda dengan banyak SPPG di daerah lain yang bisa diliput media.

Makan Bergizi

Tampak dari luar ada politisi Partai Gerindra yang berbincang-bicang dengan petugas di halaman. Mereka juga ikut hingga pembagian ke sekolah-sekolah. Di antaranya Sekretaris DPD Gerindra Provinsi NTT Gabriel Beribina dan politisi Gerindra Florencio Mario Vieira.

Pihak Yayasan No Fitu Timor, Badan Gizi Nasional, ataupun fungsionaris Partai Gerindra yang hadir semuanya menolak diwawancarai. ”Wawancara saja sama penerima manfaat, para siswa,” kata Florencio.

Dalam pelaksanaan makan bergizi gratis di SDI Noelbaki itu tidak tampak perwakilan dari pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten. Seorang pejabat setempat yang meminta namanya tidak disebutkan mengatakan, ada kesan pemerintah daerah tidak dilibatkan.

”Semua kita mendukung program yang baik ini. Namun, perlu diingat bahwa yang punya siswa, yang mengurus sekolah kan pemerintah daerah. Seharusnya ada koordinasi yang baik. Kami sangat berharap,” katanya. Hingga kini belum ada kepastian kapan semua titik SPPG di NTT sudah mulai beroperasi.

Makan Bergizi

Di sisi lain, banyak suara yang meminta agar publik mengawasi jalannya progam Makan Bergizi Gratis. Jangan sampai program ini lantas tidak tepat sasaran.

”Kita berharap tujuannya untuk pemenuhan gizi bisa tercapai. Itu tujuan mulia dari Presiden Prabowo Subianto. Kita tidak berharap di lapangan program ini berorientasi pada proyek,” ujar aktivis antikorupsi Gabriel Goa.

Program Makan Bergizi Gratis kini sudah dimulai. Sambutlah dengan gembira seperti Ardi dan anak-anak Timor yang berlari menyambut mobil pengantar makanan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Pati Herin
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang