Bocah Pelosok Taklukkan Matematika Level Magister (9)

Anak-anak Indonesia memiliki kemampuan yang sama untuk jadi talenta potensial. Negeri ini juga tak kekurangan guru atau pembimbing dengan kemampuan mumpuni dalam mendidik talenta potensial.

04 Des 2024 07:11 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

Oleh Stefanus Ato, Insan Alfajri, Melati Mewangi, Sarie Febriane, Pandu Wiyoga

Tak ada anak dengan kecerdasan intelektual rendah. Status daerah tertinggal dan terbelakang juga bukan halangan untuk berprestasi. Hanya butuh metode tepat di tangan orang yang mumpuni untuk memoles anak yang dianggap bodoh menjadi talenta brilian.

Suatu sore di akhir Oktober 2024, tepatnya di lantai atas sebuah apartemen di bilangan Jakarta Selatan, sembilan anak dari latar belakang daerah yang berbeda-beda antusias dan santai menjawab setiap soal matematika yang diberikan. Beberapa contoh soal matematika dengan tingkat kerumitan sedang hingga sulit mampu mereka pecahkan hanya dalam hitungan detik.  

Sembilan anak itu berasal dari beragam daerah di Indonesia, mulai dari Papua (Jayapura, Nabire, Sarmi, Biak, Sorong), Halmahera Tengah (Maluku Utara), Gunung Mas (Kalimantan Tengah), Ende (Nusa Tenggara Timur), hingga Banyuwangi (Jawa Timur). Anak-anak dengan usia termuda 9 tahun dan paling tua 12 tahun itu ditemukan Profesor Yohanes Surya,  pakar matematika dan mantan Rektor Universitas Multimedia Nusantara.

Mereka direkrut saat Yohanes memberikan pelatihan dan pembinaan kepada guru dan siswa dalam Gasing Academy di beberapa daerah timur Indonesia. Gasing adalah metode pembelajaran yang merupakan akronim dari gampang, asyik, dan menyenangkan. Racikan metode pembelajaran ini dicetuskan Yohanes.

Menurut mantan Presiden Olimpiade Fisika Asia itu, kemampuan sembilan anak tersebut dalam memecahkan beragam soal matematika yang dipelajari mahasiswa perguruan tinggi menunjukkan kalau tak ada anak bodoh.

”Siapa pun itu, kalau kita latih dengan cara yang tepat, pasti jadi,” kata Yohanes saat ditemui, Rabu (23/10/2024), di Jakarta. Yohanes tak sependapat dengan anggapan kalau kecerdasan intelektual atau IQ itu muncul secara alami. Seseorang dikatakan genius karena otaknya sudah banyak terasah sejak kecil.

Yohanes Surya, ilmuwan pencetus metode gasing mengucapkan selamat melalui sambungan telpon dari Jayawijaya, Pegunungan, kepada tim Gasing Academy yang Indonesia berhasil meraih medali 2 emas, 1 perak, dan 3 perunggu pada ajang World Innovative Technology Challenge 2024 di Chonnam National University, Yeosu-si, Korea Selatan, Minggu (3/11/2024).

Pecahkan soal magister

Bukti kecerdasan intelektual bisa meningkat signifikan setidaknya terlihat dari sembilan anak yang dibina Yohanes. Anak-anak itu awalnya, oleh guru mereka, dianggap sebagai anak paling bodoh, yang tak mampu berhitung, bahkan untuk hitungan yang sederhana. Namun, mereka kini berbeda. Beragam jenis soal matematika yang diberikan mampu mereka lumat hanya dalam hitungan detik.

Salah satu dari sembilan pelajar itu adalah Fenita Tenoye (9). Bocah asal Nabire, Provinsi Papua, itu mampu menjawab soal kalkulus integral yang dilontarkan Yohanes hanya dalam hitungan detik. Uniknya, soal itu dijawab tanpa membutuhkan coretan di kertas cakar.

Kecakapan mereka dalam menaklukkan soal yang diberikan Yohanes di ruangan apartemen pada akhir Oktober 2024 itu pun dalam situasi rileks alias jauh dari tertekan. Sore itu pun, sebelum masuk ke ruangan belajar, mereka terlebih dahulu berekreasi dengan mengunjungi salah satu mal di Jakarta Selatan.

Beberapa anak yang direkrut Profesor Yohanes Surya melalui program gasing di beberapa daerah di Indonesia sedang serius menyimak contoh soal matematika yang sedang dikerjakan Prof Yohanes, Rabu (30/10/2024) di salah satu ruangan apartemen di bilangan Jakarta Selatan. Anak-anak ini mengikuti program pembelajaran khusus di Jakarta sejak Januari 2024.

Salah satu jenis soal dengan tingkat kerumitan sulit adalah soal matematika fungsi matriks Lambert W. Soal ini, menurut Yohanes, merupakan soal matematika yang biasa dipelajari oleh mahasiswa level Magister Jurusan Matematika di perguruan tinggi. ”Saya kasih satu contoh soal, ya. Kalian perhatikan. Selesai ini, saya kasih contoh soal,” kata Yohanes.

Yohanes yang juga mantan ketua Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) itu lalu mengerjakan sebuah contoh soal di papan tulis. Proses mengerjakan soal itu dilakukan perlahan sembari mengajak para bocah itu terlibat mengikuti tahap demi tahap hingga menemukan jawaban akhir. Yohanes pun menantang anak-anak itu dengan meminta mereka mengerjakan soal lain dari Lambert W. Mereka dengan santai menyelesaikan tantangan tersebut dalam hitungan detik. Salah satu dari sembilan bocah yang cepat menyelesaikan soal Lambert W adalah Jose Augusto Nerotouw (12) dari Jayapura.

Juara pentas internasional

Sembilan bocah dengan kemampuan berhitung luar biasa itu sudah dibina Yohanes sejak Januari 2024. Mereka difasilitasi dengan baik, mulai dari mendapat asrama, didampingi pendidik, hingga tetap memiliki keleluasaan untuk menikmati masa kecil, yakni bermain dan berekreasi.

Menurut Emil Olim, pengasuh dari sembilan bocah tersebut, sejak bergabung dan menjalani pembelajaran khusus di Jakarta, anak-anak itu rutin belajar setiap hari, dari Senin hingga Sabtu. Proses pembelajaran dimulai pukul 08.00 hingga pukul 17.00. ”Kalau malam, mereka biasanya ada game, ada juga kegiatan-kegiatan lain. Kadang mereka gunakan waktu malam hari untuk mengerjakan tugas mandiri,” ucap Emil.

Kecakapan mereka dalam memecahkan soal matematika yang sejatinya dipelajari mahasiswa perguruan tinggi tak muncul begitu saja. Awal tiba di Jakarta, para bocah itu selama tiga bulan diajarkan materi matematika untuk tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah. Materi dasar yang diajarkan itu, beberapa di antaranya, adalah pecahan, bilangan bulat, geometri, dan aljabar.

”Setelah tiga bulan, mereka sudah mulai belajar simulasi soal olimpiade. Pengetahuan dasar mereka itu sudah kuat di awal,” ucapnya.

Proses panjang selama hampir satu tahun dalam melatih dan membina anak-anak itu berbuah manis. Pada awal November 2024, lima dari sembilan bocah itu berjaya dalam ajang World Innovative Technology Challenge 2024 di Chonnam National University, Yeosu-si, Korea Selatan. Felicia Dahayu, pelajar berusia 12 tahun dari SD Negeri 1 Pesanggaran, Banyuwangi, meraih medali emas pada Olimpiade Koding Internasional di Chonnam National University, Yeosu-si, Korea Selatan. Sementara itu, Jose Nerotouw dari SMP Kalam Kudus Jayapura meraih medali perak.

Felicia Dahayu, pelajar berusia 12 tahun dari SD Negeri 1 Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur, saat sedang serius mengerjakan soal matematika, pada Rabu (30/10/2024) di Jakarta. Dia merupakan salah satu peraih medali emas pada Olimpiade Koding Internasional di Chonnam National University, Yeosu-si, Korea Selatan, pada awal November 2024.

Selain Felicia dan Jose, tiga anak lainnya juga menyabet medali perunggu. Mereka adalah Esra Weyai (12), pelajar SMPN 1 Biak Numfor, Papua; Cressya Wianopa (12), pelajar SMPN Kurun, Gunung Mas, Kalimantan Tengah; Uriel Algiffari (12), pelajar SMPN 5 Halmahera Tengah, Maluku Utara. Adapun lomba yang diselenggarakan pada 2-3 November 2024 ini diikuti puluhan pelajar dari Korea Selatan, Filipina, dan Indonesia. Ada tiga kategori yang diperlombakan, yakni presentation, software programing (koding), dan robot race.

Seusai pulang dari Korea Selatan, dua dari sembilan anak ini, yakni Jose dan Cressya, kembali berprestasi dalam ajang Olimpiade Matematika dan Sains Tingkat Asia atau Asia Science & Math Olympiad for Primary & Secondary Schools (ASMOPSS) ke-14 yang digelar di Banyuwangi, Jawa Timur, pada 11 November-16 November 2024.

Keberhasilan Yohanes dalam mencetak siswa berbakat menunjukkan kalau anak-anak Indonesia memiliki kemampuan yang sama untuk jadi talenta potensial. Negeri ini juga tak kekurangan guru atau pembimbing dengan kemampuan mumpuni dalam mencetak anak-anak cerdas. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Stefanus Ato, Insan Alfajri, Melati Mewangi, Sarie Febriane, Pandu Wiyoga
 | 

Editor:

Sarie Febriane, Andy Riza Hidayat
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra