Industri otomotif nasional memiliki fondasi kuat untuk tumbuh, bahkan menciptakan jenama lokal dengan harga kompetitif.
10 Okt 2025 15:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
Di tengah persaingan peta industri otomotif dunia, Indonesia muncul sebagai pemain penting. Pasar domestik yang besar menjadi modal utama Indonesia melangkah ke panggung industri otomotif global.
Dengan ekspor kendaraan mencapai tiga juta unit oleh Toyota dan produksi nasional yang terus tumbuh, Indonesia menunjukkan kemampuannya menyediakan sumber daya hingga skala ekonomi bagi investasi global.
Di balik angka itu, tersimpan keyakinan bahwa masa depan otomotif tidak hanya bergantung pada volume, tetapi juga pada kemampuan menciptakan inovasi di dalam negeri.
PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) baru saja mencatat capaian ekspor tiga juta kendaraan mobil ke 100 negara. Ekspor ketiga juta kendaaran itu merupakan capaian akumulatif sejak ekspor perdana pada 1987. Dengan Kijang generasi ketiga yang dikirim ke Brunei Darussalam dan negara-negara Asia Pasifik,
Perjalanan tumbuh bersama industri otomotif nasional dimulai sejak awal 1970-an melalui impor kendaraan utuh. Seiring berjalannya waktu, berkembang menjadi perakitan lokal, kemudian meningkatkan kinerjanya dengan melakukan produksi secara menyeluruh, mulai dari mesin, komponen, dan kendaraan utuh.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/10/957e493a3d6941e23e12359e36f6ae79-IMG20251009121647.jpg)
Pada 1971, pertama kalinya Toyota memperkenalkan model Toyota Corolla, kepada masyarakat Indonesia. Pada 1973, Toyota Indonesia memulai aktivitas perakitan kendaraan di dalam negeri, sebagai langkah awal menuju industrialisasi otomotif nasional. Empat tahun kemudian, pada 1977, Toyota memperkenalkan Toyota Kijang generasi pertama, kendaraan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.
Toyota Indonesia mulai memproduksi mesin secara lokal, menandai fase awal menuju industri otomotif yang lebih mandiri, pada 1982. Toyota melangkah lebih jauh dengan menjalankan produksi kendaraan secara menyeluruh (full manufacturing) dan juga full completely knocked down (CKD) atau kendaraan untuk ekspor dalam bentuk komponen terpisah kemudian dirakit di negara tujuan, pada 1989.
Tonggak penting terjadi pada 2004 saat Toyota Motor Corporation menetapkan Indonesia sebagai basis produksi global untuk proyek International Multi-Purpose Vehicle (IMV). Sejak saat itu, Toyota Indonesia memproduksi berbagai model mobil strategis seperti Kijang Innova dan Fortuner, yang menempatkan Indonesia dalam rantai pasok global industri otomotif.
Posisi ini semakin menguat pada 2012 dengan beroperasinya pabrik Toyota di Karawang yang melayani pasar Asia, Timur Tengah, Afrika, hingga Amerika Latin. Hingga tahun 2023, Toyota Indonesia memulai produksi dan ekspor kendaraan berteknologi hybrid electric vehicle (HEV), yang menandai masuknya era elektrifikasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/09/ff54f4141f7d64d48b7eb88c859d61f7-IMG20251009155603.jpg)
Presiden Direktur PT TMMIN Nandi Julyanto mengungkapkan, sebagai kekuatan industri manufaktur Indonesia dan komitmen menjaga kualitas produk, Toyota Indonesia telah memproduksi 10 juta unit dan mengekspor 3 juta unit kendaraan.
”Itu membuktikan bahwa talenta Indonesia siap bersaing di pasar global melalui produk-produk berkelas dunia,” kata Nandi, Kamis (9/10/2025).
Dalam lima dekade perjalanan Toyota di Indonesia itu, Toyota Group telah berinvestasi sekitar Rp 100 triliun. Investasi ini, bersama dengan jaringan pemasok lokal dan dealer melibatkan lebih dari 360.000 tenaga kerja di berbagai sektor, mulai dari produksi, rantai pasok, distribusi, hingga layanan purnajual.
Sementara itu, Wakil Presiden Direktur PT TMMIN Bob Azam melanjutkan, setidaknya setiap lima tahun, Toyota berinvestasi sekitar Rp 20 triliun. ”Sejauh ini, sudah investasi dari awal sampai akhir (sekarang) sudah Rp 100 triliun. Setiap lima tahun Rp 20 triliun dan 70 persen itu dibelanjakan di dalam negeri,” ujar Bob yang juga menjabat Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia.
Investasi itu disiapkan tidak hanya untuk kebutuhan produksi, tetapi juga secara luas untuk pengembangan dan memperkuat riset dan pengembangan (R&D) di Indonesia hingga program magang untuk pelajar dan lulusan pendidikan tinggi (fresh graduate).
”Setiap tahun, kami terima magang SMA itu 1.000 (pelajar), fresh graduate 200 (orang). Satu semester terima 100 (orang fresh graduate),” kata Bob.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/24/106474c6-ceb2-494a-9882-acce79ad120c_jpeg.jpg)
Menurut Bob, arah pengembangan industri nasional ke depan harus menempatkan Indonesia sebagai production base atau basis produksi untuk mengisi pasar global, bukan hanya pasar bagi produk asing. Saat ini sekitar 50 persen ekspor kendaraan Indonesia sudah dilakukan secara langsung tanpa melalui negara ketiga seperti Singapura. Hal ini menunjukkan pergeseran penting dalam posisi Indonesia di rantai pasok otomotif dunia.
Kementerian Perindustrian mencatat, industri kendaraan bermotor Indonesia memiliki skala besar dengan kontribusi signifikan dari segmen roda 4. Pada 2024, segmen roda 4 didukung 32 pabrikan dengan kapasitas produksi 2,35 juta unit per tahun dengan menyerap tenaga kerja hingga 69.390 orang dan realisasi investasi mencapai Rp 143,91 triliun.
Hingga Januari-Mei 2025, industri kendaraan roda 4 mencatat produksi 459.000 unit, penjualan sebanyak 316.000 unit, dan ekspor kendaraan utuh (completely built-up/CBU) 192.000 unit. Adapun data dari Gaikindo, ekspor CBU sepanjang Januari-Juni 2025 sebesar 233.648 unit. Angka ekpor itu naik 7 persen secara tahunan (YoY) dibandingkan pada periode yang sama 2024, yaitu sebanyak 218.459 unit.
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai, posisi Indonesia di peta industri otomotif global sebenarnya sangat strategis. Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, Indonesia menjadi pasar mobil terbesar ke-16. Tingkat kepemilikan kendaraan yang masih rendah dibandingkan negara maju menjadikan pasar domestik memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/09/d9f430746b26d5a0e3be9ae4ad4965f0-IMG20251009121809.jpg)
Potensi volume penjualan domestik yang tinggi ini memberikan skala ekonomi yang dibutuhkan semua pabrikan dunia seperti Toyota, BYD, Wuling, VinFast, Hyundai, dan lainnya untuk membangun fasilitas produksi secara masif di Indonesia. Bukan saja basis produksi untuk memenuhi pasar domestik, melainkan juga pasar ekspor. Dibangunnya pabrikan itu, harga kendaraan akan menjadi lebih kompetitif untuk diekspor.
Menurut dia, posisi geografis Indonesia yang berada di jantung Asia Tenggara menjadi keunggulan tersendiri. Indonesia dapat menjadi pusat ekspor kendaraan setir kanan (RHD) ke berbagai negara, mulai dari Australia, Afrika, hingga sebagian kawasan Asia.
Yannes menilai, daya saing industri otomotif nasional masih perlu diperkuat. Salah satunya adalah konsistensi kebijakan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang saat ini telah mencapai 40 persen dan terus ditingkatkan dari tahun ke tahun.
”Langkah ini penting agar produsen otomotif tidak hanya membangun pabrik perakitan, tetapi juga menanamkan investasi di fasilitas pendukung dari tier 4 hingga tier 2,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/09/2d8a317b8fed8adc9b78ff7ad5bb5c0a-IMG20251009140008.jpg)
Indonesia sudah puluhan tahun menjadi basis produksi bagi raksasa otomotif Jepang, Korea, dan China. Ini melahirkan tenaga kerja dan manajemen yang sangat terampil dalam produksi. Namun, kemampuan R&D yang mendalam masih perlu dibangun secara sistematis.
Ia menekankan, pemerintah perlu menyusun kebijakan konkret berbasis waktu untuk memastikan terjadinya transfer teknologi inti dari produsen global ke ekosistem industri nasional. Caranya, dengan melibatkan perguruan tinggi teknik terkemuka dan membangun kemampuan rekayasa serta desain kendaraan di dalam negeri.
”Sudah waktunya pemerintah mengoperasionalkan kebijakan baru yang memberikan bonus nilai TKDN tambahan hingga 20 persen bagi perusahaan yang melakukan kegiatan R&D dan transfer teknologi di Indonesia. Ini akan menjadi insentif kuat bagi lahirnya inovasi lokal dan produsen komponen milik anak negeri,” kata Yannes.
Meski potensi pasar dan dukungan kebijakan mulai terbentuk, tantangan yang dihadapi industri otomotif Indonesia tidak ringan. Menurut Yannes, tantangan terbesar bukan lagi pada kemampuan teknis perakitan, melainkan pada penguasaan rancang bangun dan teknologi inti.
”Indonesia sudah puluhan tahun menjadi basis produksi bagi raksasa otomotif Jepang, Korea, dan China. Ini melahirkan tenaga kerja dan manajemen yang sangat terampil dalam produksi. Namun, kemampuan R&D yang mendalam masih perlu dibangun secara sistematis,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/23/ff08156686e8c7944e5389e7cbb42120-20250723RZF02.JPG)
Menurut Yannes, dengan ribuan usaha kecil dan menengah (UKM) di sektor komponen dari tier 1 hingga tier 4 yang telah mapan, industri otomotif nasional sebenarnya memiliki fondasi kuat untuk tumbuh, bahkan untuk menciptakan jenama lokal. Dengan daya saing pekerja handal Indonesia, bukan saja menciptakan jenama lokal, tetapi juga sangat berpeluang produknya di ekspor.
”Brand lokal tidak perlu memulai dari nol. Ekosistemnya sudah ada, dari produsen bodi, interior, ban, aki, hingga komponen mesin,” katanya.
Jika kemampuan riset dan teknologi inti dapat diperkuat, lanjutnya, Indonesia berpeluang menciptakan merek mobil lokal dari nol dengan harga kompetitif. Potensi pasar domestik yang besar bisa menjadi batu loncatan untuk membangun skala ekonomi dan kepercayaan pasar sebelum menembus ekspor.
”Ketika produk otomotif lokal mampu membangun reputasi dan jaringan layanan purnajual yang kuat, saat itulah Indonesia akan benar-benar menjadi basis produksi otomotif sejati, bukan hanya sekadar perakit dengan nilai tambah rendah,” tegas Yannes.
Indonesia tak lagi sekadar pasar bagi mobil buatan luar negeri. keberadaan pabrikan besar seperti Toyota, masa depan industri otomotif Indonesia tidak ditentukan oleh kemampuan merakit, melainkan oleh kemampuan mencipta untuk menguasai teknologi, desain, dan inovasi di negeri sendiri.
Dengan pasar domestik yang besar, tenaga kerja terampil, dan ekosistem manufaktur yang terus tumbuh, Indonesia memiliki semua prasyarat untuk menjadi pusat produksi otomotif sejati.
Penulis:
Aguido AdriEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase