Mengintegrasikan Transportasi Publik, Menggeliatkan Ekonomi Kota

Pusat perbelanjaan seperti Blok M semakin ramai dikunjungi warga karena aksesnya yang strategis dan dekat dengan transportasi publik. Ekonomi pun semakin menggeliat.

21 Feb 2025 07:00 WIB · Ekonomi

Oleh Aguido Adri

Selama hampir empat jam, Rania Ellita (28) dan temannya, Zinta Firda Sari (27), menghabiskan waktu untuk nongkrong di Blok M, Jakarta Selatan, Rabu (19/2/2025). Sejumlah toko kuliner kekinian hingga jajanan pasar mereka singgahi.

Beberapa toko itu seperti Little Salt Bread dan OO Donut & Drink. Di dua toko ini, mereka rela antre lama demi memuaskan rasa penasaran mencicipi kuliner kekinian yang viral itu.

Belum puas, mereka lanjut menikmati jajanan gerobak, seperti tahu krispi dan kue leker. Sebagai penutup, mereka mampir di Kuliner Review Bintang Lima yang diisi oleh puluhan tenant.

”Hari ini lumayan puas dan senang kami berdua bisa jalan-jalan ke sini, meski harus ngantre lama, loh, di toko roti itu. Senang juga karena Blok M makin ramai dan lebih asyik nongkrong di sini. Aksesnya pas banget, strategis,” kata Rania ditemui di gerbang MRT Blok M.

Warga mengantri di toko kuliner kekinian OO Donut & Drink, Rabu (19/2/2025). Ekonomi di Blok M semakin menggeliat karena berinovasi dan akses transportasi publik sehingga menarik warga untuk berkunjung.

Blok M kini menjadi salah satu tempat favorit Rania. Tidak saja karena nyaman untuk nongkrong dan bertemu dengan teman-teman, tapi kawasan itu mudah terjangkau karena akses transportasinya.

Setahun terakhir, terutama sejak Blok M semakin ramai dan tertata, Rania selalu menggunakan moda transportasi MRT. ”Aku beberapa kali ke sini, janjian gitu sama teman, pasti naik MRT. Karena aksesnya mudah dan langsung turun di depan Blok M. Nggak kena macet pula. Ada pilihan enak, ngapain pakai mobil atau motor,” katanya.

Pengunjung lain, Dewa Irawan (40), juga memilih menggunakan MRT menuju Blok M. Dewa pun mengaku tak mau repot-repot membawa mobil ke Blok M, kecuali jika bepergian bersama keluarga.

”Capek saja kalau bawa mobil. Lagian ini Blok M dengan stasiun (MRT) berdekatan. Mungkin kalau jauh (stasiun MRT dan Blok M), saya bawa mobil,” kata Dewa yang memilih Blok M sebagai tempat untuk bekerja atau bertemu dengan teman-teman kantornya.

Tak hanya menawarkan kuliner kekinian, di Blok M, Jakarta Selatan, jajanan pasar dan lapak makan berjejer rapi sehingga menjadi tujuan warga, Selasa (19/2/2025).

Rezeki pedagang

Transformasi Blok M dan dekatnya akses transportasi publik menarik para pengunjung. Semakin ramai pengunjung di Blok M menjadi berkah bagi pedagang kecil.

Sebagaimana diungkapkan Dani (34), pedagang makanan aneka sayur dan lauk-pauk, makin banyak anak muda dan keluarga berkunjung ke Blok M. Salah satu daya tariknya adalah makanan dengan harga terjangkau.

”Di sini banyak pilihan. Pengunjung bisa makan di mana saja sesuai selera. Jadi, tidak bersaing lalu ada yang tidak laku. Makin banyak kafe dan warung, kan, makin banyak yang datang. Jadi, semua dapat rezekinya,” kata Dani.

Sejumlah pengunjung Blok M, Jakarta Selatan, memesan jajanan pasar, Rabu (19/2/2025). Jajanan pasar seperti kue leker tak kalah menarik dibanding kuliner kekinian di Blok M.

Dani mengatakan, baru kali ini pendapatannya relatif stabil. Pendapatannya berkisar Rp 350.000 hingga Rp 500.000 per hari. Bahkan, jika pengunjung ramai, pendapatannya bisa mencapai Rp 700.000-Rp 800.000 per hari.

”Dulu saya bareng orangtua jualan di sekitar Blok M, sepi. Tapi, bisa dagang di dalam dan pedagang kecil dikasih tempat, alhamdulillah rezekinya cukup. Yang penting tetap bersih, biar pengunjung tetap nyaman main ke Blok M,” ujarnya.

Selain di Blok M, ada pusat perbelanjaan Plaza Senayan dan Senayan City, Jakarta Pusat, yang dekat moda transportasi publik seperti MRT dan Transjakarta.

Dari pintu Stasiun MRT Ratu Plaza, warga yang ingin mengunjungi Plaza Senayan hanya perlu 5-7 menit berjalan kaki. Sementara untuk ke Senayan City sekitar 10 menit jalan kaki.

Keberadaan transportasi publik di kawasan ini, misalnya, dimanfaatkan Amalia Razman (35), pengunjung Plaza Senayan. Ia berpendapat, pusat perbelanjaan di Jakarta harus terkoneksi dengan moda transportasi, khususnya Stasiun LRT dan MRT.

”Harus LRT dan MRT menurut saya. Kalau Transjakarta masih agak ribet. Masih banyak kendala terjebak macet. Itu bikin males,” kata Amalia.

Suasana Stasiun MRT Ratu Plaza di Jakarta Pusat berada tak jauh dari pusat perbelanjaan Plaza Senayan, Rabu (19/2/2025)

Efek berganda

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, secara umum pusat perbelanjaan sepi pengunjung karena penurunan daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah.

”Hal ini tentunya berdampak terhadap industri usaha ritel. Yang terjadi adalah perubahan tren atau pola belanja masyarakat,” kata Alphonzus saat dihubungi, Rabu (19/2/2025).

Keberadaan transportasi publik yang dekat dengan pusat perbelanjaan, lanjutnya, sangat diperlukan masyarakat, apalagi di kota-kota metropolitan seperti Jakarta. Kemudahan bertransportasi akan memengaruhi minat warga untuk berkunjung.

Meski begitu, pusat-pusat perbelanjaan tetap perlu inovasi, misalnya dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan dan promo menarik.

Suasana di salah satu sudut pusat perbelanjaan Plaza Senayan, Jakarta Pusat, berjejer kafe-kafe yang dikunjungi oleh warga, Rabu (19/2/2025)

Keberadaan transportasi publik seperti MRT, kata Alphonzus, harus terus ditingkatkan dan diperluas. Pusat perbelanjaan juga akan mendorong para pengunjung atau pelanggan untuk semaksimal mungkin menggunakan transportasi publik dalam kaitan menuju sustainable shopping mall.

Secara terpisah, pengajar Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan, ramainya pusat perbelanjaan menunjukkan bahwa investasi di sektor transportasi publik mempunyai efek ganda yang tinggi.

”Artinya, efek ganda transportasi publik mampu memengaruhi geliat ekonomi pusat perbelanjaan, yang di dalamnya ada pekerja, pengusaha, hingga pengunjung,” ujarnya.

Suasana di salah satu sudut Blok M, Jakarta Selatan, Rabu (19/2/2025), menawarkan festival kuliner.

Keberadaan transportasi publik, menurut Wijayanto, membantu dan membuat biaya perjalanan lebih efisien. Hal itu sekaligus memberikan pengalaman positif bagi pengunjung pusat perbelanjaan. Dengan demikian, masyarakat akan menjadikan pusat perbelanjaan sebagai tempat belanja sekaligus tujuan rekreasi keluarga.

Oleh karena itu, kota-kota di Indonesia dan Jabodetabek khususnya sudah sepantasnya menjadikan transportasi publik terintegrasi dengan pusat hiburan dan perbelanjaan untuk menarik pengunjung.

”Sangat berpengaruh (transportasi publik) karena mempermudah akses publik ke mal-mal tersebut. Bahkan, jika dikelola dengan baik, mal dan kafe-kafe sepanjang MRT seolah menjadi satu bagian dari jaringan mal dengan MRT, berfungsi sebagai koridor penghubungnya,” ucapnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aguido Adri
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra